• DIKTAT KULIAH ILMU EKONOMI PRODUKSI


  •   
  • FileName: DIKTAT_KULIAH_ekpro.pdf [read-online]
    • Abstract: aljabar yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu fungsi produksi. ... penelitilah yang mempunyai tugas untuk menemukan fungsi produksi di setiap keadaan. usaha. Bentuk persamaan aljabar yang menyatakan fungsi produksi seperti diatas perlu. disempurnakan dengan menentukan konstanta dari a dan b secara ...

Download the ebook

DIKTAT KULIAH
ILMU EKONOMI PRODUKSI
Oleh :
Ir. Djoko Sumarjono, MS.
PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2004
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas terselesaikannya Diktat
Kuliah Ilmu Ekonomi Produksi. Diktat kuliah ini disusun berdasarkan konsep dan
pustaka yang penulis pandang relevan untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar ekonomi
produksi yang nantinya merupakan suatu keahlian dari sarjana peternakan. Tentu saja
isi diktat ini sangat singkat, oleh karena itu membaca pustaka asli sangat dianjurkan
bagi mahasiswa sehingga cakrawala berpikir ekonomi produksi lebih luas dan
mendalam.
Secara tekhnis, materi kuliah tercakup dalam 7 pokok bahasan yang
direncaanakan selesai dalam 14 kali kuliah tatap muka di kelas, 6 kali tugas terstruktur,
1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester. Evaluasi akhir merupakan
niali kumulatif dari nilai tugas tersruktur (20%), nilai ujian tengah semester (40%), dan
nilai ujian akhir semester (40%).
Penulis mengharapkan diktat ini dapat dipandang sebagai upaya agar
mahasiswa lebih mudah untuk menjadi tahu, mau, dan akhirnya mampu menyelesaikan
persoalan-persoalan dalam lingkup ekonomi produksi bidang peternakan.
Semarang, April 2004
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk Tuhan dikarunia akal, sehingga mampu mengatur
kehidupannya dan hidup berdampingan untuk memenuhi kebutuhannya. Banyak
kebutuhan manusia untuk hidup, antara lain kebutuhan pangan, sandang, papan,
kesehatan, pekerjaan, keamanan, dan keadilan. Hewan, ialah binatang yang hidup di
darat baik yang dipelihara maupun yang hidup secara liar dan dapat didayagunakan
oleh manusia dalam wujud “peternakan” untuk dapat memberikan produksi (daging,
telur, susu), lapangan pekerjaan, pendapatan, keperluan adat istiadat, agama,
kesenangan/hobbi. Misalnya : “Karapan sapi “ di pulau Madura, Aduan Domba di
Priangan, “Makepung Kerbau” di Pulau Sulawesi, dan Pemeliharaan Aneka ternak
unggas.
Tanah air Indonesia mempunyai potensi yang sangat besardalam bidang
peternakan dan hewan. Karunia Tuhan tersebut wajib disyukuri dengan
mendayagunakan sumber daya yang ada agar dapat dicapai manfaat yang sebesar-
besarnya bagi kesejahteraan masyarakat. Pengembangan bidang peternakan akhir-
akhir ini semakin menjadi perhatian penting karena :
1. Adanya program diversifikasi pangan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat,
yang mana dalam kaitan ini peternakan merupakan sumber produksi pangan
berkualitas tinggi.
2. Permintaan konsumsi masyarakat akan produk peternakan masih jauh melebihi
persediaan yang ada.
3. Usaha ternak di pedesaan mampu memberikan tambahan pendapatan dan
lapangan pekerjaan bagi keluarga petani dan masyarakat.
Upaya mendayagunakan hewan dengan sebaik-baiknya tidaklah mudah, oleh
karena itu perlu adanya suatu pengetahuan yang mantap dan berkembang sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tegnologi. Peran Fakultas Peternakan
sangat besar untuk memberikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada
masyarakat agar tahu, mau, dan mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan
pengembangan usaha ternak.
Berdasarkan Undang-Undang No. 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan–Ketentuan
Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang disebut peternakan adalah
pengusahaan ternak. Pengertian ternak ialah hewan peliharaan, yang kehidupannya
mengenai tempat, perkembangbiakan serta manfaatnya diatur dan diawasi oleh
manusia serta dipelihara khusus sebagai penghasil bahan dan jasa yang berguna bagi
kepentingan hidup manusia. Secara garis besar, bidang peternakan menyangkut aspek
kesejahteraan hidup hewan, aspek teknologi, dan aspek sosial ekonomi (Zoo-techno-
socio-economics). Aspek tersebut menjadi mata ajaran sebagai pengetahuan yang
mantap berupa Ilmu Pengetahuan Peternakan. Ilmu tersebut minimal harus dikuasai
oleh seorang yang menyandang gelar Sarjana Peternakan.
Mata kuliah Ilmu Ekonomi Produksi diajarkan pada mahasiswa Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro dalam semester III dengan bobot Satuan Kredit
Semester (SKS) : 3. Mata kuliah diharapkan pada setiap Sarjana Peternakan mampu
berpikir ekonomi pada produksi peternakan. Adapun keterkaitan mata kuliah Ilmu
Ekonomi Produksi dengan mata kuliah lain yang terdapat di Fakultas Peternakan
Universitas Diponegoro secara garis besar dibuat bagan seperti Bagan 1.
PENGETAHUAN S-1 PETERNAKAN
MATA KULIAH MATA KULIAH MATA KULIAH MATA KULIAH
SOSIAL ZOOTEKNIS NUT. & MAK TEGNOLOGI
EKONOMI TERNAK
USPET KOP
MKK
EKM. PROD TATA NIAGA
PIE, PIP, MATH, STAT MDKK
Bagan 1. Keterkaitan Mata Kuliah Ilmu Ekonomi Produksi dengan Mata Kuliah Lain
yang Terdapat di Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.
Keterangan :
• USPET : Usaha Peternakan
• KOP : Koperasi dan Kewirausahaan
• PIE : Pengantar Ilmu Ekonomi
• PIP : Pengantar Ilmu Peternakan
• MATH : Matematika
• STAT : Statistika
• MKK : Mata kuliah Keahlian
• MKDK : Mata Kuliah Dasar Keahlian
1.2. Permasalahan Dalam Ekonomi Produksi
Seperti halnya telaah mengenai masalah ekonomi secara umum, maslah
ekonomi produksi timbul karena adanya keinginan/kebutuhan untuk berproduksi di satu
pihak sedangkan pihak yang lain yaitu sumberdaya tersedia dalam jumlah yang sangat
terbatas (langka). Pengetahuan ekonomi produksi memberi “Landasan teoritis Mengenai
Bagaimana Seorang Produsen Mengambil Keputusan Optimasi” terutama dalam hal :
1. Bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang terbatas dengan suatu aktifitas yang
optimum untuk mendapatkan laba (profit) yang maksimum,
2. Bagaimana upaya memaksimumkan output sedangkan inputnya dalam kondisi tetap
3. Bagaimana meminimumkan input pada kondisi output yang tetap.
1.3. Pendekatan Pemecahan Masalah Ekonomi Produksi
Tiga masalah utama dalam Ilmu Ekonomi Produksi didekati dengan memberikan
Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk satu semester agar mahasiswa mampu berpikir
taraf 6 (evaluasi). Dalam SAP, secara rinci disebutkan mengenai Pokok Bahasan,
Tinjauan Instruksional Umum (TIU), Tinjauan Instruksional Khusus (TIK), Kegiatan
Pengampu dan Mahasiswa, serta peralatan yang digunakan termasuk diktat teori.
Kemantapan pengetahuan mahasiswa tentang Ekonomi Produksii dievaluasi
dengan tugas terstuktur, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester dengan
pedoman “Pedoman Acuan Normal” : PAN. Keterkaitan setiap pokok bahasan mata
kuliah Ilmu Ekonomi Produksi untuk landasan pengambilan keputusan Optimasi dibuat
bagan seperti bagan 2.
Pengetahuan Ekonomi Produksi
TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN OPTIMASI
1. Pokok Bahasan IV : Optimasi Input - Output
2. Pokok Bahasan V : Optimasi Input - Input
3. Pokok Bahasan VI : Optimasi Output - Output
4. Pokok Bahasan VII : Optimasi Perusahaan Firm
PRODUKSI BIAYA PRODUKSI
Pokok Bahasan II : Produksi Pkk. Bhs. II :
:Biaya Prod.
Pkk. Bahasan I : Segi Ekm. Dari Prod Petern.
SEGI EKONOMI DARI PRODUKSI
Bagan 2. Keterkaitan Setiap Pokok Bahasan Mata Kuliah Ekonomi Produksi di Fakultas
Peternakan Universitas Diponegoro.
BAB II
POKOK BAHASAN I : SEGI EKONOMI DARI PRODUKSI
A. Materi Pokok Bahasan Segi Ekonomi dari Produksi adalah :
1. Pengertian istilah ekonomi dan produksi,
2. Tujuan mempelajari pengetahuan ekonomi di bidang produksi,
3. Ruang lingkup ekonomi produksi peternakan,
4. Konsep-konsep dan hukum-hukum ekonomi yang umum dipakai.
B. Tujuan Instruksional Umum :
Pada akhir kuliah, mahasiswa mampu berpikir taraf 1, yaitu dapat tahu mengenai
istilah umum, tujuan, ruang lingkup dan konsep-konsep dasar serta hukum-hukum
ekonomi produksi.
C. Tujuan Instruksional Khusus :
Pada akhir kuliah, mahasiswa dapat :
1. Mendefinisikan istilah ekonomi produksi,
2. Mengidentifikasikan persoalan yang masuk bidang ekonomi produksi,
3. Menyatakan kembali konsep-konsep dasar dan hukum-hukum ekonomi yang
umum berlaku
D. Kegiatan :
Bagi Pengampu adalah memberi kuliah tatap muka dalam kelas dan belajar mandiri.
Bagi mahasiswa harus mengikuti kuliah dan belajar mandiri/berkelompok di luar
kelas.
E. Peralatan :
Papan tulis, kapur tulis, pengejar suara, OHP-OHT, dan diktat kuliah.
F. Teori
F. 1. Pengertian Istilah Ekonomi dan Produksi
Istilah ekonomi yang kita kenal saat ini berasal dari kata “Oikonomie” yang ditulis
oleh Aristoteles dalam kitabnya yang berjudul “Negara”. Di dalam kitab itu dibedakan
antara arti oikonomi yang menyelidiki peraturan-peraturan rumah tangga dan
“Chremastiti” yang mempelajari peraturan-peraturan tukar-menukar. Aristoteles dengan
kitabnya itu telah diakui sebagai kaum perintis jalan bagi ekonomi yang bersifat teori.
Peraturan-peraturan rumah tangga mengandung makna bahwa kepala rumah
tangga mengandung makna bahwa kepala rumah tangganya. Jika suatu “oikos” (rumah
tangga) mempunyai kelebihan sesuatu, maka sudah menjadi kewajaran untuk
dipertukarkan dengan barang dan jasa lain yang berlebihan di rumah tangga yang lain.
Dalam perkembangan lebih lanjut, pengetahuan ekonomi telah menjadi suatu “ilmu
pengetahuan” karena memiliki sifat-sifat “ilmu” yaitu :
1. Pengetahuan ekonomi diperoleh dengan metode/tata cara ilmiah. Metode ilmiah
menekankan pada keruntutan berpikir (sistematika), asumsi atau anggapan untuk
berlakunya pengetahuan yang diperoleh, dan pengujian di alam yang nyata.
2. Pengetahuan ekonomi mampu menjelaskan fenomena/gejala di alam yang nyata
menjadi suatu abstraksi/sari yang bersifat general (berlaku umum).
3. Pengetahuan ekonomi mampu memprediksikan/memperkirakan kejadian yang akan
datang. Dalam hal ini tentu saja harus didukung oleh asumsi dasarnya karena sering
prediksi tidak cocok disebabkan asumsi tersebut tidak berlaku lagi.
Ilmu ekonomi termasuk golongan Ilmu Sosial dan adakalanya dinamakan “ratu”
ilmu-ilmu sosial mengingat di dalam kelompok ilmu-ilmu sosial tersebut ilmu ekonomilah
yang pertama menggunakan metode kuantitatif dalam analisa-analisanya. Perhatian
yang utama dalam Ilmu Ekonomi adalah untuk menelaah “Bagaimana seharusnya
menggunakan sumberdaya yang terbatas untuk memenuhi kepuasan akhir”. Sekarang
ini ada banyak definisi mengenai Ilmu Ekonomi. Samuelson, P. A (1973) dalam buku
“Ekonomics” mendefinisikan Ilmu Ekonomi sebagai berikut :
“Ilmu ekonomi adalah suatu telaah mengenai bagaimana seharusnya
manusia/masyarakat menentukan pilihannya, baik dengan atau tanpa menggunakan
uang dalam menggunakan sumberdaya yang terbatas jumlahnya dan yang mempunyai
alternatif penggunaan untuk menghasilkan barang serta jasa kemudian
menyebarkannya baik untuk keperluan sekarang atau masa yang akan datang di antara
anggota-anggota masyarakat”.
Definisi lain dapat dibuat sebagai berikut :
“ Ilmu Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam upaya memenuhi
kebutuhan materiil sepuasnya-puasnya dengan sumberdaya yang terbatas:.
Hal penting yang harus menjadi perhatian bagi mahasiswa adalah bahwa :
“Definisi bukanlah Hukum, melainkan keterangan pemakaian kata yang didefinisikan
tersebut”. Dengan demikian sudah sewajarnya setiap orang dapat mendefinisikan
berdasarkan pengertiannya masing-masing untuk membuat perkataan maupun
pernyataan yang diungkapkan. Perkataan Ekonomi dapat didefinisikan dengan baik jika
definisi itu terdapat ungkapan :
1. Kebutuhan materiil (barang dan jasa yang dapat di ukur) yang harus dipuaskan.
2. Sumberdaya (alam, tenaga kerja, modal, kecakapan) yang tebatas (langka) jumlah
dan kwalitas
3. Adanya upaya (aktifitas) manusia untuk memenuhi kebutuhan materiil tersebut.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan, manusia memerlukan barang dan jasa.
Barang dan jasa tersebut tidak tersedia begitu saja, tetapi harus dibuat dengan
pengorbanan tertentu. Daging sapi yang menjadi bahan pangan untuk kepuasan
manusia tidak tersedia secara langsung tetapi melalui proses yang panjang. Bermula
dari rumput kemudian melibatkan kegiatan manusia untuk mengelola lahan, sapi dan
modal sampai menjadi daging yang siap dimakan telah terjadi perubahan bentuk, sifat,
tempat dan waktu. Perubahan-perubahan tersebut mengarah pada suatu perubahan
barang dan jasa yang kurang berguna menjadi barang yang lebih berguna untuk
memenuhi kepuasan manusia.
Produksi dalam artian yang umum didefinisikan sebagai segala kegiatan yang
ditujukan untuk menciptakan atau menambah guna atas suatu benda untuk memenuhi
kebutuhan kepuasan manusia. Setiap proses untuk menghasilkan barang dan jasa
dinamakan “Proses Produksi”. Produksi dalam artian lebih “operasional” adalah suatu
proses dimana satu atau beberapa barang dan jasa yang di sebut “input” diubah
menjadi barang dan jasa yang di sebut “output”.
Banyak jenis kegiatan yang terjadi dalam proses produksi karena ada perubahan
bentuk, tempat, dan waktu penggunaan hasil-hasil produksi. Masing-masing perubahan
tersebut menentukan penggunaan input untuk menghasilkan output yang diinginkan.
Ekonomi Produksi dapat diartikan sebagai “Peraturan rumah tangga di bidang produksi
oleh karena terbatasnya sumberdaya sedangkan kebutuhan produsen tidak kunjung
dipuaskan”.
F. 2. Tujuan Mempelajari Ekonomi Produksi
Mata kuliah Ekonomi Produksi memberiakn landasan teoritis tentang bagaimana
seorang produsen menentukan keputusan optimasi kegiatan produksinya berdasarkan
prinsip-prinsip ekonomi. Optimasi kegiatan produksi mengandung pengertian bahwa
produsen selalu mengambil keputusan yang optimal dalam bekerja. Keputusan yang
optimal adalah bekerja dengan kuantitas dan harga produk yang mendatangkan
keuntungan maksimum atau jika rugi maka kerugian tersebut harus minimum.
Optimasi kegiatan produksi mencakup optimasi input-output, input-input, output-
output, dan optimasi suatu perusahaan (firm). Disamping bahasan optimasi yang
merupakan puncak pengetahuan ekonomi produksi, maka dibahas pula mengenai teori
produksi dan biaya produksi sebagai landasan untuk menuju optimasi kegiatan produksi.
F.3. Ruang Lingkup Ekonomi Produksi Peternakan
Secara khusus, ruang lingkup ekonomi produksi peternakan mencakup telaah
kegiatan ekonomi di bidang produksi peternakan yang dimulai dari adanya kegiatan
memasukkan input kemudian diakhiri setelah output dikeluarkan oleh produsen. Di
bidang peternakan, output yang utama adalah air susu bagi usaha sapi perah, daging
bagi usaha sapi kareman, dan ayam, telur bagi usaha itik dan unggas lainnya.
Sedangkan yang termasuk input adalah lahan, bibit ternak, pakan, obat-obatan,
peralatan, bahan bakar, tenaga kerja, modal bangunan dan uang. Batasan ruang
lingkup tersebut penting dikemukakan mengingat “makna produksi” secara mendasar
dapat mencakup semua kegiatan yang memasukkan input untuk mendapat output.
F.4. Konsep dan Hukum Ekonomi Produksi
Konsep adalah lambang-lambang yang dipergunakan untuk menyatakan buah
pikiran yang mempunyai arti khusus. Sedangkan hukum adalah peraturan-peraturan
tentang sesuatu hal yang telah disepakati kebenarannya. Konsep dan hukum ekonomi
di bidang produksi yang sering dijumpai di bab yang lebih lanjut adalah sebagai berikut :
1. Konsep Efisiensi
Ada dua konsep efisiensi dalam penyelenggaraan produksi yaitu efisiensi teknis dan
ekonomis. Efisiensi teknis menyatakan perbandingan output fisik dengan input fisik
telah mencapai maksimum. Efisiensi ekonomis menyatakan kondisi proses produksi
elah mencapai keuntungan yang maksimum berupa nilai uang (bukan berupa hasil
produk fisik).
2. Konsep Biaya Alternatif Terbaik/Opportunity Cost
Opportunity Cost adalah nilai produk yang tidak diproduksikan karena inputnya telah
digunakan untuk menghasilkan produk lain. Jika input X telah digunakan untuk
produksi Y1 dengan laba Rp 1000,-, sedangkan penggunaan input X untuk produksi
alternatifnya Y2 adalah Rp 2000,-, maka Opportunity Cost Y1 adalah Rp 2000,-. (Rp
2000,- adalah laba terbaik dari laba yang mungkin dapat diperoleh).
3. Konsep Keuntungan Maksimum dan Kerugian Minimum
Keuntungan maksimum dan kerugian minimum merupakan perwujudan perilaku
produsen yang mengejar kepuasan maksimum dari apa yang dikerjakan. Dengan
menggunakan konsep tersebut memudahkan analisis kuantitatif dari perilaku
produsen yang bersifat abstrak.
4. Konsep Optimasi
Optimasi adalah keputusan produsen bekerja dengan optimal (optimum = seimbang
= baik). Keadaan ini tercapai jika keuntungan maksimum tercapai atau dalam
kerugian minimum.
5. Konsep Jangka Waktu Produksi
Ada dua jangka waktu yang menjadi perhatian dalam analisis produksi yaitu jangka
pendek (Short Run) dan jangka panjang (Long Run). Short Run adalah waktu yang
cukup lamauntuk mengubah output tanpa mengubah kapasitas usaha (perusahaan).
Sedangkan Long Rn adalah jangka waktu yang cukup lama untuk mengubah output
dengan mengubah kapasitas usaha (perusahaan).
6. Konsep Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar adalah bekerjanya perekonomian melalui pasar. Dalam
mekanisme pasar, tingkat harga ditentukan oleh kebebasan bertindak agen-agen
ekonomi yang menghasilkan kekuatan permintaan dan penawaran.
7. Konsep Marjinal/Marginal
Konsep adalah perbandingan antara nilai tambahan produk dengan nilai tambahan
satu satuan input. Konsep ini untuk menentukan tingkat optimalisasi produksi.
8. Law of Increasing Return
Hukum ini menyatakan bahwa setiap penambahan input kepada input yang tetap,
akan menghasilkan tambahan output yang semakin besar dibanding tambahan
inputnya.
9. Law of Diminishing Return
Hukum ini menyatakan bahwa setiap penambahan input kepada input yang tetap
akan menghasilkan tambahan output yang semakin lama menjadi semakin kecil
dibandingkan tambahan inputnya.
10. Law of Decreashing Return
Hukum ini menyatakan bahwa setiap penambahan input kepada input yang tetap
akan menghasilkan penurunan output yang semakin lama menjadi semakin besar
dibandingkan tambahan inputnya.
11. Economics of Scale dan Diseconomic of Scale
Economics of Scale adalah penghematan kegiatan produksi karena skala usaha
menjadi lebih besar. Sedangkan Diseconomic of Scale adalah pemborosan kegiatan
produksi karena skala usaha menjadi lebih besar
G. Pustaka yang Menunjang Pemahaman
Bishop, C. E. dan Toussaint, W. D. 1979. Pengantar Analisa Ekonomi Pertanian.
Mutiara. Jakarta. h : 28 – 47.
Boediono. 1982. Ekonomi Mikro. Seri Sinopsis Ilmu-ilmu Ekonomi. BPFE-UGM.
Yogyakarta. H : 1 - 4.
Ferguson, C. E. Dan Gould JP. 1975. Micro Economic Theory. Richard D. Irwin Inc.
Homewood. Illinois. England. H : 1 – 6.
Partadiredja, A. 1981. Pengantar Ekonomika. BPFE – UGM. Yogyakarta. H : 21 – 23.
Sudarman, A. 1980. Teori Ekonomi Mikro. BPFE – UGM. Yogyakarta. H : 1 – 3.
Samuelson, PA. 1973. Economics. 9th Edition. Tokyo. Mc. Graw Hill Kogakusha. H : 3.
Zimmerman, L. J. 1967. Sejarah Pendapat-pendapat Tentang Ekonomi. Sumur
Bandung. Bandung. H : 1-3.
H. Tugas
1. Jelaskan definisi Ekonomi Produksi!
2. Jelaskan persoalan yang termasuk lingkup Ekonomi Produksi!
3. Jelaskan pengertian Law of Increasing Return, Law of Diminishing Return, Law Of
Decreashing Return, dan Optimasi kegiatan produksi!
.
BAB III
POKOK BAHASAN II : PRODUKSI
A. Materi Pokok Bahasan Produksi adalah :
1. Kaitan faktor produksi dengan produksi
2. Fungsi produksi dan kurva produksi
3. Elastisitas produksi
4. Istilah hubungan produk dengan inputnya
B. Tujuan Instruksional Umum adalah sebagai berikut :
Pada akhir kuliah, mahasiswa diharapkan mampu berpikir taraf 3, yaitu dapat
menerapkan teori dengan menggambarkan perilaku hubungan produk dengan
inputnya pada produksi.
C. Tujuan Instruksional Khusus adalah agar mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan kembali berdasar presepsi mahasiswa tentang kaitan faktor
produksi dengan produksinya
2. Membedakan produk dan faktor-faktor produksinya
3. Menghitung per unit input dengan teliti
4. melukiskan kurva produksi
D. Kegiatan :
Bagi pengampu adalah memberi kuliah tatap muka dalam kelas, memberi tugas
terstruktur, belajar dan mengevaluasi. Bagi mahasiswa, diharuskan mengikuti kuliah,
menjalankan tugas terstruktur belajar mandiri/berkelompok.
E. Peralatan :
Papan tulis, kapur tulis, pengeras suara, OHP – OHT dan diktat kuliah.
F. Teori :
F.1. Kaitan Faktor Produksi dengan Produksi
Telah dijelaskan dalam Pokok Bahasan I, bahwa produksi melibatkan aktivitas
memasukkan barang dan jasa yang dinamakan input untuk memperoleh barang dan
jasa lain yang dinamakan output. Input dan output merupakan barang dan jasa yang
belum dinilai dengan satuan harga, jadi masih dalam wujud satuan fisik seperti apa
adanya.
Istilah yang populer dari input adalah sumberdaya. Ada banyak sekali
sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk dan dapat digolongkan
menjadi empat golongan besar, yaitu :
1. Sumberdaya alam : lahan, air, cuaca dan iklim.
2. Sumberdaya manusia : kuantitas dan kualitas tenaga kerja.
3. Sumberdaya tanaman dan hewan : kuantitas dan kualitas spesiesnya.
4. Sumberdaya buatan manusia : modal uang maupun barang, dan semua hasil
budidaya dapat digunakan sebagai sumber daya untuk produksi.
Sumber yang adanya bersifat mutlak untuk menghasilkan produk dinamakan
“Faktor Produksi”. Keadaan jumlah dan kualitas faktor produksi menentukan jumlah dan
kualitas produk yang dihasilkan dalam proses produksi. Dalam keadaan teknologi
tertentu, hubungan antara faktor produksi dengan produknya tercermin dalam spesifikasi
fungsi produksinya.
Ada juga yang menggolongkan sumberdaya menjadi dua bagian besar, yaitu :
1). Sumberdaya manusia (human resources) dan 2). Sumberdaya bukan manusia (non-
human resources). Sumberdaya tersebut mempunyai karakteristik yaitu : 1). Terbatas
dalam jumlahnya, 2). Dapat berubah-ubah untuk dipakai dalam berbagai penggunaan
alternatif, dan 3). Dapat dikombinasikan dalam berbagai proporsi untuk menghasilkan
suatu produk.
Dengan mempelajari kaitan faktor produksi dengan produksinya seperti di atas,
maka sekilas nampak mudah untuk membedakan mana faktor produksi dan mana yang
termasuk produknya. Kesulitan yang dapat timbul adalah “adanya produk yang butuhkan
untuk memproduksi produk lain”. Sebagai contoh :
1. Pakan jadi yang berupa ransum. Apakah ransum ini termasuk faktor produksi/input
ataukah produk/output?
2. Daging sapi. Apakah daging sapi ini termasuk faktor produksi/input ataukah
produk/output?
3. Kecakapan atau skill. Apakah skill ini termasuk faktor produksi/input ataukah
produk/output?
Agar dapat lebih jelas dalam membedakan mana faktor produksi dan mana hasil
produksinya maka perlu diingat “Tujuan akhir dari seorang produsen itu sendiri”.
Berdasarkan hal tersebut maka contoh diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Ransum ternak bagi produsen makanan ternak merupakan hasil akhir yang dituju
sehingga ransum ternak tersebut yang menjadi produknya. Faktor produksinya
mungkin saja berupa tenaga kerja dan modal. Bagi produsen susu sapi, ransum jadi
tersebut bukan menjadi tujuan akhir. Tujuan akhir produsen adalah produk air susu
sapi, dengan demikian ransum diperlukan untuk menghasilkan air susu sapi.
Sehingga ransum tersebut merupakan faktor produksi sedangkan air susu sapi
sebagai produknya.
2. Daging sapi bagi produsen “dendeng” merupakan faktor produksi, sedangkan bagi
produsen sapi merupakan hasil produksi.
3. Kecakapan/skill bagi produsen ternak merupakan faktor produksi, tetapi bagi
produsen pakar (perguruan tinggi) merupakan hasil produksi.
F. 2. Fungsi Produksi
Hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksinya dapat diberi ciri
khusus berupa suatu fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu hubungan
matematis yang menggambarkan jumlah hasil produksi tertentu ditentukan oleh jumlah
faktor produksi yang digunakan. Jumlah hasil produksi merupakan “dependent variabel”
dan jumlah faktor produksinya sebagai “independent variabel”. Secara matematis fungsi
produksinya ditulis sebagai berikut :
Y = f (X1, X2, X3, ...........Xn)
Dimana :Y : hasil produksi fisik (matrik)
X1.......Xn : faktor-faktor produksi
Bentuk hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksinya yang sering
digunakan adalah sebagai berikut :
1. Yt = a + bXt + Et Fungsi linier sederhana
2. Yt = a + b1X1t + b2X2t +...... bnXnt + Et Fungsi linier berganda
3. Yt = a + b1X1t + b2X1t2 + Et Fungsi kuadratik
4. Yt = a X1tbi 10Et Fungsi Cobb-Douglas sdrhn
b1 b2 bn Et
5. Yt = a X1t X2t ..... Xnt 10 Fungsi Cobb-Douglas bergnd
Suatu hal yang harus diperhatikan adalah ada banyak sekali bentuk persamaan
aljabar yang dapat digunakan untuk menyatakan suatu fungsi produksi. Tidak ada suatu
bentuk yang dapat dipakai untuk menggambarkan produksi di setiap daerah dan pada
suatu keadaan. Tetapi jika bentuk fungsi produksi telah ditemukan, maka keterangan itu
sangat berguna bagi produsen untuk mengambil keputusan optimasi. Oleh karena itu,
penelitilah yang mempunyai tugas untuk menemukan fungsi produksi di setiap keadaan
usaha.
Bentuk persamaan aljabar yang menyatakan fungsi produksi seperti diatas perlu
disempurnakan dengan menentukan konstanta dari a dan b secara statistik dihitung
dengan metode “Least Sguare” dari sekumpulan data produk dan faktor produksinya.
Prinsip “Least Sguare” adalah membuat suatu garis dari sekumpulan titik dalam suatu
ruang dimana letak garis tersebut mempunyai simpangan yang paling kecil dari letak
titik-titik yang ada. Cara yang lebih rinci dapat dipelajari dalam statistika.
Pada bentuk persamaan yang melibatkan lebih dari dua variabel (satu variabel Y
dan lebih dari satu variabel X), maka hubungan antara faktor produksi dengan hasil
produksinya tidak perlu digambar karena disamping sukar juga menyulitkan tafsirannya.
Tetapi jika hanya melibatkan dua variabel saja, maka sebaliknya hubungan antara faktor
produksi dengan hasil produksinya digambarkan untuk menjadikan jelas dalam tafsiran
maknanya.
Gambar fungsi linier Ŷ = 25 + 0,5X adalah sebagai berikut :
Y
100
75
Ŷ = 25 + 0,5X
50
25
0 25 50 75 100
X
Gambar 1. Fungsi produksi linier dengan satu variabel input.
Keterangan : Fungsi linier itu menyatkan bahwa setiap tambahan satu unit X (=25) akan
mengakibatkan tambhan setengan unit Y (=12,5). Gambar 1 memperlihatkan gerak
yang menaik lurus. Jika persamaan fungsi produksi menjadi sebaliknya yaitu : Y = 100 –
0,5X, maka gerak garis menjadi menurun lurus dari titik awal 100 dan memperlihatkan
berlakunya hukum “Decreasing return”. Gambar fungsi kuadratik Ŷ = 12,5 + X + 0,005X2
adalah seperti gambar 2 berikut ini.
Y
100
Ŷ = 12,5 + X + 0,005X2
75
50
25
0 25 50 75 100
X
Gambar 2. Fungsi produksi kuadratik dengan satu variabel input.
Gambar 2 tersebut memperlihatkan gerak garis cekung yang menaik dari titik awal 25.
Gerak tersebut menyatakan adanya tambahan hasil yang semakin bertambah jika suatu
input ditambahkan pada input yang semakin tetap dan berlakulah hukum “Increasing
Return”.
Gambar fungsi produksi yang memperlihatkan berlakunya hukum “Diminishing
Return” seperti yang terlihat pada gambar 3. Gambar 3 dibuat berdasarkan persamaan
fungsi Cobb-Douglas sederhana Ŷ = 5X0,50. Pada gambar 3 terlihat gerak garis lengkung
(cembung dari sumbu datarnya) yang naik dengan tambahan yang semakin berkurang.
Gambar 1,2,3 memperlihatkan fenomena (gejala) yang terdapat di alam yang dicoba
diungkapkan melalui model matematika dan statistika. Tentu saja satu model
pendekatan tersebut belum cukup mengungkap kejadian yang bersifat menyeluruh dari
perilaku produksi juka input di tambah terus menerus. Jadi, satu model fungsi produksi
hanya berlaku untuk menggambarkan satu tahapan proses produksi.
Y
100
75
Ŷ = 5X0,5
50
25
0 25 50 75 100
X
Gambar 3. Fungsi produksi Cobb-Douglas dengan satu variabel input.
Jika suatu input ditambahkan terus menerus pada input yang tetap, maka perilaku
outputnya secara teoritis digambarkan seperti gambar 4.
Y
100
75
50
25
0 25 50 75 100 X
Gambar 4. Perilaku Produksi dengan satu variabel input.
Gambar 4 tersebut merupakan “Kurva Produksi” yang berlaku umum dan banyak
ditulis dalam buku-buku teori ekonomi yang membahas perilaku produksi. Kurva
produksi itu memperlihatkan bahwa ada tiga proses perilaku dalam produksi jika input X2
ditambahkan secara terus menerus (kontinue) pada suatu input yang tetap (misalnya
X1). Pada proses pertama, setiap tambahan input akan memberikan tambahan produk
yang semakin bertambah atau “Increasing Return”. Proses ke dua ditandai dengan
tambahan produk yang semakin berkurang pada setiap tambahan input atau
“Diminishing Return”. Pada proses ke tiga, setiap tambahan input justru akan
menurunkan hasil produksi atau “Decreasing Return”.
Suatu contoh perilaku produksi tersebut adalah pemberian obat-obatan dalam
pakan ayam untuk menaikkan produksi bobot telurnya. Pemberian dosis tahap pertama
yang relatif dari dosis nol sampai dosis agak tinggi menyebabkan adanya tambahan
bobot telur yang semakin bertambah. Jika dosis ditingkatkan lagi maka sifat obat akan
menjadi racun mulai tampak dengan ditandai tambahan bobot telur menjadi semakin
berkurang. Pada proses akhir, jika dosis obat menjadi sangat berlebihan maka sifat
racun obat berpengaruh kuat dan menyebabkan tidak ada tambahan bobot telur tetapi
justru ada penurunan bobot telur tersebut.
Kurva produksi total seperti gambar 4 tersebut perlu dilengkapi kurva produksi
per satuan/unit untuk keperluan analisis optimasi. Kurva produksi persatuan meliputi
kurva “Produk Rata-rata” (PR) atau Average Product (AP) dan “Produk Marginal” (PM)
atau Marginal Product (MP). Produk Rata-rata adalah hasil bagi antara Produk Total
dengan input total dalam satuan fisik. Produk Marginal adalah hasil bagi antara
tambahan produk total dengan tambahan input dalam sutuan fisik. Sifat-sifat gerak dari
PR dan PM mempunyai hubungan dengan gerak dari kurva produksinya, seperti yang
diperlihatkan dalam gambar 5.
Produk Marginal bergerak naik sampai mencapai maksimumnya pada titik A
kemudian menurun terus dan memotong sumbu horisontal di titik D’. Pada kurva
produksi totalnya titik A merupakan titik balik (inflection point) untuk “Increasing Return”,
sedangkan titik D’ merupakan titik maksimum produk total yang dapat dicapai. Pada
produk marginal yang mulai menurun, mulailah Hukum Diminishing Return berlaku.
Produk rata-rata mula-mula bergerak naik sampai mencapai maksimum pada
titik E kemudian menurun terus mendekati garis horisontal secara asimtotik. Pada
gerakan produk rata-rata yang menaik tetapi selalu berada di bawah produk marginal
dan setelah produk rata-rata menurun , maka gerak garis produk rata-rata selalu berada
di atas garis produk marginal. Pada saat produk rata-rata mencapai maksimum, produk
marginal = produk rata-rata dan ini sebagai tanda titik akhir “daerah II” dan titik awal
”daerah III”.
Y
TP
X
Y
X
Gambar 5. Hubungan gerak PM dan PR dengan Produk Totalnya.
Bagi kepentingan optimasi, kurva produksi dibedakan menjadi tiga tahap/daerah
pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan optimasi pada daerah I (C’) dan
daerah III (D’) merupakan keputusan yang “irrasional”. Hanya pada daerah II
pengambilan keputusan optimasi dapat “rasional” dengan letak titik yang ditentukan
berdasarkan pertimbangan marginal dari hubungan nilai produk dan inputnya. Secara
rinci perhitungan keputusan optimasi ini dibicarakan dalam pokok bahasan IV.
Hubungan input dengan produknya dapat pula dibuat tabel seperti tabel I sebagai
berikut :
Tabel 1. Fungsi Produksi dalam bentuk Tabel
Input Total Tambahan Tambahan Produk Produk
(unit) Produk Input Total Rata-rata Marjinal
(unit) Produk
0 0 0 0 0 0
1 12 1 12 12 12
2 30 1 18 15 18
3 44 1 14 14,7 14
4 54 1 10 13,5 10
5 62 1 8 12,4 8
6 68 1 6 11,3 6
7 72 1 4 10,3 4
8 74 1 2 9,3 2
9 72 1 -2 8 -2
10 68 1 -4 6,8 -4
Daerah I berada di antara penggunaan level input 0 – 2, daerah II terletak antara level
input 2 – 8 dan daerah ke III terletak setelah penggunaan input level 8.
F. 3. Elastisitas Produksi
Elastisitas produksi adalah “Derajat Kepekaan” produksi dicerminkan oleh
adanya persentase tambahan produk karena tambahan input satu persen. Elastisitas
Produksi (Ep) = 2, berarti bahwa setiap tambahan 1% input akan menambah produk
2%. Konsep elastisitas produksi ini sering dipakai oleh peneliti untuk mengungkapkan
“Sudah sampai daerah manakah aktifitas produksi tersebut” berdasarkan sekumpulan
data sampel atau populasi. Perhitungan dengan memakai sekumpulan sampel lebih
“akurat” untuk penarikan kesimpulan secara “General”/umum dibandingkan cara
perhitungan tabel fungsi produksi seperti tabel 1.
Elastisitas suatu fungsi y = f(x), didefinisikan sebagai hasil bagi fungsi marginal
(y’) dengan fungsi rata-ratanya (ŷ). Rumus elastisitas produksi (Ep) :
y ' dy dx dy y
Ep = = =
y y x dx x
dy x PM Produk M arg inal
Ep = • = =
dx y PR Pr oduk Rata − rata
Dengan demikian nilai Ep merupakan indikator tahap/daerah dalam proses produksi.
Nilai Ep lebih besar dari 1 menunjukkan proses produksi berada dalam daerah I, nilai Ep
antara satu dan nol proses produksi dalam daerah II, dan nilai Ep lebih kecil dari
nol/negatif menunjukkan proses produksi berada dalam daerah III.
Perhitungan Ep dengan memakai fungsi linier sederhana atau berganda dengan
x
cara mengalikan koefisien “b” dengan . Dalam bentuk fungsi Codd-Douglas, maka
y
koefisien “b” sudah mencerminkan Ep dengan bukti sebagai berikut :
Y = aXb
dy b-1 ax b y
= baX = b =b
dx x x
dy x
b= • adalah Elastisitas Produksi
dx y
F. 4. Istilah-istilah Hubungan Produk dengan Input
1. TPP = Total Physical Product = Total Produk (TP).
2. APP = Average Physical Product = Average Product (AP) = Produk Rata-rata (PR)
TP
= .
level input
3. MPP = Marginal Physical Product = Marginal Product (MP) = Produk Marginal (PM)
d TP
= .
d level input
4. TVP = Total Value Product = Total Revenue (TR) = Nilai Produk (NP) = TP x Harga
Produk.
5. MVP = Marginal Value Product = Nilai Produk Marginal (NPM) = PM x Harga
Produk.
d TR
6. MR = Marginal Revenue = Pendapatan Marginal = = Harga Produk.
d TP
Harga Input d biaya
7. MC = Marginal Cost = Biaya Marginal (BM) = = .
PM d produk
Biaya total input
8. MIC = Marginal Input Cost = Biaya Korbanan Marginal (BKM) = =
level input
Harga Input.
G. Pustaka Yang Menunjang
1. Bishop, C. E dan Toussaint, W.D. 1979. Pengantar Analisa Ekonomi Pertanian.
Mutiara. Hal : 48 - 66
2. Johannes, H. dan Budiono Sri Handoko. 1984. Pengantar Matematika Untuk
Ekonomi. LP3ES. Jakarta. Hal : 181 – 187.
3. Kay, R. D. 1981. Farm Management. Mc. Graw-Hill International Book Company.
Japan. Hal : 23 – 31.
4. Sudarsono. 1983. Pengantar Ekonomi Mikro. LP3ES. Jakarta. Hal : 99 – 107.
H. Tugas Terstruktur :
1. Isilah angka pada kolom berikut ini :
Input TP PR PM MVP NP BKM MR MC MIC
(unit) (Unit)
0 0
1 12
2 30
3 44
4 54
5 62
6 68
7 72
8 74
9 72
10 68
Ket : Harga input : Rp 12,- dan harga produk : Rp 2,-
2. Buatlah kurva produksi total dan kurva produksi per satuan dengan menggunakan
tabel diatas tersebut!
BAB IV
POKOK BAHASAN III : BIAYA PRODUKSI
A. Materi Pokok Bahasan Bi


Use: 0.1238