• SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)


  •   
  • FileName: Mak-6 - STANDAR NASIONAL INDONESIA TENTANG TATA CARA PERHI.pdf [read-online]
    • Abstract: SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)STANDAR NASIONAL INDONESIA TENTANG TATA CARA PERHITUNGANHARGA SATUAN: APLIKASI DAN PERMASALAHANNYADr.-Ing. Andreas WibowoPeneliti Utama (LIPI) bidang Manajemen Konstruksi

Download the ebook

SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
STANDAR NASIONAL INDONESIA TENTANG TATA CARA PERHITUNGAN
HARGA SATUAN: APLIKASI DAN PERMASALAHANNYA
Dr.-Ing. Andreas Wibowo
Peneliti Utama (LIPI) bidang Manajemen Konstruksi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum
Jalan Panyawungan Cileunyi Wetan 40393 Kabupaten Bandung
Tel. 022-7798393, Fax. 022-7798392
E-mail: [email protected]; [email protected]
Diajukan: 30 Juli 2009, Diterima: 4 September 2009
Abstrak
Analisa harga satuan diperlukan untuk mengestimasi biaya langsung proyek konstruksi. Dalam praktik analisa
Burgerlijke Openbare Werken (BOW) yang dipublikasikan lebih dari 80 tahun yang lalu masih digunakan meski
banyak perkembangan metoda dan teknologi konstruksi selama kurun waktu tersebut. Untuk mengakomodasi
perkembangan yang ada dikeluarkan Standar Nasional Indonesia tentang Analisa Biaya Konstruksi (SNI DT
ABK). Tulisan ini mendiskusikan berbagai hal terkait dengan penerapan SNI DT ABK, termasuk segala
permasalahan yang paling relevan saat ini. Hasil survei persepsi terhadap pengguna dan penyedia jasa
memperlihatkan bahwa dari aspek kewajaran, kelengkapan item pekerjaan, dan keunggulan dibandingkan
analisa BOW rata-rata respoden memberikan penilaian yang cukup baik, antara rating 3 dan 4 dari skala
maksimum 5. Antara pandangan pengguna dan penyedia jasa tidak terjadi perbedaan secara statistik. Faktor
persetujuan SNI DT ABK diwajibkan yang paling sering dipilih responden adalah bahwa keberadaannya dapat
membantu pengguna jasa menyusun harga perkiraan sendiri dan membuat nilai proyek dapat lebih
dipertanggungjawabkan. Sementara itu faktor penolakan SNI DT ABK diwajibkan terletak pada tidak
terakomodasinya karakteristik lokal dan indeks yang dianggap terlalu memberatkan kontraktor. Beberapa
rekomendasi juga disajikan dalam tulisan ini, termasuk penambahan item pekerjaan baru, keberadaan escape
clause dan redefinisi posisi SNI DT ABK.
Kata kunci: biaya langsung, estimasi, SNI DT ABK, analisa BOW, kewajaran, uji beda
Abstract
Indonesian National Standard Procedure for Calculation of Unit Price: Applications and Problem
Unit price analysis is required for estimating construction direct costs. In practice, the Burgerlijke Openbare
Werken (BOW) analysis which was published more than 80 years ago remains applicable despite many well-
advanced construction methods and technologies introduced during the period. To cope with the widespread
developments, the National Indonesian Standard on the Construction Cost Analysis (referred to as SNI DT ABK)
is released. The present paper discusses a sort of issues associated with the application of the SNI DT ABK,
including the most relevant problems to encounter. The survey results on the owners and construction contractors
reveal that the respondents on average fairly rated between 3 and 4 of the highest score 5 in terms of fairness,
completeness of work items described and the advantage of SNI DT ABK over the traditional BOW. No statistical
difference between the two different groups of respondents is observed. On the context of the discourse of
whether or not the SNI DT ABK should be obligatory, the most cited agreement factors supporting the compulsion
include assisting the owner to prepare owner’s estimate and enhancing the accountability of the project value
estimate. On another front, the most popular disagreement factors are that of local characteristics not
accommodated and too tight and unfavorable indexes for construction contractors. A number of recommendations
are also presented in the paper, including the introduction of new work items, the existence requirement of
escape clause and redefinition of the SNI DT ABK.
Keywords: direct cost, estimation, SNI DT ABK, BOW analysis, fairness, t-test
1. PENDAHULUAN proyek sangat ditentukan oleh tingkat akurasi
estimasi biaya konstruksi (Adeli dan Wu, 1998).
Berhasil atau tidaknya sebuah proyek konstruksi
Estimasi biaya merupakan salah satu tahapan sangat tergantung pada keakurasian estimasi
paling penting dalam manajemen proyek yang dilakukan sepanjang proyek mulai dari
konstruksi. Karenanya kualitas manajemen konseptual sampai estimasi kelayakan dan
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
estimasi detail atau bid estimates (Ahuja et al., mengakomodasi perkembangan yang ada.
1992). Estimasi awal menjadi hal yang kritis Sehubungan dengan hal tersebut Pusat
dalam proses pengambilan keputusan untuk Penelitian dan Pengembangan Permukiman
proyek-proyek konstruksi (Trost dan Oberlender, sejak akhir tahun 1980an telah melakukan
2002), terutama untuk menentukan apakah serangkaian riset tentang analisa harga satuan
proyek akan berlanjut terus atau tidak (Harrison, pada beberapa paket pekerjaan. Hasilnya
1985). Estimasi yang tidak akurat tidak hanya dijadikan Standar Nasional Indonesia (SNI)
mengakibatkan hilangnya kesempatan, juga dengan penomoran dan tahun penerbitan yang
menyebabkan upaya pengembangan yang berbeda untuk masing-masing pekerjaan. Satu
terbuang percuma dan hasil yang lebih rendah set SNI ini kemudian lebih populer disebut
dari yang diharapkan (Oberlender dan Trost, sebagai SNI ABK (Analisa Biaya Konstruksi).
2001). Dalam perkembangannya SNI ABK ini
Tingkat akurasi estimasi merupakan fungsi tidak hanya berfungsi sebagai informasi
dari ketersediaan data dan informasi yang penyusunan estimasi harga namun juga sebagai
tergantung pada waktu (time-dependent). Pada instrumentasi pemeriksaan kewajaran harga oleh
tahapan penawaran (bidding) informasi yang instansi terkait dalam pengadaan jasa konstruksi
tersedia digunakan oleh calon penyedia jasa yang diatur Keppres No. 80 tahun 2003 tentang
untuk menyusun proposal penawarannya. Saat Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
inilah estimasi dinyatakan definitif (Ahuja et al., Pemerintah. Aplikasi ganda SNI ini menimbulkan
1992). Salah satu komponen biaya yang harus sejumlah persoalan karena berbagai sebab; di
diestimasi adalah biaya langsung (direct cost). antaranya ketidaksinkronan dasar yang
Biaya langsung adalah biaya yang dapat digunakan pengguna jasa dan pemeriksa,
diatributkan pada satu jenis kegiatan (task) pada ketidaktersediaan material lokal dalam SNI,
pekerjaan konstruksi (US Army Corps of perbedaan karakteristik pekerja, perbedaan
Engineers, 2005). Termasuk di dalamnya adalah indeks yang cukup signifikan, ketidaksamaan
biaya upah, material, dan peralatan. Bagi metoda kerja yang digunakan, dan lain-lain.
kontraktor utama (main contractor) subkontraktor Tulisan ini mencoba mendiskusikan berbagai hal
bisa dikategorikan sebagai biaya langsung. terkait dengan aplikasi SNI ABK ini di lapangan
Menggunakan gambar dan spesifikasi teknis berdasarkan hasil survei persepsi terhadap
yang tersedia, kontraktor menyusun daftar pengguna dan penyedia jasa. Diharapkan tulisan
kuantitas (bill of quantities) item-item pekerjaan ini dapat memberikan masukan bagi para
(work packages) yang bila dikalikan dengan pemangku kepentingan untuk memperhatikan
harga satuan (unit price) menghasilkan biaya beberapa permasalahan untuk dijadikan dasar
pekerjaan. perbaikan SNI ABK ke depannya.
Dalam penyusunan harga satuan
diperlukan suatu analisa yang biasa disebut 2. STANDAR NASIONAL INDONESIA
analisa harga satuan. Di dalamnya tercantum TENTANG ANALISA BIAYA
informasi indeks-indeks upah, material dan KONSTRUKSI
peralatan yang dibutuhkan sebagai input untuk
menyelesaikan satu paket pekerjaan per satuan
volume pekerjaan. Satuan output yang biasa Sekumpulan hasil riset yang dilakukan oleh
digunakan adalah m’, m2, m3, kg, unit, Puslitbang Permukiman dijadikan dasar
tergantung pada jenis pekerjaannya. Untuk input penyusunan SNI yang diterbitkan antara tahun
upah, satuan yang kerap dipakai adalah OJ 1994 dan 2002, sebagaimana disajikan dalam
(orang-jam) atau OH (orang-hari) sementara Tabel 1. Selanjutnya pada tahun 2007
untuk material biasanya disesuaikan dengan dilaksanakan revisi dan penambahan jumlah
satuan outputnya. Untuk peralatan, khususnya pekerjaan yang di-SNI-kan dengan penomoran
peralatan tangan (handtools) harus dibedakan semuanya menggunakan notasi DT atau
dengan plant yang sifatnya fixed biasa Dokumen Teknis (selanjutnya disebut SNI DT
dinyatakan dalam unit lumpsum. ABK). Tabel 2 menyajikan daftar SNI edisi revisi
2007 berikut dengan nomor dan keterangannya.
Di Indonesia, praktisi telah terbiasa
Berbeda dengan standar yang ditetapkan melalui
memanfaatkan analisa harga satuan Burgerlijke
konsensus, dokument teknis merupakan
Openbare Werken atau biasa disingkat analisa
Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI)
BOW. Analisa BOW ini diterbitkan pada bulan
tahap empat yang tidak mencapai konsensus
Februasi 1921 (Badan Standarisasi Nasional,
untuk ditetapkan menjadi SNI tetapi disahkan
2002). Karena selama lebih dari 80 tahun
oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) atas
teknologi konstruksi telah banyak berkembang
usulan panitia teknis terkait dan dapat digunakan
maka dirasakan perlu adanya suatu analisa
sebagai acuan atau referensi untuk pihak-pihak
harga satuan yang baru yang lebih
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
yang berkepentingan (Badan Standarisasi Pertanyaan yang kerapkali diajukan
Nasional, 2007). pengguna jasa dalam mengaplikasikan SNI DT
Kesembilan SNI DT ABK mencakup 28 ABK salah satunya adalah apakah indeks yang
ruang lingkup dan 232 item pekerjaan. ada sudah memasukkan komponen profit dan
Dibandingkan SNI ABK pendahulunya ada biaya overhead. SNI DT ABK hanya
sejumlah perbaikan yang dilakukan, termasuk memperhitungkan biaya langsung yang terdiri
perubahan ruang lingkup, konsistensi indeks, dari upah dan material dan tidak memasukkan
perubahan waste dan loss untuk indeks material biaya-biaya tidak langsung seperti overhead dan
dari 15 sampai 20% menjadi 5 sampai 20% dan mark-up (kontingensi dan profit). Alat-alat tangan
penggunaan notasi baku yang biasa digunakan (handtools) tidak dimasukkan sebagai salah satu
seperti notasi fc‘ meski tetap, untuk kemudahan, komponen harga satuan dengan argumentasi
diberikan notasi pendamping K untuk bahwa indeks setelah memperhitungkan
menyatakan kuat tekan beton. Saat tulisan ini depresiasi sangat kecil sehingga diabaikan.
disusun masih ada lima dokumen lagi yang akan
ditinjau kembali.
Tabel 1 Daftar Kumpulan SNI ABK (1994-2002)
Judul SNI Nomor SNI Keterangan
Tata Cara Perhitungan Harga SNI 03-3435-1994 Tata cara ini bertujuan untuk
Satuan Pekerjaan Penutup Langit- memperoleh keseragaman dasar
Langit untuk Bangunan dan perhitungan harga satuan
Gedung pekerjaan penutup langit-langit
Tata Cara Perhitungan Harga SNI 03-3436-1994 Tata cara ini bertujuan untuk
Satuan Pekerjaan Atap untuk memperoleh keseragaman dasar
Bangunan dan Gedung perhitungan harga satuan
pekerjaan atap
Tata Cara Perhitungan Harga SNI 03-2835-2002 Tata cara ini menetapkan indeks
Satuan Pekerjaan Tanah bahan bangunan dan tenaga kerja
yang dibutuhkan untuk tiap satuan
pekerjaan tanah
Tata Cara Perhitungan Harga SNI 03-2836-2002 Tata cara ini menetapkan indeks
Satuan Pekerjaan Fondasi Batu bahan bangunan dan tenaga kerja
Belah untuk Bangunan Sederhana yang dibutuhkan untuk tiap satuan
pekerjaan fondasi
Analisa Biaya Konstruksi Pekerjaan SNI 03-2839-2002 Tata cara ini menetapkan indeks
Langit-Langit pada Bangunan bahan bangunan dan tenaga kerja
Gedung dan Perumahan yang dibutuhkan untuk tiap satuan
pekerjaan langit-langit
Analisa Biaya Konstruksi Pekerjaan SNI 03-2837-2002 Tata cara ini menetapkan indeks
Plesteran pada Bangunan Gedung bahan bangunan dan tenaga kerja
dan Perumahan yang dibutuhkan untuk tiap satuan
pekerjaan plesteran
Tata Cara Perhitungan Harga SNI 03-3434-2002 Tata cara ini menetapkan indeks
Satuan Pekerjaan Kayu untuk bahan bangunan dan tenaga kerja
Bangunan Gedung yang dibutuhkan untuk tiap satuan
pekerjaan kayu
Tata Cara Perhitungan Harga SNI 03-6879-2002 Tata cara ini menetapkan indeks
Satuan Pekerjaan Dinding untuk bahan bangunan dan tenaga kerja
Bangunan Gedung yang dibutuhkan untuk tiap satuan
pekerjaan dinding
Tabel 2 Daftar Kumpulan SNI ABK Edisi Revisi 2007
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
Judul SNI Nomor SNI Keterangan
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0006-2007 Sebagai revisi SNI 03-2835-2002
Satuan Pekerjaan Tanah
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0007-2007 Sebagai revisi SNI 03-2836-2002
Satuan Pekerjaan Fondasi Batu
Belah untuk Bangunan Sederhana
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0008-2007 Tata cara ini menetapkan indeks
Satuan Pekerjaan Beton untuk bahan bangunan dan tenaga kerja
Konstruksi Bangunan dan yang dibutuhkan untuk tiap satuan
Perumahan pekerjaan beton
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0009-2007 Sebagai revisi SNI 03-6897-2002
Satuan Pekerjaan Dinding untuk
Konstruksi Bangunan Gedung dan
Perumahan
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0010-2007 Sebagai revisi SNI 03-2837-2002
Satuan Pekerjaan Plesteran untuk
Konstruksi Bangunan dan
Perumahan
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0011-2007 Sebagai revisi SNI 03-3434-2002
Satuan Pekerjaan Kayu untuk
Konstruksi Bangunan Gedung dan
Perumahan
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0012-2007 Tata cara ini menetapkan indeks
Satuan Pekerjaan Penutup Lantai bahan bangunan dan tenaga kerja
dan Dinding untuk Konstruksi yang dibutuhkan untuk tiap satuan
Bangunan Gedung dan Perumahan pekerjaan penutup lantai dan
dinding
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0013-2007 Sebagai revisi SNI 03-2839-2002
Satuan Pekerjaan Langit-Langit
untuk Konstruksi Bangunan
Gedung dan Perumahan
Tata Cara Perhitungan Harga SNI DT 91-0014-2007 Tata cara ini menetapkan indeks
Satuan Pekerjaan Besi dan bahan bangunan dan tenaga kerja
Aluminium untuk Konstruksi yang dibutuhkan untuk tiap satuan
Bangunan Gedung dan Perumahan pekerjaan besi dan aluminium
Peralatan besar mekanis (mechanical lapangan memperlihatkan tidak jarang
heavy equipments) juga tidak diperhitungkan pemeriksa dari instansi terkait dan pengguna
dalam SNI DT ABK. Hal yang patut diingat jasa pada proyek-proyek pemerintah
adalah ada sejumlah peralatan yang digunakan menggunakan dasar yang tidak sama untuk
untuk banyak kegunaan (multipurpose) seperti pemeriksaan kewajaran harga yang, anehnya,
tower crane. Tower crane sebagai alat angkut terkadang dilakukan setelah proyek secara fisik
vertikal digunakan untuk banyak item pekerjaan dinyatakan selesai dan bukannya selama
sehingga tidak memenuhi kriteria untuk pengadaan penyedia jasa. Terkadang pengguna
dikategorikan sebagai biaya langsung. Dalam jasa masih tetap menggunakan analisa BOW
praktik biaya pengoperasian dan sewa tower sementara instansi pemeriksa menggunakan
crane biasa dimasukkan ke dalam kelompok SNI DT ABK. Masalah muncul saat indeks yang
biaya project (atau site-office) overhead, untuk ada secara signifikan berbeda yang
membedakannya dengan head-office overhead. berkonsekuensi ada potensi kerugian bagi
Dalam beberapa kasus benang merah antara negara.
biaya langsung dan tidak langsung memang Penyedia jasa pun terkadang mengajukan
terkadang tidak jelas, tergantung pada keberatannya atas penggunaan SNI DT ABK
konteksnya. Mobile crane, misalnya, bisa dengan argumentasi indeks yang ada lebih
dikategorikan sebagai komponen biaya rendah dibandingkan dengan apa yang
langsung, contoh untuk ereksi beton pracetak, tercantum dalam analisa BOW. Indeks yang
tetapi juga bisa sebagai biaya tidak langsung bila lebih rendah mengakibatkan profit yang
sifatnya mendukung lebih dari satu item diharapkan menjadi terkikis. Isu ini sebenarnya
pekerjaan. muncul bila pengguna jasa menetapkan profit
Isu lain yang sebenarnya lebih sensitif sebagai suatu yang tetap (fixed), biasanya
adalah fungsi ganda SNI DT ABK sebagaimana diambil 10% meski besaran 10% ini tidak jelas
telah disinggung sebelumnya. Permasalahan di argumentasinya. Sementara itu Keppres No.
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
80/2003 sendiri tidak mengatur besaran profit responden sudah mengetahui adanya SNI DT
harus ditetapkan seragam. Dalam penyusunan ABK ini. Bila tidak, pertanyaan berhenti sampai
harga perkiraan sendiri, pengguna jasa wajib di situ dan responden tidak diperkenankan
memperhitungkan profit yang wajar tetapi tidak menjawab pertanyaan selanjutnya dan kalaupun
dijelaskan berapa profit yang wajar. Sebenarnya toh ada responden yang melakukan maka
wajar atau tidaknya profit tergantung pada nilai jawaban yang ada akan diabaikan. Opini
proyek, tingkat kesulitan, tingkat risiko, responden dinyatakan dalam dua bentuk data.
komponen subkontraktor, dan lain-lain. Bahkan, Bentuk pertama sifatnya ordinal menggunakan
profit yang seragam sangat tidak dianjurkan. (US Skala Likert (1=sangat tidak wajar, 5=sangat
Army Corps of Engineers, 2005). Sebuah studi wajar) dan bentuk kedua kategorikal untuk
tentang menentukan interval profit yang wajar mengetahui faktor persetujuan dan penolakan
dapat dibaca di Wibowo dan Wuryanti (2008). bila SNI DT ABK diwajibkan. Pada bentuk kedua
ini responden dipersilakan memilih satu atau
lebih jawaban yang tersedia atau juga
3. METODOLOGI PENELITIAN
memberikan pendapatnya sendiri bila tidak ada
dalam daftar yang ada. Contoh kuesioner dapat
Untuk mendapatkan pandangan tentang aplikasi dilihat pada Lampiran 1.
SNI DT ABK, penulis melakukan pengumpulan
data melalui pendistribusian kuesioner kepada
Demografi Responden
pengguna dan penyedia jasa dengan teknik
purposive sampling. Data calon responden Gambar 1 dan 2 memperlihatkan distribusi
berasal dari penyedia jasa diperoleh dari responden menurut pengalaman kerja di sektor
database Lembaga Pengembangan Jasa konstruksi dan jabatan responden dalam
Konstruksi Nasional (LPJKN) di Jakarta dan instansi. Sebagaimana terlihat, lebih dari 50%
Bandung. Hanya perusahaan yang berada di responden memiliki pengalaman kerja 10 tahun
atas gred 4 yang diseleksi menjadi calon atau lebih dan hanya 14% yang berpengalaman
responden. Sementara itu sebagian besar data kurang dari lima tahun. Dari sisi posisi, lebih dari
pengguna jasa diperoleh dari data satuan kerja 60% responden menduduki jabatan manajerial
(satker) yang tercantum dalam situs Departemen baik sebagai kepala dinas/direktur maupun
Pekerjaan Umum. Survei dilaksanakan selama kepala bagian/kepala subdinas/manajer. Dengan
kurang lebih dua bulan, antara bulan November distribusi responden yang demikian tentunya
dan Desember 2008. Untuk memudahkan menambah validitas jawaban yang diberikan.
responden dalam setiap set kuesioner disertai Tabel 3 memperlihatkan tabulasi silang
amplop balasan dengan alamat kirim tertera di kepemilikan dan tipe organisasi responden. Bila
atasnya. Sebanyak 73 kuesioner yang telah diisi pemilik dikategorikan sebagai pengguna jasa,
dikembalikan, merefleksikan response rate sebesar 41 responden (58%) berasal dari
sebesar 20%. kelompok ini dan sisanya sebagai penyedia
jasa. Di sini jumlah data berbeda dengan jumlah
Kuesioner dibagi menjadi dua bagian.
kuesioner yang masuk karena dua responden
Bagian I berisi data dan informasi responden
tidak bersedia memberikan data dan informasi
yang opsional; artinya responden dapat mengisi
personal pada bagian pertama. Dari 39, 36
atau tidak informasi opsional ini. Bagian kedua
pemilik (92%) adalah dari instansi pemerintah.
berisi daftar pertanyaan terkait dengan maksud
dan tujuan penelitian. Pada bagian II ini ada
screening item yaitu pertanyaan tentang apakah
Gambar 1 Distribusi Responden menurut Gambar 2 Distribusi Responden menurut Posisi
Pengalaman
Tabel 3 Tabulasi Silang Kepemilikan dan Tipe Organisasi Responden
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
Kepemilikan
Tipe Total
Pemerintah Swasta BUMN BUMD
Pemilik 36 5 0 0 41
Konsultan teknis 0 1 0 0 1
Kontraktor
0 23 2 1 26
pelaksana
Lainnya 3 0 0 0 3
Total 39 29 2 1 71
4. ANALISIS DATA DAN DISKUSI tetap menggunakan analisa BOW secara
eksklusif.
Terkait dengan pertanyaan tentang tingkat
Tabel 4 menyajikan tabulasi silang dasar
kewajaran indeks-indeks yang tercantum dalam
perhitungan biaya konstruksi menurut tipe
SNI DT ABK, Gambar 3 memperlihatkan
responden. Dari keseluruhan 67 respon sahih,
sebaran opini responden menurut tipe
hanya sekitar 21% yang menggunakan SNI DT
responden. Hal yang menarik adalah tidak ada
ABK secara eksklusif. Sebagian besar
satu orang responden pun yang menyatakan
responden (58%) menyatakan bahwa mereka
bahwa indeks yang ada sangat tidak wajar.
menggunakan kombinasi SNI DT ABK, BOW,
Sebagian besar responden sepakat memberikan
dan perhitungan sendiri, meksi tidak harus
rating 3 dan 4 untuk indeks-indeks SNI DT ABK.
ketiganya. Penggunaan kombinasi dasar
Tabel 5 menyajikan hasil analisis statistik
perhitungan mudah dijelaskan yaitu bahwa item-
sederhana. Sebagaimana terlihat, nilai rata-rata
item pekerjaan yang ada dapat saling
untuk kewajaran SNI DT ABK adalah 3,66 untuk
melengkapi sebagaimana dijelaskan lebih detil
responden pengguna jasa dan 3,34 untuk
pada bagian selanjutnya. Yang menarik adalah
penyedia jasa.
setelah sekian lama SNI DT ABK dipublikasikan,
toh masih ada pengguna jasa (4) yang masih
Tabel 4 Dasar Perhitungan Harga Menurut Tipe Responden
Tipe Responden Total
Dasar Perhitungan
Harga Pengguna Penyedia
Jasa Jasa
BOW 4 0 4 (6%)
SNI 12 2 14 (21%)
Perhitungan Sendiri 2 8 10 (15%)
Kombinasi 19 20 39 (58%)
Total 37 30 67
Sementara itu sebaran tingkat Selanjutnya isu tentang apakah SNI DT
kelengkapan item-item pekerjaan yang ABK lebih baik ketimbang analisa BOW yang
tercantum dalam SNI DT ABK menurut diterbitkan lebih dari 80 tahun yang lalu terjawab
responden disajikan dalam Gambar 4. Dari 65 melalui hasil survei yang dijabarkan dalam
opini yang sahih, ada 10 responden (4 penyedia Gambar 5. Dari 64 opini yang sahih, ada 7
jasa dan 6 pengguna jasa) menyatakan SNI DT responden yang menyatakan ketidaksetujuan
ABK tidak lengkap namun sebagian besar SNI DT ABK lebih baik. Sekitar 80% responden
responden (48) sepakat menyatakan cukup cukup setuju dan setuju SNI DT ABK lebih baik
lengkap dan lengkap. Tabel 4 memperlihatkan dibandingkan BOW. Tingkat persetujuan rata-
nilai rata-rata dari responden pengguna jasa dan rata untuk pengguna dan penyedia jasa masing-
penyedia jasa masing-masing adalah 3,22 dan masing adalah 3,53 dan 3,29.
3,31 untuk kelengkapan SNI DT ABK.
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
Gambar 3 Distribusi Respon Responden tentang Kewajaran SNI DT ABK
Gambar 4 Distribusi Respon Responden tentang Kelengkapan SNI DT ABK
Gambar 5 Distribusi Respon Responden tentang Perbandingan antara SNI DT ABK dan BOW
Tabel 5 Statistik Opini Responden
Std.
Isu Tipe Responden N Mean
Deviation
Kewajaran Pengguna Jasa 35 3,66 0,80
Penyedia Jasa 29 3,34 0,90
Kelengkapan Pengguna Jasa 36 3,22 0,96
Penyedia Jasa 29 3,31 0,81
Lebih_baik Pengguna Jasa 36 3,53 1,00
Penyedia Jasa 28 3,29 0,71
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
Meski nilai rata-rata untuk pengguna jasa
dan penyedia jasa berbeda namun perbedaan Daerah penolakan:
ini masih perlu diinvestigasi secara statistik
signifikan pada tingkat kepercayaan yang
t ³ ta 2, m+ n- 2 atau t ≤ −t α 2, m+ n − 2
ditetapkan. Untuk keperluan itu dilakukan uji Tabel 6 memperlihatkan hasil uji beda t.
beda t-test yang rumusannya dapat dilihat Bila tingkat kepercayaan diambil pada p=0,05,
sebagai berikut (Devore, 1987). nilai statistik t memperlihatkan bahwa
perbedaan yang ada ternyata secara statistik
H0: μ1=μ2 (1) tidak signifikan karena nilai probabilitas lebih
besar daripada yang ditetapkan. Dengan kata
lain, terjadi persetujuan (agreement) atas opini
Ha: μ1≠μ2 (2) responden pengguna dan penyedia jasa (H0
t statistik: t = Zi - Z 2 (3) diterima). Tabel 6 juga menyajikan bahwa nilai
statistik F memperlihatkan asumsi bahwa
1 1
sp + varian sama untuk kedua kelompok responden
m n
dapat diterima secara statistik. Tabel 6 Hasil Uji
Beda t
Levene’s Test for
Equality of
Isu Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T df Sig. (2-tailed)
Kewajaran Equal variances
0,609 0,438 1,469 62 0,147
assumed
Equal variances
1,454 56,836 0,152
not assumed
Kelengkapan Equal variances
0,356 0,553 -0,395 63 0,694
assumed
Equal variances
-0,402 62,868 0,689
not assumed
Lebih_Baik Equal variances
3,506 0,066 1,084 62 0,283
assumed
Equal variances
1,130 61,594 0,263
not assumed
Kewajiban Mengaplikasikan SNI DT ABK peringkat terendah, hanya dipilih oleh lima
responden, adalah keberadaan SNI DT ABK
Saat ini berkembang wacana apakah SNI DT
dapat mengurangi tingkat kompetisi. Hal yang
ABK wajib untuk diikuti. Berbeda dengan
menarik dapat ditarik dari faktor X8 yaitu SNI DT
standar-standar lain yang lebih menyangkut
ABK menghasilkan harga yang lebih hemat. Bila
mutu pekerjaan yang baku, SNI DT ABK terkait
15 responden pengguna jasa memilih faktor ini
dengan estimasi biaya yang lebih bernuansa
maka hanya ada 3 responden penyedia jasa
„seni“ ketimbang „sains“. Bagian terakhir survei
yang sepakat dengan hal ini. Ini terkonfirmasi
adalah menginvestigasi faktor-faktor untuk
oleh pernyataan sebelumnya bahwa SNI DT
mendukung persetujuan (atau ketidaksetujuan)
ABK dianggap lebih ketat dibandingkan analisa
SNI DT ABK diwajibkan digunakan. Penulis
BOW.
mengidentifikasi 9 dan 12 faktor persetujuan dan
penolakan dengan masing-masing kode, Dari 12 faktor penolakan SNI DT ABK
sebagaimana terlihat pada Tabel 7. diwajibkan, peringkat pertama diduduki oleh
faktor bahwa SNI DT ABK tidak mengakomodasi
Gambar 6 dan 7 masing-masing
karakteristik lokal (produktivitas, etos kerja,
menyajikan sebaran respon responden untuk
upah) sementara faktor ini jelas berpengaruh
persetujuan dan penolakan yang teridentifikasi.
pada biaya konstruksi. Isu ini seringkali
Untuk kelompok pertama, dua faktor yang
didiskusikan tetapi belum mendapatkan
menempati peringkat tertinggi –masing-masing
konsensus untuk penyelesaiannya. Contoh,
dipilih oleh 40 responden– adalah keberadaan
disparitas produktivitas pekerja. Banyak pihak
SNI DT ABK sangat membantu pengguna jasa
yang meyakini produktivitas pekerja di suatu
dalam menyusun harga perkiraan sendiri dan
daerah lebih tinggi dibandingkan daerah yang
secara legalitas nilai proyek dapat
lain. Di lain pihak, koefisien yang ada dalam SNI
dipertanggungjawabkan. Sementara itu
DT ABK adalah tunggal. Pertanyaannya adalah
SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan(Dr. –Ing. Andreas Wibowo)
apakah angka-angka yang ada sudah cukup banyak diaplikasikan yang belum tercatum
merepresentasikan disparitas yang terjadi. dalam SNI DT ABK. Contoh yang paling sering
Peringkat kedua dan ketiga ditempati oleh digunakan adalah kerangka atap baja ringan dan
faktor bahwa koefisien yang ada terlalu bahan pasangan dinding dari beton ringan.
memberatkan kontraktor dan jumlah jenis Untuk peringkat terbawah adalah metodologi
material yang terlingkup dalam SNI DT ABK pengukurang yang tidak jelas dan mengurangi
sangat terbatas. Untuk alasan bahwa koefisien insentif bagi kontraktor untuk melakukan
terlalu memberatkan sebenarnya lebih banyak efisiensi; artinya bagi responden kedua faktor ini
muncul karena ketidakpahaman bahwa profit tidak terlalu penting dibandingkan faktor-faktor
seharusnya tidak ditetapkan seragam. lainnya.Tabel 7 Alasan Persetujuan dan
Sebagaimana sering didiskusikan, banyak Penolakan SNI DT ABK Diwajibkan
material konstruksi alternatif yang sekarang lebih
Kode Alasan Persetujuan Kode Alasan Penolakan
Memudahkan pengguna jasa
X1 Y1 Tidak mengakomodasi karakteristik lokal
mempersiapkan HPS
Secara legalitas nilai proyek mudah
X2 Y2 Jumlah jenis material terbatas
dipertanggungjawabkan
Menghindari terjadinya praktik banting
X3 Y3 Variasi teknologi konstruksi terbatas
harga
Kemudahan dalam melakukan Tidak mengakomodasi kemajuan teknologi
X4 Y4
evaluasi harga konstruksi
Kewajaran harga lebih dapat Koefisien yang ada terlalu memberatkan
X5 Y5
dipertanggungjawabkan kontraktor
Memudahkan penyedia jasa
X6


Use: 0.0366