• TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT


  •   
  • FileName: Chapter II.pdf [read-online]
    • Abstract: 11BAB IITINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT2.1 Rumah Sakit2.1.1 Definisi Rumah SakitRumah sakit adalah suatu unit yang memiliki organisasi yang teratur, tempatpencegahan dan penyembuhan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan

Download the ebook

11
BAB II
TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT
2.1 Rumah Sakit
2.1.1 Definisi Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu unit yang memiliki organisasi yang teratur, tempat
pencegahan dan penyembuhan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan
penderita yang dilakukan secara multidisiplin oleh berbagai kelompok profesional
terdidik dan terlatih, yang menggunakan prasarana dan sarana fisik, perbekalan
farmasi dan alat kesehatan. (Siregar, 2004)
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/MenKes/SK/XI/1992
tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum, maka rumah sakit umum adalah
rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik,
dan subspesialistik.
Pelayanan medis spesialistik dasar adalah pelayanan spesialistik penyakit
dalam, kebidanan, dan penyakit kandungan, bedah dan kesehatan anak. Pelayanan
medis spesialistik luas adalah pelayanan medis spesialistik dasar ditambah dengan
pelayanan spesialistik telinga, hidung, dan tenggorokan, mata, syaraf, jiwa, kulit, dan
kelamin, jantung, paru, radiologi, anestesi, rehabilitasi medis, patologi anatomik.
Pelayanan medis subspesialistik luas adalah pelayanan subspesialistik di setiap
spesialisasi yang ada. Contoh: endokrinologi, gastrohepatologi, nefrologi, geriatri, dan
lain-lain.
Universitas Sumatera Utara
12
2.1.2 Tugas Rumah Sakit
Menurut keputusan menteri kesehatan RI No: 983/SK/XI/1992, tugas rumah
sakit umum adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil
guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaan yang
dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan
serta melaksanakan rujukan. (Siregar, 2004)
2.1.3 Fungsi Rumah Sakit
Berdasarkan Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum,. Untuk
menyelenggarakan tugas rumah sakit umum berdasarkan SK MenKes RI No.
983/MenKes/SK/XI/1992 mempunyai fungsi:
a) Menyelenggarakan pelayanan medis
b) Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan nonmedis
c) Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan
d) Menyelenggarakan pelayanan rujukan
e) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
f) Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan
g) Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.
2.1.4 Misi dan Visi Rumah Sakit
Penyusunan misi dan visi rumah sakit merupakan fase penting dalam tindakan
strategis rumah sakit. Menetapkan misi dan visi bukanlah proses yang mudah.
Pernyataan misi dan visi merupakan hasil pemikiran bersama dan disepakati oleh
Universitas Sumatera Utara
13
seluruh anggota rumah sakit. Misi dan visi bersama ini memberikan fokus dan energi
untuk pengembangan organisasi.
Misi rumah sakit merupakan pernyataan mengenai mengapa sebuah rumah
sakit didirikan, apa tugasnya, dan untuk siapa rumah sakit tersebut melakukan
kegiatan. Visi rumah sakit adalah gambaran keadaan rumah sakit di masa mendatang
dalam menjalankan misinya. Isi pernyataan visi tidak hanya berupa gagasan-gagasan
kosong. visi merupakan gambaran mengenai keadaan lembaga di masa depan yang
berpijak dari masa sekarang.
Misi dan visi Rumah sakit umum mempunyai misi memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat (Trinantoro, Laksono; 2005).
2.1.5 Indikator Pelayanan Rumah Sakit
Program akreditasi rumah sakit yang dilaksanakan sejak tahun 1995 diawali
dengan 5 jenis pelayanan, yaitu pelayanan medis, pelayanan keperawatan, rekam
medis, administrasi dan manajemen, dan pelayanan gawat darurat. Pada tahun 1997,
program diperluas menjadi 12 pelayanan, yaitu kamar operasi, pelayanan perinata
resiko tinggi, pelayanan radiologi, pelayanan farmasi, pelayanan laboratorium,
pengendalian infeksi, dan kecelakaan keselamatan serta kewaspadaan bencana. Pada
tahun 2000 dikembangkan instrumen 16 bidang pelayanan untuk menilai ke-20 proses
pelayanan di rumah sakit. Untuk membantu proses persiapan akreditasi, dilakukan
berbagai pelatihan akreditasi rumah sakit oleh Balai Pelatihan Kesehatan. Di samping
akreditasi, penerapan sistem manajemen mutu mengikuti ISO 9001:2000 mulai
Universitas Sumatera Utara
14
dilakukan juga di puskesmas dan rumah sakit sejak tahun 2003 untuk menjawab
tuntutan global.
Beberapa indikator pelayanan di rumah sakit antara lain adalah:
1. Bed Occupancy Rate (BOR): angka penggunaan tempat tidur
2. Length Of Stay (LOS): lamanya dirawat
3. Bed Turn Over (BTO): frekuensi penggunaan tempat tidur
4. Turn Over Interval (TOI): interval penggunaan tempat tidur
5. Net Death Rate (NDR): angka kematian netto
6. Gross Death Rate (GDR): angka kematian bruto
2.1.6 Klasifikasi Rumah Sakit
Rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria sebagai
berikut:
1. Berdasarkan kepemilikan
a. Rumah sakit pemerintah, terdiri dari:
a. Rumah sakit yang langsung dikelola oleh Departemen Kesehatan
b. Rumah sakit pemerintah daerah
c. Rumah sakit militer
d. Rumah sakit BUMN
b. Rumah sakit yang dikelola oleh masyarakat (swasta).
2. Berdasarkan jenis pelayanan
Berdasarkan jenis pelayanannya, rumah sakit terdiri atas;
Universitas Sumatera Utara
15
a. Rumah sakit umum, memberi pelayanan kepada berbagai penderita
dengan berbagai jenis penyakit.
b. Rumah sakit khusus, memberi pelayanan diagnosis pengobatan
untuk penderita dengan kondisi medik tertentu baik bedah maupun
non bedah. Contoh: rumah sakit kanker, rumah sakit bersalin.
3. Berdasarkan afiliasi pendidikan
Terdiri atas 2 jenis, yaitu;
a. Rumah sakit pendidikan, yaitu rumah sakit yang menyelenggarakan program
latihan untuk berbagai profesi.
b. Rumah sakit non pendidikan, yaitu rumah sakit yang tidak memiliki afiliasi
dengan universitas.
4. Berdasarkan lama tinggal di rumah sakit
Terdiri atas:
a. Rumah sakit perawatan jangka pendek, yaitu rumah sakit yang merawat
penderita selama rata-rata kurang dari 30 hari , misalnya penderita dengan
kondisi penyakit aku dan kasus darurat
b. Rumah sakit perawatan jangka panjang yang merawat penderita dalam waktu
rata-rata 30 hari atau lebih.
5. Berdasarkan Status Akreditasi
Rumah sakit berdasarkan status akreditasi terdiri atas:
a. Rumah sakit yang telah diakreditasi
Universitas Sumatera Utara
16
Rumah sakit telah diakreditasi adalah rumah sakit yang telah diakui secara
formal oleh suatu badan sertifikasi yang diakui, yang menyatakan bahwa suatu
rumah sakit telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan tertentu.
b. Rumah sakit yang belum diakreditasi.
Rumah sakit yang belum diakreditasi adalah rumah sakit yang belum diakui
secara formal oleh suatu badan sertifikasi yang diakui, yang menyatakan
bahwa suatu rumah sakit telah memenuhi persyaratan untuk melakukan
kegiatan tertentu.
Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah
Berdasarkan SK MenKes RI No. 983/MenKes/SK/XI/1992 tanggal 5 Oktober
1992 rumah sakit umum diklasifikasikan berdasarkan pada unsur
pelayanan,ketenagaan, fisik, dan peralatan yang terdiri dari :
a. Rumah Sakit Umum Kelas A
Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medis spesialistik luas dan subpesialistik luas.
b. Rumah Sakit Umum Kelas B
Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik.
Universitas Sumatera Utara
17
Rumah sakit ini dibedakan 2 jenis berdasarkan adanya fungsi sebagai tempat tenaga
medis fakultas kedokteran yaitu Rumah Sakit Umum Pendidikan dan Rumah Sakit
Umum Non Pendidikan.
c. Rumah Sakit Umum Kelas C
Rumah sakit umum kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar.
d. Rumah Sakit Umum Kelas D
Rumah sakit umum kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medis dasar.
2.2 Komite Medik dan Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)
Komite medik adalah wadah non struktural yang keanggotaannya dipilih dari
Ketua Staf Medis Fungsional (SMF) atau yang mewakili SMF yang ada di Rumah
Sakit. Komite Medis berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Utama.
PFT adalah sekelompok penasehat dari staf medik dan bertindak sebagai garis
komunikasi organisasi antara staf medik dan Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS).
Pembentukan suatu PFT yang efektif akan memberikan kemudahan dalam pengadaan
sistem formularium yang membawa perhatian staf medik pada obat yang terbaik dan
membantu mereka dalam menyeleksi obat terapi yang tepat bagi pengobatan penderita
tertentu. Panitia ini difungsikan rumah sakit untuk mencapai terapi obat yang rasional.
Universitas Sumatera Utara
18
PFT ini meningkatkan penggunaan obat secara rasional melalui pengembangan
kebijakan dan prosedur yang relevan untuk seleksi obat, pengadaan, penggunaan, dan
melalui edukasi tentang obat bagi penderita dan staf profesional. Ketua PFT dipilih
dari dokter yang diusulkan oleh komite medik dan disetujui pimpinan rumah sakit.
Ketua adalah seorang anggota staf medik yang memahami benar dan pendukung
kemajuan IFRS, dan ia adalah dokter yang mempunyai pengetahuan mendalam di
bidang farmakologi klinik. Sekretaris panitia adalah kepala IFRS atau apoteker senior
lain yang ditunjuk oleh kepala IFRS. Susunan anggota PFT harus mencakup dari tiap
SMF yang ada di rumah sakit.
2.3 Formularium Rumah Sakit
Untuk kepentingan perawatan penderita yang lebih baik, rumah sakit harus
mempunyai suatu program evaluasi pemilihan dan penggunaan obat yang objektif di
rumah sakit. Program ini adalah dasar dari terapi obat yang tepat dan ekonomis, yang
tertuang ke dalam suatu pedoman yang disebut formularium rumah sakit.
Formularium rumah sakit adalah daftar obat baku yang dipakai oleh rumah
sakit yang dipilih secara rasional dan dilengkapi penjelasan, sehingga merupakan
informasi obat yang lengkap untuk pelayanan medik rumah sakit, terdiri dari obat-
obatan yang tercantum Daftar Obat Essensial Nasional (DOEN) dan beberapa jenis
obat yang sangat diperlukan oleh rumah sakit serta dapat ditinjau kembali sesuai
dengan perkembangan bidang kefarmasian dan terapi serta keperluan rumah sakit
yang bersangkutan (SK Dirjen YanMed No. 0428/YanMed/RSKS/SK/89 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Permenkes No. 085/MenKes/Per/I/1989).
Universitas Sumatera Utara
19
Penyusunan formularium rumah sakit merupakan tugas PFT. Suatu sistem
formularium rumah sakit yang dikelola dengan baik mempunyai tiga kegunaan,
kegunaan yang pertama adalah untuk membantu meyakinkan mutu dan ketepatan
penggunaan obat dalam rumah sakit. Kegunaan kedua adalah sebagai edukasi bagi
staf tentangterapi obat yang tepat. Kegunaan ketiga adalah memberi rasio manfaat-
biaya yang tertinggi, bukan hanya sekedar pengurangan harga.
2.4 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
IFRS adalah fasilitas pelayanan penunjang medis, di bawah pimpinan seorang
apoteker dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional, yang
bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri
atas pelayanan paripurna, mencakup perencanaan; pengadaan; produksi; penyimpanan
perbekalan kesehatan/sediaan farmasi; dispensing obat berdasarkan resep bagi
penderita rawat tinggal dan rawat jalan; pengendalian mutu; dan pengendalian
distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit; serta
pelayanan farmasi klinis (Siregar, 2004).
Untuk melaksanakan tugas dan pelayanan farmasi yang luas, Instalasi Farmasi Rumah
Sakit (IFRS), mempunyai berbagai fungsi yang dapat digolongkan menjadi fungsi
nonklinik dan fungsi klinik.
I. Pelayanan Farmasi Non Klinik
Fungsi nonklinik biasanya tidak secara langsung dilakukan sebagai bagian
terpadu dan segera dari pelayanan penderita serta lebih sering merupakan tanggung
jawab apoteker rumah sakit. Lingkup fungsi farmasi nonklinik adalah :
Universitas Sumatera Utara
20
i. Produksi
Instalasi farmasi rumah sakit memproduksi produk steril dan non steril serta
pengemasan kembali. Produk steril yang dibuat terdiri dari Total Parenteral Nutrisi
(TPN), injeksi dan pencampuran obat suntik, sedangkan produk non steril terdiri dari
pembuatan pulvis, pulveres, pengenceran alkohol, formalin, H2O2 dan pengemasan
kembali.
ii. Perbekalan
Merupakan unit pelaksana instalasi farmasi rumah sakit yang meliputi pengadaan dan
penyimpanan perbekalan farmasi. Pengadaan merupakan proses kegiatan dalam
pemilihan jenis, jumlah dan harga perbekalan farmasi
iii. Distribusi
Distribusi merupakan serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran obat-
obatan dan alat kesehatan. Sistem distribusi dapat dilakukan dengan cara:
Sentralisasi : semua obat dari farmasi pusat
Desentralisasi : adanya apotek satelit/depo farmasi
Sistem distribusi obat harus menjamin :
i. Obat yang tepat diberikan kepada pasien yang tepat
ii. Dosis yang tepat dan jumlah yang tepat
iii. Kemasan yang menjamin mutu obat
Universitas Sumatera Utara
21
iv. Administrasi
Administrasi yang teratur sangat dibutuhkan untuk menjamin terselenggaranya sistem
pembukuan yang baik. Oleh karena itu tugas administrasi di instalasi farmasi
dikoordinir oleh koordinator yang bertanggung jawab langsung kepada kepala
instalasi farmasi rumah sakit.
II. Pelayanan Farmasi Klinis
Pelayanan farmasi klinis adalah praktek kefarmasian berorientasi kepada
pasien lebih dari orientasi kepada produk, dengan penerapan pengetahuan dan
keahlian farmasi dalam membantu memaksimalkan efek obat dan meminimalkan
toksisitas bagi pasien secara individual.
Tujuan pelayanan farmasi klinis adalah meningkatkan keuntungan terapi obat
dan mengoreksi kekurangan yang terdeteksi dalam proses penggunaan obat karena
itu tujuan farmasi klinis adalah meningkatkan dan memastikan kerasionalan,
kemanfaatan dan keamanan terapi obat.
Menurut SK MenKes No.436/MenKes/SK/VI/1993 pelayanan farmasi klinis
meliputi:
i. Melakukan konseling
ii. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
iii. Pencampuran obat suntik secara aseptik
iv. Menganalisa efektivitas biaya secara farmakoekonomi
v. Penentuan kadar obat dalam darah
vi. Penanganan obat sitostatika
Universitas Sumatera Utara
22
vii. Penyiapan Total Parenteral Nutrisi (TPN)
viii. Pemantauan dan pengkajian penggunaan obat
ix. Pendidikan dan penelitian (Aslam, 2002).
2.4.2 Pengelolaan dan Penggunaan Obat Secara Rasional (PPOSR)
Yang dimaksud dengan PPOSR adalah pengelolaan obat yang dilaksana- kan
secara efektif dan efisien dimana pemanfaatan atau efikasi, keamanan (safety) dan
mutu (quality) obat terjamin; serta penggunaan obat secara 4 Tepat 1 Waspada,
artinya harus diberikan dengan indikasi yang tepat, untuk penderita yang tepat dengan
jenis obat yang tepat dan diberikan dengan regimen dosis yang tepat serta senantiasa
waspada terhadap kemungkinan terjadinya efek obat yang tidak diinginkan.
Kegiatan pengelolaan dan penggunaan obat dimulai dari:
1. Pemilihan jenis obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan, baik diagnostik,
terapetik, paliatik maupun rehabilitatif.
2. Perencanaan untuk mengadakan obat dan alat kesehatan tersebut dalam jenis,
jumlah, waktu dan tempat yang tepat.
3. Pengadaan berdasarkan pertimbangan dana yang tersedia dilakukan skala
prioritas pengadaan yang tepat.
4. Penyimpanan yang tepat sesuai dengan sifat masing-masing obat dan alat
kesehatan.
5. Penyaluran kepada unit-unit pelayanan dan penunjang yang membutuhkan
obat dan alat kesehatan tersebut di Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Bedah
Pusat, Instalasi Rawat Jalan, dan Instalasi Rawat Inap.
6. Penulisan resep oleh dokter (Prescribing Process).
Universitas Sumatera Utara
23
7. Peracikan oleh farmasis (Dispensing Process).
8. Pemberian oleh perawat kepada penderita (Administration Process).
9. Penggunaan oleh penderita (Consuming Process).
10. Pemantauan khasiat dan keamanan obat oleh dokter, perawat, farmasis dan
penderita.
Seluruh kegiatan pengelolaan dan penggunaan obat yang dimulai dari pertama sampai
langkah ke-10 disebut sebagai Lingkar Sepuluh Kegiatan Pengelolaan Dan
Penggunaan Obat Secara Rasional (LSK-PPOSR), dimana jika semua langkah
dilakukan dengan tepat, maka diharapkan akan dapat dicegah timbulnya masalah-
masalah yang berkaitan dan pengelolaan dan penggunaan obat dan alat kesehatan.
2.5 Rekam Medik
Rekam medik adalah sejarah ringkas, jelas dan akurat dari kehidupan dan
kesakitan penderita, ditulis dari sudut pandang medik. Setiap rumah sakit
dipersyaratkan mengadakan dan memelihara rekam medik yang memadai dari setiap
pasien, baik untuk pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan.
Suatu rekam medik yang lengkap mencakup data identifikasi dan sosiologi,
sejarah famili pribadi, sejarah kesakitan yang sekarang, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan khusus, seperti konsultasi, data laboratorium klinis, pemeriksaan sinar X
dan pemeriksaan lain, diagnosa kerja, penanganan medik atau bedah, patologi
mikroskopik dan nyata, kondisi pada waktu pembebasan, tindak lanjut, dan temuan
otopsi (Siregar, 2004)
Universitas Sumatera Utara
24
Kegunaan rekam medik antara lain;
a) Digunakan sebagai dasar perencanaan dan keberlanjutan perawatan penderita.
b) Merupakan suatu sarana komunikasi antara dokter dan setiap profesional yang
berkontribusi pada perawatan penderita.
c) Melengkapi bukti dokumen terjadinya/penyebab penyakit penderita dan
penanganan/pengobatan selama dirawat di rumah sakit.
d) Digunakan sebagai dasar untuk kaji ulang studi dan evaluasi perawatan yang
diberikan kepada penderita.
e) Membantu perlindungan kepentingan hukum penderita, rumah sakit dan
praktisi yang bertanggung jawab.
f) Menyediakan data untuk digunakan dalam penelitian dan pendidikan.
g) Sebagai dasar perhitungan biaya, dengan menggunakan rekam medik, bagian
keuangan dapat menetapkan besarnya biaya pengobatan seorang penderita
(Siregar, 2004).
2.6 Instalasi CENTRAL STERILIZED SUPPLY DEPARTMENT (CSSD)
Instalasi CSSD merupakan fasilitas untuk melakukan kegiatan sterilisasi yang
bertujuan untuk melayani semua kebutuhan steril dan unit–unit yang membutuhkan
yaitu alat-alat medik dan alat-alat lainnya yang diperlukan untuk tindakan steril.
Fungsi utama CSSD adalah menyiapkan alat-alat bersih dan steril untuk
keperluan perawatan pasien di rumah sakit. Secara lebih rinci fungsinya adalah
menerima, memproses, mensterilkan, menyimpan serta mendistribusikan peralatan
medis ke berbagai ruangan di rumah sakit untuk kepentingan perawatan pasien. Alur
Universitas Sumatera Utara
25
aktivitas fungsional CSSD dimulai dari proses pembilasan,
pembersihan/dekontaminasi, pengeringan, inspeksi dan pengemasan, memberi label,
sterilisasi, sampai proses distribusi. Berdirinya CSSD di rumah sakit dilatar belakangi
oleh :
a) Besarnya angka kematian akibat infeksi nasokomial.
b) Kuman mudah menyebar, mengkontaminasi benda dan menginfeksi manusia
di lingkungan rumah sakit.
c) Merupakan salah satu pendukung jaminan mutu pelayanan rumah sakit, maka
peran dan fungsi CSSD sangat penting.
Ketersediaan ruangan CSSD yang memadai merupakan suatu keharusan untuk
keefisienan dan keoptimalan fungsi kerja CSSD. Untuk menghindari terjadinya
kontaminasi silang di CSSD maka ruangan CSSD dibagi menjadi 5 bagian:
Daerah Dekontaminasi: terjadi proses penerimaan barang kotor, dekontaminasi, dan
pembersihan.
Daerah Pengemasan Alat: untuk melakukan pengemasan terhadap alat
bongkar pasang, maupun pengemasan dan penyimpanan alat bersih.
Daerah Prossesing Linen: Linen diinspeksi, dilipat, dan dikemas untuk
persiapan sterilisasi. Selain linen pada daerah ini dipersiapkan pula bahan-bahan
seperti kain kassa, cooton swabs, dll.
Daerah Sterilisasi: tempat dimana proses sterilisasi dilakukan.
Universitas Sumatera Utara
26
Daerah penyimpanan barang steril: sebaiknya letaknya berdekatan dengan
proses sterilisasi dilakukan. Tersedia mesin sterilisasi dua pintu dimana pintu
belakang langsung berhubungan dengan ruang penyimpanan.
Lokasi CSSD sebaiknya berdekatan dengan ruangan pemakai alat steril
terbesar. Dengan pemilihan lokasi seperti ini maka selain meningkatkan pengendalian
infeksi dengan meminimalkan resiko kontaminasi silang, serta meminimalkan lalu
lintas transportasi alat steril (Hidayat, 2003).
2.7 Instalasi Gas Medis
Penggunaan gas medis pada sarana pelayanan kesehatan diatur berdasarkan
Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1439/Menkes/SK/XI/2002.
Gas medis adalah gas dengan spesifikasi khusus yang dipergunakan untuk
pelayanan medis pada sarana kesehatan. Beberapa gas medis yang digunakan pada
sarana pelayanan kesehatan antara lain adalah gas Oksigen (tabung 1m3, 2m3, 6m3),
oksigen cair (tangki), gas N2O (tabung 25 kg), gas CO2, dan udara Tekan (UT).
Instalasi pipa gas medis adalah seperangkat prasarana perpipaan beserta peralatan
yang menyediakan gas medis tertentu yang dibutuhkan untuk menyalurkan gas medis
ke titik outlet di ruang tindakan dan perawatan. Sentral gas medis adalah seperangkat
prasarana beserta peralatan dan atau tabung gas/liquid yang menyimpan beberapa gas
medis tertentu yang dapat disalurkan melalui pipa instalasi gas medis. Instalasi gas
medis (IGM) adalah seperangkat sentral gas medis, instalasi pipa gas medis sampai
outlet
Universitas Sumatera Utara
27
Penyimpanan Gas Medis
a) Tabung-tabung gas medis harus disimpan berdiri, dipasang penutup kran dan
dilengkapi tali pengaman untuk menghindari jatuh pada saat terjadi bencana.
b) Lokasi penyimpanan harus khusus dan masing-masing gas medis dibedakan
tempatnya.
c) Penyimpanan tabung gas medis yang berisi dan tabung gas medis yang kosong
dipisahkan untuk memudahkan pemeriksaan dan penggantian.
d) Lokasi penyimpanan diusahakan jauh dari sumber panas, listrik dan oli atau
sejenisnya.
e) Gas medis yang sudah cukup lama disimpan, agar dilakukan uji/test kepada
produsen untuk mengetahui kondisi gas medis tersebut.
f) Pendistribusian Gas Medis
g) Distribusi gas medis dilayani dengan menggunakan troly yang biasanya
ditempatkan dekat dengan pasien.
h) Pemakaian gas diatur melalui flowmeter pada regulator.
i) Regulator harus dites dan dikalibrasi.
j) Penggunaan gas medis sistem tabung hanya bisa dilakukan 1 tabung untuk 1
orang.
k) Tabung gas beserta troly harus bersih dan memenuhi syarat sanitasi (higienis).
Universitas Sumatera Utara


Use: 0.0288