• 1 PERAN DAN FUNGSI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PAPUA DALAM ...


  •   
  • FileName: john ibo.pdf [read-online]
    • Abstract: Persamaan Kedudukan, Hak dan Kewajiban Warga Negara. Penegakan supremasi hukum berarti ... keamanan, tentang persamaan hak dan kedudukan sebagai warga negara. ...

Download the ebook

PERAN DAN FUNGSI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PAPUA    
 DALAM MEWUJUDKAN PERLINDUNGAN  
HAK‐HAK ORANG ASLI PAPUA1 
 
Oleh : 
Drs. John Ibo, MM2 
 
 
A. Pendahuluan  
Ketentuan  Pasal  1  huruf  t  Undang‐undang  No.  21  Tahun  2001  tentang  Otonomi 
Khusus  bagi  Provinsi  Papua  (UU  Otsus)  menyebutkan  bahwa  orang  asli  Papua  adalah 
orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia yang terdiri dari suku‐suku asli di Provinsi  
Papua dan/atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat 
adat Papua. Dengan demikian orang asli  Papua adalah anggota Masyarakat Hukum Adat 
(Indigenous People) yang ada di Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang 
harus  diberi  perlindungan  hak‐hak  dasarnya  di  atas  Bumi  Papua  dan  di  dalam 
Kebudayaannya.  
Berkaitan  dengan  hal  tersebut,  sebenarnya  Dewan  Perwakilan  Rakyat  Papua 
(DPRP) tidak memiliki peran dan fungsi secara langsung dalam mewujudkan perlindungan 
hak‐hak orang asli Papua, karena yang memiliki peran dan fungsi secara langsung dalam 
mewujudkan perlindungan hak‐hak orang asli Papua adalah Majelis Rakyat Papua (MRP), 
sebagaimana  disebutkan  dalam  Pasal  1  huruf  g  UU  Otsus  menyebutkan  bahwa  Majelis 
Rakyat  Papua,  yang  selanjutnya  disebut  MRP,  adalah  representasi  kultural  orang  asli 
Papua, yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak‐hak orang asli 
Papua  dengan  berlandaskan  pada  penghormatan  terhadap  adat  dan  budaya, 
pemberdayaan  perempuan,  dan  pemantapan  kerukunan  hidup  beragama.  Sedangkan 
Dewan  Perwakilan  Rakyat  Papua  (DPRP)  yang  sebelumnya  bernama  Dewan  Perwakilan 
Rakyat  Daerah  (DPRD)  Provinsi  Papua,  seperti  DPRD  di  Provinsi  lainnya,  merupakan 
lembaga perwakilan politik rakyat, mitra Pemerintah Daerah yang memiliki 3 (tiga) fungsi 
utama,  terdiri  dari  :  a)  fungsi  legislasi,  yaitu  kegiatan  bersama  Gubernur    untuk 
membentuk  Peraturan  Daerah,  b)  fungsi  anggaran,  yaitu  kegiatan  bersama  Gubenrur 
1
Judul Makalah, Disampaikan Pada Simposium dan Lokakarya Nasional Papua dengan
Tema Menuju Pembangunan Berbasis Masyarakat yang Berkelanjutan, Kerjasama FISIP
Universitas Indonesia Jakarta dengan FISIP Universitas Cenderawasih Jayapura, Jakarta, 6 – 8
April 2010.
2
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).
1
untuk  menyusun  dan  menetapkan  APBD  yang  didalamnya  termasuk  anggaran  untuk 
pelaksanaan  fungsi,  tugas  dan  wewenang  DPRP,  serta  c)  fungsi  pengawasan,  yaitu 
kegiatan  pengawasan  kinerja  Gubernur  dan  aparatnya  dalam  melaksanakan  Undang‐
undang, Peraturan Daerah, Keputusan Gubenrur dan Kebijakan Daerah lainnya.  
 Fungsi DPRP secara langsung dalam perlindungan hak‐hak orang asli Papua adalah 
pada  waktu  pembahasan  dan  penetapan  Peraturan  Daerah  Khusus  (Perdasus)  yang 
melibatkan  hubungan  kerja  antara  DPRP,  MRP  dan  Gubernur,  sebagaimana  disebutkan 
dalam  Pasal  1  huruf  i  UU  Otsus  dan  Pasal    29  ayat  (1)  UU  Otsus.3  Namun  demikian, 
mengingat  pentingnya  isi  judul  tersebut,  maka  sesuai  dengan  permintaan  Panitia  agar 
saya  menyatakan  bersedia  menyampaikan  materi  sesuai  dengan  judul  tersebut,  maka 
saya  akan  menyampaikan  pandangan  saya  tentang  perlindungan  hak‐hak  orang  asli 
Papua. 
 
B. UU Otsus Sebagai Sarana Perlindungan Hak‐Hak Orang Asli Papua  
Keputusan  politik  penyatuan  Papua  menjadi  bagian  dari  Negara  Kesatuan 
Republik  Indonesia  (NKRI)  pada  hakikatnya  mengandung  cita‐cita  luhur.  Namun 
kenyataan di masa pemerintahan Orde Baru, berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan 
pemerintahan  dan  pembangunan  yang  sentralistik  belum  sepenuhnya  memenuhi  rasa 
keadilan, belum sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat di Provinsi 
Papua,  khususnya  masyarakat  Papua.  Kondisi  tersebut  mengakibatkan  terjadinya 
kesenjangan pada hampir semua sektor kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan, 
kesehatan,  ekonomi,  kebudayaan  dan  sosial  politik.  Upaya  penyelesaian  masalah 
tersebut  selama  ini  dinilai  kurang  menyentuh  akar  masalah  dan  aspirasi  masyarakat 
Papua, sehingga memicu berbagai bentuk kekecewaan dan ketidakpuasan. 
Pada  era  reformasi  tahun  1999,  setelah  berakhirnya  masa  pemerintahan  Orde 
Baru  terbukalah  kran  kebebasan  menyampaikan  pendapat.  Setelah  terkekang  selama 
lebih dari 3 (tiga) dasa warsa di bawah pemerintahan yang sentralistis, rakyat di seluruh 
wilayah    Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (NKRI)  menyampaikan  berbagai  ekspresi 
keinginan  dan  tuntutannya  masing‐masing,    tidak  terkecuali  rakyat  di  Provinsi  Papua 
(sebelumnya  bernama  Provinsi  Irian  Jaya)  sebagai  provinsi  paling  timur  Indonesia  yang 
memiliki karakteristik sosio‐kultural sangat beragam4.   
3
Pasal 1 huruf i UU Otsus menyebutkan bahwa Peraturan Daerah Khusus, yang selanjutnya
disebut Perdasus, adalah Peraturan Daerah Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan pasal-pasal
tertentu dalam UU Otsus, serta Pasal 29 ayat (1) UU Otsus menyebutkan bahwa Perdasus dibuat
dan ditetapkan oleh DPRP bersama-sama Gubernur dengan pertimbangan dan persetujuan MRP.
4
Provinsi Papua merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, yang memiliki keragaman suku dan lebih dari 250 (dua ratus lima puluh) bahasa
daerah serta dihuni juga oleh suku-suku lain di Indonesia. Provinsi Papua pada saat ini
2
Dalam  momentum  tersebut,  masyarakat  di  Papua  menyampaikan  keinginan 
merdeka keluar dari NKRI. Selanjutnya, sebagai respon atas tuntutan perbaikan berbagai 
masalah  serius  akibat  kebijakan  pembangunan  yang  sentralistis,  serta  meluasnya 
tuntutan politik dari masyarakat di Papua untuk merdeka keluar dari (NKRI), pemerintah 
memberlakukan  UU  Otsus  sebagai  kebijakan  nasional  yang  diakomodasi  dari  tuntutan 
masyarakat  tersebut,  bermaksud  untuk  memperbaiki  berbagai  hal  dalam  implementasi 
kebijakan  pembangunan  selama  lebih  dari  3  (tiga)  dasawarsa    di  Provinsi  Papua  yang 
melahirkan berbagai implikasi negative atas masalah  eksploitasi sumber daya alam yang 
mengabaikan  hak  masyarakat  lokal,  dan  sistem  penyelenggaraan  pemerintahan  yang 
sentralistis.  
UU Otsus Papua pada hakekatnya  adalah pemberian kewenangan yang lebih luas 
bagi  Provinsi  dan  Rakyat  Papua  untuk  mengatur  dan  mengurus  diri  sendiri  di  dalam 
kerangka  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia.5  Kewenangan  dimakasud  memberi 
kesempatan dan tanggung jawab yang lebih besar kepada pemerintah dan masyarakat di 
provinsi  Papua  untuk  menyelenggarakan  pemerintahan  dan  mengatur  pemanfaatan 
kekayaan  alam    untuk  sebesar‐besarnya  bagi  kemakmuran  rakyat.  Kewenangan  untuk 
memberdayakan  potensi  sosial‐ekonomi  masyarakat  lokal  agar  memegang  peran  aktif 
dan  insiatif  merumuskan  kebijakan  daerah,  menentukan  strategi  pembangunan  dengan 
menghargai  kesetaraan  dan  keragaman  kehidupan  masyarakat,  melestarikan  budaya 
serta lingkungan alam Papua. 
terdiri atas 27 (dua puluh tujuh) Kabupaten dan 2 (dua) Kota. Provinsi Papua memiliki luas
kurang lebih 421.981 km2 dengan topografi yang bervariasi, mulai dari dataran rendah
yang berawa sampai dengan pegunungan yang puncaknya diselimuti salju. Wilayah
Provinsi Papua berbatasan di sebelah utara dengan Samudera Pasifik, di sebelah selatan
dengan Provinsi Maluku dan Laut Arafura, di sebelah barat dengan Provinsi Maluku dan
Maluku Utara, dan di sebelah timur dengan Negara Papua New Guinea.
5
Bagian penjelasan UU Otsus dinyatakan antara lain bahwa : “ ... momentum reformasi
di Indonesia memberi peluang bagi timbulnya pemikiran dan kesadaran baru untuk menyelesaikan
berbagai permasalahan besar bangsa Indonesia dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara
yang lebih baik. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia menetapkan perlunya
pemberian status Otonomi Khusus kepada Provinsi Irian Jaya sebagaimana diamanatkan dalam
Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun
1999-2004 Bab IV huruf (g) angka 2. Dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR /2000
tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah, yang antara lain
menekankan tentang pentingnya segera merealisasikan Otonomi Khusus tersebut melalui
penetapan suatu undang-undang otonomi khusus bagi Provinsi Irian Jaya dengan memperhatikan
aspirasi masyarakat. Hal ini merupakan suatu langkah awal yang positif dalam rangka membangun
kepercayaan rakyat kepada Pemerintah, sekaligus merupakan langkah strategis untuk meletakkan
kerangka dasar yang kukuh bagi berbagai upaya yang perlu dilakukan demi tuntasnya penyelesaian
masalah-masalah di Provinsi Papua.
3
Tujuan  UU  Otsus  Papua  adalah  untuk  mewujudkan  keadilan,  penegakan  supremasi 
hukum, penghormatan terhadap HAM, percepatan pembangunan ekonomi, peningkatan 
kesejahteraan  dan  kemajuan  masyarakat  Papua,  dalam  rangka  kesetaraan  dan 
keseimbangan  dengan  kemajuan  provinsi  lain  di  Indonesia.  Tujuan  tersebut  dapat 
diwujudkan, jika dipenuhinya syarat sebagaimana diuraikan dalam bagian penjelasan UU 
Otsus, sebagai berikut : 
a. Partisipasi rakyat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penyelenggaraan 
pemerintahan  serta  pelaksanaan  pembangunan  melalui  keikutsertaan  para  wakil 
adat, agama, dan kaum perempuan;  
b. Pelaksanaan  pembangunan  yang  diarahkan  sebesar‐besarnya  untuk  memenuhi 
kebutuhan dasar penduduk, terutama penduduk  asli Papua dengan berpegang teguh 
pada  prinsip‐prinsip  pelestarian  lingkungan,  pembangunan  berkelanjutan, 
berkeadilan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat; dan 
c. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang dilakukan secara transparan 
dan bertanggungjawab kepada masyarakat (Menjawab keinginan bagian pada tulisan 
ini,  DPR Papua melakukan lobi kepada Pemerintah Pusat, agar proses demokratisasi 
terutama pelaksanaan PILGUB dan WAGUB dilakukan oleh DPRP agar Gubernur dapat 
menyampaikan LPJ dan bukan LKPJ sesuai pasal 7 dan 18 Undang‐udang Nomor 21. 
UU  Otsus  yang  terdiri  dari  24  Bab  dan  79  Pasal  diundangkan  pada  tanggal  21 
November 2001, memiliki beberapa kekhususan yang membedakannya dengan Undang‐
undang lainnya, yaitu: 
1. Adanya  kewenangan  khusus6    dalam  penyelenggaraan  pemerintahan  di  provinsi 
maupun di kabupaten/kota yang penjabarannya harus dengan Perdasus atau Perdasi 
sebagai instrumen pengaturan kewenangan khusus. 
2. Adanya Majelis Rakyat Papua (MRP) 7 sebagai lembaga representasi kultural orang asli 
papua  dengan  wewenang  tertentu.  Disamping  Gubernur  dan  DPR  Papua,    dalam 
6
Pasal 4 UU Otsus yang antara lain menyatakan bahwa selain kewenangan Provinsi
Papua mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan bidang
politik luar negeri, pertahanan keamanan, moneter dan fiskal, agama, dan peradilan serta
kewenangan tertentu di bidang lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus, Provinsi Papua diberi kewenangan khusus berdasar
UU Otsus yang diatur lebih lanjut dengan Perdasus atau Perdasi.
7
Pasal 20 UU Otsus MRP bertugas dan berwewenang sebagai berikut : a. pertimbangan
dan persetujuan terhadap bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusulkan oleh DPRP; b.
pertimbangan dan persetujuan terhadap Rancangan Perdasus yang diajukan DPRP bersama-sama
dengan Gubernur; c. saran, pertimbangan dan persetujuan terhadap rencana perjanjian kerjasama
yang dibuat oleh Pemerintah maupun Pemerintah Provinsi dengan pihak ketiga yang berlaku di
Provinsi Papua yang menyangkut perlindungan hak-hak orang asli Papua; d. menyalurkan aspirasi,
pengaduan masyarakat adat, umat beragama, kaum perempuan yang menyangkut hak-hak orang
4
penyelenggaraan pemerintahan di provinsi terdapat MRP sebagai representasi kultural 
orang asli Papua dengan kewewenangan tertentu dalam rangka perlindungan hak‐hak 
orang asli Papua.  
3. Adanya  peraturan  perundang‐undangan  daerah  provinsi,  yang  terdiri  dari  peraturan  
daerah khusus (Perdasus) dan  peraturan  daerah provinsi (Perdasi)8 
4. Adanya  dana  Otonomi  Khusus  sebesar  2  %  dari  Dana  Alokasi  Umum  Nasional  untuk 
pendidikan  dan  kesehatan  dan  dimungkinkannya  pengajuan  usulan  pengadaan  dana 
untuk pembangunan infrastruktur fisik di Papua9. 
5. Adanya syarat bagi calon Gubernur dan Wakil Gubernur harus orang asli Papua10 
6. Adanya  jumlah  anggota  DPR  Papua  1¼  (satu  seperempat)  kali  dari  jumlah  Anggota 
DPRD  Provinsi  lain  di  Indonesia.  Jika  menggunakan  Undang‐Undang  Pemilu,  jumlah 
anggota  DPR  Papua  sebanyak  45  orang,  akan  tetapi  dengan  menggunakan  UU  Otsus 
Pasal 6 ayat (4) jumlah anggota DPR Papua bertambah menjadi 56 orang.11 
asli Papua, serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya; dan e. pertimbangan kepada DPRP,
Gubernur, DPRD Kabupaten serta Bupati mengenai perlindungan hak-hak orang asli Papua.
8
Pasal 29 UU Otsus yang menyatakan bahwa : (1) Perdasus dibuat dan ditetapkan oleh
DPRP bersama-sama Gubernur dengan pertimbangan dan persetujuan MRP, (2) Perdasi dibuat dan
ditetapkan oleh DPRP bersama-sama Gubernur. (3) Tata cara pemberian pertimbangan dan
persetujuan MRP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Perdasi.
9
Pasal 34 UU Otsus, ayat (3) huruf e yang menyatakan bahwa penerimaan khusus dalam
rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya setara dengan 2% dari plafon Dana Alokasi
Umum Nasional, yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan; dan huruf
f. Menyatakan bahwa : Dana tambahan dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya
ditetapkan antara Pemerintah dengan DPR berdasarkan usulan Provinsi pada setiap tahun anggaran,
terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur.
10
Pasal 12 UU Otsus, Gubernur dan Wakil Gubernur adalah Warga Negara Republik
Indonesia dengan syarat-syarat : a. orang asli Papua; b. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa; c. berpendidikan sekurang-kurangnya sarjana atau yang setara; d. berumur sekurang-
kurangnya 30 tahun; e. sehat jasmani dan rohani; f. setia kepada Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan mengabdi rakyat Provinsi Papua; g. tidak pernah dihukum penjara karena tindak
pidana, kecuali karena alasan politik; dan h. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan
keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, kecuali dipenjara karena alasan-alasan
politik.
11
Pasal 6 UU Otsus yang menyatakan bahwa : (1) Kekuasaan legislatif Provinsi
Papua dilaksanakan oleh DPRP. (2) DPRP terdiri atas anggota yang dipilih berdasarkan
peraturan perundang-undangan. (3) Pemilihan, penetapan dan pelantikan anggota DPRP
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Jumlah anggota DPRP
5
 
 
7. Adanya prioritas ketenagakerjaan dan kepegawaian kepada orang asli Papua12 
8. Adanya perlindungan Hak‐Hak Masyarakat Adat dan Pengakuan Peradilan Adat13 
9. Adanya Perdasus pengawasan sosial terhadap kegiatan pembangunan di Papua dalam 
rangka penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, transparan, dan 
bertanggungjawab14  
 
C. Nilai Dasar Dalam Mewujudkan Perlindungan Hak‐hak  Orang Asli Papua 
UU  Otsus  sebagai  sarana  perlindungan  hak  masyarakat  asli  Papua,  dilaksanakan 
dengan  berpedoman  pada  sejumlah  nilai‐nilai  dasar  yang  bersumber  dari  adat  istiadat 
masyarakat Papua, prinsip‐prinsip kemanusiaan universal, penghormatan demokrasi, dan 
hak‐hak azasi manusia. Nilai dasar yang sekaligus berfungsi sebagai pedoman dasar bagi 
pelaksanaan  Otonomi  Khusus  meliputi:  perlindungan  terhadap  hak‐hak  dasar  penduduk 
asli  Papua;  demokrasi  dan  kedewasaan  berdemokrasi;  penghargaan  terhadap  etika  dan 
moral;  penghormatan  terhadap  hak‐hak  azasi  manusia;  supremasi  hukum;  penghargaan 
terhadap  pluralisme;  dan  persamaan  kedudukan,  hak  dan  kewajiban  sebagai  warga 
negara.  Secara  ringkas,    makna  dari  nilai‐nilai  dasar  tersebut  dapat  diuraikan,  sebagai 
berikut : 
1. Perlindungan terhadap Hak‐hak Dasar Penduduk Asli Papua 
Penduduk asli Papua memiliki identitas dan jati diri yang khas di dalam kebhinekaan 
penduduk  dan  kebudayaan  Indonesia.  Identitas  jati  diri  tersebut  harus  diposisikan 
sebagai  bagian  dari  keragaman  manusia  yang  mendiami  bumi  ciptaan  Tuhan  Yang 
adalah 1¼ (satu seperempat) kali dari jumlah anggota DPRD Provinsi Papua sebagaimana
diatur dalam peraturan perundang-undangan.
12
Pasal 62 UU Otsus ayat (2) yang menyatakan bahwa orang asli Papua berhak
memperoleh kesempatan dan diutamakan untuk mendapatkan pekerjaan di wilayah Provinsi Papua
berdasarkan pendidikan dan keahliannya yang diatur dengan Perdasi.
13
Pasal 43 UU Otsus yang menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Papua wajib
mengakui, menghormati, melindungi, memberdayakan dan mengembangkan hak-hak masyarakat
adat dengan berpedoman pada ketentuan peraturan hukum yang berlaku.
14
Pasal 67 UU Otsus yang menyatakan bahwa (1) Dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, transparan, dan bertanggungjawab, dilakukan
pengawasan hukum, pengawasan politik, dan pengawasan sosial. (2) Pelaksanaan pengawasan
sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Perdasus.
6
Maha  Esa  dan  karena  itu  harus  dilindungi.  Perlindungan  terhadap  hak‐hak  dasar 
penduduk  asli  Papua  dimaksudkan  untuk  memungkinkan  masyarakat  Papua  dapat 
mengembangkan  kemampuan  diri  yang  dikaruniakan  Tuhan  kepadanya  secara  baik 
dan  bermartabat.  Tujuannya  adalah  agar  masyarakat  Papua  mampu  menjadi  warga 
negara Indonesia dan anggota masyarakat dunia yang sejajar dengan bangsa‐bangsa 
maju,  tanpa/tidak  meninggalkan  identitas  dan  jati  dirinya.  Pada  saat  yang  sama, 
perlindungan  hak  dasar  tidak  dapat  dipisahkan  dari  pelaksanaan  kewajiban  yang 
melekat pada masyarakat asli Papua dan seluruh penduduk Papua. 
Perlindungan hak dasar orang asli Papua mencakup: 
a. Perlindungan hak hidup masyarakat Papua di Tanah Papua. Suatu kehidupan yang 
bebas  dari  rasa  takut  serta  terpenuhi  seluruh  kebutuhan  jasmani  dan  rohaninya 
secara baik dan proporsional; 
b. Perlindungan hak‐hak masyarakat Papua atas tanah dan air, termasuk sumberdaya 
alam yang terkandung di dalamnya; 
c. Perlindungan  hak‐hak  masyarakat  Papua  untuk  berkumpul  dan  mengeluarkan 
pendapat dan aspirasinya; 
d. Perlindungan  hak‐hak  masyarakat  Papua  untuk  terlibat  secara  nyata  dalam 
kelembagaan  politik  dan  pemerintahan  melalui  penerapan  kehidupan 
berdemokrasi yang sehat; 
e. Perlindungan  kebebasan  masyarakat  Papua  untuk  memilih  dan  menjalankan 
ajaran agama yang diyaktersebutnya, tanpa ada penekanan; dan 
f. Perlindungan kebudayaan dan adat‐istiadat masyarakat Papua. 
Pelakasanaan  perindungan  hak  dasar  tersebut,  harus  dilakukan  berdasarkan 
kenyataan bahwa tingkat perkembangan kebudayaan di berbagai suku di tanah Papua 
tidaklah  sama.  Ada  suku‐suku  yang  sebagian  besar  penduduknya  telah  relatif  lebih 
maju,  tetapi  terdapat  lebih  banyak  suku  yang  hingga  kini  masih  hidup  terbelakang. 
Dengan demikian, pemihakan harus diterapkan secara bijaksana agar kemajuan yang 
diharapkan  oleh  seluruh  masyarakat  Papua  dapat  secara  bertahap  dinikmati  secara 
bersama‐sama dan merata. 
 
2. Kedewasaan Berdemokrasi 
Bermusyawarah  untuk  mencapai  kata  sepakat  dalam  memutuskan  suatu 
permasalahan  merupakan  bagian  dari  kehidupan  masyarakat  Papua  sejak  dahulu. 
Sistem kepemimpinan  di hampir semua suku Papua adalah kepemimpinan kolektif. 
Hal  tersebut  menunjukkan    bahwa:  Pertama,  perlunya  dicapai  konsensus  yang 
memberikan manfaat bagi semua pihak, serta, Kedua, kesempatan untuk mencapai 
posisi  pemimpin  terbuka  bagi  setiap  anggota  masyarakat,  sepanjang  memenuhi 
7
persyaratan,  terutama  kemampuan  untuk  memberikan  pengayoman  kepada 
anggota masyarakat yang dipimpinnya. 
Sebagai  masyarakat  dari  suatu  daerah  yang  terus  memberdayakan  diri  mengikuti 
prinsip‐prinsip  penyelenggaraan  pemerintahan  modern,  demokrasi  masyarakat  
Papua  yang  telah  ada  sejak  dahulu  tersebut  perlu  terus  dilestarikan  dan 
diberdayakan.  Hal  tersebut  merupakan  modal  dasar  untuk  memastikan  bahwa 
setiap keputusan penting yang menyangkut masyarakat Papua, tidak bertentangan 
dengan  nilai‐nilai  yang  dianut,  dan  mampu  mengembangkan  harkat  hidup 
masyarakat Papua. 
Masyarakat  Papua  perlu  terus  mengembangkan  kemampuannya  untuk 
berdemokrasi  secara  dewasa,  dengan  menghargai  pluralisme  atas  dasar  suku, 
agama,  dan  perbedaan‐perbedaan  sosial  lainnya.  Masyarakat  Papua  juga  perlu 
secara  optimal  memanfaatkan  berbagai  perangkat  demokrasi  yang  tersedia  dalam 
suatu negara modern, seperti partai politik, pemilihan umum, dan lembaga‐lembaga 
perwakilan  agar  berbagai  aspirasi  yang  dimiliki  dapat  disalurkan  secara  baik,  dan 
memiliki  legalitas  yang  kuat,  demi  tercapainya  kehidupan  berdemokrasi  secara 
dewasa dan bertanggungjawab. 
3. Penghargaan Terhadap Etika dan Moral 
Etika  dan  moral  merupakan  tuntunan  hidup  masyarakat  Papua  sejak  dahulu  yang 
telah dikembangkan oleh nenek moyang dan merupakan bagian dari adat. Etika dan 
moral  tersebut  kemudian  diperkaya  oleh  ajaran‐ajaran  agama  dan  kepercayaan 
yang dipeluk oleh masyarakat Papua sejak kurang lebih 200 tahun lalu. Penghargaan 
etika dan moral tersebutlah yang menjadikan tanah Papua hingga kini, tetap aman 
dan  damai  dibandingkan  beberapa  daerah  tertentu  di  Indonesia,  walaupun  ada 
pihak‐pihak  yang  terus  menerus  menyebarluaskan  kesan  bahwa  Papua  adalah 
daerah yang rawan keamanan. Hubungan sosial yang erat dan saling menghormati 
antar sesama warga tanah Papua yang terus dipertahankan bahkan dikembangkan 
hingga  saat  ini,  adalah  akibat  adanya  penghargaan  terhadap  etika  dan  moral  yang 
telah  ada  sejak  dahulu.  Salah  satu  konsekuensi  logis  dari  Papua  yang  terbuka 
terhadap  dunia  luar,  adalah  masuknya  nilai‐nilai  negatif  yang  berpotensi  merusak 
tatanan kehidupan masyarakat Papua.  
Dengan  demikian,  pelaksanaan  pembangunan  dalam  era  Otonomi  Khusus  Papua, 
perlu  dilakukan  secara  bertanggungjawab  sehingga  memberikan  penekanan  dan 
penghargaan  yang  memadai  atas  etika  dan  moral,  melalui  cara  mendorong  aparat 
pemerintah  dan  seluruh  masyarakat  Tanah  Papua  mempraktekkan  ajaran  agama 
masing‐masing dalam kehidupan sehari‐hari. Sebab dengan cara tersebutlah seluruh 
masyarakat Papua dapat menikmati kesejahteraan yang sesungguhnya baik jasmani 
maupun rohani. 
8
4. Penghormatan Terhadap Hak‐Hak Asasi Manusia 
Masyarakat  Papua  merasakan  dengan  jelas  trauma  pelanggaran  hak‐hak  azasi 
manusia  di  masa  lalu,  beberpa  diantaranya  masih  menghantui  banyak  masyarakat 
Papua  hingga  saat  tersebut.  Oleh  karena  itu,  sementara  masyarakat  Papua  terus 
berusaha  menuntut  pertanggung  jawaban  pelanggaran‐pelanggaran  HAM  tersebut 
melalui  jalur  hukum  dan  politik.Pada  saat  yang  sama,  masyarakat  Papua  juga 
bertekad  untuk  tidak  akan  melanggar  HAM  masyarakat  lain,  serta  bertekad  untuk 
menempuh  semua  cara  yang  legal  untuk  memastikan  bahwa  HAM  masyarakat 
Papua ke depan tidak akan diinjak‐injak dan dilanggar oleh pihak‐pihak manapun. 
Pelaksanaan  pembangunan  melalui  Otonomi  Khusus  di  Tanah  Papua  harus  dapat 
dilakukan  dengan  mengubah  semua  praktek‐praktek  pembangunan  di  masa  lalu,  
yang  dilakukan  oleh  pemerintah  maupun  pihak  lain  yang  melanggar  HAM 
masyarakat  Papua.  Penggunaan  kekuatan  keamanan  dan  militer  yang  berlebihan, 
dan melanggar HAM di waktu lalu, yang mengakibatkan banyak masyarakat Papua 
hidup dalam rasa takut, harus dihilangkan di dalam era Otonomi Khusus tersebut. 
     Terkait  dengan  masalah  tersebut  adalah  pentingnya  terus  membuka  pintu  bagi 
pelaksanaan dialog‐dialog yang bertujuan untuk meluruskan sejarah politik Papua di 
masa  lalu.  Pelurusan  sejarah  tersebut  perlu  dilakukan  dalam  rangka  mencari 
kebenaran yang hakiki yang hingga sekarang terus dipertanyakan oleh banyak pihak 
di  Tanah  Papua.  Pelaksanaan  Otonomi  Khusus  harus  mampu  mewadahi  proses 
tersebut secara damai dan bermartabat dan sekaligus membangun kerangka dasar 
penyelesaian  tuntas  masalah‐masalah  yang  terkait  dengan  pelurusan  sejarah 
tersebut. 
5.   Penegakan Supremasi Hukum 
Sebagai  bagian  dari  masyarakat  dunia  yang  dihormati  dan  disegani,  supremasi 
hukum  harus  ditegakkan  secara  benar  dan  adil  serta  mewarnai  penyelenggaraan 
pemerintahan  dan  kehidupan  masyarakat  Papua  sehari‐hari.  Masyarakat  Papua 
perlu  mematuhi  hukum,  sepanjang  hukum  itu  memang  berpihak  kepada 
kepentingan  masyarakat  banyak,  diwadahi  dalam  suatu  sistem  yang  professional, 
adil dan bebas dari intervensi pihak mana pun, dan para penegaknya dapat menjadi 
suri  teladan  bagi  masyarakat.  Keadaan  tersebut  merupakan  salah  satu  modal 
penting  dalam  rangka  mencapai  kesejahteraaan  masyarakat  di  Tanah  Papua.  Di 
dalam  Otonomi  Khusus  Papua  supremasi  hukum  harus  dapat  ditegakkan  dan 
terlihat  secara  nyata  dalam  penyelenggaraan  pemerintahan,  proses  peradilan  dan 
penegakan HAM. 
6. Penghargaan Terhadap Pluralisme 
Sebagai suatu kesatuan kebudayaan Melanesia, penduduk asli Papua pada dasarnya 
terbagi  ke  dalam  lebih  dari  250  suku  yang  memiliki  kekhususan‐kekhususan 
tertentu. Selain itu, keragaman penduduk Papua juga diperkaya oleh berbagai etnis 
9
bukan  Melanesia  yang  telah  lama  menjadi  penduduk  di  tanah  tersebut,  ada  yang 
bahkan telah berada di Papua lebih dari tiga generasi. Oleh karena itu, penghargaan 
terhadap pluralisme yang telah dianut sejak dahulu harus terus dapat dipelihara dan 
dimantapkan  di  tanah  Papua  dalam  era  Otonomi  Khusus.  Penghargaan  terhadap 
pluralisme  yang  dimaksud    harus  diwarnai  dengan  keberpihakan  secara  tegas 
terhadap mereka yang paling menderita, paling tertinggal, dan berada pada hierarki 
paling  bawah  dalam  hal  akses  terhadap  berbagai  fasilitas  kesejahteraan  sosial, 
ekonomi dan budaya. 
7. Persamaan Kedudukan, Hak dan Kewajiban Warga Negara 
Penegakan supremasi hukum berarti perlunya lebih disebarluaskan pemahaman di 
seluruh  lapisan  masyarakat  Papua,  termasuk  di  kalangan  aparat  pemerintah  dan 
keamanan,  tentang  persamaan  hak  dan  kedudukan  sebagai  warga  negara. 
Pemahaman  tersebut  harus  ditindaklanjuti  dalam  langkah‐langkah  nyata  yang 
secara transparan menunjukkan kepada masyarakat Papua, bahwa siapapun warga 
Papua,  memiliki  hak  dan  kewajiban  yang  sama  seperti  semua  warga  tanah  Papua 
yang lain. 
Pengakuan  terhadap  kesamaan  hak  dan  kewajiban  sebagai  warga  negara  perlu  
dilaksanakan  secara  bijaksana  dengan  memperhatikan  kondisi  obyektif  sebagian 
besar penduduk asli Papua yang kondisi sosial ekonomi dan politiknya memerlukan 
perlindungan‐perlindungan  tertentu.  Dengan  perkataan  lain,  perlindungan  yang 
diberikan harus mampu mengembangkan kemampuan diri masyarakat Papua, untuk 
dalam  kurun  waktu  tertentu  dapat  terlayani  hak‐hak  dan  memenuhi  kewajiban‐
kewajibannya sama seperti semua warga negara yang lain. 
 
D. Bentuk‐bentuk Perlindungan Hak‐hak Orang Asli Papua 
Perlindungan  Hak‐hak  Orang  Asli  Papua  perlu  dilakukan  untuk  mencegah 
dilanggarnya  hak‐hak  adat  penduduk  asli.  Ada  tiga  hal  pokok  yang  terkait  dengan  hal 
tersebut,  yaitu:  (1)  dilanggarnya  hak‐hak  adat  penduduk  asli  dalam  kaitannya  dengan 
eksploitasi  sumberdaya  alam;  (2)  diabaikannya  hak‐hak  adat  penduduk  asli  dalam 
kaitannya  dengan  representasi  penduduk  asli  Papua  dalam  badan‐badan  perwakilan 
masyarakat;  dan  (3)  diabaikannya,  atau  kurang  diperhatikannya,  keputusan‐keputusan 
yang  diambil  oleh  peradilan  adat  oleh  badan‐badan  yudikatif  negara.  Keadaan  tersebut 
merupakan  salah  satu  faktor  utama  penyebab  timbulnya  berbagai.  ketimpangan  sosial 
dan bahkan perlawanan sosial yang ditunjukkan oleh masyarakat Papua yang tidak jarang 
dihadapi dengan kekerasan‐bersenjata oleh aparat negara. 
1.  Perlindungan Hak‐Hak Adat Penduduk Asli Atas Sumberdaya Alam  
Di dalam Otonomi Khusus Papua, hak‐hak adat penduduk asli harus ditempatkan pada 
posisi  yang  wajar  dan  terhormat.  Hak‐hak  adat  itu  mencakup  hak  milik 
10
permasyarakatan  dan  hak  milik  bersama  (hak  ulayat)  atas  tanah,  air  atau  laut  pada 
batas‐batas tertentu, serta hutan, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 
Selain itu, hak‐hak adat mencakup pula hak‐hak cipta masyarakat adat dalam bidang 
kesenian  yang  terdiri  dari  seni  suara,  tari,  ukir,  pahat,  anyam,  tata  busana,  dan 
rancangan bangunan tradisional serta cabang‐cabang kesenian lainnya, maupun hak‐
hak yang terkait dengan sistem pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh 
masyarakat adat/asli Papua, misalnya obat‐obatan tradisional dan yang sejenisnya. 
Sebagai “the first people" di Papua, maka adalah sangat wajar dan tepat apabila hak‐
hak  penduduk  asli  atas  wilayah  adatnya  masing‐masing  sebagaimana  yang 
dikemukakan di atas dihargai oleh pihak luar, termasuk di dalamnya pemerintah dan 
swasta.  Pemanfaatan  hak‐hak  adat  untuk  kepentingan  pemerintah  dan  atau  swasta 
haruslah  dilakukan  melalui  musyawarah  antara  masyarakat  adat  dengan  pihak  yang 
membutuhkan, serta harus disertai dengan pemberian ganti rugi dalam bentuk uang 
tunai,  tanah  pengganti,  pemukiman  kembali,  dana  abadi,  sebagai  pemegang  saham, 
atau bentuk‐bentuk lain yang disepakati bersama. 
2.   Perlindungan Hak‐Hak Adat Penduduk Asli Dalam Representasi Politik  
Di dalam Otonomi Khusus Papua, hak‐hak politik masyarakat adat dan penduduk asli 
Papua  dilindungi  dengan  diciptakannya  suatu  kamar  tertentu  di  dalam  parlemen 
Propinsi Papua, disebut MRP yang hanya diisi oleh masyarakat asli Papua yang adalah 
wakil‐wakil  adat,  wakil‐wakil  agama  dan  wakil‐wakil  perempuan  yang  jumlahnya 
masing‐masing  sepertiga  dari  total  jumlah  anggota  kamar  tersebut.  Dengan  cara 
seperti tersebut dapat dipastikan bahwa keadaan di banyak negara modern di dunia 
di  mana  keterwakilanan  penduduk  asli  di  dalam.pengambilan  keputusan  politik 
negara sangat lemah atau tidak ada sama sekali, tidak akan terjadi di Propinsi Papua. 
Wakil  adat,  bersama  wakil  agama  dan  wakil  perempuan  yang  kesemuanya  adalah 
masyarakat  asli  Papua  dengan  distribusi  jumlah  sebesar  sepertiga  untuk  masing‐
masing  kelompok,  dalam  kamar  tersebut  memiliki  tugas  dan  kewajiban  untuk 
melindungi hak‐hak penduduk asli Papua dalam hal‐hal seperti berikut : 
a. Memberikan  pertimbangan    kepada  DPRP,  Kabupaten  dan  Kota,  serta  Gubernur, 
Bupati dan Walikota mengenai hal‐hal   terkait dengan perlindungan terhadap hak‐
hak masyarakat asli Papua; 
b. Memperhatikan  dan  menyalurkan  aspirasi,  menerima  pengaduan  masyarakat  adat 
dan masyarakat pada umumnya, serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya;  
c. Menolak  Peraturan  Propinsi  dan  kebijakan  lain  yang  bertentangan  dengan 
perlindungan hak‐hak masyarakat asli Papua. 
3.  Perlindungan Hak‐Hak Penduduk Asli Dalam Peradilan Adat 
Pada  saat  sekrang,  peradilan  adat  kurang  memperoleh  tempat  yang  layak  dalam 
upaya  penegakan hukum dan pemuasan rasa keadilan di tingkat masyarakat Papua. 
11
Padahal,  sebagai  suatu  kesatuan  hukum  yang  mandiri,  terutama  sebelum  masuknya 
kelembagaan  modern  yang  disebut  dengan  Negara,  masing‐masing  suku  di  tanah 
Papua  memiliki  sistem  hukumnya  sendiri  yang  mampu  menciptakan  ketentraman  di 
lingkungan mereka masing‐masing maupun dalam membina hubungan antar suku. 
Dalam  kaitan  itulah  di  dalam  status Otonomi  Khusus,  peradilan  adat  di tanah  Papua 
merupakan  suatu  peradilan  yang  diakui  kedudukannya  sebagaimana  pengakuan 
terhadap Badan Peradilan Negara yang mencakup peradilan umum, peradilan agama, 
peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Hak‐hak Asasi Manusia. 
Peradilan  adat  memiliki  kewenangan  untuk  memeriksa  dan  mengadili  perkara,  dan 
atau  sengketa  menurut  hukum  adat  dari  pihak  yang  menjadi  korban  dan/atau 
dirugikan.  Untuk  menegakkan  kewibawaan  peradilan  adat,  maka  perkara  atau 
sengketa yang telah mendapatkan putusan peradilan adat tidak dapat diajukan untuk 
diadili oleh Badan Peradilan Negara sepanjang tidak melanggar Hak  Asasi Manusia. 
 
4.  Perlindungan Terhadap Property Rights 
Papua  merupakan  suatu  kawasan  yang  sangat  kaya  dengan  sumberdaya  alam,  atau  
kawasan  perekonomian  yang  bersifat  natural  resource  based.  Hal  ini  wajar  saja, 
karena  pilihan  ekonomi  seperti  ini  adalah  yang  relatif  paling  murah  dan  mudah. 
Dengan demikian yang perlu ditambah adalah faktor produksi lain, yaitu teknologi dan 
manusia  (expertise).    Pertambangan  adalah  sumberdaya  ekonomi  yang  perlu  diolah 
oleh  suatu  perusahaan  yang  memiliki  tanggung  jawab  yang  tinggi  terhadap  negara 
dan  penduduk  setempat,  jangan  sampai  Papua  mengulang  kesalahan  yang  sama 
seperti  yang  dilakukan  Indonesia  dalam  skala  nasional,  Jadi  eksploitasi  sumberdaya 
alam  Papua  dalam  kegiatan  pembangunan  ekonomi  hendaknya  dipandang  sebagai 
mata  air  yang  airnya  mengalir,  yang  kemudian  digunakan  untuk  mendorong  dan 
memberi modal pada berbagai kegiatan pembangunan ekonomi. 
Dengan  begitu  yang  sangat  penting  adalah  perlunya  memberikan  proteksi  terhadap 
apa  yang  disebut  dengan  property  rights.  Ini  adalah  hak  dasar  yang  harus  dihormati 
supaya kegiatan ekonomi bisa berkembang. Di mana pun di dunia, proteksi terhadap 
property  rights  ini  menjadi  landasan  hukum  terpenting  bagi  kegiatan  pembangunan 
ekonomi berbasis sumberdaya alam. Property rights ini berhubungan dengan hak‐hak 
adat, dan juga berhubungan dengan hak  perusahaan. Keduanya perlu diharmonikan 
satu sama lain. Hal lain yang perlu dicermati adalah bahwa walaupun Papua kaya akan 
sumberdaya  alam,  tetap  tidak  ada  jaminan  bahwa  seluruh  penduduknya  akan 
sejahtera  dan  bisa  memperoleh  benefit  yang  sama.  Karena  itu,


Use: 0.1508