• Manajemen


  •   
  • FileName: Vol_9_No_04_Des_2006.pdf [read-online]
    • Abstract: ulang atas dua kriteria tersedianya data dan sistem. informasinya serta tersedianya ... dilakukan validasi data. Salah satu tujuan dari validasi data yaitu apakah. hasil ...

Download the ebook

jurnal ISSN 1410-6515
Manajemen
Vol 09. No. 04
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
h.167-225
Volume 09/Nomor 04/Desember/2006
9
4 EDITORIAL
Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Sektor Kesehatan
MAKALAH KEBIJAKAN
Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif
ARTIKEL PENELITIAN
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
Penyusunan Indikator Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit
di Provinsi Jawa Tengah
Koordinasi Lintas Sektor pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan
Gizi di Kabupaten Sleman
Analisis Pengelolaan Obat Prajurit Korban Tempur dan Latihan Tempur
di Unit Rawat Inap Kedokteran Militer
Variasi Struktur Organisasi Lembaga Kesehatan Pemerintah
Studi Kasus Pascakebijakan Desentralisasi di Bali
Pengembangan Desain Mutu Pelayanan Rawat Inap
Puskesmas Karanganyar Kebumen Menggunakan Quality Function Deployment
RESENSI
The Economics of Health and Health Care, Fifth Edition
KORESPONDENSI
Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/kabupaten Indonesia
Terakreditasi
Tahun Nomor Hlm. Yogyakarta ISSN
JMPK Ditjen Dikti
2006
09 04 167-225 Desember 2006 1410-6515
No.: 45/DIKTI/Kep./2006
Diterbitkan oleh/Published by:
Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Center for Health Services Management Faculty of Medicine Gadjah Mada University
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Diterbitkan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 4 kali
setahun (triwulan). Misi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan adalah menyebarluaskan dan mendiskusikan berbagai
tulisan ilmiah mengenai manajemen dan kebijakan dalam lingkup pelayanan kesehatan. Dengan demikian jurnal ini
ditujukan sebagai media komunikasi bagi kalangan yang mempunyai perhatian terhadap ilmu manajemen dan kebijakan
pelayanan kesehatan antara lain para manajer dan pengambil kebijakan di organisasi-organisasi pelayanan kesehatan
seperti rumah sakit pemerintah dan swasta, dinas kesehatan, Departemen Kesehatan, pusat-pusat pelayanan kesehatan
masyarakat, BKKBN, pengelola industri obat, dan asuransi kesehatan, serta para peneliti, pengajar, dan ilmuwan yang
tertarik dengan aplikasi ilmu manajemen dan kebijakan dalam sektor kesehatan. Isi jurnal berupa artikel kebijakan atau
hasil penelitian yang berkaitan dengan manajemen rumah sakit, manajemen pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan,
dan masalah-masalah yang relevan dengan manajemen dan kebijakan kesehatan.
Pemimpin Redaksi
Laksono Trisnantoro
Editor
Abdul Razak Thaha Tjahjono Kuntjoro
Bhisma Murti Sri Werdati
Johana E. Prawitasari Yulita Hendrartini
I. Riwanto Yodi Mahendradhata
Mitra Bestari (Peer Reviewer)
A.A.Gde Muninjaya Hari Kusnanto Josef
M. Ahmad Djojosugito Mubasysyir Hasanbasri
Ali Ghufron Mukti Sri Suryawati
Bambang Purwanto Triono Soendoro
Sekretaris Redaksi
Hilaria Lestari Budiningsih
Penerbit
Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, FK UGM, Yogyakarta
STT: 2398/SK/DITJEN PPG/STT/1998
Harga langganan untuk satu tahun (4 kali terbit/triwulan)
Pulau Jawa Rp100.000,00
Luar Pulau Jawa Rp125.000,00 (Sudah termasuk ongkos kirim)
Bank BNI 46 Cabang UGM Yogyakarta No Rek.: 0038603369 a.n Laksono Trisnantoro/Seminar
Bukti Transfer mohon di fax sebagai bukti berlangganan
Alamat surat-menyurat menyangkut naskah, langganan keagenan dan pemasangan iklan:
Sekretariat Redaksi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
d/a Gedung KPTU Lantai 3, Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281
Telp/Fax: 0274-547490, 549425
Email: [email protected]
Web-site: www.jmpk-online.net
ii
Jurnal
Manajemen
Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management
Volume 09/Nomor 04/Desember/2006
Daftar Isi
Editorial
Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Sektor Kesehatan 167
Makalah Kebijakan
Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif
Siswanto 168
Artikel Penelitian
Penyusunan Indikator Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit
di Provinsi Jawa Tengah
Chriswardani Suryawati, Dharminto, Zahroh Shaluhiyah 177
Koordinasi Lintas Sektor pada Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan
Gizi di Kabupaten Sleman
Toto Suharto, Laksono Trisnantoro 185
Analisis Pengelolaan Obat Prajurit Korban Tempur dan Latihan Tempur
di Unit Rawat Inap Kedokteran Militer
Adi Priyono, Sulanto Saleh Danu 192
Variasi Struktur Organisasi Lembaga Kesehatan Pemerintah
Studi Kasus Pascakebijakan Desentralisasi di Bali
Yessi C.O, Muninjaya, Januraga, Yahya 198
Pengembangan Desain Mutu Pelayanan Rawat Inap Puskesmas Karanganyar
Kebumen Menggunakan Quality Function Deployment
Yohanita Rini Kristiani, Tjahjono Kuntjoro, Adi Utarini 209
Resensi Buku
The Economics of Health and Health Care, Fifth Edition 215
Korespondensi
Determinan Distribusi Dokter Spesialis di Kota/Kabupaten Indonesia 216
Indeks 218
i
JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 09 No. 04 Desember l 2006 Halaman 167
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
Editorial
STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)
DI SEKTOR KESEHATAN
Berbagai ahli kesehatan masyarakat, lembaga- dapat dipantau dan dievaluasi oleh
lembaga donor kesehatan seperti USAID, konsultan pemerintah secara berkelanjutan
internasional dan pimpinan Departemen Kesehatan b. Kemampuan keuangan nasional dan
mempunyai pemahaman bervariasi mengenai daerah serta kemampuan kelembagaan
Standar Pelayanan Minimal (SPM). Perbedaan ini dan personil daerah dalam bidang yang
sudah ada bertahun-tahun sejak 2003. Sumber bersangkutan.
perbedaan memang banyak, antara lain: perbedaan
pendapat mengenai apakah SPM merupakan Pasal 16.
Essential Public Health Function atau bukan. Ada (1) Pemerintah wajib mendukung
yang berpendapat bahwa indikator SPM tidak boleh pengembangan kapasitas pemerintah
merupakan input kegiatan, harus proses atau output. daerah yang belum mampu mencapai SPM
Ada yang sebaliknya. Ada yang berpendapat bahwa (2) Pemerintah dapat melimpahkan tanggung
SPM tidak terkait dengan pembiayaan pusat. Ada jawab pengembangan kapasitas
yang berpendapat bahwa jumlah indikator saat ini pemerintahan daerah kabupaten/kota yang
sudah terlalu banyak, sementara ada yang belum mampu mencapai SPM kepada
menyatakan sebaliknya. Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di
Dalam melihat perbedaan-perbedaan tersebut daerah
perlu ada pegangan yang tegas. Pegangan terbaik (3) Dukungan pengembangan kapasitas
adalah mengacu ke tujuan SPM untuk mengurangi Pemerintah Daerah berupa fasilitasi,
kesenjangan pelayanan kesehatan antardaerah. pemberian orientasi umum, petunjuk tenis,
Tujuan ini secara hukum sudah diatur oleh Peraturan bimbingan teknis pendidikan dan pelatihan
Pemerintah (PP) No. 65/2005 tentang Pedoman atau bantuan teknis lainnya
Penyusunan dan Penerapanan Standar Pelayanan (4) Dukungan di atas mempertimbangkan
Minimal. Pasal 3 Ayat 1 menyatakan bahwa SPM kemampuan kelembagaan, personil, dan
disusun sebagai alat pemerintah dan pemerintah keuangan negara serta keuangan daerah.
daerah untuk menjamin akses dan mutu pelayanan Selama ini SPM yang ditetapkan oleh
dasar kepada masyarakat secara merata dalam Departemen Kesehatan tidak mempertimbangkan
rangka penyelenggaraan urusan wajib. Hal ini berarti kedua hal penting tersebut. Akibatnya terjadi daftar
tersedianya sumber dana pemerintah pusat sebagai yang sangat panjang dan data yang sulit dikelola
penjamin terakhir (lihat Pasal 7 dan 16 PP No. 65/ oleh sistem informasi. Disarankan agar: (1) ada
2005). Di samping itu, penyusunan SPM sangat pembedaan antara Program-Program Direktorat di
dipengaruhi oleh keberadaan sistem informasi dan Departemen Kesehatan dengan SPM. Satu SPM
datanya (Pasal 7 PP No. 65/2005). Secara lengkap mempunyai kemungkinan ditangani oleh banyak
isi kedua dasar tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Direktorat atau bahkan pihak swasta dan
Pasal 7: masyarakat; (2) daftar SPM saat ini sebaiknya dikaji
Ayat 1. Dalam penyusunan SPM sebagaimana ulang atas dua kriteria tersedianya data dan sistem
dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal informasinya serta tersedianya anggaran pemerintah
6, Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah Non pusat; dan (3) untuk program yang berada dalam
Departemen mempertimbangkan hal-hal daftar Essential Public Health Function namun tidak
sebagai berikut: masuk dalam SPM, diharapkan tetap menjadi
a. Keberadaaan sistem informasi, pelaporan program penting yang harus dikerjakan oleh
dan evaluasi penyelenggara pemerintah pemerintah provinsi, kabupaten dan pemerintah
daerah yang menjamin penerapan SPM pusat. (Laksono Trisnantoro, [email protected])
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 4 Desember 2006 l 167
JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 09 No. 04 Desember l 2006 Halaman 168 - 176
Siswanto: Memahami Evolusi Teori Manajemen ...
Makalah Kebijakan
MEMAHAMI EVOLUSI TEORI MANAJEMEN UNTUK
MENJADI MANAJER YANG EFEKTIF
THE UNDERSTANDING OF MANAGEMENT THEORIES EVOLUTION
TO BE AN EFFECTIVE MANAGER
Siswanto
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Surabaya
ABSTRACT Secara sederhana, hiruk-pikuk ilmu manajemen dapat
Without a smart thinking, the cacophony of management tools dikelompokkan ke dalam dua cara pandang, yaitu cara pandang
could lead to manager’s confusion, which in turn would bring instrumental dan cara pandang aksi sosial. Berangkat dari
to a stagnant and frustrated situation. The paper was aimed ‘organisasi’ sebagai basis analisis, cara pandang instrumental
at: (1) describing the evolution of management theories with memaknai organisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan
their basic assumptions, and (2) offering a single framework bersama, sehingga cara pandang ini menawarkan bermacam
through the integration all of the theories to be an effective resep tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh para
manager. manajer dalam mengelola organisasi. Dengan asumsi ini,
Simply, all of the management theories can be categorized into pekerjaan manajer adalah mengelola orang-orang guna
two schools of thought, i.e. instrumental account and social mencapai tujuan organisasi, sehingga tindakan orang-orang
action account. Instrumental account, departing from dalam organisasi dilihatnya sebagai produk kerja manajerial.
‘organization’ as a basis of analysis, saw organization as a Cara pandang ini meliputi empat kelompok teori, yaitu teori
tool for achieving shared goals, so this account offered a manajemen klasik, teori hubungan manusia, teori sistem organik,
number of recipes about how managers should do in managing dan teori kontijensi. Sebaliknya, cara pandang aksi sosial
organizations. With such assumptions, managerial work was melakukan analisisnya berangkat dari ‘aksi sosial’ para aktor
to manage people for achieving organization goals; then yang terlibat dalam kehidupan organisasi, lalu memaknai
people’s action seen as the product of managerial work. This ‘organisasi’ sebagai produk dari tindakan orang-orang dalam
accounts consisted of four theories, i.e.: classical management menegosiasikan pemaknaan (menurut teori budaya), atau
theories, human relation theories, organic systems theories, berebut kepentingan (menurut teori politik). Cara pandang aksi
and contingency theories. On the contrary, social action sosial berasumsi bahwa tidak perlu ada separasi antara aksi
account performed its analysis departing from ‘social action’ manajer dan aksi aktor lainnya; kesemua aktor (termasuk
of the actors involved, then ‘organization’ seen as the product manajer) berusaha melakukan negosiasi makna dalam setiap
of people’s action in negotiating meanings (cultural theories) ‘event’, atau berebut kepentingannya masing-masing.
or in competing interests (political theories). Making use of this Pada tulisan ini telah ditunjukkan pengintegrasian semua teori
assumption, there was no separation between manager’s manajemen dalam kerangka pikir tunggal. Untuk menjadi manajer
action and actor’s action; all conducted negotiation of meanings yang efektif, seseorang harus dapat memilih peran atau teori
in every event, or competing resource for meeting actor’s yang tepat sedemikian rupa sehingga peran atau teori terpilih
interests. ‘cocok’ dengan ‘event ’ organisasional yang dihadapi oleh
At the end of the paper, it has been shown the integration of all manajer (fenomena mimikri). Dengan kata lain, kontijensi
management theories in a single framework. In order to be an bukanlah merujuk pada varian organisasi melainkan pada varian
effective manager, one should be able to select the basic roles ‘event’ yang dihadapi seorang manajer.
or theories in such a way that the selected roles or theories
was matching with organizational event the manager faced Kata Kunci: evolusi, teori organisasi, manajer efektif, mimikri
(mimicry phenomenon). In other words, contingency was not
based on the variance of organization but based on the variance PENGANTAR
of event the manager faced.
Kita sadari bersama bahwa selama kurun waktu
Keywords: evolution, organization theories, effective manager, lima dekade terakhir ilmu manajemen telah
mimicry berkembang dengan sangat pesat termasuk di
bidang manajemen kesehatan. Hal yang sangat
ABSTRAK mengesankan yaitu mulai diaplikasikannya prinsip-
Tanpa pemahaman yang cerdik, praktisi manajemen akan
menjadi bingung menghadapi hiruk-pikuk bermacam menu ilmu
prinsip manajemen ‘generik’ (umum) dalam
manajemen, yang boleh jadi berujung pada frustasi dan manajemen kesehatan. Berbagai ‘tool’ manajemen
stagnan. Tulisan ini ditujukan untuk: (1) memberikan gambaran telah ditawarkan oleh para skolar dan konsultan
tentang evolusi teori manajemen dengan asumsi dasarnya, manajemen kepada berbagai jenis dan tingkatan
dan (2) menawarkan satu kesatuan kerangka pikir melalui
pengintegrasian dari semua teori untuk menjadi manajer yang
manajer kesehatan yang oleh pengusungnya diklaim
efektif. sebagai solusi yang jitu untuk meningkatkan kinerja
organisasi. Bermacam ‘ tool’ manajemen juga
168 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 4 Desember 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
diajarkan pada berbagai program magister ‘tool’ yang telah dipelajarinya. Ibarat seorang dokter
manajemen kesehatan. Pertanyaan yang sering kami ahli, sang dokter harus mampu mendiagnosis
ajukan kepada mahasiswa magister manajemen penyakit dalam manajemen: membaca situasi
kesehatan adalah “apakah Anda yakin bahwa setelah dengan tepat, kemudian memilih obat yang cocok
lulus menyandang gelar magister manajemen dengan penyakit yang diderita pasiennya.
kesehatan Anda akan mampu menjadi manajer
kesehatan yang efektif?” Tak seorang pun yang EVOLUSI TEORI MANAJEMEN
berani menjawab “ya mampu” dengan penuh Berdasarkan titik pangkal analisisnya cara
keyakinan. Hal ini mengindikasikan adanya pandang tentang bermacam teori manajemen dapat
kebingungan pada mereka terhadap bagaimana dikelompokkan menjadi dua yaitu analisis
menerapkan hiruk-pikuk (cacophony) bermacam institusional dan analisis aksi sosial. Analisis
‘tool’ manajemen. institusional yang bertolak dari ‘organisasi’ telah
Bermacam hiruk-pikuk ‘tool’ manajemen yang melahirkan cara pandang instrumental. Hal ini
ditawarkan tersebut mulai dari pendekatan klasik memang sesuai dengan istilah ‘organisasi’ yang
(rasional), kemanusiaan, organik (sistem), berasal dari kata organon yang artinya alat. Cara
kontijensi, sampai dengan pendekatan politik dan pandang instrumental melihat ‘organisasi’ sebagai
budaya. 1,2,3 Sebagai ilustrasi hiruk-pikuk ‘ tool’ alat untuk mencapai tujuan bersama. Pemikir-
manajemen tersebut mulai dari teori klasik sampai pemikir dalam kelompok cara pandang instrumental
dengan politik sebut saja: teknik perencanaan, berusaha menginvestigasi ‘apa yang dilakukan
analisis jabatan, teknik departemenisasi, teknik anggota organisasi dalam kehidupan organisasinya
evaluasi, manajemen logistik, manajemen stratejik, dan mencoba menciptakan resep-resep bagi manajer
manajemen kualitas, manajemen pemasaran, untuk menjalankan organisasi dalam mencapai
manajemen sumber daya manusia, perilaku tujuannya’. 1,2 Diskursus dalam cara pandang
organisasi, manajemen perubahan, organisasi instrumental selalu berkaitan dengan “what managers
pembelajar (learning organization), berpikir sistem should do in the organization”, karena bertolak dari
( systems thinking ), manajemen kontijensi, ‘organisasi’, pemikir dalam cara pandang
manajemen budaya, manajemen perubahan, instrumental menggunakan asumsi bahwa
manajemen konflik, dan akhirnya manajemen politik. organisasi sudah ada sebelum aksi anggotanya (pre-
Kalau tidak dipahami secara utuh oleh para existent), tidak tergantung, bebas, dan bukan produk
pembelajar dan praktisi manajemen, mereka akan dari aksi anggotanya. Cara pandang ini melihat atau
mendapatkan kebingungan tentang bagaimana berasumsi bahwa aksi manajer bersifat netral,
‘mempraktikkan’ berbagai ‘tool’ manajemen tersebut rasional, dapat direncanakan, dan bebas dari
agar menjadi manajer yang efektif. Terpaku pada satu kepentingan individu manajer.2
‘tool’ manajemen tentunya dapat menyebabkan Dalam kelompok cara pandang instrumental
manajer ‘kecele’ dan ‘kecewa’, karena ‘tool’ yang telah meliputi beberapa subkelompok teori yang
diandalkannya ternyata tidak bekerja dengan baik. membentuk ‘spektrum’ yang sangat luas3 misalnya,
Bahkan bisa saja si manajer menjadi frustasi karena telah membagi cara pandang instrumental ini ke
tidak tahu harus berbuat apa, dikarenakan kurangnya dalam 25 jenis cara pandang (teori). Namun
pemahaman tentang bagaimana seharusnya demikian, dalam rangka memudahkan pemetaan
menyikapi bermacam ‘tool’ manajemen tersebut. dan pemahaman, tulisan ini membagi cara pandang
Berbagai pertanyaan mendasar yang harus instrumental ke dalam empat kelompok besar teori,
dijawab berkenaan dengan bermacam ‘ tool’ yaitu teori manajemen klasik (rasional), manajemen
manajemen tersebut yaitu: (i) apa asumsi dasar dari kemanusiaan (human relation theories), manajemen
berbagai ‘tool’ manajemen tersebut, (ii) apakah sistem organik, dan manajemen kontijensi.1,2 Disiplin
semua ‘tool’ manajemen bersifat generik (dapat ilmu yang mendukung kelompok cara pandang ini
dipakai untuk semua situasi), (iii) atau, apakah stok adalah management science, administrasi, ekonomi,
‘ tool’ manajemen tersebut bersifat kontijensi psikologi, matematik, statistik, dan disiplin lainnya
(situasional), sehingga kita dituntut kecerdasan dalam kelompok ‘ilmu objektif’. Sebagian besar
dalam hal ketepatan penggunaannya pada situasi diskursus ilmu-ilmu manajemen yang diajarkan
dan ‘event’ yang tepat. masuk dalam kategori ini. Selanjutnya pembahasan
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan tentang cara pandang instrumental ini akan diuraikan
pemahaman mengenai bagaimana seharusnya pada subjudul tersendiri.
praktisi manajer menyikapi berbagai hiruk-pikuk ‘tool’ Dengan menggunakan axioma terbalik seperti
manajemen dan tidak tenggelam dalam berbagai teka-teki mana yang lebih dahulu: ayam atau telur.
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 4 Desember 2006 l 169
Siswanto: Memahami Evolusi Teori Manajemen ...
Pemikiran aksi sosial mengawali analisisnya bukan Elaborasi bermacam teori manajemen adalah analog
bertolak dari ‘organisasi’ tapi bertolak dari ‘aksi sosial’ dengan fenomena orang buta ini. Masing-masing
dari para aktor yang terlibat dalam organisasi. teori manajemen dikembangkan dengan pendekatan
Pemikir kelompok ini menganalogikan organisasi ‘metafora’ atau ‘teropong’. Kelebihan metafora adalah
seperti ‘kelompok sosial’, yaitu ‘struktur’ pola mampu melihat sesuatu yang kompleks menjadi
interaksi perilaku antaraktor dalam kelompok sosial sederhana dan detail bahkan cenderung melebih-
didasari pada tujuan individu dan bukan tujuan lebihkan, tetapi kehilangan kemampuannya untuk
kelompok. Pemikir dalam kelompok ini berpegang melihat sesuatu secara ‘utuh’. Untuk itulah, Morgan3
pada proposisi bahwa organisasi tidak bisa terlepas, mengingatkan kepada praktisi manajemen agar tidak
tidak bebas, dan merupakan produk dari aksi sosial terpaku dan terjebak pada salah satu ‘ tool’
para aktor yang terlibat. Maka dari itu, investigasi manajemen supaya tidak mengalami stagnasi dan
lebih diarahkan kepada ‘apa yang dilakukan oleh frustasi dalam praktik manajemen.
masing-masing aktor dalam membingkai perilakunya
untuk membentuk organisasi (getting organized)’.1,2 CARA PANDANG INSTRUMENTAL
Berbeda dengan cara pandang instrumental, Mengelompokkan berbagai teori menajemen
diskursus dalam cara pandang aksi sosial berkaitan dengan menelusuri dasar asumsi yang dipakai
dengan “what the actors really do in the organization”. merupakan hal penting, karena akan mampu
Cara pandang ini melihat aksi manajer dan aktor mengidentifikasi bagaimana masing-masing teori
lain anggota organisasi tidak netral, tidak rasional, memaknai ‘apa itu organisasi’ dan ‘apa itu
politis, dan tidak bebas dari kepentingan para manajemen’. Dalam cara pandang instrumental,
aktornya. organisasi dilihat sebagai alat untuk mencapai tujuan
Dalam kelompok cara pandang aksi sosial sehingga organisasi bersifat pre-existent, sedangkan
sedikitnya terdapat dua subkelompok teori yaitu teori manajemen dilihat sebagai aktivitas yang rasional,
manajemen budaya (simbolik) dan manajemen sekuensial (urut), prediktif, dan bebas dari
politik. Disiplin ilmu yang menopang cara pandang kepentingan aktor. Dengan kata lain, aktivitas
ini adalah sosiologi, anthropologi, politik, dan disiplin manajemen adalah penguasaan ilmu yang bersifat
lainya yang sifatnya ‘ilmu interpretatif’ sebagaimana ‘teknik’, karena titik tolak bahasan berangkat dari
sering dibedakan dengan kelompok ilmu obyektif. ‘organisasi’, maka diskursus dalam cara pandang
Berbeda dengan cara pandang instrumental yang instrumental ini mengarah kepada ‘bagaimana
mendominasi diskursus ilmu manajemen, cara seharusnya mendesain dan memanage organisasi’.
pandang aksi sosial hanya mewakili sebagian kecil Pokok bahasan dalam cara pandang ini, misalnya
diskursus ilmu manajemen. saja, tujuan organisasi, struktur organisasi
Kalau kita melihat sejarah perkembangan teori (departemenisasi), tugas, wewenang, peran, fungsi,
manajemen mulai dari teori klasik, teori efektivitas, efisiensi, perencanaan, penggerakan,
kemanusiaan, teori sistem organik, teori kontijensi, monitoring, evaluasi, dan sebagainya.
teori budaya, dan akhirnya teori politik, tampaknya Degeling2 membagi teori dalam kelompok cara
telah terjadi proses ‘evolusi’ dari satu teori ke teori pandang instrumental ke dalam empat subkelompok
lainnya. Dapat dikatakan sebagai proses evolusi teori yaitu teori manajemen klasik (rasional),
karena teori yang muncul berikutnya merupakan manajemen kemanusiaan, manajemen sistem
respon ketidakpuasan terhadap teori sebelumnya. organik, dan manajemen kontijensi. Masing-masing
Sebagai contoh, munculnya teori kemanusiaan subkelompok teori manajemen dapat dipetakan
dalam teori manajemen merupakan respon tentang asumsi dasar yang digunakan dan
ketidakpuasan terhadap resep-resep manajemen bagaimana masing-masing teori memaknai tentang
klasik yang terlalu teknikal dan depersonalized. ‘apa itu organisasi’ dan ‘apa itu manajemen’.
Rupanya proses evolusi teori manajemen ini terus Selanjutnya akan dibahas agak mendalam untuk
berlangsung sampai sekarang dalam upaya masing-masing subkelompok teori.
mendapatkan pemahaman dan praktik yang tepat Beberapa penulis teori manajemen dalam
tentang manajemen. kelompok manajemen klasik contohnya adalah
Morgan4 menyatakan bahwa orang melihat apa POAC (Terry), POSDCORBE (Gulick), 14 prinsip
itu organisasi dan apa itu manajemen bagaikan manajemen dari Fayol, 4 prinsip-prinsip manajemen
sekelompok orang buta yang mencoba memahami dari Taylor 5 , termasuk model manajemen
gajah dengan cara meraba. Masing-masing orang Perencanaan (P1), Penggerakan (P2), Pengawasan
tentu akan memaknai gajah sesuai dengan bagian dan Penilaian (P3) yang sering dipakai Departemen
mana dari tubuh gajah yang berhasil dirabanya. Kesehatan (Depkes) dan model sejenis lainnya.
170 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 4 Desember 2006
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
Menurut Degeling2 asumsi dasar manajemen klasik psikologis dan sosial anggotanya dapat terpenuhi.
adalah: (1) organisasi eksis untuk mewujudkan Teori kemanusiaan ini juga tidak luput dari kritik
tujuan tertentu, (2) struktur harus disesuaikan karena teori ini belum dapat dijadikan resep
dengan tujuan organisasi, (3) organisasi dapat manajemen yang universal.
berjalan efektif apabila kepentingan individu menjadi Sekelompok penulis lain seperti Morgan dan
subordinasi dari kepentingan organisasi, (4) Stafford Beer4 mencoba melihat organisasi sebagai
pelaksanaan kontrol yang ketat adalah esensial demi sistem organik. Ibarat manusia, dalam sistem
pencapaian tujuan organisasi, (5) problema organik terdapat tulang, otot, darah, sistem
organisasi termasuk konflik muncul karena pernapasan, sistem aliran darah, sistem pencernaan,
kesalahan yang terjadi pada setiap langkah dan yang terpenting adalah sistem pengatur (otak).6
manajemen baik P1, P2, atau P3.2 Asumsi dasar pada teori sistem organik adalah: (1)
Melihat kelima asumsi dasar di atas, manajemen organisasi terdiri dari bagian-bagian (subsistem) yang
dalam kelompok teori klasik (rasional) mempunyai sifat saling terkait, berhubungan, dan
diinterpretasikan sebagai suatu keterampilan yang ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama, (2)
bersifat teknis dan bawahan dianggap sebagai robot struktur organisasi dan orang-orangnya merupakan
yang selalu patuh dengan kebijakan dan arahan komponen dari sistem (subsistem) untuk mendukung
manajer. Manajer diinterpretasikan sebagai driver, tujuan sistem, (3) terdapat mekanisme untuk
organisasi sebagai kendaraan, sementara bawahan mempertahankan tujuan bersama (mempertahankan
sebagai onderdil kendaraan yang harus menjalankan homeostasis) melalui mekanisme umpan-balik dari
fungsinya sesuai dengan peran yang telah ditentukan. sistem, (4) tugas manajer adalah mempertahankan
Kritik yang muncul terhadap teori ini adalah bahwa mekanisme homeostasis, (5) konflik dalam
teknik manajemen ini terlalu mekanistik dan tidak organisasi muncul karena kegagalan manajer dalam
menghargai bawahan sebagai ‘manusia’ yang mempertahankan homeostasis.2
memerlukan kebutuhan psikologis dan sosial. Melihat asumsi di atas, teori sistem organik
Merespon manajemen klasik, yang dianggap menginterpretasikan organisasi sebagai ‘organism’
terlalu mekanistik dan in-human, ilmuwan perilaku (makhluk hidup), dan peran manajer adalah sebagai
(behavioral science) mengajukan model (teori) ‘ brain’ (otak) yang merupakan pusat pengatur
manajemen yang dapat dikelompokkan ke dalam homeostasis. Manajer berfungsi sebagai ‘balancer’
teori kemanusiaan. Teori manajemen kemanusiaan untuk menjamin semua subsistem bekerja dalam
bersifat tidak terlalu mekanistik dan berusaha rangka pencapaian tujuan organisasi. Kritik terhadap
memanusiakan bawahan. Beberapa tokoh yang teori sistem organik yaitu apa yang sebenarnya
mengembangkan misalnya, Elton Mayo (Hawthorne terjadi dalam sistem organik adalah adanya saling
investigation), Chris Argyris (manajer harus mampu ketergantungan antarsubsistem, tetapi tidak ada
membimbing manusia dari kanak-kanak menjadi yang paling dominan. Dengan kata lain, kalau
dewasa), Maslow (manusia mempunyai lima metafora sistem organik diadop, maka sesungguhnya
kebutuhan berjenjang yang harus dipenuhi), Mc tidak perlu seorang manajer karena sistem organik
Gregor (teori X dan Y), Herzberg (Hygiene and bekerja secara bersama-sama dan simultan.
Motivation factors).5 Merespon berbagai teori yang muncul dan juga
Asumsi dasar pada teori kemanusiaan adalah: menyadari bahwa tidak mungkin semua teori cocok
(1) keberadaan organisasi untuk memenuhi untuk semua varian organisasi, pencetus teori
kebutuhan manusia, (2) saling ketergantungan antara kontijensi mencoba untuk mengintegrasikan
organisasi dan anggota organisasi, (3) tugas manajer setidaknya pertentangan antara teori klasik versus
adalah menyesuaikan tujuan individu dan tujuan teori kemanusiaan. Asumsi dasar pada teori
organisasi, (4) apabila tujuan individu dan tujuan kontijensi adalah: (1) organisasi bukan entitas
organisasi dapat berimpit maka kinerja organisasi tunggal tapi mempunyai varian yang luas, (2) tidak
akan baik, (5) konflik dalam organisasi muncul ada ‘tool universal’ yang cocok untuk semua varian
karena manajer tidak mampu memenuhi kebutuhan organisasi, (3) tugas manajer adalah menyesuaikan
psikologis dan sosial dari bawahan.2 gaya manajemennya sesuai dengan varian
Melihat asumsi di atas, teori kemanusiaan organisasinya, (4) konflik dalam organisasi muncul
menginterpretasikan organisasi sebagai alat untuk karena ketidaktepatan gaya manajemen yang
memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial dari diterapkan dengan varian organisasi yang
anggotanya, dan tugas manajer adalah sebagai dipimpinnya. Beberapa penulis dalam kelompok teori
fasilitator (father) yang membuat kondisi organisasi kontijensi, misalnya Kast & Rosenzweig dan Burrel
sedemikian rupa, sehingga semua kebutuhan & Morgan.7
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 09, No. 4 Desember 2006 l 171
Siswanto: Memahami Evolusi Teori Manajemen ...
Melihat asumsi di atas, teori kontijensi Dari Tabel 1, terlihat dengan jelas tentang sifat
menginterpretasikan organisasi sebagai entitas ‘metaforik’ dari masing-masing subkelompok teori.
dengan banyak varian membentang mulai dari yang Pemetaan dalam Tabel 1 dibuat dengan sedikit
bersifat closed/stable/mechanistic sampai dengan menonjolkan unsur-unsur metaforiknya agar terlihat
yang bersifat open/adaptive/organic . 7 Manajer kontras antar subkelompok teori. Masing-masing
berfungsi sebagai ‘analist’ yang cerdas, sehingga teori cenderung melihat ‘apa itu organisasi’ dan ‘apa
mampu menganalis entitas bivariat antara gaya itu manajemen’ dengan mengedepankan
manajemen dan varian organisasi. Metafora ini teropongnya masing-masing yang berakibat pada
mencoba menjadi payung dari semua ‘tool’, tetapi pemaknaan (interpretasi) tentang organisasi dan
masih terbelenggu pada asumsi bahwa organisasi manajemen menjadi sempit dan tidak utuh.
adalah pre-existent, dan perilaku anggota adalah Fenomena ini adalah fenomena umum yang terjadi
produk dari manajemen. Oleh karena itu, teori pada ‘elaborasi ilmu’ yang cenderung bersifat
kontijensi masih dimasukkan dalam kelompok cara reduksionis, yang mengakibatkan pemaknaan
pandang instrumental. sempit dan fragmented dari sesuatu yang d


Use: 0.2395