• JENIS KARANGAN


  •   
  • FileName: INDO4.pdf [read-online]
    • Abstract: isi uraian, menelaah contoh-contoh untuk mendapatkan pengetahuan yang ... 7. Carilah contoh - contoh paragraf deskripsi dan narasi yang terdapat dalam ...

Download the ebook

Jenis Karangan
JENIS KARANGAN P P
MODUL
P P
P P4
PENDAHULUAN
A
pa yang telah Anda peroleh mulai dari modul 1 sampai dengan modul 3
merupakan pengalaman tentang materi dasar dalam kegiatan karang-
mengarang. Pelajaran yang dapat Anda petik dari modul 4 ini adalah bahwa
mengarang itu suatu kegiatan yang kompleks karena melibatkan serangkaian aktivitas
seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya kepada pembaca
melalui bahasa tulis agar dipahami secara tepat sesuai dengan maksud pengarang.
Sekarang, pada kegiatan belajar kali ini Anda diharapkan akan memperoleh
pengalaman dari praktik mengarang yang lebih khusus. Karangan narasi, deskripsi,
eksposisi, argumentasi, dan persuasi adalah karangan-karangan sebagai hasil produk
kreatif.
Setelah mempelajarinya, Anda diharapkan dapat:
a. menguraikan karakteristik karangan deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi,
dan persuasi,
b. merumuskan pengertian deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi,
c. mengidentifikasi jenis karangan deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan
persuasi,
d. menguraikan ciri-ciri karangan deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan
persuasi,
e. menjelaskan prisip-prinsip karangan deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi,
dan persuasi,
f. menjelaskan cara pengembangan deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan
persuasi,
g. menjelaskan langkah-langkah menulis deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi,
dan persuasi,
h. membuat karangan narasi yang memenuhi karakteristik karangan deskripsi,
narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
Urutan pengalaman belajar di atas menggambarkan urutan pemerolehan
pengalaman Anda yang akan diikuti. Oleh karena itu, Anda perhatikan hal-hal berikut
ini.
1. Anda harus mempelajari uraian setiap kegiatan dengan sebaik-baiknya. Artinya,
Anda harus memahami uraian materi dan mampu menulis setiap jenis karangan.
2. Usahakan Anda memiliki pengalaman yang utuh dengan mengikuti prosedur
pemerolehan pengalaman, yakni mulai dari membaca kritis uraian, memahami
isi uraian, menelaah contoh-contoh untuk mendapatkan pengetahuan yang
cukup, dan mengaplikasikannya dalam bentuk karangan. Untuk memperkaya
contoh ,Anda dapat mencari dan membaca dari berbagai tulisan baik dalam surat
kabar, majalah, maupun buku-buku fiksi dan nonfiksi.
3. Untuk memantapkan pengalaman belajar Anda, pahamilah baik-baik rangkuman
pada setiap kegiatan.
Dengan cara demikian, Anda akan mudah mengikuti setiap uraian. Selamat
Belajar!
Bahasa Indonesia 93
Jenis Karangan
KARANGAN DESKRIPSI
K ata deskripsi berasal dari kata Latin decribere yang berarti menggambarkan
atau memerikan suatu hal. Dari segi istilah, deskripsi adalah suatu bentuk
karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga
pembaca dapat mencitrai ( mendengar, melihat, mencium, dan merasakan ) apa
yang dilukiskan itu sesuai dengan citra penulisnya. Maksudnya, penulis ingin
menyampaikan kesan-kesan tentang sesuatu, dengan sifat dan gerak-geriknya, atau
sesuatu yang kepada pembaca (Soeparno, 2004: 4.5 ).
Misalnya, suasana di kampus di sore atau di pagi hari setelah mahasiswa
pulang kuliah atau mahasiswa bergegas, berlari-lari ingin cepat sampai di ruang
kuliah, suasana di jalan raya sering macet, hiruk pikuk di kampus yang sedang
membangun oleh gemuruhnya Sang Beko ditambah suara-suara deru mobil truk yang
hilir mudik dapat dilukiskan di dalam karangan deskripsi menurut apa yang kita lihat
dan kita dengar. Selain itu , sesuatu dapat dideskripsikan melalui apa yang kita
rasakan, kita pikir, seperti rasa kasih sayang, kecewa, cemas,jengkel, haru, jijik,
takut, khawatir,dan benci. Begitu pula, suasana yang timbul dari suatu peristiwa,
misalnya keromantisan panorama pantai , kerinduan yang mengejolak, kegembiraan
atau putus cinta. Pendeknya, karangan deskripsi merupakan karangan yang kita
susun untuk melukiskan sesuatu dengan tujuan untuk menghidupkan kesan dan
daya khayal mendalam pada si pembaca.
Untuk mencapai tujuan di atas, kita dituntut untuk mampu memilih dan
mendayagunakan kata-kata yang dapat mengekpresikan kesa serta citra indrawi
dan suasana batiniah pembaca. Sesuatu yang kita deskripsikan harus disajikan secara
hidup, gamblang, dan tepat. Contohnya, kalau Anda memilih kata malam kelam,
gelap gulita yang tampak sebuah bintang bersinar nun jauh di sana. Pernyataan
ini tidak memberikan atau menciptakan gambaran yang konkret lebih- lebih ada
pernyataan yang kontradiksi antara kelam dan gelap gulita dengan bintang bersinar.
Mengapa malam menjadi kelam, gelap gulita ? Oleh karena itu, jika Anda menulis
deskripsi harus Anda hindari pernyataan yang bersifat umum yang tidak terperinci
seperti kata indah,sunyi, dll.
Dengan demikian, dalam menulis deskripsi yang baik dituntut tiga hal yakni
(1) kesanggupan berbahasa kita yang memiliki kekayaan nuansa dan bentuk, (2)
kecermatan pengamatan dan keluasan pengetahuan kita tentang sifat, ciri, dan
wujud objek yang dideskripsikan, (3) kemampuan kita memilih detail khusus yang
dapat menunjang katepatan dan keterhidupan deskripsi (Akhadiah,dkk.,!997).
94 Bahasa Indonesia
Jenis Karangan
C. PENDEKATAN DESKRIPSI
Bagaimana cara untuk mencapai tujuan deskripsi? Banyak cara untuk mencapai
tujuan deskripsi, misalnya dengan menyusun rincian dari objek yang kita
deskripsikan, cara kita melihat persoalan yang sedang kita tulis, sikap kita terhadap
pembaca, dan cara kita mengolah fakta. Pendekatan pendeskripsian dapat dibedakan
atas pendekatan ekspositoris, pendekatan impresionis, dan pendekatan menurut
sikap pengarang. Silakan Anda perhatikan dan pahami setiap katergori ini dalam
uraian berikut !
Pendekatan Ekspositoris
Anda berusaha agar deskripsi yang Anda buat dapat memberi keterangan
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga pembaca seolah-olah dapat ikut
melihat atau merasakan objek yang Anda deskripsikan. Karangan jenis ini berisi
daftar rincian sesuatu secara lengkap atau agak lengkap, sehingga pembaca dengan
penalarannya memperoleh kesan keseluruhan tentang sesuatu. Pemerolehan kesan
ini lebih banyak didasarkan pada proses penalaran ketimbang emosional.
Agar Anda memperoleh kejelasan, silakan pahami contoh di bawah ini!
Ratusan ribu pengunjuk rasa berpawai di pusat k.ota Los Angeles. Mereka
memprotes rancangan peraturan yang secara dramatis akan memperketat ketentuan
imigrasi Amerika Serikat. Pada puncak unjuk rasa, 500.000 orang terlibat, demikian
dilaporkan oleh Kantor Berita Associated Press (AP) Minggu (26/3).
Rancangan peraturan tersebut akan membuat semua pelanggar imigrasi yang
tercatat, mengharuskan semua majikan menjelaskan status pegawai mereka, dan
membangun tembok di sebagian besar perbatasanAS- Meksiko. Majelis Perwakilan
Rakyat sudah mengesahkan rancangan undang – undang itu. ( Kyodo,/Ant, Pikiran
Rakyat,27 Maret 2006).
Sesuatu yang ditonjolkan dalam karangan di atas, melukiskan ratusan ribu
pengunjuk rasa berpawai di pusat kota Los Angeles memprotes rancangan peraturan
yang secara dramatis akan memperketat ketentuan imigrasi Amerika Serikat. Pada
puncak unjuk rasa, 500.000 orang terlibat. Pendeskripsian dalam karangan ini lebih
menonjol daripada eksposisinya. Oleh karena itu, karangan di atas, dapat digolongkan
ke dalam karangan deskripsi. Hanya kebetulan deskripsi tersebut lebih membutuhkan
tanggapan nalar daripada tanggapan emosi.
Selain itu, deskripsi fiktif pun dapat juga menggunakan pendekatan
ekspositoris. Silakan Anda pahami contoh di bawah ini!
Terik sinar matahari siang itu membuat wajah Nawang Mulan yang kuning
langsat itu menjadi kemarah-merahan.Dari lehernya yang halus mulai keluar butir-
butir keringat. Tangannya yang sedang memegang alu tampak sedikit mengeras. Ia
berdiri di dekat lesung sambil memandang ke lumbung padi. Di dekat lesung itu
terletak nyiru berisi berisi beras yang baru saja ditumbuknya. Rasanya dia masih
sanggup menumbuk padi sedikit lagi. Diletakkannya alu dan segera berjalan menuju
lumbung. Dia kelihatan kaget ketika dalam lumbung dilihatnya hanya tinggal dua
ikat padi.Tinggal berapa hari lagikah dia , suami dan anaknya masih dapat menikmati
nasi? Dua ikat padi dan setengah nyiru beras, tak sampai dua minggu pasti habis,
pikirnya. ( Muhammad Umar Muslim, Nawang Wulan dalam Ismail Marahimin,1994:128).
Bahasa Indonesia 95
Jenis Karangan
Kutipan dari cerita di atas melukiskan kecantikan wajah tokoh aku yang
kuning langsat dan halus terkena terik sinar matahari. Pembaca pun dapat
membayangkannya serasa sedang ikut memperhatikannya, sehingga ikut mengagumi
kecantikan Nawang Wulan.
Pendekatan Impresionistik
Pendekatan impresionistik bertujuan untuk mendapatkan tanggapan emosional
pembaca atau kesan pembaca.Deskripsi ini di antaranya ditentukan juga oleh kesan
apa yang diinginkan penulisnya
Cobalah Anda baca dan pahami kutipan berikut ini!
Pada hari Rabu sore, hanya 12 jam kemudian separuh jantung kota telah
lumat. Pada waktu itu, saya melihat nyala api dari teluk. Kelihatannya sangat tenang,
tidak ada angin bertiup.Tetapi dari sekeliling kota angin menyerbu ke dalam. Udara
panas m,embumbung ke angkasa. Dengan demikian, udara sekitarnya tertarik ke
dalam kota.Keadaan seperti tenang ini berlangsung siang malam, tetapi di dekat
nyala api, angin yang menyerbu masuk hampir menyamai kecepatan angin topan.
Contoh deskripsi di atas menggambarkan suasana mencekam karena separuh
jantung kota telah lumat dimakan api sejak Rabu sore. Nyala api masih kelihatan
dari teluk. Nampak tenang. Tidak ada angin bertiup. Fakta-fakta yang dijalin oleh
penulis dihubungkan dengan efek yang ingin ditonjolkan yakni suasana kota yang
mencekam kerana separuh jantung kota sudah lumat dimakan api, sehingga pembaca
dapat membayangkan dan merasakan kepedihan penduduk yang menderita.
Pendekatan menurut sikap pengarang
Pendekatan ini bergantung kepada tujuan yang ingin dicapai , sifat objek,
dan pembaca. Dalam menguraikan gagasannya penulis mungkin mengharapkan agar
pembaca merasa tidak puas terhadap suatu tindakan atau keadaan atau penulis
menginginkan agar pembaca juga harus merasakan bahwa persoalan yang dihadapi
merupakan masalah yang gawat. Penulis juga dapat membayangkan bahwa akan
terjadi sesuatu yangtidak diinginkan, sehingga pembaca dari mula sudah disiapkan
dengan sebuah perasaan yang kurang enak, seram, takut, dan sebagainya (
Akhadiah,1997).
Pengarang harus menetapkan sikap yang akan diterapkan sebelum mulai
menulis. Semua rincian harus dipusatkan untuk menunjang efek yang ingin dihasilkan.
Perincian yang tidak ada kaitannya dan menimbulkan keragu-raguan pada pembaca
harus disingkirkan. Penulis dapat memilih, misalnya salah satu sikap, seperti masa
bodoh, bersungguh-sungguh, cermat, sikap seenaknya,atau sikap yang ironis ( Keraf,
1981).
Silakan Anda baca dan pahami contoh di bawah ini!
Seorang lelaki kelihatan mengorek-ngorek tumpukan sampah. Dia kelihatan
mendapat beberapa kardus bekas, sudah agak lusuh dan basah, tapi dimasukkannya
juga ke dalam keranjang besar yang dibawanya di punggungnya. Tidak ada yang
memperhatikannya, kecuali saya agaknya. Astaga, pikir saya, malam – malam begini
masih ada orang yang mencari barang bekas di tumpukan sampah.Namun, saya dan
teman saya terus saja menikmati baso. Dari dekat bak sampah, di malam yang
sejuk seperti ini, bakso ini memang terasa lebih sedap ( Apipudin SM,1994 dalam
Ismail Marahimin, 1994 : 77).
96 Bahasa Indonesia
Jenis Karangan
Kutipan cerpen di atas menggambarkan keterharuan tokoh aku melihat
perjuangan seorang pemulung yang mencari rizki malam-malam di tempat bak
sampah walaupun yang diperolehnya hanyalah beberapa kardus bekas, agak lusuh
dan basah. Kita dapat melihat sikap pengarang yang menyadari bahwa kita harus
selalu mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah Swt. di mana pun kita berada.
C. Macam-macam Deskripsi
Apa saja yang dapat dideskripsikan? Objek apa yang dapat diungkapkan dalam
karangan deskripsi ? Yang lazim diungkapkan dalam karangan deskripsi ada dua objek,
yakni orang dan tempat. Atas dasar itu, karangan deskripsi dapat dipilah menjadi
dua kategori ,yakni karangan deskripsi oarang dan karangan deskripsi tempat
1. Deskripsi Orang
Taufik Ismail bercita-cita jadi sastrawan sejak masih siswa SMA. Lahir di
Bukitinggi ( 25 Juni 1935) dan dibesarkan di Pekalongan. Dia tumbuh dalam keluarga
guru dan wartawan yang suka membaca. Dengan pilihan sendiri, dia jadi dokter
hewan dan akhli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menapkahi
cita-cita kesusastraannya. Dia tamat 1963 dari FKHP-UI Bogor tapi gagal punya usaha
ternak, yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.
Semasa kuliah dia aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI(1960-1961)dan
Wakil Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (a961-1962).
Di Bogor pernah jadi guru SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar
di IPB.Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, batal melanjutkan studi
manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di IPB. Dia menulis
di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison ( 1966) , ikut
mendirikan Dewan Kesenian Jakarta, jadi peminpin DKJ, PJ.Direktur TIM, Rektor
LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever , Penerima beasiswa American Field Service
International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, pernah Ketua Yayasan
Bina AntarBudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41
tahun ( sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa Indonesia ke 15 negara dan menerima
1600 siswa Asing di sini. Taufik terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di
New York, 1974-1976.
Mendapat Anugrah Seni dari Pemerintah RI (1970). Cultural Visit Award
Pemerintah Autralia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand
(1994) , Penulisan Karya Satra dari Pusat Bahasa (1994), Taufik dua kali jadi penyair
tamu di Universitas Iowa, AS ( 1971 – 1972), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa
dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).
Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin
Hardjakusumah, atau sebaliknya dia menuliskan lirik untuk mereka dalam kerja sama
yang sudah berlangsung 25 tahun tahun lamanya samapai 1998. Dia juga menulis lirik
untuk Chrisye, Yan Antono ( dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya
kerjasama semacam ini penting agar puisi lebih luas jangkauan publiknya.
Taufik sering baca puisi di depan umum. Di luar Indonesia, dia telah baca puisi
di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan
Afrika sejak 1970.Baginya, puisi baru “memperoleh tubuh yang lengkap” bila sesudah
ditulis, dibacakan di depan khalayak ramai. Pada April 1993 Taufik baca puisi tentang
Bahasa Indonesia 97
Jenis Karangan
Syech Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan 3
abad yang lalu, di 3 tempat di Cape Town (1993) ketika apartheid baru dibongkar. Di
bulan Agustus 1994 dia baca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung
kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga
terjemahan bahasa Mandarinnya oleh Chan Maw Who.
Setelah Anda membaca contoh deskripsi orang di atas, Anda seolah-olah
mengenal sendiri sosok seorang sastrawan terkenal baik di dalam negri maupun di
luar negri lebih banyak. Melalui gambaran cita-citanya , kesuksesannya, aktivitas
yang tak pernah terhenti dalam berbagai bidang dan kesempatan membuat pembaca
terbuai, bangga, dan menaruh hormat atas keberhasilan dalam merajut masa
hidupnya. Andaikan kita seperti Taufik… Mungkinkah ?
1) Deskripsi Keadaan Fisik
Deskripsi fisik bertujuan memberi gambaran yang sejelas-jelasnya tentang
keadaan tubuh seseorang. Biasanya deskripsinya banyak bersifat objektif. Silakan
Anda baca contoh berikut ini!
Hari masih gelap, malam baru saja usai bertugas.Sekira pukul 3.00 WIB kesibukan
pecah di sebuah rumah di kawasan Padasuka Bandung Timur.Laki-laki muda, tampan,
badannya tegap, wajahnya selalu tersenyum , matanya hampir tak pernah terpejam
lelap, ia selalu terjaga selalu terjaga menunggu subuh turun menyelimuti bumi
Parahyangan. Saat itulah, ia terjaga dan bergegas bangun. ( Ratna Djuwita,Pikiran
Rakyat :25 Maret 2006 – 30).
2) Deskripsi Keadaan Sekitar
Deskripsi keadan sekitar adalah penggambaran keadaan yang mengelilingi
sang tokoh, misalnya penggambarana aktivitas-aktivitasnya yang dilakukan, pekerjaan
atau, tempat kediaman, dan kendaraan, yang ikut menggambarkan watak seseorang.
Perhatikan contoh berikut ini!
Kabarnya yang tinggal di rumah tua berpagar tembok tinggi itu adalah seorang
kakek yang hidup sendiri. Rumah itu terletak di samping rumahku. Pagar tembok
tinggi menutup rumahnya dari pandangan luar. Hanya ada satu pintu masuk dari
muka, ditutup dengan anyaman bambu yang rapat. Aku belum pernah melihat kakek
itu. Setelah kucoba naik ke pagar tembok, melalui sebuah pohon kates di
pekaranganku, terbentanglah sebuah pemandangan. Tampak mobil tua bertengger
di pojok rumah. Bunga-bunga merah, biru, kuning, ungu. Daun-daunnya hijau.
Kumbang terbang antara bunga-bunga. Daun-daun bergoyang, bayang-bayang
matahari. Oya, ayam jantan berkeliaran antara bunga – bunga, berbulu indah dan
lagi lari memburu betina. Di pojok keduanya berhenti. Sebuah rumah jawa. Bersih
seperti baru saja disapu dan alangkah banyak bunga-bunga di taman! Hari itu aku
belum berhasil melihat penghuninya.Tidak pernah seharian penuh aku ada di rumah.
Ibuku menyuruh aku pergi sekolah pagi dan sore harus mengaji. Hari-hari Minggu
pertama habis untuk mencari saudara-saudara baru di kota ini (Kuntowijoyo dalam
Yoyo Mulyana,dkk. 1998: 114-115)
Dengan membaca kutipan di atas , Anda dapat membayangkan siapa penghuni
rumah tersebut.
98 Bahasa Indonesia
Jenis Karangan
3) Deskripsi watak atau tingkah perbuatan
Di depan ayahku, aku tidak bisa apa-apa.Tangannya yang kasar penuh napsu
untuk menghancurkan, memegang pundakku. Aku bungkam. “Ayo!” perintah ayah,
Buang jauh-jauh bunga-bunga itu, heh!”
Aku membungkuk,memungut bunga-bunga. Dari mataku keluar air mata. Aku
ingin menangis, bukan karena takut ayah. Tetapi bunga-bunga itu. Aku harus
membuang jauh-jauh dengan tanganku. Bunga-bunga itu penuh di tanganku.
“Mana?”
Aku mengulurkan kepada ayah. Diremasnya bunga – bunga itu. Jantungku
tersirap menahan utuk tenang.”Dan bersihkan air ini sampai kering, buyung!” bentak
ayah. ( Kuntowijoyo, dalam Yoyo Mulyana dkk. 1988: 126).
Dari kutipan di atas dapat Anda tafsirkan bahwa tokoh ayah adalah laki-laki
yang sangat membenci pada kelakuan anaknya menyenangi bunga-bunga. Laki-laki
harus perkasa, tidak lembek. Contohnya tangan ayahnya yang selalu kotor karena
setiap hari bekerja keras. Yang biasa menyenangi bunga adalah anak perempuan.
4) Deskripsi gagasan-gagasan tokoh
Deskripsi ini tidak dapat dicerap oleh pancaindra ,tetapi unsur fisik mempunyai
hubungan yang sangat erat. Pancaran wajah, pandangan mata, gerak bibir, dan gerak
tubuh merupakan petunjuk tentang keadaan perasaan seseorang pada waktu itu.
Coba Anda perhatikan contoh berikut ini!
“Untuk apa tangan ini,heh!” katanya sambil mengangkat kedua tanganku
dengan kedua tangannya. Aku tidak tahu, jadi diam saja. “Untuk kerja!” sambung
ayah. “Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti bekerja. Engkau bukan
iblis atau malaikat buyung. Ayo, timba air sebanyak-banyaknya. Cuci tanganmu untuk
kotor kembali oleh kerja, tahu!” Tanganmu mesti kotor, seperti tangan bapamu,
heh!” Ayah lalu meratakan gemuk di tanganku. Aku tidak melawan. Ayahku sudah
nafsu. Aku tersenyum.
Ibu berdiri saja. Ia tidak berbuat apa-apa.Aku makin lebar tersenyum. Kulihat
ibuku pucat ketika memandangku. Kenapa ibu pucat begitu ? Tersenyumlah!Tanganku
kotor sampai lengan. Ayah menampar kedua pipiku.
Dari kutipan di atas kita bisa menafsirkan bahwa tokoh Buyung memiliki tabiat
yang keras dari ucapan lawan bicaranya ( ayahnya). Terutama lebih dikuatkan oleh
reaksinya terhadap ucapan itu. Semuanya itu secara lengkap mengungkapkan
bagaimana sikap dan pandangan hidup Buyung.
2. Deskripsi tempat
Tidak ada peristiwa yang terlepas dari lingkungan dan tempat. Semua kisah
akan selalu mempunyai latar belakang tempat, Jalannya sebuah peristwa akan lebih
menarik jika dikaitkan dengan tempat terjadinya peristiwa. Memang, tempat
memegang peranan yang sangat penting ( Akhadiah, 1997).
Dalam menyusun rincian suatu tempat hendaknya mengikuti cara yang logis
agar apa yang kita lukiskan menjadi lebih jelas. Selain itu, kita pun harus pandai
memilih dan memilah detail-detail dari suatu tempat yang dideskripsikan, sehingga
detail – detail yang dipilih betul-betul mempunyai hubungan langsung dalam
peristiwa yang dideskripsikannya.
Bahasa Indonesia 99
Jenis Karangan
Dalam memilih cara yang paling baik untuk melukiskan tempat perlu
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1) suasana hati ( suasana hati yang
menonjol untuk dijadikan landasan, suasana hati yang menguasausai pikiran
pengarang pada waktu itu, mungkin perasaan pengarang seluruhnya yang
mempengaruhi pencerapannya dan mengabaikan kenyataan fisik, mungkin juga
pencerapan itu dilakukan dengan cermat dan berdasarkan fakta , sehingga akan
menghasilkan deskripti sujektif atau deskripsi objaktif. (2) bagian yang relevan
(memilih detail-detail yang relevan untuk dapat menggambarkan suasana hati dan
(3) urutan penyajian. (menetapkan urutan yang paling baik dalam menampilkan
detail-detail yang dipilih (Kerap, 1981). Marilah perhatikan contoh berikut ini!
Pukul lima, suatu senja yang damai di kampus. Matahari sudah condong jauh
ke barat masih memancarkan sis cahanya melalui sela-sela daun cemara dan akasia
tepat di hadapanku. Pancaran sinar yang biasanya tajam menyengat di siang hari
bulan September ini, sekarang terasa hangat dan lembut, rasanya seperti sedang
berjemur matahari pagi di villa Cipayung.
Pada saat seperti sekarang ini, kebanyakan mahasiswa sudah pulang ke
pondokan masing-masing. Yang tersisa adalah yang tinggal di asrama ( yang memang
terletak di dalam kampus), atau para mahasiswa yang bermaksud numpang tidur di
asrama. Tak terdengar lagi suara gejrengan gitar sember yang biasa dimainkan oleh
beberapa mahasiswa yang menunggu giliran kuliah sambil ngobrol di teras teater.
Pintu Kantin I yang terletak kira-kira lima puluh meter di kiriku, yang tengah
hari tadi hampir tak pernah tertutup karena banyaknya mahasiswa yang kelaparan
ataupun kekenyangan keluar masuk, kini hanya sekali-sekali saja mengayun terbuka.
Yang mendorongnya pun kalau bukan mahasiswa yang sudah kelihatan lusuh setelah
bergulat dengan pelajaran sejak pagi, tentulah salah seorang pedagang yang walaupun
kelihatan capek,mulai beranjak pulang dengan wajah gembira karena uang sudah
banyak terkumpul. ( Nur Rachmi Mahasiswa FSUI pengikut Penulisan Populer, 1985/
1986).
Itulah, sedikit gambaran yang nyata yang terdjadi di seputar kampus yang
menyajikan suasana hati pengarang,, telah disusun melalui pilihan kata-kata yang
tepat sehingga penggambaran bagian detail – detail sangat mendukung dengan
urutan penyajian yang baik Pembaca dapat membayangkan bahkan serasa merasakan
dan melihat sendiri suasana senja di sekitar kampus.
KARANGAN NARASI
Karangan narasi dalam pikiran Anda sudah tidak asing lagi. Istilah narasi atau
sering disebut naratif berasal dari kata bahasa Inggris narration ( cerita ) dan
narrative (yang menceritakan). Karangan narasi menyajikan serangkaian peristiwa
atau kejadian menurut urutan terjadinya ( kronologis) dengan maksud memberi
makna kepada sebuah atau serangkaian kejadian, sehingga pembaca dapat
mengambil hikmah dari cerita itu.
Dengan demikian, karangan narasi hendak memenuhi keingintahuan pembaca
yang selalu bertanya “ Apa yang terjadi ?”
Untuk lebih jelas, silakan Anda telaah dengan cermat dua jenis narasi berikut
ini!
100 Bahasa Indonesia
Jenis Karangan
Contoh 1
Hj.Kuraesih, “35 Tahun Baca ‘PR’ tidak Bosan”
Lebih dari 35 tahun membaca Harian Umum Pikiran Rakyat, tapi ibu yang satu
ini tidak pernah bosan. Selama itu ia tetap setia berlangganan “PR” dan tiap hari
membaca Pikiran Rakyatdari halaman satu sampai halaman akhir, dari mulai berita
sampai iklan-iklannya.
Ketika ditemui Direktur Pemasaran PT PR Bandung H.Januar P .Ruswita, Rabu
lalu di Purwakarta, Ibu Hj.Kuraesih atau lebih dikenal dipanggil Ibu Laksana, mengaku
mulai berlangganan “OR” kira-kira tahun 1969 yaitu saat “PR”melakukan operasi
pengembangan pasar di Kota Purwakarta.
“Ibu masih ingat ketika itu posko operasi pengembangan “PR” bertempat di
sebuah hotel di depan rumah. Jadi selama beberapa hari, ibu mendapat koran gratis.
Karena tertarik membaca “PR”, ibu berlangganan dan bahkan terus ketagihan sehingga
menjadi pelanggan tetap samapi bhari ini. Ibu tidak bosan baca “PR” selama 35
tahun,” katanya.
(Ruhimat, Pikiran Rakyat :25 Maret 2006).
Contoh 2
Tanganku dia bimbing, kakiku berjalan dengan langkah cepat
mengikutinya.Kami duduk di ruang tengah. Ada kursi-kursi di sana. Aku dimintanya
duduk di sampingnya.
“ Duduklah, cucu. Di samping kakek. Nah. Siapa nanamu?”
Aku sebutkan namaku, sambil mataku melayang ke sekitar. Semuanya penuh
bunga.Aku menatap wajah kakek, kerut-merut kulit tua.
Aku sebutkan namaku, sambil mataku melayang ke sekitar. Semuanya penuh
bunga. Aku menatap wajah kakek, kerut-merut kulit tua. Kataku: “Banyak sekali
bunga, Kakek?”
“ O, ya banyak. Aku suka bunga-bunga.”
“ Belum pernah kulihat yang sebanyak ini, sebelumnya.”
“ Tentu saja. Kenapa tidak sejak dulu datang ke sini?”
“ Kenapa kakek tidak datang ke rumahku?”
Ia tertawa mengusap-usap kepalaku. “Pintar, ya. Kau sering memanjat pagar
itu, bukan?”
“ Ya. Ternyata kakek mengetahui tingkahku. Siapa memberi tahu?”
“ Mataku, cucu.”
“ Hanya untuk melihat-lihat saja. Kek.”
Ia tertawa terguncang badannya. “Tentu saja aku tahu itu. Kau anak baik,
cucu. Karena, mata batinku lebih tajam dari mata kepalaku.” ( Kuntowijoyo dalam
Yoyo M.dkk. 1998: 119).
Setelah Anda membaca kedua contoh karangan narasi di atas, tentu Anda
sudah dapat membedakan antara karangan narasi informasional dan karangan
narasi artistik.
Bahasa Indonesia 101
Jenis Karangan
Contoh 1 bertujuan memberikan informasi. Olah karena itu, narasi jenis ini
bersifat faktual dan secara esensial merupakan hasil pengamatan pengarang. Jadi,
contoh 1 itu benar-benar menginformasikan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan
nyata . Sedangkan
Contoh 2 bersifat fiktif dan secara esensial merupakan hasil imajinasi
pengarang dan mengisahkan suatu kehidupan yang hanya hidup dalam benak
pengarang yang tidak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak menutup
kemungkinan bahan-bahan ciptaan pengarang itu ada dalam kehidupan nyata
(faktual).
Untuk lebih jelasnya marilah Anda perhatikan perbedaan antara narasi
informasional dan narasi artistik. Anda lihat ciri-cirinya yang dominan pada kedua
macam karangan narasi berikut ini.
Narasi Informasional Narasi artistik
1. memperluas pengetahuan 1. menyampaikan sesuatu makna atau
2. menyampaikan informasi faktual suatu amanat yang tersirat.
mengenai suatu kejadian 2. menimbulkan daya khayal.
3. didasarkan pada penalaran untuk 3. penalaran hanya berfungsi sebagai
mencapai kesepakatan rasional. alat untuk menyampaikan makna,
4. bahasanya informatif dengan titik sehingga kalau perlu penalaran dapat
berat pada pemakaian kata-kata dilanggar.
denotatif. 4. bahasanya figuratif dengan kata –kata
konotatif ( Keraf, 1987).
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa karangan narasi informasional
atau narasi ekspositoris digunakan untuk karangan yang faktual seperti biografi,
autubiografi, sejarah,atau proses cara melakukan sesuatu hal. Sedangkan karangan
narasi artistik atau narasi sugentif digunakan untuk karangan imajinatif , misalnya
cerpen, novel, roman atau drama.
E. PRINSIP – PRISIP NARASI
Prinsip dasar narasi adalah alur, penokohan, latar, sudat pandang ,dan
pemilihan detail peristiwa. Marilah kita bahas satu per satu.
1. Alur (Plot)
Pengertian alur atau plot dapat Anda pahami melalui contoh berikut: Raja
Mati itu disebut jalan cerita. Akan tetapi Raja mati karena sakit hati dalah alur.
Apa yang disebut alur dalam narasi memanglah sulit. Dicari. Alur bersembunyi di
balik jalannya cerita ( Suparno, 2004:4.36). Perlu dipahami benar, namun jalan cerita
bukanlah alur. Jalan cerita hanyalah manisfestasi , be4ntuk wadah, bentuk jasmaniah
dari alur cerita.
Alur dan jalan cerita memang tak terpisahkan, tetapi harus dibedakan. Kadang
–kadang orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jalan cerita
bermuatan kejadian-kejadian. Akan tetapi, suatu kejadian ada karena ada sebabnya,
yaitu segi rohaniah dari kejadian. Suatu kejadian baru disebut narasi kalau di
dalamnya ada perkembangan kejadian. Dari suatu kejadian berkembang kalau ada
yang menyebabkan terjadinya perkembangan. Dalam hal ini, adanya konflik.
102 Bahasa Indonesia
Jenis Karangan
Intisari alur adalah konflik. Tetapi suatu konflok dalam narasi tidak dapat
dipaparkan begitu saja. Harus ada dasarnya. Oleh karena itu, alur sering dibagi lagi
memnajadi beberapa elemen berikut ini: (1) pengenalan, (2) timbulnya konflik, (3)
konflik memuncak, (4) klimaks, dan (5) pemecahan masalah.
Pada fase pengenalan, pengarang mulai melukiskan situasi dan memperkenalkan
tokoh-tokoh cerita sebagai pendahuluan. Pada fase kedua pengarang mulai
memperkenalkan pertikaian-pertikaian yang terjadi di antara tokoh. Pada fase ketiga
pertikaian semakin meruncing. Pada fase keempat terdinya puncek pertikaian.
Setelah fase ini terlampaui, sampailah pada fase kelima ,yakni pemecahan masalah.
Alur menurun menuju pemecahan masalah dan penyelesaian cerita.
Itulah susunan alur yang berpusat pada konflik. Dengan adanya alur di atas ,
pengarang membawa pembaca ke dalam suatu keadaan yang menegangkan, timbul
suatu tegangan ( suspense) dalam cerita. Dari suspense inilah yang menarik pembaca
untuk terus mengikuti cerita.
Urutan alur di atas merupakan urutan tradisional. Seorang pengarang narasi
dapat saja mulai dengan pemecahan masalah , seperti dalam roman Ateis (Akhdiat
Karta Hadimadja ), Ada pengarang yang mulai dengan konflik memuncak seperti
dalam Tanah Gersang ( Mochtar Lubis) dan ada pengarang yang memulainya dengan
timbulnya konflik , seperti dalam Merahnya Merah karya Iwan Simatupang. Teknik
yang demikian disebut sorot balik ( flash back) yang bertujuan untuk mendapatkan
tegangan.
Perlu Anda pahami bahwa alur narasi merupakan kerangka dasar yang sangat
penting. Alurlah yang mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus berhubungan
satu sama lain, bagaimana suatu insiden mempunyai hubungan dengan insiden-
insiden lainnya, bagaimana tokoh –tokoh harus digambarkan dan berperan dalam
tindakan-tindakan itu dan bagaimana situasi dan perasaan karakter tokoh-tokoh
yang terlibat dalam tindakan-tindakan itu yang terikat dalam satu kesatuan waktu.
Oleh sebab itu, baik tidaknya penggarapan sebuah alur dapat dinilai dari hal-hal
berikut ini. (1) Apakah setiap insiden insiden(kejadian) susul-menyusul secara logis
dan alamiah? (2) Apakah setiap pergantian insiden sudah cukup terbayang dan
dimatangkan dalam insiden sebelumnya? (3) Apakah insiden terjadi secara kebetulan?
(Keraf, 1983).
2. Penokohan
Adapun salah satu ciri khas narasi adalah adanya pengisahan tokoh cerita
bergerak dalam suatu rangkaian perbuatan atau pengisahan tokoh cerita terlibat
dalam suatu peristiwa atau kejadian. Tindakan, peristiwa, kejadian itu disusun
bersama-sama , sehingga mendapatkan kesan atau efek tunggal.
Dalam contoh 1 fokus cerita diarahkan pada “ Hj. Kuraesih 35 Tahun Baca PR
tidak Bosan” Apabila di situ diceritakan Ruhimat maka penyebutan tokoh dalam
rangka mendapatkan kesan yang utuh mengenai pengalaman hidup sebagai pembaca
Pikiran Rakyat yang sangat setia. Dalam narasi itu tidak disebutkan juga nama-nama
lainnya karena nama-nama itu tidak signifikan dalam hubungannya dengan salah
satu aspek dari kehidupan Hj.Kuraesih yang dianggap istimewa oleh pengarang.
Bahasa Indonesia 103
Jenis Karangan
3. Latar ( Setting)
Latar di sini adalah tempat dan atau waktu terjadinya perbuatan tokoh atau
peristiwa yang dialami tokoh. Dalam karangan narasi kadang tidak disebutkan secara
jelas tempat atau waktu tokoh berbuat atau mengalami peristiwa tertentu. Sering
kita jumpai cerita hanya mengisahkan latar secara umum. Misalnya: senja di sebuah
kampus, di sebuah pantai, di sebuah kampung. di malam gelap, di pagi hari nan
indah dan sebagainya. Namun, ada juga yang menyebutkan latar tempat dan waktu
secara pasti dan jelas.
4. Sudut Pandang ( Point of View )
Sebelum Anda mengarang narasi terlebih dahulu Anda harus menentukan
sudut pandang. Sudut pandang dalam narasi akan menjawab pertanyaan siapakah
yang menceritakan kisah ini. Apa pun sudut pandang yang dipilih pengarang akan
menentukan sekali gaya dan corak cerita karena watak dan pribadi si pencerita
akan banyak menentukan cerita yang dituturkan pengarang kepada pembacanya.
Seperti kita maklumi bahwa setiap orang mempunyai pandangan hidup, intelegensi,
kepercayaan, dan teperamen yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, keputusan
pengarang untuk menentukan siapa yang akan menceritakan kisah, menetukan
sekali apa yang ada dalam cerita. Jika pencerita (narrator) berbeda maka detail-
detail cerita yang dipilih pun berbeda pula.
Adapun kedudukan narator dalam cerita terdiri atas empat macam sebagi
berikut.
1. Narator serba tahu (Omniscient point of view )
Narator serba tahu bertindak sebagai pencipta segalanya. Dia tahu segalanya.
Dia dapat menciptakan apa saja yang diperlukannya untuk melengkapi ceritanya ,
sehingga tercapai apa yang diinginkannya. Dia bisa mengeluarmasukkan para
tokohnya. Dia bisa mengemukakan perasaan, kesadaran, dan jalan pikiran para tokoh
cerita. Pokoknya, narator bertindak sebagai Tuhan terhadap makhluknya yang serba
mengetahui mulai dari kegiatan yang bersifat jasmaniah sampai dengan pada kegiatan
yang bersifat rohaniah, mulai dari tempat yang tampak sampai pada tempat yang
tersembunyi, mulai dari masalah biasa sampai dengan masalah yang sangat rahasia,
dan mulai dari kegiatan yang dilakukan secara berkelompok sampai dengan pada
kegiatan yang hanya dilakukan sendiri di tempat terpencil. Oleh karena itu, teknih
ini cocok untuk cerita yang bersifat sejarah, edukatif, dan humoris. Cerita yang
memberi tahu pengalaman baru atau tema petualangan yang lebih tepat memakai
gaya bercerita Omniscient.
2. Narator (ikut) aktif (Narrator ackting )
Narator juga aktor yang terlibat dalam cerita. Kadang-kadang fungsinya sebagai
tokoh sentral. Tampak dalam penggunaan kata ganti orang pertama ( aku, saya,
kami).
Dengan kedudukan demikian narator hanya dapat melihat dan mendengar
apa yang orang biasa dapat melihat dan mendengarnya. Narator kemudian mencatat
tentang apa yang dikatakan atau dilakukan oleh tokoh lain dalam suatu jarak
penglihatan dan pendengaran. Narator tidak dapat membaca pikiran tokoh lain
kecuali hanya menafsirkan dari tingkah laku fisiknya. Hal-hal yang bersifat psikologis
dapat dikisahkan. Itu pun yang menyangkut dirinya sendiri.
104 Bahasa Indonesia
Jenis Karangan
3. Narator bertindak objektif ( Objective point of view )
Pengarang menceritakan apa yang terjadi, seperti penonton melihat
pementasan drama . Pengarang sama sekali tidak mau masuk ke dalam pikiran para
tokoh. Dalam kenyataannya, memang orang hanya dapat melihat apa yang diperbuat
orang lain. Dengan melihat perbuatan orang lain pengarang menilai kejiwaannya,
kepribadiannya, jalan pikirannya, dan perasaannya. Untuk motif tindakan pelakunya,
pengarang hanya bisa menilai dari perbuatan para tokohnya. Dalam hal ini, pembaca
sangat diharapkan partisipasinya. Pembaca bebas menafsirkan apa yang diceritakan
pengarang.
4. Narator sebagai peninjau
Dalam teknik ini , pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita.
Seluruh kejadian cerita kita ikuti bersama tokoh ini. Tokoh ini bisa bercerita tentang
pendapatnya atau perasaannya sendiri. Sementara, terhadap tokoh-tokoh lain , dia
hanya bisa memberitahukan kepada kita seperti apa yang dia lihat saja. Jadi, teknik
ini berupa penuturan pengalaman seseorang. Pelaku utama sudut pandang peninjau
ini sering disebut teknik orang ketiga, yang pelakunya disebut pengarang dia.
F. PENGEMBANGAN NARASI
1. Penyusunan Detail-detail dalam Urutan
Salah satu ciri khas karangan narasi adalah jika dibandingkan dengan karangan
yang lain adanya organisasi detail-detail ke dalam urutan ruang – waktu ( time-
space sequences) yang menyarankan adanya bagian awal, tengah, dan akhir cerita.
Organisasi demikian,menyarankan adanya pergantian detail-detail atau
pengembangan dalam narasi. Jika cerita menyangkut latar tempat, pengisahan
mengalami pergantian dari suatu tempat ke tempat laun. Jika pengisahan menyangkut
latar waktu ke waktu lain (mungkin maju mungkin surut ke belakang ). Jika cerita
menyangkut perbuatan tokoh, pengisahan mengalami gerakan dari suatu adegan ke
adegan berikutnya.
2. Pengembangan Deskripsi, Eksposisi, dan Dialog
Dalam cerita rangkaian peristiwa sangat penting. Segala sesuatu diusahakan
supaya peristiwa menjadi jelas, menarik, dan menujnjukan kebenaran kepada
pembaca.
Untuk mencapai maksud tersebut, narasi menggunakan deskripsi, eksposisi,
dan dialog dalam penyajiannya.
Deskripsi akan menolong Anda menciptakan suasana yang
dikehendaki.Deskripsi akan lebih jelas , jika pengarang pandai menggunakan kata-
kata yang merangsang pancaindra. Pembaca diajak untuk menghayati sepenuhnya
peristiwa yang sedang diceritakan. Pendengaran, penglihatan, p;erabaan,
pembauan, dan pencicipan , bahkan


Use: 0.0317