• Obat-obat Baru Anti Malaria


  •   
  • FileName: 07ObatMalaria94.pdf [read-online]
    • Abstract: diberikan, serta resistensi Plasmodium terhadap obat anti ... dapat juga bekerja sebagai anti- malaria yaitu golongan tetrasiklin, klindamisin dan ...

Download the ebook

Obat-obat Baru Anti Malaria
Emiliana Tjitra
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Salah satu kendala dalam penanggulangan malaria adalah masalah pengobatan
kausal karena sampai saat ini belum ditemukan obat antimalaria yang ideal dan hanya
kina sebagai obat antimalaria penyelamat. Di samping itu kasus Plasmodium resisten
terhadap obat antimalaria sudah menyebar luas dan bertambah berat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah obat antimalaria sintetis telah dan
sedang diuji coba pada akhir abad ini. Obat-obat ini dikenal sebagai antimalaria baru yang
belum terdaftar, beredar dan dipakai di Indonesia.
Meflokuin, halofantrin dan artesunat (derivat artemisinin) adalah obat antimalaria
baru yang bersifat skizontosida darah, dan telah diuji coba terhadap penderita malaria
falsiparum tanpa komplikasi. Obat-obat ini memberi basil yang baik dengan efek samping
ringan. Angka kesembuhan, waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan
adalah 94 – 100%, 9,3 – 25 jam dan 47,1– 59 jam untuk meflokuin; 98,4%, 22,4 ± 22,7
jam dan 58,3 ± 5,2 jam untuk halofantrin; 75%, 14,0 ± 4,6 jam dan 32,0 ± 5,9 jam untuk
artesunat.
Derivat artemisinin lain yaitu artesunat dan artemether (parenteral) sedang dan akan
diuji coba untuk penderita malaria berat atau dengan komplikasi; halofantrin juga sedang
diuji coba untuk malaria falsiparum dengan komplikasi tidak berat dan malaria vivaks.
Obat antimalaria baru lainnya yang juga bersifat skizontosida darah dan belum
pernah diuji coba di Indonesia adalah yinghaosu, pyronaridine, piperaquine dan atova-
quone.
PENDAHULUAN diberikan, serta resistensi Plasmodium terhadap obat anti-
Malaria adalah salah satu penyakit menular yang merupakan malaria yang sudah meluas.
masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama di Indo- Pengobatan malaria tidak hanya meliputi pengobatan kausal
nesia Bagian Timur. Salah satu kendala dalam penanggulangan dengan obat antimalaria, pengobatan simptomatik atau suportif
malaria adalah masalah pengobatan, walaupun Badan Kesehat- juga tidak kalah pentingnya. Hal ini disebabkan karena malaria
an Dunia (WHO) maupun Departemen Kesehatan telah mem- merupakan penyakit sistemik yang dapat mengenai organ otak,
punyai pedoman penatalaksanaan kasus malaria. paru, hati, ginjal dan sebagainya yang juga perlu diperbaiki
Kesulitan dalam pengobatan diawali dari kepastian diagno- kelainan patofisiologinya.
sis sedini mungkin sampai pada kegagalan pengobatan. Kega- Obat antimal aria sudah sejak lama dikenal dan sudah banyak
galan pengobatan dapat disebabkan karena keterlambatan men- ditemukan tetapi sampai saat ini belum ada yang ideal. Obat
dapat pengobatan, ketidaktepatan regimen dan dosis obat yang antimalaria yang ideal adalah obat yang efektif terhadap semua
jenis dan stadia parasit, menyembuhkan infeksi akut maupun Efek samping yang pernah dilaporkan adalah pusing, vertigo.
laten, cara pemakaian mudah, harganya terjangkau oleh seluruh diplopia, mual, muntah dan sakit perut. Hal ini yang membuat
lapisan penduduk dan mudah diperoleh, efek samping ringan dan penderita minum obat tidak sesuai aturan atau menolak di sam-
toksisitas rendah(1). ping rasanya yang pahit.
Obat antimalaria dapat dikelompokkan menurut rumus Kasus P. falciparum resisten in vivo dan atau in vitro ter-
kimia dan efek atau cara kerja obat pada stadia parasit. Obat hadap klorokuin sudah ditemukan di 27 propinsi Indonesia;
antimalaria yang ada dan telah dipakai di Indonesia adalah penderita yang ditemukan di DKI Jakarta dan Bali merupakan
klorokuin, sulfadoksin/sulfalen-pirimetamin, kina dan primakuin. kasus import. Angka kesembuhan yang dilaporkan sangat ber-
Di samping itu terdapat beberapa obat yang terdaftar sebagai variasi antara 10-100% dengan derajat resistensi yang beragam
antibiotika di Indonesia tetapi dapat juga bekerja sebagai anti- antara R I – R III(9≠9). Meluas dan bertambah beratnya derajat
malaria yaitu golongan tetrasiklin, klindamisin dan lain-lain. resistensi terhadap obat ini, mungkin disebabkan oleh pemakai-
Penggunaan obat-obat yang terdaftar sebagai antimalaria an yang tidak terkontrol dan penggunaan yang tidak tepat karena
sudah diatur dan dibakukan oleh Departemen Kesehatan sesuai obat tersebut dijual bebas.
dengan daerah dan sensitivitas Plasmodium falciparum terhadap Kasus P. vivax resisten in vivo terhadap klorokuin juga telah
obat-obat antimalaria. Pembatasan penggunaan obat tersebut dilaporkan oleh beberapa peneliti berdasarkan konsentrasi
berguna untuk menekan berkembangnya kasus resisten terhadap klorokuin dalam darah serum yang diukur dengan cara High
obat-obat antimalaria lainnya. Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang sudah
Penilaian sensitivitas obat hanya baru dapat dilakukan ter- melebihi 15 ng/ml(13).
hadap obat-obat yang bersifat skizontosida darah dengan tes in
2. Sulfadoksin/Sulfalen - pirimetamin
vitro menggunakan kit WHO dan tes in vivo sistim 7 hari untuk
Merupakan obat antimalaria kombinasi antara golongan
di lapangan atau sistim 28 hari atau lebih di klinik atau di rumah
sulfonamida/sulfon dengan diaminopirimidin yang bersifat
sakit(23). Walaupun telah ditemukan kasus Plasmodium vivax
skizontosida jaringan P. falciparum, skizontosida darah dan
resisten terhadap klorokuin(4–7), tetapi umumnya penelitian di-
sporontosida untuk ke empat jenis plasmodium manusia. Kom-
tujukan kepada P. falciparum karena jenis Plasmodium ini yang
binasi obat ini digunakan secara selektif untuk pengobatan
biasanya berhubungan dengan malaria berat yang banyak me-
radikal malaria falsiparum di daerah-daerah dengan proporsi
nimbulkan kematian, semakin dominan dan telah resisten ter-
P. falciparum resisten terhadap klorokuin yang tinggi(1).
hadap banyak obat antimalaria(8–10).
Sulfadoksin/sulfalen - pirimetamin (SP) dikemas dalam
Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah obat anti-
bentuk tablet untuk pemberian peroral; obat ini tidak diberikan
malaria sintetis telah dan sedang diuji coba pada akhir abad ini.
untuk bayi. Waktu paruh sulfonamida adalah 180 jam, sedang-
Obat-obat ini dikenal sebagai obat antimalaria baru yang belum
kan pirimetamin adalah 90 jam(14). Dosis yang diberikan untuk
terdaftar, beredar dan dipakai di Indonesia.
pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi yang resisten
klorokuin adalah sulfadoksin 25 mg/kg bb. dan pirimetamin 1,25
OBAT ANTIMALARIA DI INDONESIA
mg/kg bb. dosis tunggal. SP tidak dipakai untuk profilaksis(1,15).
1. Klorokuin Efek samping yang pernah dilaporkan adalah sindrom Steven
Klorokuin merupakan obat antimalaria kelompok 4-amino- Johnson yang dapat berakibat fatal.
kuinolin yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Kasus P. falciparum resisten in vivo atau in vitro terhadap
Plasmodium manusia dan gametositosida P. vivax dan P. ma- sulfadoksin-pirimetamin sudah ditemukan di 9 propinsi Indo-
lariae. Obat ini merupakan obat pilihan utama untuk pengobatan nesia (Irja, Lampung, Jateng, Sumut, Aceh, Riau, Sulsel, DKI
dan pencegahan semua jenis malaria yang dipakai dalam pro- dan Kaltim), penderita yang ditemukan di DKI Jakarta merupa-
gram pemberantasan malaria(1). kan kasus import. Angka kesembuhan yang dilaporkan adalah
Klorokuin dikemas dalam bentuk tablet dan suspensi untuk antara 92-100% dengan derajat resisten R I – R II(9). Meluasnya
pemberian peroral, dan larutan untuk pemberian parenteral. kasus resisten terhadap obat ini mungkin disebabkan pemakaian
Waktu paruh klorokuin adalah 1–2 bulan tetapi waktu paruh yang tidak terkontrol karena obat tersebut dijual bebas, mudah
yang sebenarnya untuk pengobatan adalah 6–10 hari(11). Dosis pemberiannya, rasanya tidak pahir; dan pemakaian antibiotika
total klorokuin untuk malaria tanpa komplikasi dan sensitif golongan sulfa yang juga meluas.
klorokuin adalah 25 mg basa/kg BB, diberikan dalam 3 hari yaitu
hari 1 dan 2 masing-masing 10 mg basa/kg BB dan pada hari 3 3. Kina
adalah 5 mg basa/kg BB dengan dosis tunggal. Bila tidak ada kina Kina merupakan obat antimalaria kelompok alkaloida
dihidroklorida, penderita malaria dengan komplikasi atau ma- kinkona yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis
laria berat yang sensitif klorokuin dapat diberikan klorokuin 5 Plasmodium manusia dan gametositosida P. vivax dan P. ma-
mg basa/kg BB dalam larutan infus 10 ml/kg BB NaCl 0.9% atau lariae. Sampai saat ini kina merupakan satu-satunya obat anti-
dextrosa 5%, dalam 4 jam, diulang setiap 12-24 jam sampai malaria penyelamat untuk pengobatan malaria komplikasi atau
mencapai dosis total 25 mg basa/kg BB dalam 3 hari(1,12). Klo- malaria berat dan juga malaria resisten multidrug(1,12).
rokuin juga dipakai sebagai obat antimalaria pilihan untuk profi- Kina dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral
laksis dengan dosis 5 mg basa/kg BB/minggu, dosis tunggal(1). dan larutan untuk pemberian parenteral. Waktu paruh kina pada
orang sehat 11 jam, sedangkan pada penderita malaria tanpa OBAT ANTIBIOTIKA YANG BERKHASIAT ANTI-
komplikasi 16 jam dan pada malaria berat 18 jam(16). Dosis yang MALARIA
diberikan untuk penderita malaria tanpa komplikasi yang resis-
1) Tetrasiklin
ten multidrug adalah 10 mg garam/kb bb. tiap 8 jam selama 7 hari.
Tetrasiklin, doksisiklin dan minosiklin merupakan obat
Dosis kina setiap hari untuk bayi dihitung 10 mg garam/umur
antimalaria kelompok antibiotika tetrasiklin yang bersifat
dalam bulan, dibagi dalam 3 bagian dan diberikan selama 7
skizontosida jaringan dan skizontosida darah untuk P. falci-
hari(1,15). Di Thailand, dosis kina untuk anak-anak adalah 10 mg
parum. Oleh karena kerjanya lambat dan kurang efektif, obat ini
garam/kg bb. tiap 8 jam selama 4 hari kemudian dilanjutkan
digunakan bersama obat antimalaria lain yang kerjanya cepat dan
dengan dosis 15 mg garam/kg bb. tiap 8 jam selama 3 hari untuk
menghasilkan efek potensiasi antara lain dengan kina. Obat ini
mencapai Minimal Inhibitory Concentration (MIC)(15). Untuk
tidak dianjurkan dipakai dan juga tidak dipakai untuk profilaksis
penderita malaria berat atau dengan komplikasi, kina diberikan
kausal dalam program(1).
dalam larutan NaCl atau Dextrosa 5%, 10 ml/kg bb. dengan dosis
Tetrasiklin yang dipakai sebagai obat antimalaria adalah
awa120 mg garam atau 16,7 mg basa/kg bb. dalam 4 jam pertama,
bentuk kapsul untuk pemberian peroral. Obat ini tidak diberikan
dilanjutkan dengan dosis 10 mg garam atāu 8,3 mg basa/kg bb.
pada anak-anak yang berumur < 8 tahun dan pada ibu hamil
dalam 4 jam berikutnya dan diulang setiap 8 jam sampai pende-
karena dapat menyebabkan perubahan warna gigi dan gangguan
rita dapat menelan obat untuk kemudian diselesaikan pengobat-
pertumbuhan gigi dan tulang. Waktu paruh tetrasiklin adalah 8
annya per oral sampai hari ke 7. Pemberian dosis awal (loading
jam. Dosis yang diberikan adalah 250 mg setiap 8 jam selama 7
dose) dengan maksud lebih cepat memberi basil, tetapi tidak
hari(1,14–15).
diberikan kepada penderita yang dalam 48 jam sebelumnya su-
Doksisiklin dan minosiklin dikemas dalam bentuk tablet
dah diberi kina. Dalam hal ini diberikan kina dosis 8,3 mg basal
atau kapsul untuk pemberian peroral. Waktu paruh doksisiklin
kg bb.(13–14,17). Pada pengobatan kina parenteral dapat terjadi
adalah 18–22 jam. Dosis yang diberikan adalah 1,5–2 mg/kg bb.
hipoglikemi(18) dan efek samping yang paling sering ditemukan
tiap 12 jam selama 7 hari(14,21). Penggunaan doksisiklin sebagai
adalah tinitus.
profilaksis kausal dengan dosis 100 mg/hari, dosis tunggal, akan
Kasus P. falciparum resisten in vitro terhadap kina sudah
diteliti di daerah P. falciparum resisten klorokuin (Irja). Efek
ditemukan di 5 propinsi Indonesia (Jabar, Jateng, NTT, Irja dan
samping yang dilaporkan adalah gangguan saluran pencernaan
Kaltim)(9). Kasus P. vivax resisten in vivo terhadap kina pada
yaitu mual, muntah dan sakit perut(14).
penderita pasca transfusi juga telah ditemukan di sebuah rumah
Tetrasiklin, doksisiklin dan minosiklin merupakan obat yang
sakit di DKI Jakarta(7). Resistensi terhadap kina dampaknya
sudah lama dikenal dan dipakai sebagai antibiotika. Obat ini
belum meluas dan berat. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya
dipakai selektif dalam pengobatan malaria falsiparum resisten
laporan atau penelitian terhadap obat ini, penggunaannya selek-
klorokuin atau multidrug dan biasanya dipakai bersama dengan
tif, kurang disukai karena memerlukan waktu yang agak lama (7
kina, sehingga sulit untuk menilai sensitivitas antimalarianya.
hari) dan efek samping yang ditimbulkan.
2) Klindamisin
Klindamisin merupakan antibiotika yang juga bersifat
skizontosida darah untuk P. falciparum dan juga yang resisten
4. Primakuin
klorokuin(22–23). Obat ini tidak dipakai sebagai obat antimalaria
Primakuin merupakan obat antimalaria kelompok 8-amino-
dalam program.
kuinolin yang bersifat skizontosida jaringan, gametositosida dan
Klindamisin dikemas dalam bentuk kapsul untuk pemberian
sporontosida untuk jenis Plasmodium manusia. Obat ini digunakan
peroral dengan dosis 5–10 mg/kg bb. tiap 12 jam selama 5 hari.
bersama obat antimalaria lain yang hanya bersifat skizontosida
Obat ini bekerja lambat, untuk itu dalam pengobatan malaria
darah untuk mendapatkan pengobatan radikal. Penggunaan pri-
falsiparum resisten multidrug dianjurkan menggunakan kom-
makuin untuk profilaksis kausal masih dalam penelitian; dalam
binasi dengan obat antimalaria lain yang bekerja cepat antara lain
program tidak digunakan untuk profilaksis(1).
kina(23-24).
Primakuin dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian
Klindamisin pernah diteliti pada penderita malaria falsi-
peroral. Obat ini tidak diberikan pada bayi dan ibu hamil. Waktu
parum yang in vitro resisten klorokuin di RSU Dili, Timtim pada
paruhnya adalah 6 jam(19–20). Dosis pengobatan radikal malaria
tahun 1989. Dosis yang diberikan adalah 300 mg tiap 12 jam
falsiparum adalah 0,5–0,75 mg basa/kg bb., dosis tunggal pada
peroral, selama 5 hari. Angka kesembuhan yang diperoleh
hari 1 pengobatan. Untuk pengobatan radikal malaria vivaks,
adalah 100% dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah
ovale dan malariae, diberikan primakuin 0,25–0,375 mg basa/kg
2–6 hari, sedangkan efek sampingnya adalah gangguan saluran
bb., dosis tunggal selama 5–14 hari. Efek samping yang di-
pencernaan ringan dan bersifat sementara(25).
laporkan adalah gangguan saluran pencernaan (mual, muntah
dan sakit perut) dan sistim hemopoetik (anemi, leukopeni dan 3) Lain-lain
methemoglobinemi)(1,15). Kloramfenikol, eritromisin, sulfametoksasol-trimetoprim
Oleh karena primakuin bukan merupakan obat antimalaria dan siprofloksasin (kuinolon) merupakan antibiotika lain yang
yang bersifat skizontosida darah, maka sulit dan belum diketahui juga bersifat ant=malaria dan bekerja lambat. Obat ini pernah di-
cara mengukur sensitivitas in vivo atau in vitro obat ini. teliti di luar negeri untuk pengobatan malaria falsiparum resisten
klorokuin dengan kombinasi obat antimalaria lain yang bekerja ditemukan 1 kasus resisten R I. Efikasi obat tersebut cukup baik
cepat yaitu kina atau amodiakuin(26–29). dengan angka kesembuhan, waktu bebas panas dan waktu bebas
parasit yang dibutuhkan adalah 98,4%, 22,4 ± 2,7 jam, 58,3 ± 5,2
OBAT ANTIMALARIA BARU jam. Tidak ditemukan perbēdaan nyata efikasi antara penderita
malaria falsiparum tanpa komplikasi yang in vitro sensitif dan
1) Meflokuin
resisten klorokuin. Efek samping yang. tercatat adalah diare,
Meflokuin merupakan obat antimalaria golongan 4-metanol
.nual, palpitasi dan pusing yang bersifat ringan dan sembuh
kuinolin yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis
tanpa pengobatan(47).
Plasmodium manusia dan strain P. falciparum resisten klorokuin
Pada penelitian pengobatan malaria di Arso, Irja, selain
dan multidrue"). Obat ini sudah diteliti di Indonesia sebagai
halofantrin juga diberikan primakuin dosis tunggal setiap hari
persiapan untuk mendapatkan obat alternatif dalam pengobatan
pada 14 hari pertama dan dilanjutkan tiap 2 hari untuk 14 hari
malaria falsiparum resisten multidrug terutama apabila juga telah
berikutnya untuk mencegah reinfeksi dan relaps. Angka kesem-
resisfen terhadap kina.
buhan untuk malaria vivaks maupun malaria falsiparum adalah
Meflokuin dikemas dalam berituk tablet dan suspensi untuk
100%(48).
pemberian peroral. Obat ini tidak diberikan pada wanita hamil
Peneliti-peneliti di negara lain mendapatkan angka kesem-
trimester I(17). Waktu paruh meflokuin adalah 3 minggu pada
buhan 28–100% dengan waktu bebas panas yang dibutuhkan
orang sehat dan 2 minggu pada penderita malaria(32–34). Dosis
lebih lambat yaitu 28,8 – 68,1 jam dan waktu bebas parasit lebih
meflokuin untuk pengobatan adalah 15–29 mg/kg bb. peroral,
lambat atau lebih cepat yaitu 42,4 – 75,9 jam(43,49). Salah satu
dosis tunggal atau dibagi dalam 2 dosis tiap 12 jam(16–17,35). Untuk
penyebab sangat beragamnya angka kesembuhan halofantrin
memperlambat terjadinya resistensi, dapat dikombinasikan
adalah absorbsi obat tersebut yang akan meningkat bila disertai
dengan sulfadoksin-pirimetamin (MSP)(36). Penggunaan
dengan makanan berlemak(50). Belum lama ini dilaporkan adanya
meflokuin untuk profilaksis akan diteliti dengan dosis awa1750
efek samping halofantrin pada jantung (QTc memanjang dan
mg yaitu 250 mg/hari dosis tunggal selama 3 hari pada minggu
aritmia ventrikel). Oleh sebab itu WHO menghendaki perbaikan
pertama, kemudian dilanjutkan 250 mg/minggu.
keterangan mengenai obat ini(51).
Walaupun meflokuin belum pernah dipakai, pada penelitian
sensitivitas P. falciparum in vivo dan atau in vitro, ditemukan
3) Artemisinin (Qinghaosu)
kasus resisten di tiga propinsi yaitu Jawa Tengah, Irja dan Kaltim
Artemisinin merupakan obat antimalaria golongan ses-
dengan derajat resisten RII–RIII(9,37). Pada pengobatan malaria
kuiterpen lakton yang bersifat skizontosida darah untuk P. falci-
falsiparum tanpa komplikasi, meflokuin memberikan angka
parum dan P. vivax. Obat ini merupakan basil perkembangan
kesembuhan 94–100%, waktu bebas panas 9,3–25 jam dan
obat tradisional Cina untuk penderita demam yang dibuat dari
waktu bebas parasit 47,1–59 jam(37–38). Efek samping yang di-
ekstrak tumbuhan Artemesia annua L (qinghao) yang sudah di-
temukan hanya mual yang bersifat ringan dan sembuh tanpa
pakai sejak ribuan tahun yang lalu. Karena adanya efek foeto-
pengobatan(38).
toksik, obat ini tidak diberikan pada wanita hamil. Dari uji klinis,
Peneliti-peneliti di negara lain mendapatkan angka kesem-
obat ini sangat efektif, bekerja sangat cepat dan toksisitasnya
buhan yang beragam yaitu 33–100% dan waktu bebas panas yang
rendah(52). Oleh sebab itu obat ini telah dan sedang diteliti untuk
dibutuhkan lebih lama yaitu 67–84 jam(30,39–43). Efek samping
mempersiapkan mendapat obat antimalaria alternatif yang efektif
yang juga paling sering dijumpai oleh peneliti-peneliti lain
dalam pengobatan malaria falsiparum resisten multidrug, dan
adalah mual yang sembuh tanpa pengobatan(16,30).
malaria berat.
2) Halofantrin Kemasan obat ini tergantung dari jenis derivat artemisinin
Halofantrin merupakan obat antimalaria golongan fenantren yaitu :
metanol yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Artesunat
Plasmodium manusia dan strain P. falciparum resisten multi- Obat ini ada yang dalam bentuk tablet untuk pemberian
drug(44). Obat ini tidak digunakan untuk profilaksis dan sedang peroral dan bentuk serbuk kering dengan pelarut NaHCO3 5%
diteliti di Indonesia sebagai persiapan untuk mendapatkan obat untuk pemberian parenteral (intravena atau intramuskular). Dosis
alternatif pada pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi oral yang dianjurkan pada pengobatan malaria falsiparum tanpa
yang resisten multidrug. komplikasi adalah 600 mg dalam 5 hari yaitu 100 mg tiap 12 jam
Halofantrin dikemas dalam bentuk tablet, kapsul dan sus- pada hari 1, kemudian dilanjutkan 50 mg tiap 12 jam pada 4 hari
pensi untuk pemberian peroral. Obat ini tidak diberikan pada berikutnya. Dosis parenteral yang dianjurkan pada pengobatan
wanita hamil dan menyusui karena mempunyai efek foetotoksik. malaria dengan komplikasi adalah 1,2 mg/kg bb., diberikan pada
Waktu paruhnya adalah 1–2 hari. Dosis yang digunakan untuk 0, 4, 24 dan 48 jam (3 hari) sehingga dosis total mencapai 240–
pengobatan malaria tanpa komplikasi adalah 8–10 mg/kg bb. tiap 300 mg(53). Waktu paruh artesunat parenteral sangat cepat yaitu
6 jam dengan dosis total 24 mg/kg bb. Untuk mencegah rekrude- diperkirakan hanya 48 menit(16).
sen, halofantrin dapat diberikan kembali dengan dosis sama pada Pada uji coba klinik pada penderita malaria falsiparum tanpa
hari ke 3 atau 7(44-45). komplikasi di RS ITCI, Balikpapan, tablet artesunat pada awal-
Pada uji coba klinik halofantrin di RS ITCI Balikpapan, nya memberikan angka kesembuhan 100% (s/d hari ke 14) ke-
mudian menjadi 75% pada hari ke 28, dengan waktu bebas panas artemether intramuskular adalah 12 jam(16). Dosis awal yang
dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 14,0 ± 4,6 jam dianjurkan adalah 3,2 mg/kg bb./hari pada hari 1, kemudian
dan 32,0 ± 5,9 jam. Tidak ditemukan efek samping secara klinis dilanjutkan 1,6 mg/kg bb./hari pada hari berikutnya sehingga
dan laboratoris(54). dosis total adalah 480 mg untuk 5 hari. Di Cina dengan dosis
Peneliti-peneliti di Thailand dengan menggunakan dosis artemether seperti ini memberi angka kesembuhan 93,3%
tablet artesunatyang sama, memberi angkakesembuhan 76–90% dengan waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang di-
dengan waktu bebas panas sedikit lebih lama yaitu kurang dari 2 butuhkan adalah 20,6 – 29,7 jam dan 31,9 – 76,2 jam. Efek sam-
hari dan waktu bebas parasit hampir sama yaitu juga kurang dari ping yang ditemukan adalah demam dan penurunan jumlah
2 hari. Efek samping yang ditemukan antara lain : sakit kepala, retikulosit(59).
pusing, mual, muntah, sakit perut, diare, gatal-gatal dan rambut Arteether
rontok(55–58). Obat ini dalam larutan (I3-etil eter) yang dikemas dalam
Uji coba pengobatan artesunat intravena 240–300 mg untuk ampul untuk pemberian intramuskular. Obat ini masih dalam
penderita malaria berat sedang dilaksanakan di RSU Balikpapan. penelitian(61).
Di Cina, pengobatan malaria dengan artesunat intravena 240 Sehubungan dengan cukup tingginya angka rekrudesen, dan
mg memberikan angka kesembuhan 48,7% dengan waktu bebas pengobatan tampaknya sangat tergantung dari lamanya peng-
panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 14,6 – obatan selain dosis yang tepat, serta memperlambat terjadinya
27,0 jam dan 32,3 – 58,5 jam. Bila digunakan dosis total 480 mg resisten, maka dalam pengobatan digunakan kombinasi dengan
untuk 7 hari, memberikan angka kesembuhan 94,4%. Efek obat antimalaria lain antara lain meflokuin, sufadoksin-pirime-
samping yang dilaporkan hanya skin rash(59). tamin, dan doksisiklin(60,62–64).
Demikian pula pada pengobatan malaria dengan artesunat
4) Yinghaosu
intramuskular dosis 240 mg untuk 3 hari, 360 mg untuk 5 hari,
Yinghaosu merupakan obat antimalaria golongan seskui-
dan 480 mg untuk 7 hari, memberikan angka kesembuhan 48%,
terpen peroksid yang bersifat skizontosida darah untuk P. falci-
90,2% dan 97,5%. Waktu bebas panas dan waktu bebas parasit
parum terutama yang resisten klorokuin. Obat ini juga dikem-
yang dibutuhkan oleh ke 3 kelompok tersebut tidak berbeda
bangkan dari tanaman obat tradisional Cina yang dapat diberikan
nyata yaitu antara 19,5 – 22,4 jam dan 64,1 – 68,2 jam(59).
peroral atau parenteral. Dilaporkan obat ini tidak ditemukan
Artemisinin
resisten silang dengan klorokuin, meflokuin dan ginghaosu(65–66).
Obat ini dalam bentuk tablet (dihidroartemisinin) untuk
pemberian peroral dan supositoria (artemisinin) untuk pem- 5) Pyronaridine
berian perrektal. Pyronaridine merupakan obat antimalaria derivat hidroksi-
Dosis total oral yang pernah diteliti pada penderita malaria anilino benso-naftridin yang mempunyai struktur sama dengan
falsiparum tanpa komplikasi di Cina adalah 240 mg untuk 3 hari, mepakrin dan amodiakuin. Obat ini bersifat skizontosida darah
360 mg untuk 5 hari, dan 480 mg untuk 7 hari, yaitu 120 mg pada untuk P. falciparum dan P. vivax resisten multidrug dan sudah
hari 1 dilanjutkan 60 mg pada hari berikutnya. Angka kesem- digunakan luas di Cina sejak lebih 10 tahun yang lalu(67–68).
buhan yang diperoleh dengan dosis-dosis tersebut adalah 48%, Pyronaridine dikemas dalam bentuk tablet dan kapsul
94% dan 98%, dan tidak ditemukan perbedaan yang nyata pada untuk pemberian peroral, dan bentuk untuk parenteral yang lebih
waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan. efektif. Waktu paruh obat ini diperkirakan 63 ± 5 jam. Dosis oral
Efek samping yang dilaporkan ailalah skin rash dan penurunan adalah 300 – 400 mg, dua kali sehari pada hari 1 dan kemudian
jumlah retikulosit(59). dilanjutkan satu atau dua kali sehari dengan dosis total 1200 g.
Dosis total supositoria rektal yang juga pernah diteliti untuk Dosis parenteral adalah 300 mg intramuskular atau intravena,
penderita malaria di Cina adalah 2800 mg untuk 3 hari yaitu 600 dua kali sehari tiap 8 jam. Waktu bebas panas dan waktu bebas
mg pada 0, 4 jam pada hari 1, kemudian dilanjutkan 2 kali 400 mg parasit yang dibutuhkan oleh pekerja di Thailand dan Cina adalah
pada hari ke 2 dan 3. Angka kesembuhan yang diperoleh 54% 36 dan 57 jam. Efek samping yang pernah ditemukan adalah
dengan waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibu- diare, sakit perut dan muntah-muntah(14,69–70). Untuk memper-
tuhkan adalah 14,9 – 38,9 jam dan 35,2 – 52,8 jam. Efek samping lambat terjadinya resisten, pada pengobatan dikombinasikan
yang ditemukan adalah tenesmus, sakit perut dan diare yang dengan sulfadoksin-pirimetamin(70).
bersifat sementara dan sembuh tanpa memerlukan pengobatan(59).
Artemether 6) Piperaquine
Obat ini dalam bentuk larutan minyak, dikemas dalam Piperaquine merupakan obat antimalaria yang bersifat ski-
bentuk kapsul untuk pemberian peroral dan dalam ampul untuk zontosida darah untuk P. falciparum dan sudah digunakan luas di
pemberian intramuskular. Cina lebih dari 10 tahun yang lalu(71).
Di Thailand, pengobatan malaria tanpa komplikasi dengan Obat ini dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian
artemether oral dosis total 500 – 700 mg untuk 5 – 7 hari, mem- peroral. Dosis total yang biasa dipakai adalah 1500 mg yaitu
beri angka kesembuhan 74 – 98%(60). dosis awal 600 mg, dilanjutkan 300 mg pada 6 jam berikutnya
Uji coba pengobatan malaria berat dengan artemether intra- dan 600 mg pada jam ke 24(71,72). Angka kesembuhan di Cina
muskular sedang dan akan dilakukan di Indonesia. Waktu paruh adalah 33,3 – 100% dengan derajat resisten R I – R 11I(72–73). Efek
2. World Health Organization. WHO Technical Report Series 1973; 529.
samping yang dilaporkan adalah muntah-muntah(72). Untuk daerah 3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pem-
yang diketahui adanya kasus resisten terhadap piperaquine, berantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.
biasanya dikombinasikan dengan antimalaria lain antara lain Malaria : Tes resistensi in vivo dan in vitro untuk P. falciparum no 9, 1991.
4. Schwartz IK, Lacteritz EM, Patchen LC. Letter : Chloroquine resistant
sulfadoksin-pirimetamin(71). Plasmodium vivax from Indonesia : New Engl J Med 1991; 324 (13) : 927.
7) Atovaquone 5. Baird JK, Basri H, Purnomo dkk. Resistance to chloroquine by Plasmodium
Atovaquone merupakan obat antimalaria kelompok hidroksi- vivax in Irian Jaya, Indonesia. Am J Trop Med Hyg 1991; 44 (5) : 547–552.
naftokuinon yang bersifat skizontosida darah untuk P. falci- 6. Murphy GS, Basri H, Pumomo dkk. Vivax malaria resistant to treatment
and prophylaxis with chloroquine. Lancet 1993; 341 : 96–100.
parum. Obat ini diharapkan dapat berguna untuk pengobatan 7. Tjitra E, Lukito B, Gunawan S. A case report : Transfusion vivax malaria
malaria falsiparum resisten klorokuin atau multidrug karena cara resistant to multidrug (akan diterbitkan).
kerjanya berbeda dengan obat antimalaria skizontosida darah 8. Arbani PR. Situasi malaria di Indonesia. Simposium QBC, FKUI, Jakarta,
lainnya sehingga diperkirakan tidak terjadi resisten silang de- 28 Nopember 1991.
9. Tjitra E, Marwoto H, Sulaksono S dkk. Penelitian obat antimalaria. Bul
ngan obat-obat tersebut(74). Penelit Kes 1991; 19 (4) : 15–23.
Obat ini dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian per- 10. Pribadi W. Drug resistance of Plasmodium falciparum in several parts of
oral. Dosis yang efektif untuk pengobatan masih dalam peneliti- Indonesia. Simposium & Workshop on drug resistance of Plasmodium
an. falciparum. FKUI, Jakarta, 20 Mei 1993.
11. Frisk-Holmberg M, Bergqvist Y, Termond E dkk. The single dose kinetics
Di Thailand, uji coba atovaquone pada penderita malaria of chloroquine and its major metabolite desethylchloroquine in healthy
falsiparum tanpa komplikasi dengan dosis 750 mg tiap 8 jam, subjects. Eur J Clin Pharmacol 1984; 26 : 521–530.
dosis total 3 gram, atau dengan dosis yang lebih tinggi yaitu 750 12. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pem-
mg tiap 8 jam selama 7 hari, tidak memberikan angka kesem- berantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.


Use: 0.0299