• Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran


  •   
  • FileName: Hal. 12-23 Rekontruksi Pembelajaran.pdf [read-online]
    • Abstract: Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode PembelajaranPenelitianRekonstruksi PembelajaranMelalui Metode PembelajaranWidodo *)AbstrakLatar belakang pendidikan yang disandang guru ternyata tidak berpengaruh pada gaya guru mengajar.

Download the ebook

Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
Penelitian
Rekonstruksi Pembelajaran
Melalui Metode Pembelajaran
Widodo *)
Abstrak
Latar belakang pendidikan yang disandang guru ternyata tidak berpengaruh pada gaya guru mengajar.
Penelitian yang dilakukan terhadap guru TK, SD, SMP, dan SMA BPK PENABUR Tasikmalaya
memperlihatkan bahwa gaya guru mengajar pada guru dengan latar belakang yang berbeda ternyata
tetap sama yaitu mereproduksi gaya mantan gurunya. Oleh karena itu disarankan agar pemerintah/
lembaga pendidikan merekonstruksi sistem pembelajaran calon guru terutama yang berkaitan langsung
dengan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Kata kunci : Rekonstruksi, model pembelajaran, metode pembelajaran, belajar aktif
This research finds out that educational background of teachers at BPK PENABUR schools in
Tasikmalaya do not give significant effects to the styles of their theching. Most of the teacher at
Kindergatens, Primary School, Junior and Senior High Schools choose their ex-teachers at Senior
High School as ideal models in teaching. Conscquenlly, they are not craetive and their teaching style
is teacher oriented not student. This research suggests to reconstruct the instructional model through
changging the instructional methods.
orang yang tidak tahu dan orang yang dianggap
Pendahuluan serba tahu berkewajiban selalu memberi tahu.
Sebagai orang dewasa guru menganggap
istem pendidikan Indonesia selama ini dirinya serba tahu dan murid dianggap sebagai
S memfasilitasi terjadinya reproduksi
sistem pengetahuan dan keyakinan
tentang pengajaran yang bersifat
pribadi yang belum tahu. Dengan demikian guru
aktif mentransfer ilmu dan murid pasif menerima
pengajaran guru. Guru menempatkan dirinya
penyampaian materi satu arah dari guru kepada paling utama dalam kegiatan belajar mengajar.
murid. Gaya guru mengajar seperti cara/metode Guru merasa berjasa dan menganggap harus
gurunya yang terdahulu mengajar kepadanya. dihargai jasa-jasanya yang telah mengantarkan
Beberapa waktu kemudian cara/metode murid mencapai keberhasilan. Cara/metode
mengajarnya akan dipraktikkan oleh muridnya mengajar seperti di atas yang selalu diwariskan,
ketika menjadi guru. Bangsa Indonesia terlalu sehingga cara/metode mengajar searah selalu
lama hidup di bawah tekanan penjajah dan berulang.
sistem pemerintahan kerajaan yang Semenjak di era reformasi banyak pihak
mengkondisikan sebagian besar rakyat dikuasai yang menyadari dan mulai berani menyatakan,
oleh beberapa orang. Keadaan tersebut bahwa model pembelajaran penyajian materi
membentuk budaya yang memunculkan satu arah dari guru kepada murid tidak efektif
anggapan ada orang yang dianggap serba tahu dan harus ditinggalkan dan diupayakan
dan ada banyak orang yang tidak tahu. Orang pengganti model pembelajaran yang lebih
yang dianggap serba tahu harus dihormati oleh memberdayakan para murid. Oleh karena
*) Kepala SDK BPK PENABUR Tasikmalaya
12 Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
menurut Heinz Kock, orang yang paling penting
di sekolah adalah murid, bukan guru. Masalah Penelitian
Maksudnya murid yang harus belajar secara
aktif dan guru hanya membantunya. Murid Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka
seharusnya dihargai dan dihormati sebagai masalah penelitian ini dirumuskan sebagai
pribadi yang sama dengan gurunya. Murid berikut: (1) Apakah guru-guru BPK PENABUR
memiliki potensi untuk dapat berkembang. Pada Tasikmalaya yang berijazah terakhir SPG
(Sekolah Pendidikan Guru) atau SLA (sekolah
zaman modern ini dengan didukung oleh
Lanjutan Atas) mempraktikkan metode/cara
kemajuan teknologi informasi, sangat mungkin
mengajar mantan guru?. (2) Apakah guru-guru
terjadi guru tidak lagi sebagai pribadi yang serba
BPK PENABUR Tasikmalaya lulusan
tahu. Ada kalanya murid dalam hal-hal tertentu
Perguruan Tinggi yang belum memiliki Akta
labih dahulu tahu dibandingkan dengan mengajar mempraktikkan metode/cara
gurunya. Untuk mewujudkannya diperlukan mengajar mantan guru?. (3) Apakah guru-guru
usaha merekonstruksi pembelajaran secara BPK PENABUR Tasikmalaya lulusan
serentak di berbagai jenjang pendidikan, Perguruan Tinggi yang sudah memiliki Akta
konsisten, menyeluruh, dan dilakukan tanpa mengajar mempraktikkan metode/cara
putus dalam kurun waktu yang relatif lama. Bila mengajar mantan guru?
tidak demikian akan cenderung kembali kepada
pola lama.
Rekonstruksi pembelajaran meliputi banyak Kerangka Teori
hal antara lain: filosofi dan kebijakan
pendidikan, strategi pendidikan nasional, Menurut Winarno Surakhmad, (1986), bahwa
pendanaan pendidikan, tenaga pendidik, manusia tidak mungkin dapat hidup bersama
perguruan tinggi keguruan, dan sebagainya. dengan manusia lainnya tanpa adanya proses
Pada kesempatan ini penulis hanya interaksi. Proses interaksi itu dimungkinkan,
memfokuskan pada rekonstruksi pembelajaran bahwa kenyataan manusia itu adalah makhluk
melalui rekonstruksi metode pembelajaran. yang memiliki sifat sosial yang sangat besar.
Sebab penggunaan metode pembelajaran Setiap interaksi terjadi dalam suatu situasi, tidak
berkaitan langsung dengan Kegiatan Belajar dalam alam hampa. Di antara berbagai jenis
Mengajar (KBM). Hal ini berhubungan langsung situasi itu terdapat satu jenis situasi khusus
dan dapat diupayakan oleh Pengurus BPK yakni situasi edukatif. Interaksi yang terjadi
PENABUR dan tenaga pendidik, serta dalam situasi edukatif dinamakan interaksi
mempengaruhi langsung perubahan tingkah edukatif. Interaksi edukatif merupakan salah
laku murid. Sedangkan hal-hal besar lainnya satu interaksi yang sangat penting dalam
tersebut di atas sebagian besar merupakan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya
tanggungjawab Pemerintah. interaksi edukatif dapat terjadi menggunakan
berbagai sarana dan berbagai media yang ada
Disadari atau tidak, sistem pendidikan di
di masyarakat, baik interaksi secara langsung
Indonesia selama ini memberikan tempat untuk
maupun tidak langsung. Salah satu wahana
penyelenggaraan pembelajaran yang menjurus
interaksi edukatif secara langsung adalah
ke satu arah.Di sekolah murid belajar tentang
sekolah. Hingga saat ini (khususnya di
apa yang dimaksud belajar dan tentang apa yang
Indonesia) sekolah dianggap sebagai wahana
dimaksud mengajar secara aktif sejak di SD, SMP, interaksi edukatif secara langsung dan efektif.
SMA/SPG, dan sampai Perguruan Tinggi. Ketika Sosilog Boudieu (1990), mengatakan bahwa
murid menjadi guru, maka sistem pengetahuan sekolah merupakan sistem tempat terjadinya
dan keyakinan yang telah terbentuk oleh mantan reproduksi kebudayaan. Pengajaran merupakan
gurunya akan digunakan di dalam salah satu aktivitas kebudayaan. Guru seringkali
pembelajarannya. Dengan demikian pola dalam pengajaran mencoba mengimplemen-
mengajar terulang kembali. Hal ini merupakan tasikan bidang ajarnya ke dalam kehidupan
penyebab betapa sulit mengubahnya. Telah nyata sehari-hari di masyarakat. Di dalam
banyak upaya yang dilakukan untuk usahanya tersebut guru secara sengaja atau
mengubahnya, tetapi cenderung kembali kepada tidak sengaja memperkenalkan budaya
pola lama. masyarakat setempat atau menyinggung
Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006 13
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
keberadaan budaya masyarakat setempat kepada dewasa yang serba tahu dan murid sebagai
murid-muridnya. Sebab kehidupan sehari-hari pribadi yang serba belum tahu. Dengan demikian
masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan menempatkan guru sebagai yang utama dan
budaya masyarakat tersebut. murid sebagai pribadi yang pasif dalam kegiatan
Stigler dan Hiebert (1999) mengatakan, belajar mengajar. Gurulah yang berjasa
bahwa pola mengajar yang ada pada suatu menjadikan murid berhasil dalam hidupnya.
kelompok masyarakat tertentu tidak dapat Beberapa metode pembelajaran yang ada
dipisahkan dengan sistem nilai dan kebudayaan dan telah banyak diperkenalkan sebagai
masyarakat setempat. Hal ini berarti pola pengetahuan antara lain sebagai berikut :
pembelajaran para guru di Indonesia melekat 1. Metode Ceramah
pada tata nilai dan kebudayaan masyarakat Merupakan metode penerangan dan
Indonesia. Murid-murid belajar tentang penuturan secara lisan oleh guru di depan
bagaimana belajar dan bagaimana mengajar kelas kepada murid-muridnya. Dengan
melalui keterlibatannya secara langsung sejak demikian guru aktif dan siswa pasif, karena
di SD, SMP, SMA/SPG/SMK, sampai Perguruan aktivitasnya mendengarkan dan mencatat
Tinggi. Ketika murid tersebut menjadi guru, pokok-pokok yang dianggap penting.
maka sistem pengetahuan dan keyakinan (salah Metode ini merupakan metode yang paling
satunya adalah metode mengajar guru-gurunya) disenangi guru, karena mudah
akan digunakan dalam pembelajarannya. menyampaikan materi pelajaran sebanyak
Dengan demikian pola mengajar terulang lagi. apapun. Tetapi metode ini tidak cocok bagi
Menurut Hall E.T. (1966), budaya adalah perkembangan siswa, karena aktivitasnya
komunikasi, dan komunikasi adalah budaya. terbatas.
Dengan demikian interaksi adalah budaya, 2. Metode Latihan Siap (Drill)
sebab di dalam interaksi ada komunikasi. Merupakan metode untuk memperoleh
Sekolah merupakan interaksi edukatif dan suatu ketangkasan atau keterampilan
merupakan proses interaksi yang sangat aktif latihan terhadap apa yang telah dipelajari.
dilakukan oleh guru – guru dengan banyak Metode ini untuk mendapatkan a).
murid setiap hari dalam kurun waktu yang lama. kecakapan motorik (seperti: menulis,
Dengan demikian di sekolah terjadi program melafalkan, menggunakan alat/mesin,
pembangunan budaya dalam proses atletik, dan permainan). b). kecakapan
pembiasaan budaya kepada anak didik. Sebab mental (menjumlah, mengurang,
komunikasi adalah budaya mengalikan, membagi, mengenal tanda-
Di dalam pengajaran terjadi proses tanda, dan sebagainya). c). persiapan lomba.
komunikasi dengan demikian pengajaran 3. Metode Tanya Jawab
merupakan salah satu aktivitas budaya. Sekolah Merupakan metode guru mengetahui
di suatu daerah tidak dapat dipisahkan dari apakah siswa telah menguasai fakta
sistem nilai dan kebudayaan masyarakat tertentu yang sudah diajarkan. Dengan
setempat. Pernyataan ini dikuatkan oleh demikian metode ini baik untuk Apersepsi
kebijakan pemerintah yang memasukkan digunakan meninjau pelajaran yang lalu,
budaya daerah ke dalam kurikulum yang menyelingi pembicaraan kerjasama siswa,
dikenal dengan muatan lokal yang menangkap perhatian siswa.
mengharuskan setiap sekolah untuk 4. Metode Diskusi atau Musyawarah
mengajarkannya. Memasukkan budaya daerah Merupakan metode yang digunakan untuk
dalam bentuk seni, bahasa, hasil karya ke dalam memecahkan persoalan yang memerlukan
kurikulum sah-sah saja dalam rangka jawaban atau cara lebih dari satu dan
melestarikan budaya daerah. Memang harus ada diperlukan kerja sama dan musyawarah.
upaya-upaya pembangunan dan pelestarian 5. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
budaya daerah agar budaya daerah dapat Merupakan metode yang menarik, karena
dilestarikan. Sekolah merupakan wahana yang menantang siswa dalam mencari jawab
tepat untuk melestarikan budaya daerah. Yang cara membuat, bahan apa, dan sebagainya.
menjadi masalah adalah usaha- usaha baik 6. Metode Pembagian Tugas
sengaja maupun tidak sengaja mewariskan tata Merupakan metode pembelajaran yang
nilai dan keyakinan yang sudah tidak sesuai memiliki tiga fase, yaitu: pertama guru
lagi, yaitu menganggap guru sebagai seorang memberi tugas; ke dua siswa melaksanakan
14 Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
tugas (belajar); dan ke tiga siswa Sistem pendidikan di negara kita selama ini
mempertanggungjawabkan (melaporkan) masih sentralistik, dan pembelajaran satu arah.
kepada guru apa-apa yang telah dipelajari Murid terlibat secara langsung dalam belajar dan
di rumah, di perpustakaan, di sekaligus belajar bagaimana mengajar. Guru
laboratorium, atau di tempat lain. yang secara fisik lebih dewasa daripada murid-
7. Metode Karyawisata muridnya menganggap dirinya serba tahu
Merupakan metode yang memerlukan berkewajiban selalu memberitahu kepada murid-
biaya sangat besar. Oleh karenanya tidak muridnya. Murid-murid dikondisikan sebagai
dapat dilaksanakan setiap waktu, pribadi yang harus menerima pengajaran dari
meskipun disenangi siswa. sang guru. Ketika menjadi guru, iapun
8. Metode Kerja Kelompok atau Metode Gotong mempraktikkan cara mengajar mantan gurunya.
Royong Menganggap guru paling tahu, dan
Metode untuk mencapai bermacam-macam menganggap muridnya tidak tahu apa-apa.
tujuan pembelajaran sekaligus. Siswa Pola mengajar selalu terulang dan betapa
dalam satu kelas dibagi dalam kelompok sulit mengubahnya. Salah satu upaya yang
dan ditugaskan untuk memecahkan pernah dilakukan cukup serius melalui
masalah yang berbeda dengan kelompok penerapan metode Cara Belajar Siswa Aktif
lain. (CBSA), tetapi kekurangsiapan dan banyak
9. Metode Sistem Regu faktor lain yang belum mendukung, maka
Merupakan metode team teaching dalam pelaksanaan di lapangan cenderung kembali ke
mengajar kelompok siswa. Dengan pola pembelajaran yang lama. Dengan demikian
demikian satu mata pelajaran gurunya dua upaya melakukan rekonstruksi pembelajaran
orang atau lebih. yang bersifat penyampaian materi satu arah (dari
10. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran guru kepada murid), ke arah metode
Sosiodrama artinya mendramatisasikan pembelajaran yang lebih bersifat
cara tingkah laku di dalam hubungan memberdayakan para murid perlu dilakukan
sosial. Sedangkan bermain peran artinya secara serentak pada berbagai jenjang
menekankan kenyataan di mana siswa pendidikan (SD, SMP, SMA/SMK, sampai
diikutsertakan dalam memainkan peranan Perguruan Tinggi), konsisten, dan tanpa putus
di dalam mendramatisasikan masalah- dalam kurun waktu yang cukup lama.
masalah sosial. Upaya menghadirkan metode pembelajaran
Uraian di atas menunjukkan terdapat yang lebih bersifat memberdayakan para murid
paling sedikit sepuluh metode yang dapat perlu segera diwujudkan. Menurut Heinz Kock
(1986), bahwa yang paling penting di sekolah
dipilih oleh guru dalam membelajarkan
adalah murid bukan guru. Maksudnya murid
muridnya. Pemilihan metode pembelajaran
yang belajar secara aktif, guru hanya
disesuaikan dengan tujuan pembelajaran,
membantunya. Guru sebagai manajer dan
keadaan lingkungan, waktu yang tersedia, serta
fasilitator di dalam kelas perlu memfasilitasi
karakteristik murid. Untuk memotivasi murid kegiatan belajar yang selalu menghadirkan hal-
belajar, guru dapat menerapkan metode hal yang menarik dan membiasakan murid
pembelajaran yang bervariasi. Penggunaan secara aktif belajar dan guru membantu aktivitas
metode bervariasi juga dapat meningkatkan belajar murid. Guru mengusahakan agar murid
pemahaman murid. tidak bergantung kepada guru. Guru
mengusahakan agar murid semakin mandiri
dan secara sadar mencintai belajar. BPK
Kerangka Berpikir PENABUR diharapkan dapat berperan dalam
melakukan rekonstruksi pembelajaran melalui
Manusia sebagai makhluk sosial selalu rekonstruksi metode pembelajaran yang lebih
berusaha melakukan interaksi dengan manusia memberdayakan murid, khususnya untuk
lain dalam membangun budayanya. Salah satu kepentingan sekolah-sekolah BPK PENABUR.
interaksi yang dikembangkan adalah interaksi Dengan demikian secara menyeluruh kualitas
edukatif. Apapun yang diajarkan di sekolah pembelajaran sekolah-sekolah BPK PENABUR
tidak dapat dipisahkan oleh budaya tempat sama dan menjadi lebih baik bila dibandingkan
sekolah itu berada (masyarakat setempat). dengan sekolah-sekolah lainnya.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006 15
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
untuk memotivasi guru-guru termasuk penulis
Tujuan Penelitian untuk selalu berusaha menghadirkan kegiatan
belajar mengajar yang menarik dan
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1)
menumbuhkan kemandirian murid di dalam
apakah benar guru-guru BPK PENABUR
belajar. Meninggalkan cara/metode
Tasikmalaya yang berijazah terakhir SPG
pembelajaran sentralistik satu arah dari guru
(Sekolah Pendidikan Guru) atau SLA (Sekolah
kepada murid. Mengupayakan agar murid aktif
Lanjutan Atas) mempraktikkan metode/cara
belajar dan guru membantu murid untuk dapat
mengajar mantan guru; 2) apakah benar guru-
aktif belajar. Ketiga, untuk meninggalkan
guru BPK PENABUR Tasikmalaya lulusan
anggapan gurulah yang paling berjasa di setiap
Perguruan Tinggi yang belum memiliki Akta
keberhasilan siswa, dan mulai menyadari
mengajar mempraktikkan metode/cara
bahwa setiap usaha guru merupakan tugas dan
mengajar mantan guru; dan 3) apakah benar
kewajiban profesinya dan pelayanannya.
guru-guru BPK PENABUR Tasikmalaya lulusan
Perguruan Tinggi yang sudah memiliki Akta
mengajar mempraktikkan metode/cara
Metodologi Penelitian
mengajar mantan guru.
Penelitian ini dilaksanakan di TK, SD, SMP, dan
SMA BPK PENABUR Tasikmalaya, mengguna-
Manfaat Penelitian kan metode survei melalui kuesioner. Responden
penelitian adalah semua pengajar sebanyak 51
Hasil penelitian dapat bermanfaat, pertama
orang yang terdiri atas 9 orang guru/karyawan
untuk memberikan masukan kepada BPK
tetap TK; 15 orang guru/karyawan tetap dan 3
PENABUR dalam upaya meningkatkan kualitas
orang guru tidak tetap SD; 9 orang guru tetap
pendidikan sekolah-sekolah BPK PENABUR
SMP; 12 guru tetap dan 3 guru tidak tetap SMA,
dengan melakukan rekonstruksi pembelajaran
yang sudah bekerja lebih dari satu tahun di BPK
melalui rekonstruksi metode pembelajaran.
PENABUR Tasikmalaya. Jumlah responden
Upaya tersebut dilakukan dengan memberikan
masing-masing sekolah ditunjukkan pada Tabel
pelatihan atau pembinaan metode pembelajaran
1. Sedangkan jumlah responden yang
yang lebih memberdayakan murid secara
berhubungan dengan kepemilikan Akta
serentak pada berbagai jenjang pendidikan (SD,
Mengajar ditunjukkan pada Tabel 2.
SMP, SMA/SMK), konsisten, dan tanpa putus
Pengolahan data hasil penelitian
dalam kurun waktu yang cukup lama. Kedua,
dilaksanakan dengan metode statistik deskriptif.
Tabel 1: Jumlah Responden TK, SD, SMP, dan SMA BPK PENABUR Tasikmalaya
Jenjang Guru Honor Calon Guru Guru Tetap Karyawan Jumlah
TK 0 0 6(67%) 3(33%) 9(100%)
SD 3(16.67%) 0 14(77.78%) 1(5.55%) 18(100%)
SMP 0 1(11.11%) 8(88.89%) 0 9(100%)
SMA 3(20%) 2(13.33%) 10(66.67%) 0 15(100%)
Jumlah 6(11.77%) 3(5.88%) 38(74.51%) 4(7.84%) 51(100%)
16 Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
Gambar 1: Jumlah Responden
14
12
10
TK
8
SD
6
SMP
4
SMA
2
0
Guru Honor Calon Guru Guru Tetap Karyaw an
Catatan:
Tiga orang pengajar di TK dan seorang pengajar di SD berstatus sebagai karyawan (mendapat SK
sebagai Tenaga Kependidikan) yang mendapat tugas mengajar.
Tabel 2: Responden yang Belum Memiliki Akta Mengajar
Akta Mengajar TK SD S MP S MA Jumlah
Sudah Memiliki 2(22.22%) 12(66.66%) 7(77.78%) 13(87.67%) 34(67,66%)
Belum Memiliki 4(44.45%) 3(16.67%) 2(22.22%) 2(13.33%) 11(21.57%)
SPG/SLTA 3(33.33%) 3(16.67%) 0 0 6(11.76%)
Jumlah 9(100) 18(100%) 9(100%) 15(100%) 51(100%)
Gambar 2: Responden yang Belum Memiliki Akta Mengajar
14
12
Sudah Mem iliki Akta
10 Mengajar
8 Belum Mem iliki Akta
6 Mengajar
4 SPG/SLA
2
0
TK SD SMP SMA
metode/cara mengajar mantan guru, hampir
Hasil Penelitian mendekati jumlah guru-guru SMP (yaitu 5 dari
respondennya atau 55.56%) dan SMA (yaitu 8
Pendapat Responden tentang dari respondennya atau 53.33%) yang
Mencontoh/Mempraktikkan Metode/ menyatakan mencontoh/mempraktikkan cara/
Cara Mengajar Mantan Guru metode mengajar mantan gurunya. Akibatnya
guru-guru tidak mudah menerima sesuatu yang
Pada umumnya guru-guru (yaitu 35 dari 51
baru, karena sudah nyaman dengan yang
responden atau 68.63%, tabel 3) mencontoh/
dilakukan selama ini, meskipun menjadikan
mempraktikkan metode/cara mengajar mantan
siswa pasif dalam kegiatan belajar dan tidak
guru. Meskipun guru-guru SMP (yaitu 4 dari 9
memiliki kesadaran untuk belajar. Guru bangga
respondennya atau 44.44%) dan SMA (yaitu 7
bila siswa dan masyarakat menganggap
dari 15 respondennya atau 46.67%) yang
keberhasilan siswa semata karena jasa guru.
menyatakan tidak mencontoh/mempraktikkan
Seharusnya di dalam pembelajaran guru
Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006 17
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
Tabel 3: Responden Mempraktikkan Metode/Cara Mengajar Mantan Guru
Memp rak tik k an Metod e
TK SD S MP S MA Jumlah
Mengajar Mantan Guru
Benar Mempraktikkan 8(88.89%) 14(77.78%) 5(55.56%) 8(53.33%) 35(68.63%)
Tidak Mempraktikkan 1(11.11%) 4(22.22%) 4(44.44%) 7(46.67%) 16(31.37%)
Jumlah 9(100%) 18(100%) 9(100%) 15(100%) 51(100%)
Gambar 3: Responden Mempraktikkan Metode/Cara
Mengajar Mantan Guru
14
12
10
8 B enar M emp r akt i kkan
6 T i d ak M emp r akt i kkan
4
2
0
TK SD SMP SMA
mengupayakan agar siswa menyadari menyatakan mencontoh/mempraktikkan
pentingnya belajar secara aktif mandiri untuk metode/cara mengajar mantan guru. Dengan
menemukan banyak hal. demikian hipotesis terbukti. Dan membuktikan
Semua responden yang berijazah terakhir begitu kuatnya pengaruh budaya dan pewarisan
SPG/SLA mengajar di TK sebanyak 3 orang dan nilai-nilai sistem pengetahuan dan keyakinan
yang mengajar di SD 3 orang menyatakan
para seniornya atau mantan gurunya.
Tabel 4: Responden SPG/SLA Mempraktikkan Metode/Cara Mengajar Mantan Guru
Memp rak tik k an Metod e
TK SD S MP S MA Jumlah
Mengajar Mantan Guru
Benar Mempraktikkan 3(100%) 3(100%) 0 0 6(100%)
Tidak Mempraktikkan 0 0 0 0 0
Jumlah 3(100%) 3(100%) 0 0 6(100%)
mencontoh/mempraktikkan metode/cara
mengajar mantan guru (tabel 4) Pendapat Responden tentang
Sebanyak 9 orang dari 11 orang guru yang belum Mantan Guru yang Diidolakan
memiliki Akta Mengajar menyatakan Sebanyak 47 orang (92%) dari 51 orang guru
mencontoh/mempraktikkan metode/cara menyatakan memiliki idola mantan guru (tabel
mengajar mantan guru, meskipun guru SMP dan 7). Sebagian besar responden mengidolakan
SMA yang menyatakan mencontoh/ mantan guru SMA/SPG/SMK/SLA sebagai
mempraktikkan sama (tabel 5). Dengan demikian cerminan ingatan yang kuat di usia remaja.
hipotesis terbukti. Guru-guru yang belum Pernyataan ini menguatkan, bahwa guru-guru
memiliki akta mengajar sangat sedikit BPK PENABUR Tasikmalaya mempraktikkan
mengetahui metode mengajar, maka akan lebih metode/cara mengajar mantan gurunya. Mereka
mudah mencontoh/mempraktikkan cara menganggap guru yang utama dalam kegiatan
mengajar mantan gurunya. belajar mengajar dan siswa dapat berhasil
Sebanyak 24 orang dari 34 orang guru (atau 71%, karena jasa guru.
tabel 6) yang sudah memiliki Akta Mengajar
18 Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
Tabel 5: Responden yang Belum Memiliki Akta Mengajar Mempraktikkan Metode
Mengajar Mantan Guru
Memp rak tik k an Metod e
TK SD S MP S MA Jumlah
Mengajar Mantan Guru
Benar Mempraktikkan 4(100%) 3(100%) 1(50%) 1(50%) 9(82.82%)
Tidak Mempraktikkan 0 0 1(50%) 1(50%) 2(18.18%)
Jumlah 4(100%) 3(100%) 2(100%) 2(100%) 11(100%)
Gambar 4: Responden yang Belum memiliki Akta Mengajar
Mempraktikkan Metode Mengajar Mantan Guru
4
3 Benar
Mem praktikkan
2
Tidak
1 Mem praktikkan
0
TK SD SMP SMA
Tabel 6: Responden yang Sudah Memiliki Akta Mengajar Mempraktikkan Metode
Mengajar Mantan Guru
Memp rak tik k an Metod e
TK SD S MP S MA Jumlah
Mengajar Mantan Guru
Benar Mempraktikkan 2(100%) 11(91.67%) 4(57.14%) 7(53.85%) 24(70.59%)
Tidak Mempraktikkan 0 1(8.33%) 3(42.86%) 6(46.15%) 10(29.41%)
Jumlah 2(100%) 12(100%) 7(100%) 13(100%) 34(100%)
Gambar 5: Responden yang Sudah Memiliki Akta Mnegajar
Mempraktikkan Metode Mengajar Mantan Guru
15
Benar
10
Mem praktikkan
5 Tidak
Mem praktikkan
0
TK SD SMP SMA
Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006 19
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
Tabel 7: Pendapat Responden tentang Mantan Guru yang Diidolakan
Mantan Guru Idola TK SD S MP S MA Jumlah
Mantan Guru SD 1(11.11%) 7(38.89%) 0 2(13.33%) 10(19.61)
Mantan Guru SMP 3(33.33%) 3(16.67%) 2(22.22%) 3(20.00%) 11(21.57%)
Mantan Guru 4(45.45%) 8(44.44%) 4(44.45%) 7(46.67%) 23(45.10%)
SMA/SPG/SMK/SLA
Mantan Dosen 0 0 1(11.11%) 2(13.33%) 3(5.88%)
Tidak Punya Idola 1(11.11%) 0 2(22.22%) 1(6.67%) 4(7.84%)
Jumlah 9(100%) 18(100%) 9(100%) 15(100%) 51(100%)
Gambar 6: Mantan Guru yang Diidolakan
Tabel 8: Pendapat Responden tentang Metode/Cara Mengajar Mantan Guru Idola yang
Berkesan dan Mempengaruhi Pembelajarannya
Metode Mengajar Mantan
TK SD S MP S MA Jumlah
Guru Idola
Sederhana dan mudah 1(11,11%) 6(33.33%) 1(11.11%) 4(26.66%) 12(23.53%)
Gaya Mengajar Menarik 6(66.67%) 12(66.67%) 4(44.45%) 9(60.00%) 31(60.79%)
Menggunakan alat peraga 1(11.11%) 0 2(22.22%) 0 3(5.88%)
Mayoritas siswa nilainya
0 0 0 1(6.67%) 1(1.96%)
b ag u s
Tidak ada yang mengesankan 1(1.11%) 0 2(22.22%) 1(6.67%) 4(7.84%)
Jumlah 9(100%) 18(100%) 9(100%) 15(100%) 51(100%)
20 Jurnal Pendidikan Penabur - No.07/Th.V/Desember 2006
Rekonstruksi Pembelajaran Melalui Metode Pembelajaran
Gambar 8: Pendapat Responden tentang Metode/Cara Mengajar Mantan Guru
Idola yang Berkesan dan Mempengaruhi Pembelajarannya
12 Sederhana dan m udah
10
Menarik gaya
8 m engajarnya
6 Menggunakan banyak alat
peraga
4 Sebagian besar sisw a
yang diajar nilainya bagus
2
Tidak ada yang
0 m engesankan
TK SD SMP SMA
Alasan responden mengidolakan mantan guru sebagian besar karen


Use: 0.0225