• MANAJEMEN PRAKTIS USAHA BIDANG AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI


  •   
  • FileName: PKM8 diklat-jatiluhur.pdf [read-online]
    • Abstract: 3. Tani tanaman hias/bunga. 4. Pertanian yang lain 4. Budidaya pembibitan. tanaman. Sektor Peternakan. Sektor Perikanan: 1. Peternak ... agribisnis mulai dari budidaya. hingga tanaman atau ternak berproduksi saja. Menurut kategori jenis. tanaman atau ternak yang ...

Download the ebook

MANAJEMEN PRAKTIS
USAHA BIDANG AGRIBISNIS
DAN
AGROINDUSTRI
Oleh :
RONI KASTAMAN
Disampaikan Pada Acara
Kegiatan Pembekalan Peningkatan Keterampilan Dan Wawasan
Pegawai Dalam Masa Persiapan Purna Tugas Di Lingkungan
Perum Jasa Tirta II
Jatiluhur, 6 April 2005
GAMBARAN UMUM
• Di Jawa Barat terdapat 6.751.999 unit UKMK
atau 99,89% dari total kelompok usaha
• Pertanian Tanaman Pangan = 84,97%
• Perkebunan = 11,83%
• Perikanan = 1,15%
• Peternakan = 0,25%
• Kehutanan = 0,02%
• Jenis Pertanian Lainnya = 1,78%
BIDANG PERTANIAN
(AGRIBISNIS & AGROINDUSTRI)
MASIH MENDOMINASI UKMK
• Agribisnis adalah kegiatan usaha yang
membudidayakan tanaman, ternak mulai
dari saat awal pertumbuhan hingga
menghasilkan produk siap konsumsi dan
siap olah untuk proses lebih lanjut.
• Agroindustri adalah usaha yang
mengolah bahan mentah dari pertanian
termasuk di dalamnya tanaman dan
ternak sedemikian rupa menghasilkan
produk hasil olahan yang beragam jenis
dan manfaatnya.
PROSPEK USAHA BIDANG
AGRIBISNIS & AGROINDUSTRI
• Kebutuhan pasar domestik tinggi
karena populasi penduduk banyak.
• Variabilitas produk yang dapat
dihasilkan untuk pasar domestik dan
ekspor tinggi
• Dukungan sumberdaya alam memadai
• Kondisi geografis Indonesia
diuntungkan
• Berada pada jalur lalu lintas
perdagangan dunia
KARAKTERISTIK PRODUK
PERTANIAN
• Mudah rusak karena pengaruh fisik,
kimia atau biologi
• Bersifat klimaterik (respon terhadap
udara luar disekeliling produk tinggi)
• Umur produksi agak lama (3 bulan
hingga tahunan)
• Umur konsumsi dalam bentuk segar
pendek
• Memegang peranan penting dalam
pemenuhan sandang, papan, pangan,
pakan
BEBERAPA FAKTOR YANG PERLU
DIPERTIMBANGKAN DALAM
AGRIBISNIS / AGROINDUSTRI
• Umur tanam hingga produksi
• Lama konsumsi dari produk pertanian tersebut
(umur simpan)
• Variabilitas bahan untuk diolah dari satu
produk ke produk yang lain
• Cara penanganan pasca panen, penyimpanan
dan penyajian
• Kesesuaian dengan standar yang ditetapkan
• Penampakan produk dalam rangka menarik
minat konsumen
• Aspek lingkungan pemasaran
RANTAI NILAI USAHA
Pelayanan
Pendukung Manajemen Sistem
Pemasaran pada
Logistik produksi distribusi
pelanggan
TAHAPAN KEGIATAN DALAM
AGRIBISNIS
FAKTOR PENENTU AGRIBISNIS
• Benih, bibit
• Pupuk
• Pengolahan tanah
• Pestisida
• Irigasi & drainase
• Pemeliharaan
• Pemanenan
• Keputusan dalam memasarkan produk (cara ijon
atau dengan pemasaran sendiri )
Sektor Agribisnis dengan
Dukungan BUMN
Sektor Pertanian Sektor Holtikultura
1. Pertanian Padi 1. Tani tanaman sayuran
2. Pertanian jagung 2. Tani tanaman buah-buahan
3. Pertanian palawija 3. Tani tanaman hias/bunga
4. Pertanian yang lain 4. Budidaya pembibitan
tanaman
Sektor Peternakan Sektor Perikanan:
1. Peternak sapi/kerbau dll 1. Peternak ikan air tawar
2. Peternak kambing/domba biri-biri 2. Peternak ikan air laut
3. Peternak ayam, bebek dll 3. Peternak ikan air
payau/sungai
4. Peternak unggas 4. Budi daya pembibitan
ikan/udang
5. Budidaya pakan ternak dll
ACUAN PEMILIHAN KOMODITAS
AGRIBISNIS
• Komoditas dengan tingkat produksi per
satuan luas
• Profit per satuan produk
• Tingkat utilisasi lahan produksi yang lebih
tinggi
• Kemungkinan diversifikasi olahan produk
lebih banyak
• Titik pulang modal (break even point) atau
periode kembali modal (pay back period)
• Umur produksi yang sesingkat mungkin
ILUSTRASI PROFIT AGRIBISNIS
TAHAPAN KEGIATAN DALAM AGROINDUSTRI
AKTIVITAS & PRODUK
AGROINDUSTRI
CONTOH AGROINDUSTRI
KOMODITAS & AKTIVITAS AGROINDUSTRI
PERENCANAAN USAHA AGRIBISNIS &
AGROINDUSTRI
• Menganalisis situasi yang berhubungan usaha yang akan
dilakukan.
– Permintaan pasar
– Pangsa pasar & segmentasi pasar
– Strategi memasuki pasar
• Pemahaman tentang organisasi dan tata laksana perusahaan.
– Bagaimana menentukan harga pokok dan harga jual produk,
penentuan volume produksi dan perhitungan titik impas
usaha, sistem pembukuan keuangan.
– Pengetahuan tentang konsep bunga uang (cara hitung
bunga)
– Kemampuan dalam menganalisis alternatif usaha yang
paling menguntungkan
– Bagaimana cara menjalin kemitraan
• Melakukan studi kelayakan usaha
• Mengelola sistem produksi dalam berusaha dengan cara yang
efektif dan efisien
• Menjaga usaha yang dilakukan agar berkesinambungan
dengan mengacu pada kaidah 3K yaitu : KAPASITAS,
KUALITAS dan KONTINYUITAS.
CONTOH KEGIATAN AGRIBISNIS
CONTOH KEGIATAN AGRIBISNIS
CONTOH KEGIATAN AGRIBISNIS
CONTOH KEGIATAN AGRIBISNIS
CONTOH KEGIATAN AGROINDUSTRI
CONTOH KEGIATAN AGROINDUSTRI
CONTOH KEGIATAN AGROINDUSTRI
Pedoman Sederhana Menghitung
Kelayakan Usaha
• Perkiraan biaya investasi untuk kurun
waktu usaha tertentu
• Perkiraan biaya produksi (operasi
produksi)
• Perkiraan pendapatan selama periode
usaha tertentu
• Perhitungan nilai bersih usaha dengan
mempertimbangkan aspek bunga bank
• Perhitungan periode pengembalian
investasi
MODUL PELATIHAN
MANAJEMEN PRAKTIS USAHA
BIDANG AGRIBISNIS
DAN
AGROINDUSTRI
OLEH :
RONI KASTAMAN
Disampaikan Pada Acara
Kegiatan Pembekalan Peningkatan Keterampilan Dan
Wawasan Pegawai Dalam Masa Persiapan Purna
Tugas Di Lingkungan Perum Jasa Tirta II
Jatiluhur, 4 – 7 April 2005
1
MANAJEMEN PRAKTIS
USAHA BIDANG AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI
1. Pendahuluan
Usaha kecil menurut definisi dari Bank Indonesia, adalah usaha
dengan kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 juta (tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha), atau usaha yang memiliki hasil
penjualan tahunan paling banyak Rp. 1 miliar, dimiliki WNI dan berdiri
sendiri (Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/4/KEP/DIR
tanggal 4 April 1997 tentang Pemberian Kredit Usaha Kecil)
Menurut data Dinas KUKM Propinsi Jawa Barat, jumlah
kelompok usaha kecil di Propinsi Jawa Barat pada tahun 2000 tercatat
sekitar 6.751.999 unit usaha kecil menengah atau 99,89% dari
jumlah keseluruhan kelompok usaha yang ada di Jawa Barat. Dari
jumlah tersebut, sektor usaha bidang pertanian masih mendominasi
dengan jumlah usaha (rumahtangga) sebanyak 4.094.672 unit atau
60,57% dari total keseluruhan usaha yang ada (www.bi.go.id, 2002).
Gambaran umum kegiatan usaha bidang pertanian tersebut antara
lain sebagai berikut :
1. Pertanian Tanaman Pangan = 84,97%
2. Perkebunan = 11,83%
3. Perikanan = 1,15%
4. Peternakan = 0,25%
5. Kehutanan = 0,02%
6. Jenis Pertanian Lainnya = 1,78%
Berdasarkan gambaran tersebut, usaha dengan basis bahan baku dari
pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan untuk kondisi di
Jawa Barat masih menjadi perhatian utama. Permintaan akan
tanaman pangan dalam hal ini masih menjadi prioritas utama petani
mengingat kebutuhan hidup kebanyakan penduduk di Jawa Barat dan
2
juga daerah lain masih tertumpu pada komoditas ini, terutama pada
tanaman padi dan palawija.
Secara garis besarnya kegiatan usaha kecil dan menengah
dengan mengambil basis kegiatan pertanian dapat dikelompokkan
dalam 2 kegiatan, yaitu : Agribisnis dan Agroindustri.
Agribisnis adalah kegiatan usaha yang membudidayakan
tanaman, ternak mulai dari saat awal pertumbuhan hingga
menghasilkan produk siap konsumsi dan siap olah untuk proses lebih
lanjut. Sedangkan agroindustri adalah usaha yang mengolah bahan
mentah dari pertanian termasuk di dalamnya tanaman dan ternak
sedemikian rupa menghasilkan produk hasil olahan yang beragam
jenis dan manfaatnya.
Sebenarnya usaha dalam bidang agribisnis dan agroindustri
apabila dikelola dengan baik dapat menjadi lahan usaha yang sangat
menjanjikan, hal ini didasarkan atas pengamatan empiris di lapangan
bahwa sektor ini banyak menyerap tenaga kerja dan permintaan
pasar domestik maupun global cenderung mengalami peningkatan.
Sebagai contoh misalnya. Untuk pemenuhan kebutuhan hari raya
qurban dan ibadah haji di pasaran Arab Saudi setiap tahun tidak
kurang dari 2 juta ternak domba, biri atau unta diperlukan untuk
keperluan jamaah haji. Selama ini pemenuhan permintaan tersebut
dipenuhi oleh beberapa negara penghasil ternak di Eropa, Amerika
atau Australia. Padahal kedekatan psikologis untuk pasar Arab Saudi
bagi Indonesia tidaklah terlalu sulit untuk memasukinya, namun
untuk memenuhi hal tersebut produsen ternak dalam negeri tidak
dapat memenuhinya. Jangankan untuk ekspor, untuk pasar dalam
negeri saja tidak dapat terpenuhi. Belum lagi permintaan akan
komoditas buah-buahan dan sayuran tropika untuk pasar Eropa,
Amerika dan negara lainnya, yang selama ini sebagian kecil dipenuhi
3
oleh Malaysia atau Thailand. Inilah sekilas gambaran bahwa
sebenarnya potensi pengembangan komoditas pertanian memiliki
prospek yang baik.
2. Karakteristik Usaha Agribisnis Dan Agroindustri
Dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
manusia akan selalu membutuhkan makanan kapan dan dimanapun
dia berada, oleh karena itu bidang pertanian merupakan bidang
strategis bagi kehidupan manusia. Dengan demikian mengembangkan
usaha dalam bidang pertanian, baik berupa produk mentah, bahan
setengah jadi maupun produk jadi pada dasarnya merupakan
kegiatan yang memiliki prospek sangat baik dan orientasinya bisa
seumur hidup apabila sistem tata niaga dan pengelolaannya baik.
Mengembangkan usaha dalam bidang agribisnis dan
agroindustri, baik berupa produk mentah, bahan setengah jadi
maupun produk jadi merupakan kegiatan yang memiliki prospek
sangat baik. Hal ini disebabkan oleh karena selama manusia hidup
akan selalu memerlukan sandang, pangan, pakan dan papan untuk
kebutuhan hidupnya, yang notabene sumber bahan bakunya berasal
dari kegiatan bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan
peternakan. Jadi usaha dalam bidang ini orientasinya bisa seumur
hidup.
Permasalahannya adalah dalam mengembangkan usaha bidang
ini banyak kendala yang dihadapi, mulai dari ketersediaan bahan
baku, aspek kesehatan, periode waktu atau umur konsumsi hingga
cara penanganannya.
Karakteristik produk pertanian pada umumnya dipengaruhi oleh
musim, mudah rusak (karena fisik, kimia atau bilologis) dan
bentuknya beragam sehingga bagi kebanyakan orang awam
4
mengelola kegiatan agribisnis atau agroindustri dianggap beresiko
tinggi disamping untuk dapat menghasilkan membutuhkan waktu
yang cukup lama dibandingkan usaha lainnya. Sebagai contoh
misalnya : untuk dapat menghasilkan gabah tanaman padi
membutuhkan waktu proses sekitar 3 – 4 bulan dari sejak tanam
sehingga selama itu petani belum dapat menikmati dari hasil
usahanya. Sedangkan mereka yang mengolah gabah menjadi nasi
(usaha catering misalnya) dapat langsung mendapatkan hasilnya
antara 1 – 2 hari.
Ada beberapa karakteristik umum yang dapat dijadikan dasar
dalam pengembangan produk pertanian, antara lain yaitu :
1. Umur tanam hingga produksi
2. Lama konsumsi dari produk pertanian tersebut (umur simpan)
3. Variabilitas bahan untuk diolah dari satu produk ke produk yang
lain
4. Cara penanganan pasca panen, penyimpanan dan penyajian
5. Kesesuaian dengan standar yang ditetapkan
6. Penampakan produk dalam rangka menarik minat konsumen
7. Aspek lingkungan pemasaran
Semua faktor di atas akan berdampak pada keberhasilan dalam
pemasaran produk kepada konsumen. Idealnya produk pertanian
yang akan dipasarkan memiliki umur konsumsi yang lama, mudah
diolah menjadi berbagai macam produk, mudah dalam mengolah dan
menyajikannya, tidak sulit dalam menyajikan kemasannya, memenuhi
standar yang berlaku umum untuk produk pangan terutama yang
menyangkut kesehatan dan dapat dipasarkan di berbagai tempat.
Untuk mendapatkan produk pertanian yang ideal tersebut tidak
mudah, oleh karena tidak semua bahan memiliki karakteristik yang
sama, yang pada akhirnya akan membawa konsekuensi kepada biaya
produksi. Hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam kaitannya
5
dengan aspek pemasaran produk adalah strategi pemasaran yang
bagaimana yang akan dipilih oleh perusahaan dalam kaitannya
dengan produk yang dibuat. Porter (1985) mengemukakan bahwa
pada dasarnya ada 3 strategi penting untuk mendapatkan kesuksesan
dalam bidang pemasaran produk, yaitu :
1. Keunggulan dalam biaya / ongkos. Pemasaran produk dengan
mengandalkan keunggulan dalam biaya, misalnya menjual produk
dengan harga yang murah namun dengan kualitas yang baik. Hal
ini bisa dilakukan karena perusahaan mampu menghemat biaya
produksi dalam proses produksi, baik pada pemilihan bahan baku,
proses, kemasan maupun biaya untuk tenaga kerja.
2. Keunggulan karena adanya ciri pembeda atau keunikan dari
produk yang dibuat (diferensiasi). Strategi ini menekankan pada
aspek keunikan pada produk yang dipasarkan, baik penekanan
pada merk, bentuk, logo, kualitas atau image dari produknya itu
sendiri. Untuk strategi ini biasanya diikuti dengan biaya yang
tinggi.
3. Keunggulan karena memfokuskan pada target atau segmen pasar
tertentu. Strategi ini mengandalkan pada suatu fokus tertentu,
misalnya hanya mengkhususkan pada segmen pasar “remaja” atau
orang tua saja.
Ke tiga model strategi yang dapat ditempuh tersebut pada
akhirnya akan menentukan karakteristik produk yang akan dibuat
hingga perencanaan investasi dan produksinya. Selanjutnya Porter
(1985) menyatakan bahwa hal penting lainnya yang perlu
diperhatikan dalam menjalankan suatu usaha adalah beberapa
elemen penting yang dinamakan dengan rantai nilai (value chain) dari
suatu usaha (Gambar 1).
6
Pelayanan
Pendukung Manajemen Sistem
Pemasaran pada
Logistik produksi distribusi
pelanggan
Gambar 1. Rantai Nilai Kegiatan Usaha
Sebagai rantai awal yang sangat penting dan mendukung
produksi suatu usaha, tidak terkecuali kegiatan pertanian adalah
dukungan logistik atau supplier. Bagian ini merupakan unsur
penunjang utama dalam kegiatan usaha yang terutama bergerak
dalam bidang produksi komoditas pertanian. Keberhasilan suatu
usaha yang memproduksi suatu komoditas sangat ditentukan oleh
pengelolaan sistem produksi dan hubungannya dengan pemasok
bahan baku atau logistik. Dengan demikian bagian inipun sebenarnya
memiliki potensi ekonomi yang tinggi bila dikembangkan dengan baik,
jadi tidak hanya mengandalkan kepada kekuatan dalam memproduksi
saja.
Manajemen produksi dalam hal ini merupakan faktor utama
yang menentukan jalannya roda usaha produksi komoditas.
Sedangkan sistem distribusi merupakan bagian penyalur komoditas
yang telah dibuat pada tingkat penyaluran produk dalam jumlah yang
banyak sebelum sampai kepada pelanggan atau pemakai. Untuk
dapat menyampaikan produk yang telah diproduksi diperlukan adanya
jaringan pemasaran pemasaran yang memadai sebagai kepanjangan
tangan jaringan distribusi. Produk yang diproduksi dan dipasarkan
tidak akan bertahan lama untuk tetap diminati oleh pemakai apabila
aspek pelayanan kepada pelanggan (Service & maintenance)
diabaikan.
Melihat keterkaitan diantara variabel yang satu dengan variabel
lainnya dari rantai nilai kegiatan usaha tersebut, dapatlah dipahami
bahwa kebanyakan perusahaan-perusahaan yang bertaraf
7
internasional berhasil dalam menjalankan usahanya karena mereka
mampu menjalankan seluruh variabel yang ada pada rantai nilai
tersebut. Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan perusahaan di
Indonesia, dimana masih banyak diantara perusahaan tersebut yang
belum dapat memadukan semua variabel rantai nilai menjadi satu
kesatuan yang utuh dan terintegrasi sehingga menciptakan suatu
usaha yang kuat. Sebagai contoh kasus misalnya pada bidang
agribisnis.
Kebanyakan wirausaha agribisnis di Indonesia sudah mampu
mengelola sistem produksi (manajemen produksi) dengan baik,
namun ketergantungan produsen pada pemasok (supplier) baik itu
pupuk, benih atau sarana produksi lainnya maupun kepada jaringan
distribusi dan pemasarannya masih lemah. Kondisi ini seringkali
menyebabkan produsen produk-produk pertanian (petani) menderita
kerugian karena adanya permainan dari pemasok bahan baku,
disamping itu masalah lain adalah spekulan yang bergerak di sektor
distribusi, pemasaran dan pelayanan pelanggan yang turut mengatur
sistem sedemikian rupa produsen berada pada posisi tawar menawar
yang lemah.
Dalam pemilihan kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh calon
wirausaha (UKMK) baru baik dalam bidang agribisnis maupun
agroindustri terlebih dahulu harus dipahami masing-masing
karakteristik kegiatan dalam ke dua bidang usaha tersebut. Hal ini
penting mengingat untuk kegiatan agribisnis lebih menekankan pada
kegiatan di lapangan (lahan usaha tani) sementara kegiatan
agroindustri dilakukan dalam ruang usaha (pabrik atau bangunan unit
produksi). Secara umum kegiatan agribisnis memiliki perbedaan yang
mendasar dibandingkan dengan kegiatan agroindustri. Beberapa
perbedaan tersebut antara lain :
8
Tabel 1. Karakteristik Agribisnis dan Agroindustri
NO AGRIBISNIS AGROINDUSTRI
1 Kegiatan produksi pada lahan Kegiatan produksi dipengaruhi
dan dipengaruhi oleh kondisi oleh ketersediaan bahan baku
topografi, iklim, karakteristik yang dihasilkan dari kegiatan
tanah dan tata air agribisnis
2 Produktivitas hasil dipengaruhi Produktivitas hasil dipengaruhi
oleh aplikasi teknis dilapangan oleh kreatifitas dan tingkat
pemanfaatan teknologi proses
3 Pemeliharaan tanaman sebagai Penanganan produk pasca
penghasil produk perlu intensif panen menjadi titik kritis
4 Tingkat resiko keberhasilan Resiko keberhasilan usaha
usaha tinggi karena tergantung relatif lebih kecil karena dapat
pada alam diprediksi lebih baik dan tidak
tergantung pada alam
5 Terfokus pada satu produk (dari Dari 1 input sumber bahan
satu komoditas hanya baku dapat dihasilkan produk
dihasilkan satu produk) yang bervariasi
6 Produk yang dihasilkan mudah Produk yang dihasilkan lebih
rusak, umur konsumsi pendek tahan lama, umur konsumsi
lebih lama
7 Tidak ada nilai tambah karena Ada nilai tambah, karena dari
nilai jual terpaku pada satu satu sumber bahan baku dapat
produk akhir komoditasnya dihasilkan beragam produk
olahan dengan berbagai
variasi harga
8 Membutuhkan waktu cukup Waktu pengolahan produk
lama untuk menghasilkan relatif singkat (hitungan jam
produk (± 3 bulan hingga atau hari)
tahunan)
9 Kegiatan dilakukan di lahan Kegiatan di lakukan dalam
usaha tani ruang unit produksi
Sebagai bahan pertimbangan bagi pelaku usaha yang akan
terjun dalam bidang agribisnis ataupun agroindustri, perlu kiranya
diketahui terlebih dahulu tahapan-tahapan kegiatan yang harus
dilakukan. Beberapa tahapan kegiatan yang biasa dilakukan dalam
bidang agribisnis adalah sebagai berikut :
9
KONDISI PERMINTAAN
DAN PENAWARAN
KOMODITAS
SEGMENTASI PASAR
PERSIAPAN LAHAN
ANALISIS KESESUAIAN
LAHAN, TANAH,
KETINGGIAN, IKLIM
PENYIAPAN BENIH, BIBIT
PENYIAPAN TANAM,
PEMUPUKAN, IRIGASI,
DRAINASE
PEMELIHARAAN,
PEMBERANTASAN HAMA
& PENYAKIT
PANEN
PENANGANAN &
PEMASARAN
Gambar 2. Tahapan Kegiatan Agribisnis
10
Dari tahapan tersebut, maka faktor penentu keberhasil usaha
agribisnis terletak pada uapaya pemenuhan :
- Benih, bibit
- Pupuk
- Pengolahan tanah
- Pestisida
- Irigasi & drainase
- Pemeliharaan
- Pemanenan
- Keputusan dalam memasarkan produk (cara ijon atau dengan
pemasaran sendiri )
Apabila diamati dari beberapa faktor tersebut, sebenarnya masing-
masing elemen dapat pula dijadikan sebagai bagian dari unit usaha
lain yang dapat dikembangkan, sebagai contoh misalnya :
- Usaha penyedia benih, bibit, pupuk, pestisida, peralatan dan
mesin
- Usaha jasa penyewaan peralatan dan mesin pertanian
- Usaha pemasaran dan transportasi produk
Pengamatan di lapangan menunjukkan beberapa kegiatan
agribisnis yang banyak mendapat dukungan dari pemerintah
khususnya melalui BUMN antara lain seperti yang disajikan pada
gambar. Dari sekian banyak yang mendapatkan bantuan, dalam
kurun waktu 2 – 4 tahun usaha yang dibina telah mampu berkembang
dan meningkatkan kegiatan usahanya.
11
Sumber : CDC Telkom (2004)
Gambar 3. Sektor Pertanian yang Mendapat Dukungan Pendanaan
Dari BUMN sebagai Dana Kemitraan bagi UKMK
Pengalaman yang diperoleh dari Mitra Pembina atau Mitra
Pendamping Usaha Kecil Bidang Agribisnis menunjukkan bahwa tidak
semua usaha bidang pertanian, peternakan dan perikanan dapat
memberikan keuntungan yang signifikan bagi pelaku usahanya.
Dengan demikian bagi wirausahawan pemula yang akan terjun dalam
bidang ini, pemilihan komoditas agribisnis yang akan dilakukan
menjadi penting. Sebagai gambaran umum misalnya dari sekian
banyak tanaman hortikultura, ada beberapa komoditas yang dapat
memberikan nilai pendapatan yang signifikan bagi pelaku usahanya.
Dari contoh pada Tabel 2 diketahui bahwa tidak semua komoditas
tanaman akan memberikan keuntungan (profit) yang signifikan bagi
petani. Komoditas dengan tingkat produksi per satuan luas, profit per
satuan produk dan tingkat utilisasi lahan produksi yang lebih tinggi,
Kemungkinan diversifikasi olahan produk (untuk agroindustri) lebih
banyak, titik pulang modal (break even point) periode kembali modal
(pay back period) usaha tani yang sesingkat mungkin setidaknya
harus menjadi acuan pemilihan komoditas yang akan diusahakan.
12
Tabel 2. Profit dan Titik Impas Usaha Budidaya Tanaman Menurut
Prioritas Yang Diusahakan Petani Per Hektar *)
PROFIT
NO KOMODITAS BIAYA PENDAPATAN PROFIT PER
PRODUKSI PRODUKSI PER MUSIM BULAN BEP BEP
(Rupiah) (Rupiah) (Rupiah) (Rupiah) (kg) (ha)
1 Jagung 3122500 4400000 1.277.500 425833 3356 0.61
2 Cabe Merah 27041500 48000000 20.958.500 6986167 6724 0.42
3 Singkong 4092500 9000000 4.907.500 613438 11052 0.37
4 Tomat 11325000 45562500 34.237.500 8559375 2081 0.06
5 Kacang Tanah 3302500 4500000 1.197.500 399167 1251 0.63
6 Bawang Merah 11052000 8925000 -2.127.000 -709000 358630 30.14
7 Kacang Merah 4552500 9000000 4.447.500 1482500 1080 0.36
*) Menurut hasil studi kasus di Desa Palasari, Kec. Cibiru, Kota Bandung (2004).
Berbeda dengan kegiatan agribisnis, kegiatan agroindustri pada
dasarnya merupakan kegiatan tindak lanjut dari usaha yang dilakukan
dalam agribisnis dimana output dari agribisnis merupakan bahan baku
bagi kegiatan agroindustri. Dengan demikian tahapan kegiatannya
merupakan kelanjutan dari kegiatan agribisnis, yaitu sebagai berikut :
KONDISI PERMINTAAN
DAN PENAWARAN
KOMODITAS
SEGMENTASI PASAR
PENGOLAHAN BAHAN
BAKU PRODUK
AGRIBISNIS
PENGEMASAN &
PEMASARAN
Gambar 4. Tahapan Kegiatan Agroindustri
13
Pengolahan produk pertanian agribisnis menjadi produk
agroindustri dapat dilakukan sesuai dengan jenis produk akhir yang
diinginkan, sebagai contoh misalnya : apabila produk yang diinginkan
dari buah pisang adalah tepung pisang, maka proses pengolahannya
harus mengikuti tahapan pemilihan buah dengan kematangan 60% ,
pembersihan, pengupasan, perendaman buah, perlakuan bahan agar
tidak berwarna pucat, perajangan, pengeringan, penepungan
(pengecilan ukuran) dengan mesin, pengemasan. Sementara bila
produk akhir yang diinginkan adalah sale pisang, maka
pengolahannya adalah pemilihan buah dengan tingkat kematangan 90
– 95%, pengupasan, pengeringan, pemipihan dengan mesin atau alat
pemipih (roller), pengemasan. Dari kedua jenis produk, proses
pengolahan maupun mesin atau peralatan atau teknologi proses yang
digunakan berbeda. Dengan kata lain makin banyak produk akhir
yang ingin dibuat akan makin banyak pula teknologi proses yang
dibutuhkan. Beberapa contoh kategori kegiatan agroindustri menurut
tingkatan proses transformasi bahan bakunya adalah sebagai berikut.
Tabel 3. Tahapan Aktivitas dan Ilustrasi Produk Agroindustri
AKTIVITAS PENGOLAHAN
Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4
Pembersihan Pengupasan Pemasakan Perlakuan kimia
Pemilihan Pemotongan Pasteurisasi Teksturisasi
Pencampuran Pengalengan
Dehidrasi
Pendinginan
Pengeringan
Ekstraksi
ILUSTRASI PRODUK
Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4
Buah segar Biji-bijian Produk susu Makanan instan
Sayuran segar Daging Daging Ban
Telur Bumbu Saos Parfum
Pakan ternak Tekstil Obat-obatan
Katun Minyak
Karet Furnitur
Kayu Gula
14
Beberapa contoh model agroindustri yang dapat dikembangkan
misalnya seperti yang disajikan pada beberapa gambar berikut.
Gambar 5. Contoh Derivat Produk Agroindustri Dan Nilai Tambah
Yang Dihasilkan
15
Apabila dilihat dari sumber bahan bakunya, kegiatan
agroindustri akan dapat memberikan variabilitas usaha dan produk
yang lebih banyak daripada kegiatan agribisnis mulai dari budidaya
hingga tanaman atau ternak berproduksi saja. Menurut kategori jenis
tanaman atau ternak yang dibudidayakan, kegiatan agroindustri yang
dapat dikembangkan setidaknya membutuhkan bahan baku dari
tanaman pangan, tanaman perkebunan, tanaman obat & industri,
peternakan dan perikanan.
Berikut adalah beberapa contoh pohon industri menurut jenis ko
awal yang dihasilkan.
Tabel 4. Contoh Jenis Komoditas Dan Kegiatan Agroindustri
NO JENIS CONTOH KEGIATAN
KOMODITAS KOMODITAS AGROINDUSTRI
1 PALAWIJA SINGKONG KERIPIK
GAPLEK
TAPE : ETANOL
CHIP : TEPUNG
2 TANAMAN KELAPA SABUT : SAPU, TALI,
PERKEBUNAN FURNITUR
DAUN : HIASAN, BAHAN
KEMASAN
BATANG : HIASAN,
FURNITUR,
LIDI : SAPU
AIR : NATA DE COCO,
SIRUP, GULA
DAGING BUAH : MINYAK,
SANTAN, MANISAN
3 TANAMAN NILAM DAUN & BATANG :
INDUSTRI MINYAK ATSIRI
LIMBAH : KOMPOS,
CAMPURAN OBAT
4 TERNAK SAPI PERAH SUSU KALENG
KARAMEL
KEJU
YOUGHURT
16
3. Aspek Penting Dalam Perencanaan Usaha Dalam Agribisnis
Dan Agroindustri
Pada saat seseorang memutuskan untuk memulai usahanya,
maka pada saat itu pula ia harus dapat merencanakan kegiatan
usahanya dengan baik. Kesalahan dalam perencanaan merupakan
suatu langkah awal menuju kegagalan.
Kegiatan perencanaan usaha setidaknya mengikuti beberapa
tahapan, antara lain :
1. Menganalisis situasi yang berhubungan usaha yang akan
dilakukan.
Pada tahapan ini perlu diketahui situasi dan kondisi pasar yang
akan dijadikan obyek usaha, baik yang menyangkut produk
yang prospektif (prospek produk), lokasi, karakteristik
konsumen, segmen pasar yang akan dirujuk dan semua aspek
yang menyangkut kemungkinan usaha apa yang sebaiknya
akan dibuat atau dikembangkan. Sumber informasi yang dapat
diperoleh untuk mendapatkan gambaran situasi pasar potensial
dari usaha yang akan dikembangkan antara lain : Media massa
(koran, majalah, televisi, radio), internet, melihat langsung di
lapangan (survey pasar) atau informasi yang diperoleh dari
teman (kolega) yang mengelola suatu usaha. Berdasarkan
informasi awal yang diperoleh maka usaha apa yang akan
dilakukan dapat segera dianalisis kemungkinan pelaksanaan dan
kelayakannya. Perkiraan target produksi produk dalam kaitan
dengan perencanaan usaha dapat ditentukan dengan
menggunakan pendekatan perkiraan atau hitungan kebutuhan
dari data terkait usaha bidang yang akan dimasuki.
17
2. Pemahaman tentang organisasi dan tata laksana perusahaan.
Kegiatan berikutnya yang harus dilakukan sebelum memulai
berwirausaha adalah bekal pemahaman tentang bagaimana
menjalankan suatu usaha baik dari segi pembentukan badan
usaha (organisasi usaha), manajemen organisasi usaha maupun
pengetahuan tentang manajemen keuangannya. Dalam tahapan
ini seorang wirausahawan perlu mengetahui dan menguasai
beberapa aspek penting dalam pengelolaan usaha seperti :
a. Bagaimana menentukan harga pokok dan harga jual produk,
penentuan volume produksi (bila produk tersebut diproduksi
sendiri) dan perhitungan titik impas usaha, sistem
pembukuan keuangan.
b. Pengetahuan tentang konsep bunga uang (cara hitung
bunga) yang diperlukan dalam menentukan seberapa besar
tingkat keuntungan perusahaan dapat diperoleh dan untuk
antisipasi kegiatan usaha yang sistem keuanganya
melibatkan perbankan (misalnya modal diperoleh dari
pinjaman bank).
c. Kemampuan dalam menganalisis alternatif usaha yang paling
menguntungkan sehingga usaha yang dilakukan dapat
berjalan dengan baik dan dalam jangka waktu yang lama
atau bisa dialih generasikan.
d. Bagaimana cara menjalin kemitraan dengan berbagai pihak
terkait dengan dunia usaha, baik itu bank, koperasi, dinas
instansi terkait, lembaga riset & pengembangan. Dengan
demikian pengetahuan dan keterampilan membuat proposal
dan teknik negosiasi sangat dipelukan.
18
3. Melakukan studi kelayakan usaha
Sebagai tahapan akhir dari kegiatan perencanaan usaha adalah
menganalisis kelayakan ekonomi dari usaha yang akan
didirikan. Bekal pengetahuan dasar sebelumnya akan dapat
menunjang dalam melakukan analisis kelayakan ekonomi
kegiatan usaha. Untuk menganalisis kelayakan ekonomi dari
suatu diperlukan perkiraan pendapatan dan pengeluaran biaya
yang akan terjadi seandainya usaha tersebut jadi dilaksanakan.
Oleh karena pada tahapan ini baru berupa perencanaan, maka
dalam analisisnya diperlukan harga atau nilai-nilai perkiraan.
Apabila kriteria kelayakan ekonomi terpenuhi, maka kegiatan
usaha dapat dilakukan.
4. Mengelola sistem produksi dalam berusaha dengan cara yang
efektif dan efisien
Kegiatan ini terkait dengan bagaimana memadukan unsur
Manusia, Mesin, Material (bahan baku), Metode Kerja, Modal
Kerja, dan Memasarkan Produk dengan seefektif dan seefisien
mungkin.
5. Menjaga usaha yang dilakukan agar berkesinambungan dengan
mengacu pada kaidah 3K yaitu : KAPASITAS, KUALITAS dan
KONTINYUITAS.
Kaidah ini mengandung makna bahwa usahakan kegiatan usaha
selalu memenuhi kapasitas standar bagi pemenuhan target
produksi yang direncanakan dengan tidak melupakan unsur
kualitas produk yang baik dan terjaga (kesehatan, penampakan,
aman, dan manfaat) serta dapat diproduksi secara kontinyu
(berkesinambungan).
19
4. Pedoman Sederhana Menghitung Kelayakan Usaha
Agribisnis Dan Agroindustri
Setiap pelaku usaha selalu menginginkan usahanya tidak rugi,
oleh karenanya pada awal kegiatan memulai usahanya terlebih dahulu
dilakukan perhitungan sederhana atau kalkulasi apakah kegiatan
usaha yang akan dilakukan tersebut menguntungkan ataukah tidak.
Cara sederhana untuk memperkirakan apakah usaha yang akan
dilaksanakan itu menguntungkan atau tidak adalah dengan
menghitung beberapa item biaya dan pendapatan sebagai berikut :
1. Perkiraan biaya investasi untuk kurun waktu usaha tertentu
2. Perkiraan biaya produksi (operasi produksi)
3. Perkiraan pendapatan selama periode usaha tertentu
4. Perhitungan nilai bersih usaha dengan mempertimbangkan
aspek bunga bank
5. Perhitungan periode pengembalian investasi
Untuk lebih mudahnya dapat dipelajari dengan menggunakan contoh
kasus berikut.
Contoh Profil Usaha Budidaya dan Pemasaran Produk Jamur
Shimeiji
Pendahuluan
Berdasarkan penelitian, di dunia dikenal lebih dari 2.000 jenis
jamur yang dapat dimakan, 50 jenis diantaranya telah dibudidayakan
di Indonesia dan dapat dimakan. Jamur yang umum dibudidayakan
untuk tujuan komersial antara lain jamur kuping (Auricularia
polytricha), jamur payung/shiitake (Lentinus edodes) dan jamur tiram
putih/shimeiji (P!eurotus ostreatus). Dari kandungan gizinya jamur
segar lebih banyak mengandung protein nabati dibandingkan dengan
20
jenis sayuran lainnya. Sebagai contoh jamur kuping, kadar proteinnya
7,7% dan karbohidratnya mencapai 73,6%. Selain itu jamur
bermanfaat untuk menguatkan tubuh, anti tumor, anti virus, anti
bakteri dan bisa menurunkan kolesterol (Trubus, 1988).
Prospek memasyarakatkan jamur kayu di Indonesia cukup
besar hal ini didasarkan hasil penelitian Suprapti dalam Trubus (1988)
yaitu bahwa dengan menguji rasa, aroma, konsistensi, pengolahan
dan tingkat pengenalan terhadap jamur tiram pink, tiram putih dan
jamur kuping pada kelompok etnik Sunda, Jawa dan Luar Jawa
(Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Ambon) ternyata jamur-jamur
yang ditanam pada limbah industri dapat diterima oleh masyarakat
sebagai sumber makanan tambahan.
Dalam pemakaian bahan bahan baku produksi jamur sebaiknya
mempertimbangkan beberapa hal seperti :
1. Media tanam dapat diganti-ganti dengan bahan-bahan yang mudah
diperoleh.
2. Prinsip untuk media tumbuh jamur adalah limbah .yang
mengandung selulosa dan lignin seperti jerami, daun pisang,
ampas tebu, tongkol jagung, sekam padi, dedak, sisa Ampas
kapas, kulit kacang tanah dan serbuk gergaji.
3. Penggunaan bahan baku yang murah harganya dan diusahakan
dengan cara memanfaatkan limbah pertanian yang jumlahnya
besar, sebagi contoh misalnya serbuk gergaji (limbah kayu
gergajian). Bila serbuk gergaji merupakan 40% dari masukan kayu
dengan perkiraan kebutuhan kayu rata-rata di suatu daerah sekitar
50 ribu meter kubik/tahun, maka jumlah serbuk gergaji yang
dapat dimanfaatkan akan mencapai sekitar 20 ribu meter
kubik/tahun dan ini jumlah yang sangat besar dan sangat
menguntungkan.
Pada dasarnya banyak elemen usaha budidaya jamur shimeiji
yang dapat dijadikan sumber usaha, antara lain :
21
a. Penyediaan bibit.
b. Penjualan produk jamurnya itu sendiri.
c. Penjualan produk olehan dari jamur dalam kemasan.
Masing-masing produk yang dikembangkan akan memiliki nilai
jual yang berbeda-beda tergantung dari kreatifitas


Use: 0.0208