• KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 494 ...


  •   
  • FileName: 170706_KEPMENKESmetadon_494_2006.pdf [read-online]
    • Abstract: Mengacu dari penelitian pada 100 kasus dalam rentang waktu 2004­2005 ... Dalam hal tak ada dokter ahli kebidanan. maka dokter terlatih dan bidan terlatih dapat ...

Download the ebook

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 494/MENKES/SK/VII/2006
TENTANG
PENETAPAN RUMAH SAKIT DAN SATELIT UJI COBA
PELAYANAN TERAPI RUMATAN METADON
SERTA PEDOMAN PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa populasi terbesar rawan tertular dan menularkan infeksi
HIV/AIDS berada pada pengguna narkotik suntik;
b. bahwa terapi rumatan metadon yang merupakan salah satu
terapi substitusi diperlukan sebagai pendekatan harm reduction
atau pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS melalui
narkotik suntik;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan
Menteri Kesehatan tentang Penetapan Rumah Sakit dan Satelit
Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon Serta Pedoman
Program Terapi Rumatan Metadon;
Mengingat : 1. UndangUndang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit
Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3273);
2. UndangUndang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3495);
3. UndangUndang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika
(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3698);
1
4. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4437);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit (Lembaran Negara Tahun
1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3447);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3637);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai
Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
8. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Negara Republik Indonesia;
9. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1994 tentang
Pembentukan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS;
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 560/Menkes/Per/VIII/1989
tentang Jenis Penyakit Tertentu yang Dapat Menimbulkan
Wabah, Tata Cara Penyampaian Laporan dan Tata Cara
Penanggulangannya;
11. Keputusan Menteri Kesejahteraan Rakyat Nomor 9/KEP/1994
tentang Strategi Nasional Penanggulangan AIDS di Indonesia;
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1285/Menkes/SK/X/2002
tentang Pedoman Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit
Menular Seksual;
2
13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1507/Menkes/SK/X/2005
tentang Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS
Secara Sukarela (Voluntary Counselling and Testing);
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005
tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan;
M E M U T U S K A N :
Menetapkan :
Kesatu : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PENETAPAN
RUMAH SAKIT DAN SATELIT UJI COBA PELAYANAN TERAPI
RUMATAN METADON SERTA PEDOMAN PROGRAM TERAPI
RUMATAN METADON.
Kedua : Rumah Sakit Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon
sebagaimana dimaksud Diktum Kesatu adalah sebagai berikut:
1. RS Ketergantungan Obat, Propinsi DKI Jakarta.
2. RSUP Hasan Sadikin, Bandung, Propinsi Jawa Barat.
3. RSU Dr. Soetomo, Surabaya, Propinsi Jawa Timur.
4. RSU Sanglah, Denpasar, Propinsi Bali.
Ketiga : Satelit Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon sebagaimana
dimaksud Diktum Kesatu adalah sebagai berikut:
1. Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok, Propinsi DKI Jakarta.
2. Lapas Krobokan, Denpasar, Propinsi Bali.
3. Puskesmas Kuta I, Propinsi Bali.
Keempat : Rumah Sakit dan Satelit Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan
Metadon dalam melaksanakan Pelayanan Terapi Rumatan Metadon
mengacu pada Pedoman Program Terapi Rumatan Metadon
sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
Kelima : Rumah Sakit Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon
bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan dan wajib
3
menyampaikan laporan secara berkala melalui Direktur Jenderal
Bina Pelayanan Medik.
Keenam : Pembinaan dan Pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan ini
dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan fungsi dan tugasnya
masingmasing.
Ketujuh : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 17 Juli 2006
MENTERI KESEHATAN,
DR. Dr. SITI FADILAH SUPARI, Sp. JP (K)
Lampiran
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : 494/MENKES/SK/VII/2006
Tanggal : 17 Juli 2006
PEDOMAN PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON
4
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan jumlah IDU (pengguna narkotik suntik) yang sangat cepat
pada tahuntahun terakhir sudah mencapai tahap yang memprihatinkan,
dan hal tersebut diikuti pula oleh masalah kesehatan dan sosial yang
terkait. Data P2PL pada tahun 19962002 menunjukkan kenaikan infeksi
HIV pada pengguna narkotik suntik di Jakarta dan Bogor. Data tersebut
diperoleh dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Jakarta dan
Yayasan Kita, Bogor. Dari RSKO terdapat kenaikan dari 16 % (1999)
menjadi 48 % (2001). Dari Yayasan Kita terdapat kenaikan dari 14% (1999)
menjadi 45 % (2001).
Berdasarkan data tersebut diatas, maka pengembangan metadon dimulai
di RSKO dan RSU Sanglah. Salah satu dampak buruk IDU adalah
peningkatan kasus HIV dan HCV. Tren penularan HIV melalui narkotik
suntik juga mengalami peningkatan pesat dari tahun 1999 hingga 2002.
Dari laporan triwulan Dirjen P2PL sampai Juni 2005 menunjukkan data
propinsi yang presentasi IDUnya besar berturutturut adalah DKI Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat. Lalu
data P2PL sampai Desember 2004 mengemukakan fakta bahwa pengguna
narkotik suntik di Indonesia yang terinfeksi HIV cukup tinggi yaitu mencapai
44%. Oleh karena itu program pengurangan dampak buruk dari penularan
narkotik suntik (harm reduction) mutlak diperlukan. Salah satu kegiatan
pendekatan harm reduction adalah terapi substitusi dengan metadon dalam
sediaan cair, dengan cara diminum. Hal tersebut dikenal sebagai Program
Terapi Rumatan Metadon (PTRM) yang dulunya dikenal dengan Program
Rumatan Metadon (PRM).
Data RSU dr. Soetomo memperlihatkan bahwa pasien HIV/AIDS yang
dirawat di RSU dr. Soetomo sebanyak 62.8% adalah IDU, sedangkan di RS
Hasan Sadikin mencapai 81.5%.
Mengacu dari penelitian pada 100 kasus dalam rentang waktu 20042005
terhadap terapi rumatan metadon di RSKO Jakarta dan RS Sanglah Bali,
menunjukkan perbaikan kualitas hidup dari segi fisik, psikologi, hubungan
sosial dan lingkungan, penurunan angka kriminalitas, penurunan depresi
serta perbaikan kembali ke aktivitas sebagai anggota masyarakat (sekolah,
5
kerja). Dari pengamatan selama tahun 2003 hingga Mei 2005, pasien yang
berumur di atas 20 tahun merupakan kelompok terbanyak yang mampu
bertahan baik dalam PTRM. Pasien yang droppedout berkisar antara 40%
hingga 50%, dengan alasan utama karena sulitnya akses menuju tempat
layanan. Alasan lainnya adalah perlunya keahlian dan penyimpanan obat
khusus dalam pelayanan terapi metadon. Karena itu guna mencapai nilai
manfaat yang lebih besar dipertimbangkan perluasan jangkauan dengan
menempatkan layanan pada rumah sakit layanan metadon terbatas.
B. Permasalahan
1. Program terapi metadon membutuhkan tingkat kepatuhan yang tinggi,
terlebih lagi IDU yang mendapat terapi antiretroviral (ARV). Hal tersebut
sulit diperoleh dari para IDU tersebut.
2. Sebagian besar rumah sakit dan tenaga kesehatan belum memperoleh
informasi tentang PTRM.
3. Belum adanya pedoman guna menjamin kualitas pelayanan PTRM
yang menjadi acuan rumah sakit yang memberikan pelayanan terapi
rumatan metadon di Indonesia.
4. Belum adanya program terapi subsitusi yang terjangkau bagi IDU yang
dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
5. Program ini adalah program yang membutuhkan keahlian khusus dari
tenaga yang terlibat dalam pelayanan terapi metadon.
6. Metadon perlu pengawasan khusus.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas pelayanan PTRM melalui dibakukannya
pedoman terapi substitusi dengan metadon.
2. Tujuan Khusus
a. Tersosialisasikannya pedoman nasional terapi metadon bagi tenaga
kesehatan dan nonkesehatan yang terlibat dalam PTRM.
b. Pembinaan dari Depkes dan Dinas Kesehatan.
c. Sebagai acuan kerja dalam memberikan pelayanan PTRM.
D. Sasaran
6
Pedoman ini digunakan sebagai panduan kerja para pemberi pelayanan
metadon di rumah sakit dan satelit yang memberikan pelayanan terapi
rumatan metadon.
E. Tugas
Dalam memberikan pelayanan kesehatan, Rumah Sakit Pelayanan Terapi
Rumatan Metadon mempunyai tugas sebagai berikut:
1. Menyusun Standard Operational Procedures (SOP).
2. Rumah sakit merencanakan kebutuhan obat metadon dan Depkes
menjamin ketersediaan obat metadon yang secara langsung akan
didistribusikan oleh PT. Kimia Farma (sesuai dengan prosedur khusus
dan ketentuan yang berlaku).
3. Menyiapkan sarana, prasarana dan fasilitas pelayanan kesehatan yang
diperlukan.
4. Menyiapkan tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter spesialis, dokter,
perawat, farmasis, analis laboratorium, konselor dan case manager.
5. Membentuk tim pelayanan terpadu untuk metadon.
6. Melaporkan pelaksanaan pemberian pelayanan terapi metadon bagi
pengguna narkotik suntik.
7. Melaporkan penggunaan metadon secara berkala.
Dalam melaksanakan tugasnya, Rumah Sakit Pelayanan Terapi Rumatan
Metadon bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat.
F. Definisi Operasional
Adherence kepatuhan dan kesinambungan berobat yang melibatkan peran
pasien, dokter atau petugas kesehatan, pendamping dan
ketersediaan obat.
ART Anti Retroviral Therapy = Terapi Antiretroviral
ARV antiretroviral (obat)
Dokter Dokter umum atau spesialis yang terlatih untuk terapi substitusi
metadon dan konseling HIV/AIDS.
Dropout Tidak minum obat dalam waktu 7 hari berturutturut tanpa
alasan.
Eksklusi Mengeluarkan sesuatu dari suatu bagian.
HAV Hepatitis A Virus: virus penyebab hepatitis A.
7
HBV Hepatitis B Virus: virus penyebab hepatitis B.
HCV Hepatitis C Virus: virus penyebab hepatitis C.
Heroin Suatu opiat semi sintetik yang dibuat dari morfin yang terdapat
dalam getah tanaman candu melalui serangkaian proses kimia
sederhana.
HIV Human Immunodeficiency Virus: virus penyebab AIDS.
IDU Injecting Drug User/Injecting Drug Using = lihat penasun.
Inklusi Menjadikan sesuatu termasuk ke dalam bagian.
Ketergantungan Penggunaan opioida sesuai kriteria diagnostik ICDX.
opioida
Konselor Adalah pemberi pelayan konseling yang telah dilatih ketrampilan
konseling HIV dan dinyatakan mampu.
Kronisitas Lamanya minimal sudah 6 bulan ketergantungan heroin (sejak
penggunaan pertama kali).
Metadon Adalah suatu opiat sintetik yang menyebabkan pasien akan
mengalami ketergantungan fisik. Jika ia berhenti mengkonsumsi
metadon secara tibatiba, ia akan mengalami gejala putus zat.
Pasien Adalah seseorang dengan adiksi opioida yang mencari
pengobatan dengan PTRM.
Penasun* Pengguna NAPZA/narkoba suntik. Yang dimaksud penasun
pada pedoman ini adalah pengguna opioida suntik.
Program Terapi Adalah kegiatan memberikan metadon cair dalam bentuk
Rumatan sediaan oral kepada pasien sebagai terapi pengganti adiksi
Metadon (PTRM) opioida yang biasa mereka gunakan. PTRM ini sebelumnya
dikenal dengan PRM (Program Rumatan Metadon).
Rumah Sakit Adalah tempat pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan
medik dasar dan spesialistik, pelayanan penunjang medik,
pelayanan instalasi dan pelayanan perawatan secara rawat jalan
dan rawat inap, yang memiliki pelayanan program terapi
metadon.
8
Satelit PTRM Tempat pelayanan terapi metadon yang sudah mandiri dalam
hal sistem dan penyimpanan metadon selain rumah sakit,
seperti puskesmas atau lembaga pemasyarakatan dan berada
di bawah pembinaan rumah sakit pelayanan terapi rumatan
metadon sesuai dengan propinsinya.
Jejaring PTRM Tempat pelayanan terapi metadon yang belum memiliki
kemandirian dalam hal sistem pelayanan dan penyimpanan
metadon.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Profil Penyalahguna Heroin
Sekitar 73% pasien yang datang ke Program Terapi Rumatan Metadon
(PTRM) RSKO berumur 2029 tahun, selebihnya berumur di atas 30 tahun.
Sebanyak 90% dari mereka adalah lakilaki. Tingkat pendidikan mereka
kebanyakan adalah Sekolah Menengah Umum (46%) atau perguruan
tinggi. Banyak di antara mereka putus sekolah atau berhenti kuliah.
Kebanyakan dari mereka tergolong tingkat sosial menengah. Di klinik
PTRM Rumah Sakit Sanglah Denpasar, usia pasien lebih banyak dari usia
di atas 25 tahun dan 95% lebih lakilaki (mengacu pada data laporan Mei
2005).
Kriteria diagnostik untuk ketergantungan zat dan intoksikasi opioida
mengacu pada kriteria yang ada di ICDX.
1. Kriteria Diagnostik untuk Ketergantungan Zat (ICDX)
Definisi ketergantungan zat adalah suatu pola penggunaan zat yang
menyebabkan hendaya (disfungsi) yang jelas secara klinis atau
tertekan. Diagnosa atas terjadinya ketergantungan zat diperlihatkan
oleh adanya 3 (tiga) atau lebih kriteria di bawah ini, yang terjadi kapan
saja selama periode 12 bulan yang sama:
a. Toleransi, seperti yang dipastikan dengan adanya salah satu
tersebut di bawah ini:
1) kebutuhan akan penambahan dosis yang mencolok agar
diperoleh keadaan intoksikasi atau efek yang diinginkan.
2) berkurangnya efek secara mencolok akibat penggunaan
berulang dengan dosis yang sama.
9
Gejala putus zat, yang dipastikan dengan adanya salah satu yang
tersebut di bawah ini:
1) sindrom putus zat yang khas untuk zat tersebut (rujuk ke kriteria
A dan B dari kriteria untuk putus zat yang khas untuk zat
tertentu).
2) zat yang sama (atau yang sangat berkaitan) harus digunakan
untuk menyembuhkan atau menghindari gejala putus zat.
Zat sering digunakan jauh lebih banyak atau lebih lama dibanding
yang dimaksudkan.
b. Adanya keinginan yang menetap atau usaha yang tak berhasil
untuk menghentikan atau mengendalikan penggunaannya.
c. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mencari zat (misalnya
berobat pada banyak dokter atau mengendarai mobil jarak jauh),
menggunakan zat (misalnya terus menerus merokok) atau pulih dari
pengaruh zat tersebut.
d. Berkurang atau berhentinya kegiatan kegiatan sosial, pekerjaan atau
rekreasi akibat menggunakan zat.
e. Penggunaan zat berlanjut meskipun mengetahui adanya masalah
jasmani atau psikologis yang disebabkan karena penggunaan zat
(misalnya tetap menggunakan kokain walaupun mengalami depresi
atau terus minum minuman beralkohol walaupun mengetahui bahwa
tukak lambung bertambah parah akibat mengkonsumsi alkohol).
2. Kriteria Diagnostik Intoksikasi Opioid (ICD X)
a. Baru saja mengkonsumsi opioid (termasuk heroin)
b. Perilaku maladaptif yang secara klinis mencolok atau adanya
perubahan psikologis (misalnya euforia pada permulaan diikuti
dengan apatis, disforia, agitatif atau retardasi psikomotor, hendaya
dalam daya penilaian, fungsi sosial atau pekerjaan, yang
berkembang atau segera sesudah mengkonsumsi opioid).
c. Konstriksi pupil (atau dilatasi pupil disebabkan karena anoksia akibat
overdosis yang berat) dan satu (atau lebih) dari gejala berikut, yang
terjadi tidak lama sesudah mengkonsumsi opioid:
1) kesadaran menurun atau koma
2) cadel
3) hendaya (disfungsi) pada perhatian atau daya ingat
d. Gejala tersebut tidak disebabkan karena kondisi medik umum dan
bukan disebabkan karena gangguan jiwa lain.
10
3. Kriteria Diagnostik Putus Opioida (ICD X)
a. Salah satu dari yang tersebut di bawah ini :
1) berhenti atau mengurangi penggunaan opioida yang berat dan
lama (beberapa minggu atau lebih).
2) pemberian suatu antagonis opioida sesudah periode penggunaan
opioid.
b. Tiga atau lebih dari yang tersebut di bawah ini, terjadi dalam
hitungan menit sampai beberapa hari sesudah kriteria A :
1) perasaan disforik
2) mual atau muntah
3) nyeri otot
4) lakrimasi atau rinore
5) pupil melebar, piloereksi, atau berkeringat
6) diare
7) menguap berkalikali
8) demam
9) insomnia
c. Gejalagejala pada kriteria B secara klinis menyebabkan tekanan
batin yang jelas atau hendaya (disfungsi) dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
d. Gejalagejala tersebut tidak disebabkan karena kondisi medik umum
dan tidak disebabkan karena gangguan jiwa lain.
B. Farmakologi Heroin
Heroin tergolong opioida semisintetik, dibuat dari morfin yang terdapat
dalam getah tanaman candu melalui perubahan kimiawi sederhana. Heroin
lebih mudah larut dalam lemak, sehingga lebih cepat menembus sawar
darahotak (Blood Brain Barrier) dibanding morfin. Heroin mengalami
proses biotransformasi di hati untuk berubah kembali menjadi morfin.
Pengaruh heroin dan morfin adalah sama, hanya saja heroin mempunyai
kekuatan 3 kali morfin dan mulai bekerja lebih cepat. Absorbsi pada
penggunaan oral berlangsung lambat. Metabolisme heroin terutama terjadi
di hepar dan di ekskresi melalui air seni dan empedu. Lebih dari 90%
ekskresi terjadi dalam 24 jam pertama, walaupun metabolitnya dapat
dideteksi dalam air seni sampai 48 jam atau lebih.
Toleransi tubuh terhadap heroin terjadi dengan cepat, namun terdapat
beberapa perbedaan reaksi antara masingmasing organ tubuh. Sebagai
11
contoh, heroin memiliki toleransi tinggi terhadap depresi pernafasan, efek
analgetik, sedasi, dan muntah dibandingkan toleransi terhadap miosis dan
konstipasi. Selain itu juga terdapat toleransi silang antara heroin dan
opioida lain.
Potensi heroin untuk menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologis
sangat kuat. Heroin yang beredar di pasar gelap tidak dalam bentuk murni,
melainkan dicampur dengan tepung, gula, kina, kakao, atau bahkan tawas.
Heroin juga berpotensi menimbulkan reaksi toksik sampai
overdosis, gejala klinis dapat meliputi:
1. Depresi pernafasan.
2. Bibir biru dan pucat atau tubuh membiru.
3. Pupil pinpoint atau dilatasi bila pasien koma.
4. Bila heroin disedot melalui hidung, mukosa hidung tampak hiperemis.
5. Adanya bekas suntikan baru.
6. Edema paru.
7. Jantung aritmia dan atau kejang.
8. Koma atau mati (akibat depresi pernafasan, edema otak atau paru).
C. Farmakologi dan Farmakokinetik Metadon
Metadon mempunyai khasiat sebagai suatu analgetik dan euforian karena
bekerja pada reseptor opioid mu (), mirip dengan agonis opioid mu ()
yang lain misalnya morfin. Metadon adalah suatu agonis opioid sintetik
yang kuat dan secara oral diserap dengan baik. Metadon juga dapat
dikonsumsi melalui parenteral dan rektal, meski cara yang terakhir tidak
lazim. Efek metadon secara kualitatif mirip dengan efek morfin dan opioid
lainnya. Efek metadon tersebut antara lain sebagai analgetik, sedatif,
depresi pernapasan, dan euforia. Efek lainnya adalah menurunkan tekanan
darah, konstriksi pupil, dan efek pada saluran cerna yaitu memperlambat
pengosongan lambung karena mengurangi motilitas, meningkatkan tonus
sfingter pilorik, dan meningkatkan tonus sfingter Oddi yang berakibat
spasme saluran empedu.
Efek samping metadon antara lain gangguan tidur, mual muntah,
konstipasi, mulut kering, berkeringat, vasodilatasi dan gatalgatal,
menstruasi tidak teratur, ginekomastia dan disfungsi seksual pada pria,
serta retensi cairan dan penambahan berat badan. Efek samping tidak
akan terlalu banyak dialami oleh orang yang telah menggunakan heroin.
12
Bioavailibilitas metadon oral tidak memperlihatkan perubahan yang berarti
pada orang yang distabilisasi dengan metadon, atau yang sudah
menggunakannya secara kronis. Metadon dipecah di hati melalui sistem
enzim sitokrom P450. sekitar 10 % metadon yang dikonsumsi secara oral
akan diekskresi utuh. Sisanya akan dimetabolisme dan metabolit inaktifnya
dibuang melalui urin dan tinja. Metadon juga dibuang melalui keringat dan
liur.
Onset efek metadon terjadi sekitar 30 menit setelah obat diminum.
Konsentrasi puncak dicapai setelah 34 jam setelah metadon diminum.
Rerata waktu paruh metadon adalah 24 jam. Metadon mencapai kadar
tetap dalam tubuh setelah penggunaan 310 hari. Setelah stabilisasi
dicapai, variasi konsentrasi metadon dalam darah tidak terlalu besar dan
supresi gejala putus obat lebih mudah dicapai.
Metadon banyak diikat oleh protein plasma dalam jaringan seluruh tubuh.
Metadon dapat diketemukan dalam darah, otak, dan jaringan lain seperti
ginjal, limpa, hati, serta paru. Konsentrasi metadon dalam jaringan tersebut
lebih tinggi daripada dalam darah. Ikatan tersebut menyebabkan terjadinya
akumulasi metadon dalam badan cukup lama bila seseorang berhenti
menggunakan metadon.
D. HIV, Virus Hepatitis, dan Tuberkulosis
Para IDU cenderung menggunakan obat dengan cara yang tidak steril
melalui suntikan dan/atau kulit yang tidak dibersihkan. Akibatnya mereka
sangat mudah mendapat infeksi oportunistik seperti infeksi tulang dan
sendi, endokarditis, sepsis, infeksi jaringan lunak, dan tetanus. Hepatitis (B,
C, D), HIV, dan malaria dapat menular bila terjadi saling pinjam meminjam
peralatan suntik atau terjadi inokulasi langsung darah orang lain yang
terinfeksi. Infeksi lainnya adalah tuberkulosis yang ditularkan melalui udara
pernafasan. Gonore, HBV, HIV, dan sifilis dapat berjangkit melalui
hubungan seksual yang tak terlindung. Pneumonia karena berbagai etiologi
juga sangat sering terjadi di kalangan penyalahguna heroin.
1. HIV
Holmberg (1996) memperkirakan secara kasar bahwa separuh dari
infeksi HIV/AIDS terdapat pada penasun. Di kalangan pengguna heroin
makin banyak dilaporkan angka kejadian infeksi HIV pada lakilaki dan
perempuan yang menggunakan zat untuk bersenangsenang selain
13
melalui suntikan. Diperkirakan hal tersebut disebabkan karena infeksi
melalui kontak seksual. Serosurveilance pada penasun yang
memperlihatkan hasil positif HIV dan datang berobat di RSKO sebanyak
lebih dari 50% dan 59,49% untuk yang berobat di RS Sanglah Bali (Juni
2005).
2. Virus Hepatitis
Virus hepatitis menyebabkan inflamasi dan kerusakan atau kematian
selsel hati. Penasun mempunyai risiko tinggi untuk terinfeksi beberapa
jenis virus hepatitis.
Pada suatu penelitian terhadap 389 penasun di California, 41% positif
dengan antibodi HAV, 73% untuk HBV, 94% untuk HCV, dan 10% untuk
HDV (1995). Serosurveilence terhadap penasun yang berobat ke
RSKO, hasilnya 70% HCV positif. Di Klinik PTRM RS Sanglah Bali
95,45% pasien menderita Hepatitis C, dan 9,68 Hepatitis B (Laporan
Juni 2005).
Hepatitis B adalah virus DNA dari golongan hepadnavirus yang terdapat
dalam titer yang tinggi dalam darah dan eksudat (misalnya lesi di kulit)
orang yang terinfeksi akut maupun kronis. Dalam jumlah yang moderat
HBV terdapat pada air liur, semen, dan cairan vagina. 3 cara transmisi
yang penting adalah melalui darah, aktivitas seksual, dan ibuanak.
Masa inkubasinya 2 minggu sampai 6 bulan.
Virus Hepatitis C adalah virus RNA dari golongan flavivirus, terdapat
dalam titer rendah pada darah orang yang terinfeksi dan dapat
terdeteksi dalam cairan tubuh lain tetapi tidak konsisten. Transmisi yang
utama HCV adalah melalui darah, ibuanak, sedangkan penularan
secara seksual jarang. Masa inkubasinya berkisar 6 sampai 7 minggu,
dengan rentang waktu 2 minggu sampai 6 bulan.
3. Tuberkulosis
Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global. Sebanyak 40%
kasus tuberkulosis dunia berada di Asia Tenggara dengan kasus
terbanyak (95%) berada di India, Indonesia, Bangladesh, Thailand, dan
Myanmar. Di Asia Tenggara lebih dari 95% kasus tuberkulosis
merupakan penyakit infeksi pembunuh utama pada umur 5 tahun ke
atas.
14
Jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia berada di urutan ketiga
setelah India dan Cina, dengan lebih dari 500.000 kasus baru dan
20.000 kematian per tahun. Menurut survei Depkes tahun 2003, jumlah
kasus HIV/AIDS yang disertai tuberkulosis di Bali sebanyak 24%, 32%
di Jawa Timur dan 10% di DKI.
E. Komponen dalam Program Terapi Metadon
Beberapa komponen dalam program terapi metadon adalah sebagai
berikut :
1. Pemberian metadon
2. Konseling, meliputi: konseling adiksi, metadon, keluarga, kepatuhan
minum obat, kelompok, dan VCT. Akses ke pelayanan konseling harus
di rumah sakit penyelenggara metadon. Pasien dapat mengikuti
konseling tersebut jika dianggap perlu oleh tim.
Konseling dapat dirancang untuk mencakup :
a. isu hukum.
b. ketrampilan hidup.
c. mengatasi stres.
d. mengidentifikasi dan mengobati gangguan mental lain yang terdapat
bersama.
e. isu tentang penyalahgunaan fisik, seksual, emosional.
f. menjadi orangtua dan konseling keluarga.
g. pendidikan tentang pengurangan dampak buruk.
h. berhenti menyalahgunakan narkoba atau psikotropika dan
pencegahan kambuh.
i. perubahan perilaku berisiko dan pemeriksaan HIV/AIDS.
j. isu tentang perjalanan lanjut penggunaan metadon, dan aspek yang
terkait dengannya.
k. Pemberi layanan konseling harus seorang konselor profesional yang
terlatih.
3. Pertemuan keluarga (PKMRS = Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
Rumah Sakit).
4. Program pencegahan kekambuhan (relapse prevention program).
15
Evaluasi fisik, mental, sosial
PASIEN DATANG
Rujukan/sendiri Konseling Adiksi
Konseling Metadon
SKRINING Konseling Keluarga
TERAPI METADON KONSELING HIV HCV
stabilisasi
TES HIV
Evaluasi simtom + pem lab
ADHERENCE TERAPI IO + ART
Konseling lanjut
sesuai perjalanan Dukungan Sebaya/Keluarga
penyakit
Gambar 1. Komponen Dalam Program Terapi Metadon
16
III. PROTOKOL TERAPI
Dalam protokol terapi, terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan pemilihan
pasien dan dosis. Jumlah pasien yang direkrut disesuaikan dengan luasnya
ruangan yang tersedia, lamanya jam kerja, dan sumber daya manusia yang
tersedia di masingmasing program terapi metadon. Namun demikian perlu
diperhatikan bahwa pada setiap program terapi metadon sebaiknya jumlah
pasien setiap harinya tidak lebih dari 200250 pasien. Kepadatan pengunjung
akan mengundang ketidaknyamanan dan memancing agresivitas klien dan
pemberi layanan. Mulailah dengan merekrut hanya 45 orang klien baru setiap
minggu. Pada tahun pertama direkomendasikan jumlah klien tidak melebihi
100 orang setiap klinik guna memberi kesempatan penyesuaian kemampuan
pemberi layanan dalam mengikuti langkah terapi. Hal ini tidak berlaku bagi
klinik yang mempunyai staf berpengalaman.
Terapi metadon diindikasikan bagi mereka yang mengalami ketergantungan
opioid dan telah menggunakan opioid secara teratur untuk periode yang lama.
Untuk lebih jelasnya terdapat beberapa kriteria inklusi dan eksklusi berikut ini.
A. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi harus meliputi:
1. Memenuhi kriteria ICDX untuk ketergantungan opioid.
2. Usia yang direkomendasikan: 18 tahun atau lebih. Klien yang berusia
kurang dari 18 tahun harus mendapat second opinion dari profesional
medis lain.
3. Ketergantungan opioida (dalam jangka waktu 12 bulan terakhir).
4. Sudah pernah mencoba berhenti menggunakan opioid minimal satu
kali.
B. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi harus meliputi:
1. Pasien dengan penyakit fisik berat. Hal ini perlu pertimbangan khusus
yakni meminta pendapat banding profesi medik terkait.
2. Psikosis yang jelas, perlu pertimbangan psikiater untuk menentukan
langkah terapi.
3. Retardasi Mental yang jelas, perlu pertimbangan psikiater untuk
menentukan langkah terapi.
17
Program Terapi Metadon tidak diberikan pada pasien dalam keadaan
overdosis atau intoksikasi opiat. Penilaian terhadap pasien tersebut dapat
dilakukan sesudah pasien tidak dalam keadaan overdosis atau intoksikasi.
C. Seleksi Pasien
Seleksi kesehatan fisik dan psikososial pasien dilakukan oleh seorang
dokter yang terlatih dalam terapi substitusi metadon. Dokter ini harus
memiliki sertifikasi dari Depkes, mengikuti pelatihan terkait, dan konseling
yang berhubungan dengan penyakit HIV/AIDS.

D. Pemberian Dosis Awal Metadon
Dosis awal yang dianjurkan adalah 1530 mg untuk tiga hari pertama.
Kematian sering terjadi bila menggunakan dosis awal yang melebihi 40 mg.
Pasien harus diobservasi 45 menit setelah pemberian dosis awal untuk
memantau tandatanda toksisitas atau gejala putus obat. Jika terdapat
intoksikasi atau gejala putus obat berat maka dosis akan dimodifikasi
sesuai dengan keadaan.
Estimasi yang terlalu tinggi tentang toleransi pasien terhadap opiat dapat
membawa pasien kepada risiko toksik akibat dosis tunggal. Dan juga pasti
meningkatkan risiko yang lebih sering terjadi yaitu keadaan toksik akibat
akumulasi metadon sebab metadon dieliminasi lambat sebab waktu
paruhnya panjang. Estimasi toleransi pasien terhadap metadon yang terlalu
rendah menyebabkan risiko pasien untuk menggunakan opiat yang ilegal
bertambah besar akibat kadar metadon dalam darah kurang, dan akan
memperpanjang gejala putus zat maupun periode stabilisasi.
Metadon harus diberikan dalam bentuk cair dan diencerkan sampai menjadi
100cc. Pasien harus hadir setiap hari di klinik. Metadon akan diberikan oleh
asisten apoteker atau perawat yang diberi wewenang oleh dokter .Pasien
harus segera menelan metadon tersebut di hadapan petugas PTRM.
Petugas PTRM akan memberikan segelas air minum. Setelah diminum,
petugas akan meminta pasien menyebutkan namanya atau mengatakan
sesuatu yang lain untuk memastikan bahwa metadon telah ditelan. Pasien
harus menandatangani buku yang tersedia, sebagai bukti bahwa ia telah
menerima dosis metadon hari itu.
18
E. Fase Stabilisasi Terapi Substitusi Metadon
Fase stabilisasi bertujuan untuk menaikkan perlahanlahan dosis dari dosis
awal sehingga memasuki fase rumatan. Pada fase ini risiko intoksikasi dan
overdosis cukup tinggi pada 1014 hari pertama.
Dosis yang direkomendasikan digunakan dalam fase stabilisasi adalah
dosis awal dinaikkan 510 mg tiap 35 hari. Hal ini bertujuan untuk melihat
efek dari dosis yang sedang diberikan. Total kenaikan dosis tiap minggu
tidak boleh lebih 30 mg. Apabila pasien masih menggunakan heroin maka
dosis metadon perlu ditingkatkan. Kadar metadon dalam darah akan terus
meningkat selama 5 hari setelah dosis awal atau penambahan dosis.
Waktu paruh metadon cukup panjang yaitu 24 jam, sehingga bila dilakukan
penambahan dosis setiap hari akan berbahaya akibat akumulasi dosis.
Karena itu, penambahan dosis dilakukan setiap 35 hari.
Sangat penting untuk diingat bahwa tak ada hubungan yang jelas antara
besarnya jumlah dosis opiat yang dikonsumsi seorang penasun dengan
dosis metadon yang dibutuhkannya pada PTRM. Selama minggu pertama
fase stabilisasi pasien harus datang setiap hari di klinik atau dirawat di
rumah sakit untuk diamati secara cermat oleh profesional medis terhadap
efek metadon (untuk memperkecil kemungkinan terjadinya overdosis dan
penilaian selanjutnya).
Pasien yang mengikuti program terapi metadon yang secara konsisten
menggunakan benzodiazepin, kokain, atau amfetamin mempunyai risiko
yang signifikan terhadap komplikasi dan mempunyai prognosis yang lebih
buruk. Sebagai tambahan, dapat disebutkan bahwa kombinasi alkohol,
sedativa dan opiat berjangka kerja pendek (misalnya oksikodon dan
hidromorfon) secara nyata meningkatkan risiko kematian akibat overdosis..
F. Kriteria Penambahan Dosis
Beberapa kriteria penambahan dosis adalah sebagai berikut:
1. adanya tanda dan gejala putus opiat (obyektif dan subyektif);
2. jumlah dan/atau frekuensi penggunaan opiat tidak berkurang;
3. craving tetap masih ada.
Prinsip terapi pada PTRM adalah start low go slow aim high, artinya
memulai dosis yang rendah adalah aman, peningkatan dosis perlahan
adalah aman, dan dosis rumatan yang tinggi adalah lebih efektif.
19
G. Fase Rumatan Terapi Substitusi Metadon


Use: 0.0746