• PERILAKU PEMILIH BURUH ROKOK DALAM PILKADA LANGSUNG DI ...


  •   
  • FileName: MOHAMMAD_SHOLIHIN.pdf [read-online]
    • Abstract: pengaruh karena sudah dikenal tetapi faktor partai yang solid lebih menonjol, bagi ... saja maka akan diperoleh 220.000 suara atau 38,43 % , sebuah angka jaminan ...

Download the ebook

PERILAKU PEMILIH BURUH ROKOK
DALAM PILKADA LANGSUNG
DI KABUPATEN KUDUS
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat guna
Memperoleh gelar Magister Ilmu Politik
Pada Program Pascasarjana
Universitas Diponegoro
Disusun oleh :
MOHAMMAD SHOLIHIN
NIM. D4 B006036
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU POLITIK
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2009
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa, Tesis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan
sepanjang pengetahuan saya, bahwa tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis merupakan pendapat
atau saran yang dijadikan acuan dalam naskah ini dan disebutkan sumber aslinya.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Kudus,
Yang menyatakan
MOHAMMAD SHOLIHIN
PENGESAHAN TESIS
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa tesis berjudul :
PERILAKU PEMILIH BURUH ROKOK
DALAM PILKADA LANGSUNG DI KABUPATEN KUDUS
Yang disusun oleh Mohammad Sholihin, NIM : D4 B006036
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 5 Juni 2009
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima.
Ketua Penguji Anggota Penguji lain
Drs. TURTIANTORO, M.Si 1. Dr KUSHANDAJANI, MA
Sekretaris Penguji
Drs. AHMAD TAUFIQ, M.Si 2. Dra. FITRIYAH, MA
Semarang, 5 Juni 2009.
Program Pascasarjana Universitas Diponegoro
Program Studi Magister Ilmu Politik
Ketua Program
Drs. Purwoko, MS
MOTTO
- Barang siapa menghendaki dunia, maka dengan
ilmu, barang siapa menghendaki akhirat maka
dengan ilmu, barang siapa menghendaki dunia dan
akhirat, maka dengan ilmu (Al-Hadits)
- “Sejarah seorang manusia merdeka
tidak pernah tercipta secara kebetulan,
melainkan tercipta karena pilihan
mereka sendiri” (Eisenhower)
- Orang yang kreatif memandang persoalan menjadi
sebuah peluang, orang yang tidak kreatif
memandang peluang sebagai sebuah persoalan
- Kita harus mengubah diri kita sendiri
sebelum kita berharap melihat dunia
yang berubah (Mahatma Gandhi)
Kupersembahkan karyaku ini kepada :
1. Ayahku Almarhum Munthoha dan Bunda ku
Mastinah, walaupun beliau buta huruf.
2. Istriku tercinta Sunarsih,S.Pd dan kedua buah
hatiku tersayang; Suryo Solinar dan Candra
Solinar yang dengan ketulusan dan
keikhlasannya melepas ayunan langkahku,
teriring do’a menyertai perjuanganku
menuntut ilmu demi kebahagiaan dan
kesejahteraan serta masa depan keluarga.
ABSTRACT
Direct regent election is firstly held in Kudus regency. It had lasted on April
12th 2008.
As we know that Kudus is a city of cigarette industry, thousand of big and
small cigarettes factories give jobs to its people. More than a hundred thousand
people work in this sector. Most of them are cigarette workers.
The interesting one is that, in this election, each candidate fights over their
votes. Moreover, a couple of the candidates took them as the main target. This
research intends to know and identify the dominant factors which influence the
elector of cigarette workers in the direct regent election of Kudus regency. In the
process of data collecting, the writer used a study of literature, interview and
observation. To analyze the data, the writer used the descriptive qualitative method.
Based on result of the study, the writer concludes that there are six factors
which influence the behavior of the elector of cigarette workers in regent election of
Kudus in 2008. The first factor is the spokesman of campaign or the team of success.
This is mostly influenced by the attitude of cigarette workers who tend to be passive
in political activities. Most of them are women whose time is spent for working and
doing their house works. They tend to dislike having a conflict, thus their choices in
voting depend on people around them. The second factor is the intensive or political
donation. It is closely related with their pragmatical attitude. Generally, they are not
really sure that the regent election will change their future of lives. They have also
considered that the political promises of the candidates during the campaign are just
common things to attract their sympathies. Therefore, when they distribute some
money or anything else to people, it is considered as a common action. They don’t
consider it as a money politic or selling votes, but it is just a social donation or a form
of poor caring action and the like. The third factor is the candidate profile. They will
choose the candidate who they think has good behavior and who is willing to get
close and visit the poor people. Most of them have never met nor known the
candidates. That’s why the dialogue within people and the candidate’s personality, it
will easily spread out among people and sometimes being out of control. The fourth
factor is the campaign issue or the candidate ‘s vision and missions. The candidate ‘s
vision, missions and promise in their campaign which is too long will not be read,
remembered or understood by the workers society. That’s why the simple and
practical promises here, will be more effective for these will be easily reminded when
they are finally elected. The fifth factor is the party background of the candidate.
Here, the popularity of the party takes important role in making their choice in the
election. The candidates of a big and popular party such as PDIP, Golkar, PKB, and
PPP have great influence because they have been popular among people. But the
solidity of the party influences also takes role in making their consideration. They
think that, “How can they manage the goverment if they can’t manage their own
parties ?” The unsolidity of the party will certainly cause many problems of the
machine of the party. In other words, if the party is unsolid, it cant’t work well, even
less do more to others. The sixth factor is the pressure group. Most of the workers are
women and they are low class workers who are susceptible of pressure and
mobilization. At the beginning, the writer has an opinion that the most dominant
pressure group is the worker association since its leader usually has a certain target.
Apparently, the workers are not afraid of the worker association but they are afraid of
the owners of the company. As a matter of fact, they usually have a neutral stand. The
more dominant pressure groups are the ‘sabet’ around them who try to capture their
freedom to determine their own choices. Their limited access of imformation and
economic make them easily to be mobilized.
ABSTRAKSI
Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung baru
pertama kali untuk kabupaten Kudus. Proses pelaksanaan pemilihan bupati dan wakil
bupati Kudus telah berlangsung pada tanggal 12 April 2008.
Semua orang tahu, bahwa Kudus adalah kota industri rokok kretek, tempat
dimana ada ribuan pabrik rokok besar dan kecil yang memberi lapangan kerja pada
penduduknya. Lebih dari seratus ribu orang bekerja disektor ini. Sebagian besar
mereka adalah sebagai buruh rokok.
Yang menarik adalah bahwa dalam pilkada ini suara mereka menjadi rebutan,
bahkan salah satu pasangan calon menjadikannya sebagai sasaran utama. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi factor-faktor dominan yang
mempengaruhi perilaku pemilih buruh rokok dalam pelaksanaan pilkada langsung di
kabupaten Kudus. Proses pengambilan data dilakukan melalui kajian pustaka,
wawancara mendalam, observasi langsung, selanjutnya mengelola dan menganalisis
data hasil dengan tehnik deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa Pertama tentang faktor–
faktor yang mempengaruhi perilaku pemilih buruh rokok dalam Pilkada Kudus
tahun 2008, berturut- turut adalah pertama faktor juru kampanye atau tim sukses
atau sabet, hal ini sangat dipengaruhi oleh sikap buruh rokok yang cenderung pasif
dalam kegiatan politik, sebagian besar mereka adalah kaum wanita, waktunya
sebagian besar digunakan untuk bekerja dan mereka cenderung tidak ingin terlibat
konflik sehingga suara mereka tergantung orang–orang yang ada di sekitarnya. Faktor
kedua adalah insentif atau hibah politik atau apapun namanya. Ini sangat erat
kaitannya dengan sikap pragmatis saja, mereka kurang percaya apakah Pilkada akan
membawa perubahan pada masa depan menjadi lebih baik toh janji politik pada masa
kampanye adalah hal yang biasa. Maka kalau saat kampanye mereka membagi –
bagikan uang atau lainnya itu adalah hal yang wajar, mereka tidak menganggap itu
money politik atau menjual suara tetapi seperti bantuan sosial, kepedulian terhadap
masyarakat kecil atau lainnya. Faktor ketiga adalah identifikasi calon, mereka akan
memilih calon yang menurut kabar perilakunya baik dan mau turun dan berkunjung
ke lingkungan masyarakat bawah, sebagian besar mereka belum pernah bertemu
apalagi kenal dengan para calon, tetapi perbincangan di masyarakat tentang calon
yang aktif berdialog dengan masyarakat sangat berkesan. Demikian juga sebaliknya
sedikit saja kelemahan calon tertentu akan cepat berkembang tak terkendali karena
informasinya hanya lewat perbincangan. Faktor keempat adalah isyu kampanye atau
visi misi calon. Visi Misi dan janji kampanye calon yang terlalu panjang tidak akan
dibaca, diingat dan dimengerti oleh kaum buruh, janji kampanye yang praktis dan
bisa ditagih kalau nanti terpilih lebih mengena. Faktor kelima adalah identifikasi
partai, calon dari partai besar seperti PDIP, Golkar, PKB maupun PPP mempunyai
pengaruh karena sudah dikenal tetapi faktor partai yang solid lebih menonjol, bagi
mereka bagaimana akan memerintah kalau ngurus partainya saja tidak becus. Partai
yang sedang tidak solid juga berpengaruh pada macetnya mesin partai. Faktor
keenam adalah pressure group atau kelompok penekan. Sebagian besar mereka
adalah perempuan dan merupakan pekerja kelas bawah, yang sangat rentan pada
mobilisasi dan tekanan. Pada mulanya peneliti menganggap kelompok penekan yang
paling dominan adalah serikat pekerja karena ketua serikat pekerja punya target,
ternyata para pekerja tidak takut pada serikat pekerja yang ditakuti bukan serikat
pekerja tetapi pemilik perusahaan, sedangkan pemilik perusahaan berkomitmen
netral. Kelompok penekan yang lebih dominan adalah para sabet disekitarnya yang
tidak membebaskan mereka berpikir dan menentukan sendiri pilihannya.
Keterbatasan terhadap akses informasi dan ekonomi membuat mereka mudah
dimobilisasi.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SAW atas limpahan rahmad,
taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulisan tesis dengan judul Perilaku Pemilih
Buruh Rokok Dalam Pilkada Langsung di Kabupaten Kudus telah selesai.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Drs. Turtiantoro, M.Si yang telah memberikan bimbingan, arahan dan
dorongan kepada penulis dalam penulisan tesis ini.
2. Drs. Ahmad Taufiq, M.Si yang dengan penuh persahabatan memberikan
dorongan dan bimbingan hingga selesainya tesis ini.
3. Drs. Purwoko, MS, selaku ketua program pasca sarjana program studi
Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro yang telah memberikan
kemudahan bagi penyelesaian tesis ini.
4. Para dosen, rekan-rekan mahasiswa, staf administrasi dan semua yang
telah membantu penulis yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang
telah memberikan bantuan selama ini.
Akhirnya apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam tulisan ini,
penulis menyampaikan permuhonan maaf. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.
Penulis
DAFTAR ISI
- Halaman Judul ................................................................................................... i
- Pernyataan Keaslian Tesis .................................................................................. ii
- Halaman Pengesahan/Persetujuan ...................................................................... iii
- Halaman Motto dan Persembahan........................................................................ iv
- Abstract ............................................................................................................. v
- Abstraksi ........................................................................................................... vii
- Kata Pengantar .................................................................................................. ix
- Daftar Isi ........................................................................................................... x
- Daftar Tabel ...................................................................................................... xii
- Daftar Gambar .................................................................................................. xiii
- Daftar Lampiran ............................................................................................... xiv
Bab I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Penelitian ............................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................ 5
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 6
Bab II. Telaah Pustaka
2.1. Kerangka Konseptual .................................................................... 7
2.2. Pemilihan Kepala Daerah Langsung Wujud Demokrasi Tingkat
Lokal .............................................................................................. 19
2.3. Definisi Konseptual ….................................................................... 30
2.4. Definisi Operasional …………... ................................................... 32
Bab III. Metode Penelitian
3.1. Jenis Penelitian................................................................................. 33
3.2. Populasi dan Sampel ....................................................................... 33
3.3. Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data ..………………….. 35
3.4. Teknik Pemeriksaan dan Kredibilitas Data ……………………… 37
3.5. Tehnik Analisis Data……………………………………………. 39
Bab IV. Analisis Data
4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian ............................................... 41
4.1.1. Kondisi Geografis …............................................................ 41
4.1.2. Kondisi Demografis ……… ................................................. 42
4.1.3. Kondisi Ekonomi …………………….…………………… 44
4.1.4. Kondisi Sosial Politik ………….......................................... 47
4.1.5. Pelaksanaan Pilihan Kepala Daerah langsung Kabupaten
Kudus Tahun 2008 ………………………………………. 50
4.2. Proses dan Hasil Analisis ..………................................................. 68
4.2.1. Buruh Pabrik Rokok ……………………………………… 68
4.2.2. Buruh Rokok dan Kegiatan Politik ………………………… 79
4.2.2.1 Perhatian Kaum Buruh Rokok Terhadap Kegiatan
Politik ……………………………………………. 79
4.2.2.2 Upaya Para Calon Merebut Suara Buruh Rokok…… 81
4.2.3. Fakta Perilaku Pemilih Buruh Rokok……………………… 87
4.2.4.1 Pemilih yang memberikan suara…….…………… 88
4.2.4.2 Pemilih yang tidak memberikan suara/Golput…… 114
4.2.4. Harapan Kaum Buruh pada Para Kandidat. …………….. 122
Bab V. Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan.
5.1. Kesimpulan .................................................................................... 129
5.2. Implikasi...........................................................................................134
Daftar Referensi
Lampiran-lampiran
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 : Jumlah Penduduk Kudus per Kecamatan tahun 2007……….. 42
Tabel 4.2 : Profil Industri Kabupaten Kudus tahun 2007. ........................ 44
Tabel 4.3 : Jumlah Penduduk Berdasar Pekerjaan tahun 2007…………. 45
Tabel 4.4 : Setoran Cukai Kabupaten Kudus………………………......... 47
Tabel 4.5 : Jumlah Perolehan Kursi DPRD Kudus dalam Pemilu 1999… 48
Tabel 4.6 : Jumlah Perolehan Kursi DPRD Kudus dalam Pemilu 2004… 49
Tabel 4.7 : Rekapitulasi Jumlah Pemilih Terdaftar Pilkada 2008……… 53
Tabel 4.8 : Daftar Calon Bupati/Wakil Bupati Pilkada 2008…………… 55
Tabel 4.9 : Visi, Misi dan Program Calon dalam Pilkada 2008………… 56
Tabel 4.10 : Hasil Perolehan Suara Pasangan Calon dalam Pilkada 2008 62
Tabel 4.11 : Daftar Pemilih Tetap, Suara Sah, Tidak Sah dan Golput …... 63
Tabel 4.12 : Data Pekerjaan Penduduk Desa Kedungdowo Kaliwungu … 64
Tabel 4.13 : Data Perolehan Suara Pilkada Desa Kedungdowo ………… 65
Tabel 4.14 : Data Partisipasi Pemilih Pilkada Desa Kedungdowo ……… 66
Tabel 4.15 : Data Pekerjaan Penduduk Desa Tanjungkarang Jati……… 67
Tabel 4.16 : Data Perolehan Suara pilkada Desa Tanjung Karang Jati … 68
Tabel 4.17 : Data Partisipasi Pemilih Pilkada Desa Tanjungkarang…….. 68
Tabel 4.18 : Data Jumlah Buruh Rokok di Kudus ……………………… 69
Tabel 4. 19 : Data Jumlah Buruh Rokok Industri Besar di Kudus………… 69
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Kabupaten Kudus..............................................................................
Gambar 2. Gambar Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati peserta Pilkada
Kabupaten Kudus Tahun 2008…….……………………………………
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Jurnal Penelitian Tesis ..........................................................................
Lampiran 2. Pedoman Wawancara …………………………………………………
Lampiran 3. Ringkasan Hasil Transkrip Wawancara ………………………………
Lampiran 4. Ijin Penelitian …………………………………………………………
Lampiran 5. Riwayat Hidup Penyusun ……………………………………………...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung baru
pertama kali untuk Kabupaten Kudus. Proses pelaksanaan pemilihan kepala
daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten Kudus telah berlangsung pada
tanggal 12 April 2008. Memang Pilkada Kabupaten Kudus sudah kita lewati,
akan tetapi banyak catatan menarik yang dapat kita rekam dan kita baca ulang.
Meski diakui memiliki banyak kelemahan dan kekurangan, namun paling tidak
peristiwa politik melalui pemilihan yang terbuka, telah memberi rona baru
dalam wajah demokrasi di negeri ini.
Pelaksanaan Pilkada di Kabupaten Kudus merupakan tonggak sejarah
titik awal dari otonomi secara murni artinya dengan pemilihan kepala daerah
dan wakil kepala daerah secara langsung membuktikan bahwa demokrasi sudah
tumbuh secara murni dilakukan di Kabupaten Kudus.
Pilkada Kabupaten Kudus Tahun 2008 diikuti oleh empat pasangan
yaitu : 1. H. Musthofa Wardoyo / H. Budiyono yang dicalonkan oleh PDI P dan
Partai Golkar, 2. H.M. Heru Fathoni, SP / Drs. Ngatmin Alimanda yang
dicalonkan oleh Partai Demokrat, PNI Marhaenis, Partai Pelopor dan Partai
Karya Peduli Bangsa, 3. Mansyur, SH / H. Agus Darmawan yang dicalonkan
oleh PAN, PBR dan Partai Perhimpunan Indonesia Baru, 4. H.M. Amin
Munadjat, M.Si / H. Akhwan, SH yang dicalonkan oleh PKB.
Melihat peta pertarungan dalam Pilkada Kabupaten Kudus dan
memprediksi siapa yang bakal menjadi pemenang awalnya cukup sulit untuk
dilakukan. Namun setidaknya ada enam variabel yang bisa dijadikan parameter,
yaitu pertama faktor identifikasi calon ( figur yang diusung ), kedua juru
kampanye/sabet, ketiga faktor isyu kampanye/Visi Misi, keempat faktor
insentif/hibah politik, kelima faktor identifikasi partai dan keenam faktor
pressure group atau kelompok penekan. Hal ini terkait dengan seberapa jauh hal
tersebut mempengaruhi perilaku pemilih buruh rokok dalam pemilihan kepala
daerah tersebut.
Melalui hasil Pilkada di Kabupaten Kudus kita harapkan agar seleksi
kepemimpinan yang dilakukan partai-partai oleh masyarakat yang selama ini
hanya dipilih oleh sekian orang, dengan perubahan mekanisme pemilihan yang
ada sekarang, bisa melahirkan pemimpin yang kredibel dan betul-betul untuk
menjadi pemimpin yang dapat membangun dalam kualitas yang maksimal dan
prima.
Dinamika lembaran politik akan semakin berarti bobot kedaulatan
rakyat pola kinerja lembaga-lembaga politik termasuk partai-partai politik,
yakni sebuah diskursus yang berbicara soal bagaimana masyarakat memahami
sekaligus menghayati setiap tarikan nafas, denyut nadi dan detak jantung rakyat
dalam memberikan mandat kekuasaan. Untuk itu kesiapan infrastruktur politik
dan perilaku masyarakat selaku pemilih akan menentukan agenda politik lokal
tersebut berlangsung secara demokratis.
Pada pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten
Kudus yang berlangsung tanggal 12 April 2008, perilaku pemilih sangat sulit
diduga, khususnya para buruh rokok di pedesaan. Sebagaimana diketahui
Kabupaten Kudus dikenal sebagai daerah industri rokok, secara kasar dapat
digambarkan bahwa jumlah pemilih di Kudus berdasarkan Daftar Pemilih Tetap
( DPT ) sebanyak 572.3531) , sedangkan jumlah buruh rokok saja sebanyak
110.000 orang2) , apabila masing – masing membawa satu orang keluarganya
saja maka akan diperoleh 220.000 suara atau 38,43 % , sebuah angka jaminan
untuk memenangkan perebutan suara.
Hal ini sangat disadari oleh kontestan sehingga ada salah satu pasangan
yang berani maju sebagai calon karena mengandalkan suara dari para buruh
rokok tersebut, calon tersebut adalah Mansyur As’ad yang berpasangan dengan
H. Agus Darmawan dari Partai Amanat Nasional. Dalam kegiatan kepartaian
Mansyur adalah sekretaris DPC Partai Demokrat, karena Ketua DPC Partai
Demokrat maju sendiri sebagai calon wakil Bupati, maka Mansyur mencari
kendaraan sendiri untuk maju sebagai calon Bupati dengan keyakinan
memperoleh suara pasti dari kaum buruh rokok.
1)
KPU Kabupaten Kudus.
2)
SPSI Kabupaten Kudus.
Walaupun Mansyur As’ad belum begitu dikenal dalam kegiatan politik
tetapi ayahnya Mohammad As’ad adalah tokoh yang mempunyai jabatan
penting dikalangan sarikat pekerja rokok di Kudus juga dikenal luas dikalangan
pengusaha rokok selama berpuluh tahun. Jabatan Moh As’ad saat ini adalah
Ketua SPSI RTMM ( Sarikat Pekerja Seluruh Indonesia bidang Rokok,
Tembakau, Makanan dan Minuman ) Kabupaten Kudus, sedangkan Mansyur
As’ad saat ini menjabat sebagai Wakil Ketuanya.sehingga Mansyur sangat
yakin dapat memanfaatkan jaringan serikat pekerja dan para pemilik pabrik
rokok.
Tetapi hasil Pilkada ternyata berbicara lain, pasangan nomor urut 1. H
Musthofa Wardoyo / H Budiyono memperoleh suara 133.776 ( 43,88 % ) ,
pasangan nomor urut 2. HM Heru Fathoni / Ngatmin Alimanda memperoleh
suara 18.340 suara ( 6,02 % ), pasangan nomor urut 3. Mansyur As’ad / H Agus
Darmawan memperoleh suara 24.346 ( 7,99 % ), sedangkan pasangan nomor
urut 4. HM Amin Munadjat / H Akhwan Sukandar memperoleh suara sebanyak
128.393 ( 42,11 % ) sisanya yang lain adalah suara tidak sah dan golput (
248.813 atau 43,47 % ).
Pilkada tersebut dimenangkan oleh pasangan nomor urut 1. H.
Musthofa Wardoyo/H. Budiyono dengan 133.776 suara, sedangkan Mansyur
As’ad/H. Agus Darmawan hanya menempati urutan ketiga dengan perolehan
suara hanya 24.346. Suara itupun kemungkinan sebagian besarnya adalah milik
H. Agus Darmawan ( calon wakil bupati ) yang merupakan Ketua DPC PAN
Kabupaten Kudus.
Lalu kemanakah suara kaum buruh rokok yang jumlahnya 110.000 ?
Penelitian tentang perilaku pemilih buruh rokok di Kudus sangat menarik untuk
dilaksanakan. Apa yang sesungguhnya mempengaruhi pilihan kaum buruh
rokok dalam Pilkada Kudus tahun 2008. Apa yang menjadi sebab dan
pengaruhnya. Hal inilah yang sangat menarik untuk diteliti.
Karena berbagai keterbatasan, maka penelitian ini akan mengambil
sampel hanya di dua Kecamatan dan masing masing diambil satu Desa yang
merupakan lingkungan buruh rokok, yaitu Desa Kedung Dowo Kecamatan
Kaliwungu dan Desa Tanjung Karang Kecamatan Jati.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian tentang latar belakang tersebut diatas maka
masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan :
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemilih buruh rokok
dalam pemilihan kepala daerah langsung di Kabupaten Kudus.
2. Apa saja harapan buruh rokok terhadap kandidat pilkada Kabupaten Kudus.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut di atas, tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Pertama : Mengetahui dan mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang
mempengaruhi perilaku pemilih buruh rokok dalam pelaksanaan
pilkada langsung di Kabupaten Kudus.
Kedua : Untuk mengetahui apa yang diharapkan dari kaum buruh rokok
dari para cabup/cawabup dalam pilkada langsung.
BAB II
TELAAH PUSTAKA
Landasan teoritis dalam penelitian sangat diperlukan agar hasil penelitian
dapat diakui kebenarannya secara ilmiah, maka pada bab ini diuraikan tentang
landasan teoritis yang meliputi kerangka konseptual, pemilihan kepala daerah
langsung wujud demokrasi tingkat lokal, definisi konseptual, definisi operasional.
2.1 Kerangka Konseptual
Dalam kaitannya dengan perilaku pemilih di negara demokrasi menurut
3)
Afan Gaffar (1992) ada dua paradigma model, yaitu model sosiologi dan
model psikologi. Pendekatan sosiologi melihat masyarakat melalui status
hirarki, pendukung kelompok ini percaya bahwa masyarakat adalah sebuah
sistem yang bertingkat dan bahwa pekerjaan dan kedudukan individu
berhubungan erat dengan perilaku pemilihan. Pendekatan sosiologi berasumsi
bahwa kecenderungan lebih suka pilihan tertentu sebagai kesukaan dalam
memberikan suara adalah hasil dari ciri-ciri latar belakang ekonomi sosial
seperti pekerjaan, kelas, agama dan lain-lain. Kekuatan struktur ekonomi sosial
3)
Afan Ghaffar, “ Javanese Voters “ Gajah Mada Press, Yogyakarta, hlm 4
tradisional di masyarakat pedesaan merupakan perilaku pemilih masyarakat
petani.
Paradigma kedua model psikologi ini berkembang sebagai respon atas
kekurangan pada paradigma sosiologi dengan memberikan catatan kelemahan
kerangka analisa sosiologi terutama dari segi metodologi. Kelas atau status
sosial juga sangat penting dalam menjelaskan perilaku pemilihan di pedesaan.
Orang yang berkedudukan kaya lebih banyak mempunyai otonomi dalam
memberikan suara pada yang disukainya daripada petani miskin, demikian juga
orang-orang desa cenderung mengikuti pemimpin mereka karena mereka
menghormati dan mempercayainya.
Dua paradigma tersebut hampir sama dengan pendapat Adman Nursal
4)
bahkan lebih diperjelas dan diperinci, yaitu :
“Ada beberapa pendekatan untuk melihat perilaku pemilih :
- Pendekatan sosiologis (madzhab Columbia)
- Pendekatan psikologis (madzhab Michigan)
- Pendekatan rasional
- Pendekatan domain kognitif (pendekatan marketing)
Pendekatan Sosiologis :
4)
Adman Nursal, 2004, “Political Marketing, Strategi Memenangkan Pemilu, Sebuah Pendekatan
Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPD, Presiden”, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, , hlm. 54
Telah dikemukakan bahwa struktur tertentu mempunyai kognisi sosial
tertentu yang pada akhirnya bermuara pada perilaku tertentu. Kognisi yang
sama antara anggota subkultur terjadi karena sepanjang hidup mereka
dipengaruhi lingkungan fisik dan sosiokultural yang yang relatif sama. Mereka
dipengaruhi oleh kelompok-kelompok referensi yang sama. Karena itu mereka
memiliki kepercayaan nilai dan harapan yang juga relatif sama; termasuk dalam
kaitannya dengan preferensi politik. Dengan pendekatan ini para anggota
subkultur yang sama cenderung mempunyai preferensiyang sama pula.
Menurut madzhab Columbia pendekatan sosiologis pada dasarnya
menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan sosial, usia, jenis
kelamin, agama, pekerjaan, latar belakang keluarga, kegatan-kegiatan dalam
kelompok formal dan informal dan lainnya memberi pengaruh cukup signifikan
terhadap pembentukan perilaku pemilih. Kelompok-kelompok sosial itu
memiliki peranan besar dalam membentuk sikap, persepsi dan orientasi
seseorang.
Pendekatan Psikologis :
Pendekatan sosiologis tidak memuaskan semua pakar politik.
Kelemahan pendekatan sosiologis antara lain terletak pada sulitnya mengukur
secara tepat indikator kelas sosial, tingkat pendidikan dan agama secara materi
patut dipersoalkan, apakah benar variabel-variabel sosiologis seperti status
sosial ekonomi keluarga, kelompok-kelompok primer dan sekunder itu memberi
sumbangan pada perilaku pemilih jika ada proses sosialisasi. Untuk itu
sosialisasilah yang sebenarnya menentukan bukan karakteristik sosiologis.
Karena kelemahan itu, muncul perilaku pemilih berdasarkan
pendekatan psikologis, juga sering disebut madzhab Michigan. Pendekatan ini
menggarisbawahi adanya sikap politik para pemberi suara yang menetap. Teori
ini dilandasi oleh sikap dan sosialisasi. Sikap seseorang sangat mempengaruhi
sikap politiknya. Sikap itu terbentuk melalui sosialisasi yang berlangsung lama,
bahkan bisa ada sejak seorang calon pemilih masih berusia dini. Pada usia dini
seorang calon pemilih telah menerima pengaruh politik dari orang tuanya, baik
dari komunikasi langsung maupun dari pandangan politiknya yang
diekspresikan orang tuanya. Sikap tersebut menjadi lebih mantap ketika
menghadapi pengaruh berbagai kelompok acuan seperti pekerjaan, kelompok
pengajian, dan sebagainya. Proses panjang sosialisasi itu kemudian membentuk
ikatan yang kuat dengan partai politik atau organisasi kemasyarakatan lainnya.
Pendekatan ini menjelaskan bahwa sikap seseorang merupakan refleksi
dari kepribadian seseorang yang menjadi variabel yang cukup menentukan
dalam mempengaruhi perilaku politik seseorang. Oleh karena itu pendekatan
psikologis menekankan pada tiga aspek psikologis sebagai kajian utama, yaitu
ikatan emosional pada suatu partai politik, orientasi terhadap isu – isu dan
orientasi terhadap kandidat.
Pendekatan Rasional :
Pada kenyataannya, sebagian pemilih mengubah pilihan politiknya dari
satu pemilu ke pemilu lainnya. Peristiwa-peristiwa politik tertentu bisa saja
mengubah preferensi pilihan politik seseorang. Komunikasi politik dengan
substansi dan strategi yang tepat mungkin saja mempengaruhi pilihan
seseorang. Pengubahan ini meskipun harus melalui usaha yang keras, bukan hal
yang mustahil.
Pendekatan rasional itu para pemilih benar-benar rasional. Para pemilih
melakukan penilaian yang valid terhadap tawaran partai. Pemilih rasional itu
memiliki motivasi, prinsip, pengetahuan dan mendapat informasi yang cukup.
Tindakan mereka bukanlah faktor kebetulan atau kebisaaan, bukan untuk
kepentingan sendiri melainkan untuk kepentingan umum, menurut
pertimbangan dan pikiran yang logis. Pendekatan rasional, melihat bahwa
pemilih akan menentukan pilihan berdasarkan penilaiannya terhadap isu – isu
politik dan kandidat yang diajukan, artinya para pemilih dapat menentukan
pilihannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional. Dengan demikian,
perilaku pemilih berdasarkan pertimbangan rasional tidak hanya berupa
memilih alternatif yang paling menguntungkan atau mendatangkan kerugian
yang paling sedikit, tetapi juga dalam memilih alternatif yang menimbulkan
resiko yang paling kecil yang penting mendahulukan selamat. Oleh karena itu,
diasumsikan para pemilih mempunyai kemampuan untuk menilai isu-isu politik
yang diajukan, begitu juga mampu menilai calon atau kandidat yang
ditampilkan. Penilaian rasional terhadap isu politik atau kandidat ini dapat
didasarkan pada jabatan, informasi, dan pribadi yang populer atas prestasi yang
dimilikinya. Menurut Situngkir ( Situngkir, Hokki,2004, hlm 75 ) bahwa
pendekatan rasional dilandasi oleh asas manfaat yang akan diperoleh pemilih.
Secara sederhana pendekatan ini memilikilankah-langkah dalam menentukan
pilihannya. Pertama, kalkulasi keuntungan total yang diperoleh untuk masing-
masing kemenangan kandidat bagi agen pemilih. Kedua, membuat urutan
kandidat yang paling menguntungkan hingga yang paling tidak menguntungkan.
Ketiga, menentukan pilihan pada yang paling menguntungkan.
Pendekatan Marketing :
Dalam mengembangkan model tersebut mereka menggunakan
sejumlah kepercayaan kognitif yang berasal dari berbagai sumber seperti
pemilih, komunikasi dari mulut ke mulut dan media massa. Model ini
dikembangkan untuk menerangkan dalam memprediksi pemilih.
Seymour Martin Lipset (1963)5) berpendapat bahwa di dunia demokrasi
barat, pemilihan dapat menjadi ungkapan pergolakan kelas demokrasi,
kelompok pekerja, dan golongan rendah dari masyarakat yang cenderung
mendukung partai haluan kanan.
Di Jawa bagaimanapun merupakan bagian dari dunia ketiga. Strata
sosial berdasarkan kelasnya agaknya lebih halus, dan anggapan kelas subyektif
belum diketahui oleh orang desa.
5)
Dalam Afan Ghaffar “ Javanese Voters “ hlm. 9
Sulit untuk dipercaya pada model perilaku umum pemilihan di
Amerika yang dikembangkan oleh Michigan School, Campbel dan
kelompoknya (1966)6) ada variabel penting yang menentukan bagaimana orang
Amerika lebih suka memberikan suara yaitu partai yang sama, tujuan yang sama
dan perilaku kandidat. Di Indonesia, meskipun hasilnya sangat tinggi karena
peraturan pemerintah pada saat itu melarang partai oposisi untuk mengkritik
pemegang jabatan utama dengan bebas memilih. Pemerintah mendukung orang-
orang nasionalis untuk menjadi kandidat.
Karl Jackson Parangin-angin (1980) memberikan analisis orang-orang
Sunda di Jawa Barat dalam perlawanan Darul Islam pada tahun 1948-1962 M,
analisisnya berdasarkan pada konsep otoritas tradisional yang diperkuat oleh
Selo Soemarjan (1963), Koentjoroningrat (1967)Donald Fagg (1958) Hofstede
7)
(1971) dan Sarto Kartodirjo (1984) juga menerapkan konsep ini dalam
menganalisa struktur kekuasaan di Indonesia, yang mereka temukan adalah
pembentukan fenomena sosial umum di masyarakat jawa. Ada kekuatan yang
berpengaruh di belakang kepemimpinan adalah kekuasaan tradisional penduduk
desa di Jawa. Seorang analis politik Indonesia Harry Tjan Silalahi menyatakan
bahwa faktor terbesar yang menjelaskan perilaku pemilih di Indonesia adalah
6)
ibid, hlm. 10
7)
Afan Ghaffar,op.cit. hlm. 12
aturan yang berlaku yang dipengaruhi oleh “traditional authority” dengan
bentuk-bentuk dari “paternalisme of “bapakisme” (1977)8)
Traditional authority tersebut dalam bentuk yang ada di masyarakat
Jawa dapat berupa lurah atau kepala desa yang merupakan pemimpin formal,
juga dalam bentuk pemimpin tidak formal seperti ulama, Kiyai, para guru
bahkan dukun-dukun yang ada di desa cukup mempunyai pengaruh. Hal ini
senada dengan pendapat Koentjaranigrat9)
Lurah adalah penghubung antara penduduk desa dan pejabat eselon
pemerintah yang lebih tinggi. Lurah sebagai penghubung komunikasi
pemerintah dan dunia luar kepada penduduk desa secara umum dan secara
individual melalui administrasi desa dan bahkan komunikasi melalui surat
dengan pengawasan orang tertinggi selain pemimpin resmi, ada pula pemimpin
tak resmi yang posisinya mencakup latar belakang dan pengaruhnya. Bentuk
lain dari pemimpin tak resmi adalah mereka yang berdakwah agama, misalnya
kiyai atau ulama. Pemimpin tersebut sangat dihormati karena penguasaan
mereka akan syariah agama (hukum Islam).
Pemimpin lain yang juga dihormati di kalangan masyarakat adalah
guru. Guru adalah seseorang yang fungsinya sebagai guru spiritual atau bisa
disebut sebagai dukun.


Use: 0.1335