• A. Muliati A.M Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda ...


  •   
  • FileName: muliatyunjbab.pdf [read-online]
    • Abstract: bersama tentang pola/sistem penerimaan. siswa baru; (2) penyusunan kurikulum; (3) ... mekanisme penerimaan siswa baru yang. terstruktur dan terarah yang ...

Download the ebook

Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA
Suatu Penelitian Evaluatif berdasarkan Stake’s Countenance Model Mengenai
Program Pendidikan Sistem Ganda pada sebuah SMK di Sulawesi Selatan
(2005/2007)1
EVALUATION ON DUAL SYSTEM OF EDUCATION PROGRAM
An Evaluation Research Based on Stake’s Countenance Model on Dual System
Of Education Program at a SMK in South Sulawesi
(2005/2007)
A. Muliati A.M2
ABSTRACT
Basically Dual System of Education of Vocational High School is education and
training system for vocational competence that is conducted in vocational schools and
business work to produce middle level workers with special skills. The purpose of the
research was to investigate the effectiveness of implementation of dual system of
education program in a Vocational School.
This research is evaluation research by using Stake’s Countenance Model that
consists of three evaluation components: (1) antecedents, (2) transactions, and (3)
outcomes. The research method used was case study with qualitative research. Data
gathering was conducted through interview, documentation study, and observation.
Decision making or judgment for each aspect or focus of evaluation was categorized
into three levels: low, medium, and high. This categorization was based on the
comparison of objective standard of each evaluation phase that was taken from
summarized results and figured into case-order effect matrix.
This evaluation research resulted as follows: (1) the antecedents (input) showed
that five aspects were achieved by their actualization and one aspect was not achieved,
but three sub-aspects were low and one sub-aspect was moderate, (2) the transactions
(process) of the seven aspects studied indicated that their the actualization was achieved
but their were two low and one moderate sub-aspects, (3) the outcomes (output) revealed
that two aspects were achieved and one aspect was moderately achieved in it
actualization.
The findings of this evaluation research imply that the quality improvement of the
dual system of education should focus on low and moderate actualizations achieved
within each of the evaluation phase.
1
Dipertahankan di hadapan Sidang Senat Guru Besar Universitas Negeri Jakarta dalam Rangka
Promosi Doktor
2
Widyaiswara PPPPTK Bisnis dan Pariwisata, PMPTK-DIKNAS
A. Muliati A.M 1
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
PENDAHULUAN orang yakni dari 104 juta orang pada
Agustus 2004 sampai dengan Februari
Memasuki kerjasama ekonomi 2005 meningkat menjadi 105,8 juta orang
Negara-negara Asia Tenggara melalui (Maksum, 2005:1). Di Sulawesi Selatan
Kawasan Perdagangan Bebas Asean pada akhir tahun 2002 dari sekitar 3,14
(Asean Free Trade Area/AFTA) sejak juta penduduk tercatat sekitar 0,12% juta
tahun 2003 dan pasar bebas dunia tahun orang (3,75%) adalah angkatan kerja
2020 akan menimbulkan persaingan sedang pencari pekerjaan sekitar 117.296
ketat baik barang jadi/komoditas maupun orang meningkat sebesar 35,71%. Hal
jasa. Ini berarti Indonesia harus ini menunjukkan bahwa lowongan
meningkatkan daya saing baik mutu hasil pekerjaan belum dapat menampung
produksi maupun jasa. Peningkatan daya seluruh pencari kerja (Marsudi, dkk,
saing ini dimulai dari penyiapan Sumber 2008:1). Hal senada disampaikan oleh
Daya Manusia (SDM) berkualitas yang Presiden Republik Indonesia (Yudhoyono,
merupakan faktor keunggulan 2006:1), bahwa pemerintah juga
menghadapi persaingan dimaksud. Jika menargetkan penciptaan lapangan kerja
kita tidak bisa mengantisipasi persiapan untuk mengurangi jumlah tingkat
SDM yang berkualitas antara lain, pengangguran yang saat ini berkisar
berpendidikan, memiliki keahlian dan 10,24 persen dari total angkatan kerja.
keterampilan terutama bagi tenaga kerja Oleh karena itu perlu ada reformasi dalam
dalam jumlah yang memadai, maka sistem pendidikan yang mampu
Indonesia akan menjadi korban menghasilkan sumber daya manusia
perdagangan bebas. Oleh karena itu, yang siap kerja. Jika tidak, maka
negara kita perlu menyiapkan SDM pada pendidikan hanya menghasilkan
tingkat menengah yang memiliki pengangguran baru yang tidak terserap
kemampuan yang sesuai dengan di lapangan kerja.
kebutuhan industri atau dunia usaha. Sekaitan dengan keterserapan SMK
SDM dimaksud perlu dipersiapkan baik di dunia kerja, menurut (Samsudi, 2008:1)
oleh pemerintah melalui DEPDIKNAS, dalam pidato Dies Natalis ke-43 Unnes
DEPNAKER, dan/atau Departemen mengatakan, idealnya secara nasional
Perdagangan maupun oleh swasta lulusan SMK yang bisa langsung
melalui KADIN serta oleh masyarakat memasuki dunia kerja sekitar 80-85%,
pengguna jasa. sedang selama ini yang terserap baru
Kepala Badan Pusat Statistik Jakarta 61%. Pada tahun 2006 lulusan SMK di
menyatakan, bahwa Jumlah angkatan Indonesia mencapai 628.285 orang,
kerja yang menganggur hingga Februari sedangkan proyeksi penyerapan atau
2005 mencapai10,9 juta orang. kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK
Tambahan pengangguran terjadi karena tahun 2007 hanya 385.986 atau sekitar
peningkatan angkatan kerja lebih besar 61,43%.
daripada ketersediaan lapangan kerja. Menghadapi kondisi tersebut di atas,
Jumlah angkatan kerja bertambah 1,8 juta pendidikan menengah kejuruan
2 A. Muliati A.M
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
diperhadapkan pada berbagai pelatihan sumber daya manusia
permasalahan, antara lain: masalah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan
konsepsi, program dan operasional dunia kerja. Untuk itu diperlukan
pendidikan. Jika masalah ini dilihat dari penerapan konsep keterkaitan dan
segi konsepsi, maka dapat digambarkan kecocokan (Link and match) dalam
dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) berbagai kebijakan dan program-program
pendidikan kejuruan berorientasi pada pendidikan. Beberapa prinsip utama dari
pasokan (supply driven oriented), tidak konsep tersebut yaitu: (1) sistem
pada permintaan (demand-driven); (2) pendidikan harus terkait dan sepadan
program pendidikan kejuruan hanya dengan kebutuhan yang terus
berbasis sekolah (school-based berkembang dari berbagai sektor industri
program); (3) tidak adanya pengakuan akan tenaga kerja yang menguasai
terhadap pengalaman belajar yang keterampilan dan keahlian profesional
diperoleh sebelumnya (no recognition of dalam berbagai cabang IPTEK; (2) sistem
prior learning); (4) kebuntuan (dead-end) pendidikan harus terkait dan sepadan
karier tamatan SMK; (5) guru-guru SMK dengan nilai, sikap, perilaku, dan etos
tidak berpengalaman industri (no kerja masyarakat yang sudah mulai
industrial experience); (6) adanya mengarah pada era industri dan teknologi;
tanggapan keliru bahwa pendidikan hanya dan (3) sistem pendidikan harus terkait
merupakan tanggung jawab Depdikbud/ dan sepadan dengan masa depan yang
Depdiknas; (7) pendidikan kejuruan lebih akan ditandai dengan perubahan dan
berorientasi pada lapangan kerja sektor perkembangan yang terus berlangsung
formal; dan (8) ketergantungan SMK (Suryadi, 1977:19).
kepada subsidi pemerintah terutama Di Sulawesi Selatan terdapat 186
dibidang pembiayaan (Soenaryo, SMK yang terdiri dari 44 sekolah negeri
2002:223). dan 142 sekolah swasta (Statistik
Sejak Pelita VI, Menteri Pendidikan Persekolahan SMK, 2004:63). Dari
dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, jumlah SMK di Sulawesi Selatan tesebut,
telah memperkenalkan kebijakan baru seluruhnya melaksanakan PSG sesuai
untuk perubahan pendidikan kejuruan dengan program sekolah masing-masing.
yang disebut “link and match”. Secara Salah satu SMK yang telah
harfiah “link” berarti terkait, menyangkut melaksanakan PSG sejak tahun 1999
proses yang terus interaktif, dan “match” adalah SMK Negeri 4 Makassar yang
berarti cocok, menyangkut hasil harus sampai saat ini belum pernah dilakukan
sesuai atau sepadan, sehingga “link and evaluasi untuk mengetahui apakah visi
match” sering diterjemahkan menjadi dan misi yang telah ditetapkan bisa
“terkait dan cocok/sepadan”. Mengacu tercapai atau tidak. Evaluasi yang
pada konsep ini, diharapkan terdapat dilakukan baru dari aspek menilai hasil
keterkaitan dan kecocokan antara dunia belajar peserta didik yang berupa EBTA,
pendidikan dengan dunia kerja, yang Uji Kompetensi, EBTANAS, UAN/UN dan
mana orientasi pendidikan kejuruan dan Ujian Nasional Komponen Produktif
A. Muliati A.M 3
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
dengan pendekatan project work (kerja Kemudian batasan objek penelitian
proyek) untuk mata diklat produktif, akan ini dilaksanakan pada sebuah SMK yaitu
tetapi evaluasi program secara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
keseluruhan belum pernah dilakukan. Negeri 4 Makassar Program Keahlian
Untuk melihat efektivitas pelaksanaan Usaha Jasa Pariwisata (UJP) di Makassar
program tidak hanya dilihat dari faktor Provinsi Sulawesi Selatan yang
siswanya saja tetapi faktor-faktor lain merupakan salah satu sekolah yang
harus diperhatikan juga. Misalnya; guru, melaksanakan program pendidikan
kurikulum, sarana dan prasarana, sistem ganda sejak tahun 1993/1994
pembiayaan, kegiatan belajar mengajar hingga sekarang.
disekolah, kegiatan praktik kerja di
industri, hubungan industri atau institusi Perumusan Masalah
pasangan dan faktor lainnya. Berangkat dari latar belakang dan
Dari permasalahan tersebut di atas, pembatasan masalah, maka masalah
maka perlu dilakukan penelitian secara penelitian ini menitik beratkan pada
mendalam berupa evaluasi program evaluasi pelaksanaan program yaitu
“Pendidikan Sistem Ganda” (PSG) pada bagaimanakah efektivitas pelaksanaan
SMK Negeri 4 Makassar. pendidikan sistem ganda berdasarkan
standar objektif atau kriteria yang telah
Pembatasan Masalah ditentukan ditinjau dari tahapan-tahapan
Program Pendidikan Sistem Ganda masukan (antecedents), proses
(PSG) adalah suatu program pendidikan (transactions), dan hasil (outcomes).
yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan Adapun rumusan masalah adalah
(SMK) di Indonesia, merupakan kebijakan sebagai berikut:
pendidikan yang dimulai pada saat Prof 1. Bagaimanakah prosedur rekruitmen
Dr. Ing Wardiman Djojonegoro sebagai peserta didik, persyaratan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan administrasi guru produktif,
tahun 1994. Sebagai program yang baru pengembangan kurikulum dengan
berkembang, belum banyak referensi keterlibatan industri/asosiasi,
atau laporan hasil evaluasi yang telah kalender pendidikan, ketersediaan
mencoba untuk melihat efektifitas sarana dan prasarana di sekolah dan
program tersebut. Oleh karena itu agar di industri (institusi pasangan)
penelitian ini tidak mengalami perbedaan sehingga dapat mendukung
yang luas, maka perlu untuk membatasi tercapainya tujuan yang ditetapkan,
diri. Batasan-batasan konseptual serta pembiayaan pelaksanaan
mencakup pada persoalan esensial yang program sistem ganda pada tahapan
berhubungan langsung dengan masukan (Antecedents) di SMKN 4
penyelenggaraan program pendidikan Makassar?
sistem ganda meliputi: masukan 2. Bagaimanakah kegiatan pembelajar
(anttecedents), proses (transactions) dan di sekolah yang terdiri dari;
hasil (outcomes/output). penguasaan guru dalam penyiapan
4 A. Muliati A.M
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
administrasi/bahan pembelajaran, Kebudayaan Kota Makassar; d)
penguasaan guru dalam kegiatan Direktur Pembinaan Sekolah
pembelajaran,interaksi guru dan Menengah Kejuruan Direktorat
siswa, pengelolaan praktek kerja Jenderal Manajemen Pendidikan
siswa; dan bagaimana kegiatan Dasar dan Menengah Departemen
pelatihan kerja di industri (institusi Pendidikan Nasional; (e) Industri
pasangan) yang terdiri dari; identitas (institusi pasangan) sebagai pihak
industri; kompetensi instruktur; dan yang menerima siswa praktek kerja;
proses praktek kerja di industri 3. Siswa yang mengikuti Pendidikan
(institusi pasangan), pelaksanaan Sistem Ganda (PSG).
program pendidikan sistem ganda 4. Menjadi contoh atau model
pada tahapan proses (transactions) Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
SMKN 4 Makassar? Bidang Keahlian Pariwisata atau
3. Bagaimanakah hasil ujian nasional, Bidang Keahlian lainnya pada SMK.
hasil ujian nasional komponen 5. Memberikan kontribusi berarti bagi
produktif dengan pendekatan project pengembangan khasanah ilmu
work; dan sertifikasi; dan pendidikan khususnya Program Studi
keterserapan tamatan di dunia kerja Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
pada tahapan hasil (outcomes) di (PEP) di Universitas Negeri Jakarta
SMKN 4 Makassar? (UNJ).
Kegunaan Hasil Penelitian ACUAN TEORETIK
Hasil penelitian ini diharapkan
berguna bagi pendidikan kejuruan baik Pengertian Evaluasi
secara teoretis maupun praktis; Berbagai macam evaluasi yang
1. Teoretis, diharapkan berguna sebagai dikenal dalam bidang kajian ilmu. Salah
bahan untuk memperjelas konsepsi satunya adalah evaluasi program yang
tentang program Pendidikan Sistem banyak digunakan dalam kajian
Ganda (PSG). kependidikan. Evaluasi program
2. Praktis, dapat dipergunakan sebagai mengalami perkembangan yang berarti
salah satu bahan informasi kepada sejak Ralph Tyler, Scriven, John B. Owen,
pihak pengambil keputusan dalam Lee Cronbach, Daniel Stufflebeam,
menyelenggarakan Pendidikan Marvin Alkin, Malcolm Provus, R.
Sistem Ganda (PSG), yaitu; (a) Brinkerhoff dan lainnya. Banyaknya
Kepala SMKN 4 Makassar sebagai kajian evaluasi program yang membawa
penyelenggara program pendidikan implikasi semakin banyaknya model
sistem ganda (PSG); (b) Kepala evaluasi yang berbeda cara dan
Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan penyajiannya, namun jika ditelusuri
melalui Kepala Sub Dinas Pendidikan semua model bermuara kepada satu
Kejuruan Provinsi Sulawesi Selatan; tujuan yang sama yaitu menyediakan
(c) Kepala Dinas Pendidikan dan
A. Muliati A.M 5
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
informasi dalam kerangka “decision” atau tahapan evaluasi dalam tiga kategori yaitu
keputusan bagi pengambil kebijakan. rendah, moderat dan tinggi (Issac and
Terdapat beberapa definisi tentang Michael, 1982:22).
evaluasi yang dikemukan oleh pakar, Berangkat dari pengertian di atas
diantaranya: (Kufman and Thomas, maka evaluasi program merupakan suatu
1980:4) menyatakan bahwa evaluasi proses. Secara eksplisit evaluasi
adalah proses yang digunakan untuk mengacu pada pencapaian tujuan
menilai. Hal senada dikemukakan oleh sedangkan secara implisit evaluasi harus
(Djaali, Mulyono dan Ramly, 2000:3) membandingkan apa yang telah dicapai
mendefinisikan evaluasi dapat diartikan dari program dengan apa yang
sebagai proses menilai sesuatu seharusnya dicapai berdasarkan standar
berdasarkan kriteria atau standar objektif yang telah ditetapkan. Dalam konteks
yang dievaluasi. Selanjutnya (Sanders, pelaksanan program, kriteria yang
1994:3) sebagai ketua The Joint dimaksud adalah kriteria keberhasilan
Committee on Standars for Educational pelaksanaan dan hal yang dinilai adalah
Evaluation mendefinisikan evaluasi hasil atau prosesnya itu sendiri dalam
sebagai kegiatan investigasi yang rangka pengambilan keputusan. Evaluasi
sistimatis tentang kebenaran atau dapat digunakan untuk memeriksa tingkat
keberhasilan suatu tujuan. keberhasilan program berkaitan dengan
Evaluasi program menurut Joint lingkungan program dengan suatu
Commite yang dikutip oleh (Brinkerhof, “judgement” apakah program diteruskan,
1986:xv)f adalah aktivitas investigasi yang ditunda, ditingkatkan, dikembangkan,
sistematis tentang sesuatu yang berharga diterima atau ditolak.
dan bernilai dari suatu obyek. Pendapat
lain (Denzin and Lincoln, 2000:983) Model Riset Evaluasi
mengatakan bahwa evaluasi program Model evaluasi yang digunakan
berorientasi sekitar perhatian dari penentu adalah Stake’s Countenance Model,
kebijakan dari penyandang dana secara Center for Instructional Research and
karakteristik memasukkan pertanyaan Curriculum Evaluation University of
penyebab tentang tingkat terhadap mana Illinois. Model Stake’s sama dengan
program telah mencapai tujuan yang model CIPP dan CSE-UCLA (Center for
diinginkan. Selanjutnya menurut Study of Evaluation at the University of
(McNamara, 2008:3) mengatakan California at Los Angeles) dimana
evaluasi program mengumpulkan ketiganya cendrung komprehensip dan
informasi tentang suatu program atau mulai dari proses evaluasi selama tahap
beberapa aspek dari suatu program guna perencanaan dari pengembangan
membuat keputusan penting tentang program (Kaufman and Susan,
program tersebut. Keputusan-keputusan 1980:123). Stake mengidentifikasi 3 (tiga)
yang diambil dijadikan sebagai indikator- tahap dari evaluasi program pendidikan
indikator penilaian kinerja atau dan faktor yang mempengaruhinya yaitu:
assessment performance pada setiap
6 A. Muliati A.M
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
1. Antecedents phase; sebelum dalam dirinya yang memungkinkannya
program diimplementasikan: Kondisi/ untuk berfungsi secara adekuat dalam
kejadian apa yang ada sebelum kehidupan masyarakat. (Hamalik,
implementasi program? Apakah 2004:79). Sedangkan menurut pasal 1
kondisi/kejadian ini akan Undang-undang Republik Indonesia
mempengaruhi program? Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem
2. Transactions phase; pelaksanaan Pendidikan Nasional menyatakan bahwa
program: Apakah yang sebenarnya pendidikan adalah usaha sadar dan
terjadi selama program terencana untuk mewujudkan suasana
dilaksanakan? Apakah program yang belajar dan proses pembelajaran agar
sedang dilaksanakan itu sesuai peserta didik secara aktif
dengan rencana program? mengembangkan potensi dirinya untuk
3. Outcomes phase, mengetahui akibat memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
emplementasi pada akhir program. pengendalian diri, kepribadian,
Apakah program itu dilaksanakan kecerdasan, akhlak mulia, serta
sesuai dengan yang diharapkan? keterampilan yang diperlukan dirinya,
Apakah klien menunjukkan perilaku masyarakat, bangsa dan negara. Selain
pada level yang tinggi dibanding itu (Dewey, 2002:1) mengatakan bahwa
dengan pada saat mereka berada pendidikan merupakan pengembangan
sebelum program dilaksanakan? diri dalam kodrat manusia. Ahli lain
(Kaufman,1982:123). Setiap tahapan (Soedijarto, 1998:91) mengatakan
tersebut dibagi menjadi dua bagian pendidikan adalah suatu usaha manusia
yaitu description (deskripsi) dan yang penting untuk memelihara, memper-
judgment (penilian) tahankan, dan mengembangkan
Model Stake akan dapat memberikan masyarakat.
gambaran pelaksanaan program secara
mendalam dan mendetail. Oleh karena 1. Pengertian dan Fungsi Pendidikan
itu persepsi orang-orang yang terlibat Kejuruan
dalam sistem pendidikan seperti perilaku Pendidikan kejuruan mempunyai
guru, peran kepala sekolah, peran pengertian yang bervariasi menurut
industri, perilaku siswa dan situasi proses subjektivitas perumus. Menurut Rupert
belajar mengajar di sekolah dan pelatihan Evans yang dikutip (Djojonegoro,
kerja di industri adalah kenyataan yang 1999:33) mendefinisikan bahwa
harus diperhatikan. pendidikan kejuruan adalah bagian dari
sistem pendidikan yang mempersiapkan
Pendidikan Kejuruan seseorang agar lebih mampu bekerja
Pendidikan adalah suatu proses pada satu kelompok pekerjaan atau satu
dalam rangka mempengaruhi siswa agar bidang pekerjaan daripada bidang-bidang
dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin pekerjaan lain.
terhadap lingkungannya dan dengan Untuk menghasilkan tamatan SMK
demikian akan menimbulkan perubahan yang siap memasuki lapangan kerja,
A. Muliati A.M 7
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
maka tamatan SMK tersebut harus harus berdasarkan prinsip pendidikan
merupakan manusia yang produktif. yang bersifat umum, dan mereka
Menurut (Adner, 1998:12) bahwa manusia tidak dapat diusik oleh pemerintah
produktif adalah yang memiliki karena yang menjadi sponsor, dana
keterampilan untuk suatu tingkat tertentu dan lainnya adalah dari perusahaan.
dan siap dikembangkan lebih lanjut Beberapa negara penganut model ini
sesuai dengan ekonomi dan teknologi adalah Jepang, Inggris, dan Amerika
yang terus berkembang. Sedangkan Serikat.
menurut (Carnevalu & Porro, 1994:9) b. Model 2. Pemerintah sendiri
berpendapat, orang yang berpendidikan merencanakan, mengorganisasikan
baik dan terampil berpeluang untuk tampil dan mengontrol pendidikan kejuruan.
beda, bahkan dalam keadaan krisis Model ini sifatnya birokrat, pemerintah
ekonomi sekalipun mereka dapat tetap dalam hal ini yang menentukan jenis
eksis serta terhindar dari kemiskinan dan pendididikan apa yang harus
pengangguran. dilaksanakan di perusahaan,
Untuk mendapat keterampilan tidak bagaimana disain silabusnya, begitu
cukup peserta didik belajar di sekolah pula dalam hal pendanaan dan
tetapi harus didapat melalui “on the job pelatihan yang harus dilaksanakan
training” yaitu belajar dari pekerja yang oleh perusahaan tidak selalu
sudah berpengalaman di industri, disinilah berdasarkan permintaan kebutuhan
letak pentingnya konsep pendidikan tenaga kerja ataupun jenis pekerjaan
sistem ganda (PSG) untuk menghasilkan saat itu. Walaupun model ini disebut
tenaga yang terampil. Oleh karena itu sulit juga model sekolah (school model),
diharapkan dapat membentuk keahlian pelatihan dapat dilaksanakan di
profesional pada diri peserta didik tanpa perusahaan sepenuhnya. Beberapa
partisipasi industri. negara seperti; Perancis, Italia,
Swedia serta banyak dunia ketiga
2. Model-model Pendidikan kejuruan juga melaksanakan model ini.
Berbagai model dalam pendidikan c. Model 3. Pemerintah menyiapkan/
kejuruan yaitu: memberikan kondisi yang relatif
a. Model 1. Pemerintah tidak komprehensif dalam pendidikan
mempunyai peran, atau hanya peran kejuruan bagi perusahan-perusahaan
maginal dalam proses kualifikasi swasta dan sponsor swasta lainnya.
pendidikan kejuruan. Model ini Model ini disebut juga model pasar
sifatnya liberal, namun kita dapat dikontrol pemerintah (state controlled
mengatakanya sebagai model market) dan model inilah yang disebut
berorientasi pasar (market oriented model sistem ganda (dual system)
Model) permintaan tenaga kerja. sistem pembelajaran yang
Perusahaan-perusahaan sebagai dilaksanakan di dua tempat yaitu
pemeran utama berhak menciptakan sekolah kejuruan serta perusahaan
disain pendidikan kejuruan yang tidak yang keduanya bahu membahu
8 A. Muliati A.M
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
dalam menciptakan kemampuan melalui kegiatan bekerja langsung di
kerja yang handal bagi para lulusan dunia kerja, terarah untuk mencapai
pelatihan tersebut. Negara yang suatu tingkat keahlian profesional
menggunakan sistem ini diantaranya tertentu (Djojonegoro, 1999:46).
Swiss, Austria dan Jerman (Hadi, Sedangkan menurut (Wena: 1997:30)
1996:44). mengatakan bahwa pemanfaatan dua
Dari ketiga model tersebut lingkungan belajar di sekolah dan di luar
kecendrungan yang digunakan di sekolah dalam kegiatan proses
Indonesia adalah “Model 3”, dimana pendidikan itulah yang disebut dengan
pelaksanaan pendidikan sistem ganda program PSG. Hal senada dikemukan
dilaksanakan di dua tempat yaitu di oleh (Nasir, 1998:21) mengatakan bahwa
sekolah dan di industri dengan berbagai Pendidikan Sistem Ganda (PSG) ialah
pengembangannya. suatu bentuk penyelenggaraan
pendidikan kejuruan yang memadukan
Pendidikan Sistem Ganda program pendidikan di sekolah dan
Pendidikan sistem ganda (dual program pelatihan di dunia kerja yang
system) sudah berkembang lama di terarah untuk mencapai tujuan pendidikan
beberapa negara. Kerjasama antara kejuruan. Sedangkan pendidikan sistem
Republik Arab Mesir dan Republik ganda (dual system) adalah memadukan
Federasi German berlangsung puluhan pelatihan kejuruan paruh waktu
tahun yaitu sejak tahun 1950an keduanya dikombinasikan dengan belajar paruh
telah bekerjasama dibidang pendidikan waktu. (The Educational System in
teknik dan pelatihan kejuruan. Germany, 1999:1).
Pendidikan sistem ganda berkaitan Dari pengertian diatas, tampak
dengan sistem pendidikan yang bahwa PSG mengandung beberapa
menekankan pendidikan teori dan pengertian, yaitu: (1) PSG terdiri dari
praktek. Berabad-abad yang lalu, Jerman gabungan subsistem pendidikan di
telah mengadopsi suatu sistem sekolah dan subsistem pendidikan di
pendidikan sistem ganda dengan dunia kerja/industri; (2) PSG merupakan
beberapa modifikasi dijalankan untuk program pendidikan yang secara khusus
mengatasi perubahan dalam masyarakat bergerak dalam penyelenggaraan
dan memenuhi permintaan masyarakat. pendidikan keahlian profesional; (3)
penyelenggaraan program pendidikan di
1. Pengertian Pendidikan Sistem sekolah dan dunia kerja/industri
Ganda (PSG) dipadukan secara sistematis dan sinkron,
Pendidikan sistem ganda merupakan sehingga mempu mencapai tujuan
bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pendidikan yang telah ditetapkan; dan (4)
pelatihan keahlian kejuruan yang secara proses penyelenggaraan pendidikan di
sistematik dan sinkron antara program dunia kerja lebih ditekankan pada
pendidikan di sekolah dengan program kegiatan bekerja sambil belajar (learning
penguasaan keahlian yang diperoleh
A. Muliati A.M 9
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
by doing) secara langsung pada keadaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di
yang nyata. Sekolah Menengah Kejuruan
1. Peserta Didik
2. Tujuan Pendidikan Sistem Ganda Peserta didik sebagai individu yang
Penyelenggaraan pendidikan dan belum dewasa, bukan berarti peserta didik
pelatihan dengan pendekatan PSG sebagai makhluk yang lemah, tanpa
bertujuan: (1) menghasilkan tenaga kerja memiliki potensi dan kemampuan.
yang memiliki keahlian profesional, yaitu Peserta didik secara kodrati telah memilki
tenaga kerja yang memiliki tingkat potensi dan kemampuan-kemampuan
pengetahuan, keterampilan dan etos kerja atau talenta tertentu hanya peserta didik
yang sesuai dengan tuntutan lapangan itu belum mencapai tingkat optimal dalam
kerja; (2) meningkatkan dan pengembangan talenta atau potensi
memperkokoh keterkaitan dan kemampuan. Peserta didik merupakan
kesepadanan/kecocokan (link and match) sasaran (objek) dan sekaligus sebagai
antara lembaga pendidikan dan pelatihan subjek pendidikan. Oleh karena itu
kejuruan dengan dunia kerja; pendidik dalam memahami hakekat
(3)meningkatkan efisiensi peserta didik perlu dilengkapi dengan
penyelenggaraan pendidikan dan pemahaman tentang ciri-ciri yang dimiliki
pelatihan tenaga kerja berkualitas peserta didik yaitu: (1) kelemahan dan
profesional dengan memanfaatkan ketidak berdayaannya; (2) berkemauan
sumberdaya pelatihan yang ada di dunia keras untuk berkembang; dan (3) ingin
kerja; (4) memberikan pengakuan dan menjadi diri sendiri (memperoleh
penghargaan terhadap pengalaman kerja kekuatan), (Ahmadi & Uhbiyati,
sebagai bagian dari proses pendidikan 2001:251).
(Djojonegoro, 1999:75). Sekolah Menengah Kejuruan adalah
suatu lembaga pendidikan yang berfungsi
3. Karakteristik Pendidikan Sistem memenuhi atau memuaskan kebutuhan-
Ganda (PSG) kebutuhan peserta didik dalam hal
Pelaksanaan PSG pada SMK sesuai pendidikan. Pemenuhan kebutuhan
dengan konsep sistem ganda memiliki peserta didik sangat penting dalam
karakteristik sebagai berikut: (a) Institusi rangka pertumbuhan dan
Pasangan dan (b) Program Pendidikan perkembangannya. Perkembangan
dan Pelatihan Bersama yang tediri dari: peserta didik SMK harus mengacu
(1) Standar Kompetensi/Keahlian kepada kerangka kebutuhan pendidikan
Tamatan; (2) Standar Pendidikan dan nasional termasuk kebutuhan
Pelatihan (materi, waktu, pola meningkatkan keterampilan yang sesuai
pelaksanaan); (3) Penilaian dan dengan kebutuhan di dunia kerja.
Sertifikasi; (4) Kelembagaan; dan (5)
Nilai Tambah dan insentif. 2. Kurikulum
Pengembangan kurikulum PSG
bertujuan untuk meningkatkan
10 A. Muliati A.M
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
kebermaknaan substansi kurikulum yang 3. Tenaga Kependidikan
akan dipelajari di sekolah dan di Institusi a. Kepala Sekolah
Pasangan sebagai satu kesatuan utuh Kepala Sekolah merupakan salah
dan saling melengkapi, serta pengaturan satu komponen pendidikan yang paling
kegiatan belajar-mengajar yang dapat berperan dalam meningkatkan kualitas
dijadikan acuan bagi para pengelola dan pendidikan. Seperti yang diungkapkan
pelaku pendidikan di lapangan, sehingga “Supriadi” yang dikutip oleh E. Mulyasa
pada gilirannya siswa dapat menguasai mengatakan bahwa erat hubungannya
kompetensi yang relevan dan sesuai antara mutu kepala sekolah dengan
dengan yang dipersyaratkan. Kurikulum berbagai aspek kehidupan sekolah
terdiri dari berbagai bentuk, salah satu seperti: disiplin sekolah, iklim budaya
diantaranya adalah kurikulum berbasis sekolah, dan menurunnya perilaku nakal
kompetensi (competecy based peserta didik (Mulyasa, 2004:24). Dalam
curriculum) yaitu semua kegiatan pada itu, kepala sekolah bertanggung
kurikulum diorganisasi ke arah fungsi atau jawab atas manajemen pendidikan secara
kemampuan yang dituntut pasaran kerja mikro, yang secara langsung berkaitan
atau dibidang pekerjaan (Shoate, 1992:2). dengan proses pembelajaran di sekolah.
Pendapat lain mengatakan bahwa Sebagaimana dikemukakan dalam pasal
kurikulum berbasis kompetensi adalah 12 ayat 1 PP nomor 28 tahun 1990,
pengembangan kurikulum yang bertitik bahwa kepala sekolah bertanggung jawab
tolak dari kompetensi yang seharusnya atas penyelenggaraan kegiatan
dimiliki siswa setelah menyelesaikan pendidikan administrasi sekolah,
pendidikan, yang meliputi pengetahuan, pembinaan tenaga kependidikan lainnya,
keterampilan, nilai dan pola berpikir serta dan pendayagunaan serta pemeliharaan
bertindak sebagai refleksi dari sarana dan prasarana.
pemahaman dan penghayatan dari apa Menyadari hal tersebut, setiap
yang telah dipelajari siswa (Siskandar, kepala sekolah dihadapkan pada
2003:5). tantangan untuk melaksanakan
Ada beberapa prinsip dalam pengembangan pendidikan secara
pengembangan kurikulum PSG, yaitu terarah, berencana, dan berkesinam-
selain berbasis kompetensi, berbasis bungan untuk meningkatkan kualitas
produksi (production based), belajar pendidikan. Dalam kapasitas tersebut,
tuntas (Mastery Learning), belajar melalui maka kepala sekolah harus memiliki visi
pengalaman langsung (learning by dan misi, serta strategi manajemen
experience—doing), dan belajar pendidikan secara utuh dan berorientasi
perseorangan (Individualized Learning) kepada mutu.
yakni setiap siswa harus diberi
kesempatan untuk maju dan berkembang b. Guru/Instruktur
sesuai dengan kemampuan dan irama Guru mempunyai tanggung jawab
perkembangannya masing-masing. melihat segala sesuatu yang terjadi dalam
kelas untuk membantu proses
A. Muliati A.M 11
Evaluasi Program Pendidikan Sistem Ganda
pengembangan siswa. Secara rinci sekolah dan pelatihan di industri (institusi
peran guru dalam proses pembelajaran pasangan). Dalam hal ini dapat dijelaskan
untuk mencapai tujuan pendidikan sebagai berikut:
adalah: (1) mendidik siswa (memberikan
pembimbingan dan pendorongan); (2) a. Proses pembelajaran di Sekolah
membantu perkembangan aspek-aspek Strategi Pembelajaran di sekolah
pribadi seperti sikap, nilai-nilai dan prilaku; menggunakan pembelajaran berbasis
(3) meningkatkan motivasi belajar siswa; kompetensi (competency based training).
(4) membantu setiap siswa agar dapat Konsep pembelajaran berbasis
mempergunakan berbagai kesempatan kompetensi (competency based training)
belajar dan berbagai sumber serta media bukanlah konsep baru. sejak akhir tahun
belajar secara efektif; (5) memberikan 1960 telah dikenal di Amerika Serikat
bantuan bagi siswa yang sulit belajar; (6) yang dimulai dengan pendidikan guru.
membantu siswa menyelesaikan masalah Kemudian berkembang untuk program
yang berhubungan dengan pendidikan; pendidikan profesional lainnya di Amerika
dan (7) memberikan fasilitas yang Serikat pada tahun 1970, kemudian
memadai sehingga siswa dapat belajar dimanfaatkan untuk program pelatihan
secara efektif (Sutikno, 2004:22). kejuruan di Inggris dan Jerman pada
Tugas instruktur industri hampir sama tahun 1980, serta untuk pelatihan
dengan tugas guru di sekolah. Dengan kejuruan dan pengenalan keterampilan
demikian, keberhasilan praktik peserta profesional di Australia pada tahun 1990,
didik di industri sangat tergantung (Bowden John A: 2008:).
kemampuan instruktur dalam Pembelajaran berbasis kompetensi
melaksanakan tugasnya (Made Wena, (competency based training) berkembang
1997:39). Untuk itu instruktur diharapkan di Indonesia sejak dimulainya kebijakan
dapat membuat perencanaan segala keterkaitan dan kesepadanan (link and
aspek yang dibutuhkan untuk keperluan match) yang dimanifestasikan dalam
belajar peserta didik, mengevaluasi program Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
kemajuan belajar, dan memberikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
bantuan pada siswa yang membutuhkan pada tahun 1993/1994. Dalam rangka
baik yang bersifat teknis maupun inilah dibutuhkan implementasi pelatihan
nonteknis. berbasis kompetensi (competency based
training). Konsep pelatihan berbasis
4. Proses Pembelajaran dan Pelatihan kompetensi pada hakekatnya berfokus
Pembelajaran dan pelatihan pada apa yang dapat dilakukan oleh
senantiasa berpedoman pada kurikulum seseorang (kompeten) sebagai hasil atau
tertentu sesuai dengan tuntutan output dari pembelajaran. Pembelajaran
lembanga pendidikan/sekolah dari berbasis kompetensi memiliki perhatian
kebutuhan masyarakat serta faktor-faktor yang lebih besar keterkaitan dengan
lainnya. Kegiatan Pendidikan Sistem dunia kerja daripada program pendidikan
Ganda (PSG) dilakukan pembelajaran di formal, (Wibowo & Tjiptono, 2002:101).
12 A.


Use: 0.105