• USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI


  •   
  • FileName: IndustriPakaianJadiSyariah.pdf [read-online]
    • Abstract: industri serat dan benang (fiber), pemintalan, penenunan dan perajutan, percetakan atau ... industri-industri pemintalan dan industri fiber, terutama serat sintetis yang menyediakan ...

Download the ebook

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL SYARIAH
(PPUK-SYARIAH)
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL SYARIAH
(PPUK-SYARIAH)
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
BANK INDONESIA
KATA PENGANTAR
Cetakan Syariah
Dalam rangka mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Bank
Indonesia memberikan bantuan teknis dalam bentuk pelatihan dan penyediaan informasi. Salah
satu informasi yang disediakan oleh Bank Indonesia adalah buku pola pembiayaan. Sampai saat ini,
telah tersedia 76 judul komoditi. Buku pola pembiayaan tersebut semua mengunakan sistem
konvensional (suku bunga).
Untuk mendukung perkembangan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang makin pesat
pada tahun-tahun terakhir ini, Bank Indonesia mengusahakan penyediaan buku pola pembiayaan
dengan sistem syariah. Buku pola pembiayaan syariah yang disediakan merupakan konversi dari
data dan informasi buku yang sudah diterbitkan. Oleh karena itu bagi peminat yang ingin
memanfaatkannya diharapkan dapat menyesuaikan dengan kondisi saat ini.
Dari 76 judul buku pola pembiayaan yang sudah tersedia, Bank Indonesia mengkonversikan
ke sistem syariah sebanyak 15 judul buku pada tahun 2006 dan 4 judul buku pada tahun 2007.
Satu diantara buku pola pembiayaan yang dikonversikan ke sistem syariah adalah usaha konveksi
pakaian jadi. Sedangkan produk pola pembiayaan yang digunakan adalah murabahah (jual beli)
Dalam penyusunan pola pembiayaan dengan sistem syariah, Bank Indonesia memperoleh
bantuan dari banyak pihak antara lain PT. Bank Syariah Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia
(Persero), Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, PT. Bank Syariah Muamalat Indonesia, PT.
Bank Syariah Mega Indonesia dan berbagai nara sumber korespodensi baik dari dalam negeri
maupun luar negeri. Atas sumbang pikir dan bantuan kelancaran penyusunan buku pola
pembiayaan syariah ini, Bank Indonesia cq Biro Pengembangan UMKM - Direktorat Kredit, BPR dan
UMKM (BUMKM-DKBU) menyampaikan terimakasih.
Sedangkan bagi pembaca yang ingin memberikan kritik, saran dan masukkan bagi
penyempurnaan buku ini atau ingin mengajukan pertanyaan terkait dengan buku ini dapat
menghubungi: Biro Pengembangan UMKM - Direktorat Kredit, BPR dan UMKM (BUMKM-DKBU)
menyampaikan terimakasih.
Gedung Tipikal (TP), Lt. V
Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10110
Telp: (021) 381-8581, Fax: (021) 351 – 8951
Email: [email protected]
Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan kontribusi
yang berarti bagi pengembangan UMKM dan Lembaga Keuangan Syariah.
Jakarta, Desember 2007
Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
i
RINGKASAN EKSEKUTIF
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
No UNSUR PEMBIAYAAN URAIAN
1 Jenis Usaha Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) Usaha
Konveksi Pakaian Jadi.
2 Kelompok sasaran proyek Pengusaha konveksi yang mempunyai lahan
dan bangunan sendiri akan mengembangkan
usahanya dalam PKT konveksi pakaian jadi.
3 Dana yang Diperlukan Untuk membiayai usaha konveksi:
a. Investasi = Rp. 84.550.000,-
b. Modal Kerja = Rp. 4.701.846,-
c. Total = Rp. 89.251.846,-
4 Sumber Dana Diperoleh dari Lembaga Keuangan Syariah dan
dana dari pengusaha
5 Jangka Waktu Pembiayaan 3 tahun tanpa Masa Tenggang Waktu
6 Tingkat Margin Pembiayaan 8,5% p.a., flat
7 Periode Pembayaran Pembiayaan Angsuran pokok pembiayaan dan margin
dibayarkan sesuai dengan siklus usaha
konveksi pakaian jadi
8 Jaminan pembiayaan Alternatif kemungkinan jaminan pembiayaan:
a. Jaminan fisik dari pengusaha konveksi dan
atau perusahaan mitra kerja.
b. Jaminan non fisik dari perusahaan Mitra
Usaha
c. Subtitusi kolateral seperti tabungan
asuransi
9 Eligibilitas usaha kecil Plasma (pengusaha konveksi) dipilih melalui
seleksi Koperasi, Perusahaan Mitra Usaha dan
Bank.
10 Bentuk Kelompok Suatu kelompok pengusaha konveksi yang
didasarkan atas produk (channeling).
11 Mekanisme pencairan dan Koperasi sebagai pelaksana (executing) atau
penyaluran pembiayaan penyalur (channeling).
12 Mekanisme Pengembalian Perusahaan Mitra Usaha bekerja sama
Pembiayaan dengan Koperasi memotong langsung
kewajiban angsuran anggota Koperasi dari
imbalan jasa pemotongan dan penjahitan
(makloon).
ii USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
No UNSUR PEMBIAYAAN URAIAN
13 Tanggungjawab 1. Dalam hal Koperasi sebagai Pelaksana
Pembiayaan maka tanggung jawab
pembiayaan berada di Koperasi dan atau
perusahaan Mitra Usaha yang menjadi
Avalist.
2. Dalam hal Koperasi sebagai Penyalur
Pembiayaan maka tanggung jawab
pembiayaan berada di pengusaha
konveksi dan atau perusahaan Mitra
Usaha yang menjadi Avalist.
14 Keunggulan PKT PKT ini memberikan benefit kepada:
1. Bank dapat menyalurkan pembiayaan
dengan lebih aman.
2. Perusahaan Mitra dapat meningkatkan
skala usahanya dengan meminimumkan
investasi peralatan, lahan, bangunan,
sumber daya manusia pada proses
pemotongan dan penjahitan produk
sehingga perusahaan Mitra Usaha dapat
berkonsentrasi pada pengembangan
perdagangan (trading) saja.
3. Pengusaha Konveksi mendapat jaminan
kontinyuitas pekerjaan pemotongan dan
penjahitan produk. Di samping itu
pengusaha konveksi mendapat
kemungkinan bantuan jaminan
pembiayaan.
4. PKT ini dapat memberikan tambahan
lapangan pekerjaan. Di samping itu
pemerintah dimungkinkan untuk
mendapatkan tambahan pendapatan
daerah maupun devisa.
5. Industri hulu dan hilir seperti tekstil,
asesoris dan pengrajin kain majun dapat
berkembang
15 Kelayakan usaha 1. Total margin yang diperoleh dari
pembiayaan investasi dan modal kerja
adalah Rp.9.524.250,-
2. Usaha konveksi pakaian jadi mampu
menghasilkan keuntungan yang dapat
digunakan untuk membayar kewajiban
pembiayaan kepada LKS.
3. Dengan demikian, usaha konveksi
pakaian jadi layak untuk diusahakan.
iii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR i
……………..................................………………………………......…
RINGKASAN EKSEKUTIF ii
………………………………………………………………………
DAFTAR ISI iv
……………………………………………………………………………………...
DAFTAR TABEL vi
…………………………………………………………………………..…….
DAFTAR GAMBAR vi
…………………………………………………………………………......
DAFTAR WEBSITE vi
………………………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN 1
...……………………………………………………….…………......
1.1 Latar Belakang ………………….……………………......................................... 1
1.2 Prospek Mendirikan Proyek Kemitraan Terpadu Industri Pakaian Jadi ………… 2
1.3 Penjelasan Tentang Model Kelayakan Proyek Kemitraan Terpadu (MK-PKT) …. 3
1.4 Masalah yang Dihadapi oleh Industri TPT ……………………………………….. 4
1.5 Tujuan ……………………………………………………………………………… 5
BAB II PROYEK KEMITRAAN TERPADU 7
.........................................................................
2.1 Organisasi ...................................................................................................... 7
2.2 Pola Kerjasama ............................................................................................... 8
2.3 Mekanisme Proyek kemitraan Terpadu ........................................................... 8
BAB III ASPEK PEMASARAN 11
.........................................................................................
3.1 Peluang Pasar ………………….………………………...................................... 11
3.2 Pasokan Permintaa kepada Negara Kuota ………………….…………………... 12
3.3 Pasokan Permintaa kepada Negara non-Kuota ………………….……………... 13
3.4 Kompetisi dari Negara Lain ………………….……………………….................. 14
3.5 Masalah Berkaitan dengan Pemasaran Pakaian Jadi ……………………………. 14
BAB IV ASPEK PRODUKSI 15
.............................................................................................
4.1 Bahan Baku ………………….………………………......................................... 15
4.2 Proses Produksi ………………….…………………........................................... 17
4.3 Mesin dan Peralatan ………………….……………........................................... 18
4.4 Tenaga Kerja ………………….………………………....................................... 18
4.5 Lahan dan Bangunan …………………………….............................................. 19
BAB V ASPEK KEUANGAN 21
..……………………………..................................................
5.1 Fleksibilias Produk Pembiayaan Syariah ……………………………………….... 21
5.2 Pemilihan Pola Usaha ……………………………............................................. 22
iv USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
5.2.1 Karakteristik Usaha Konveksi Pakaian Jadi ........................................... 22
5.2.2 Pola Pembiayaan ................................................................................ 22
5.2.3 Produk Murabahah ............................................................................. 22
5.3 Asumsi dan Parameter ………………………………………............................ 24
5.4 Komponen dan Struktur Biaya …………………………………........................ 24
4.4.1 Biaya Investasi .................................................................................... 24
4.4.2 Biaya Operasional ............................................................................... 25
5.5 Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja ………………………………....... 27
5.6 Proyeksi Produksi dan Pendapatan ……………………………………….......... 28
5.7 Proyeksi Laba Rugi ………………………………………………....................... 28
5.8 Proyeksi Arus Kas (Cash Flow) dan Kelayakan Proyek …………………........... 28
5.9 Perolehan Margin …………………………………………................................ 29
BAB VI ASPEK SOSIAL EKONOMI DAN DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP .. 31
6.1 Aspek Sosial Ekonomi ………………….……………………............................ 31
6.2 Dampak Terhadap Lingkungan Hidup ………………………........................... 32
LAMPIRAN
v
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi Akhir Tahun 1996 .................................... 2
Tabel 5.1 Asumsi dan Parameter untuk Analisa Keuangan Usaha Konveksi Pakaian
Jadi ............................................................................................................ 24
Tabel 5.2 Biaya Investasi Usaha Konveksi Pakaian Jadi ............................................... 25
Tabel 5.3 Biaya Operasional Usaha Konveksi Pakaian Jadi .......................................... 26
Tabel 5.4 Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja ............................................... 27
Tabel 5.5 Proyeksi Produksi dan Pendapatan ............................................................. 28
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Skema Pola Kerjasama .......................................................................... 8
Gambar 2.1 Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu ................................................. 8
DAFTAR WEBSITE
1. http//www.islamicfinanceonline.com
2. http//www.ifsb.org
3. http//www.isdb.org
4. http//www.bankislam.com.my
5. http/www.lariba.com
6. http/www.amss.net
vi USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
vii
viii USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Industri Tekstil dan Produk Tekstil disingkat industri TPT Indonesia terdiri atas beberapa jenis
industri yang membentuk sebuah rangkaian struktur dari hulu ke hilir. Rangkaian mencakup
industri serat dan benang (fiber), pemintalan, penenunan dan perajutan, percetakan atau
pengecapan serta industri pakaian jadi (garmen). Industri pemintalan dan penenunan tradisional
sudah ada di Indonesia sejak zaman Belanda.
Dengan disahkannya undang-undang PMA dan PMDN tahun 1967/68 mulai berkembang
industri-industri pemintalan dan industri fiber, terutama serat sintetis yang menyediakan bahan
baku untuk memproduksi tekstil jadi. Industri pakaian jadi mulai berkembang pertengahan tahun
70-an, yakni sewaktu produsen tekstil dalam negeri telah mampu menyediakan tekstil jadi untuk
diolah menjadi pakian jadi. Para pengusaha TPT mulai mengekspor sebagian dari hasil produksinya
pada awal tahun 80-an. Total nilai ekspor produk TPT dari Indonesia pada tahun 1982 misalnya
sebesar US $160 juta atau lebih kurang 2 % dari total nilai ekspor barang TPT tahun 1998 yang
sebesar US $ 8 miliar.
Krisis monoter di Indonesia telah membawa akibat kepada memburuknya situasi nasional,
terutama sektor perbankan, sektor konstruksi serta industri yang mengandalkan komponen impor
untuk pasar dalam negeri. Banyak perusahaan tidak mampu lagi beroperasi dan beberapa
perusahaan telah memberhentikan sebagian para pekerjanya, sehingga hal ini akan meningkatkan
jumlah pengangguran dengan dampak sosial yang lebih luas.
Sudah barang tentu, krisis tersebut harus diatasi, agar akibat yang lebih parah tidak akan
terjadi. Oleh karena itu harus dicari terobosan dan peluang untuk membangkitkan perekonomian
nasional. Salah satu peluang yang dapat dikembangkan lebih lanjut adalah industri tekstil dengan
komoditi pakaian jadi yang berorientasi ekspor. Skala usaha yang dipilih adalah usaha kecil yang
dilengkapi dengan peralatan modern. Untuk mengatasi beberapa kendala atau kelemahan usaha
kecil diantaranya masalah pemasaran dan manajemen, maka operasional industrinya akan
dilakukan dengan pola kemitraan terpadu dengan usaha menengah dan besar yang memproduksi
dan mengekspor pakaian jadi. Proyek kemitraan saling menguntungkan para pihak bermitra,
1
Pendahuluan
perusahaan besar, menengah, kelompok pengusaha konveksi pakaian jadi serta bank pemberi
pembiayaan.
1.2. Prospek Mendirikan Proyek Kemitraan Terpadu Industri Pakaian Jadi
Sejak pertengahan dasa warsa 1980-an Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) bersama karet dan
kayu lapis merupakan penghasil devisa utama produk ekspor non-migas yang jumlahnya
meningkat dari tahun ke tahun. Industri tekstil dan pakaian jadi merupakan industri padat karya.
Sejumlah data tentang industri TPT (garmen) dapat dilihat dari tabel 1.1. sebagai berikut:
Tabel 1.1. Industri Tekstil dan Pakaian Jadi Akhir Tahun 1996
Industri Industri Industri
Besar/Sedang Kecil Rumah tangga
Jumlah perusahaan (unit) 5.130 38.932 357.020
Jumlah tenaga kerja (orang) 1.523.610 381.901 457.403
Pengeluaran untuk tenaga kerja (Rp) 4.341 miliar 394 miliar 77 miliar
Nilai produk/harga pasar (Rp) 48.333 miliar 3.491 miliar 1.224 miliar
Sumber BPS: Statistik Indonesia 1996
Definisi perusahaan besar adalah perusahaan yang mempunyai pekerja 100 orang atau
lebih. Perusahaan menengah atau sedang mempunyai pekerja antara 20 s.d. 99 orang. Sedangkan
perusahaan kecil mempunyai pekerja antara 5 s.d. 19 orang dan usaha rumah tangga 1 s.d. 4
pekerja. Total nilai produksi industri tekstil dan pakaian jadi dengan harga pasar sebesar Rp. 53.048
miliar pada tahun 1996. Dari jumlah nilai produksi sebagian diekspor dengan harga FOB US $ 6.
425.573.000 atau sekitar Rp. 14.000 miliar. Berdasarkan data statistis tahun 1996, sekitar 27%
dari nilai produksi produk tekstil dan pakaian jadi diekspor dan sisanya dijual kepada konsumen
dalam negeri.
Para produsen besar dan menengah telah lama bekerjasama dengan perusahaan kecil dan
industri rumah tangga dengan pola makloon, yaitu perusahaan besar memberikan pesanan dan
memasok bahan baku (kain) kepada perusahaan kecil dan industri rumah tangga. Dengan pola
produksi makloon para produsen kecil menerima upah borongan yaitu perusahaan besar
membayar sesuai dengan jumlah produk yang dibuat oleh para produsen kecil.
2 USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
Berdasarkan angka di atas nilai produksi maupun pengeluaran kepada tenaga kerja cukup
rendah digolongan industri kecil dan industri rumah tangga dibandingkan dengan perusahaan
besar dan menengah.
Pola kemitraan terpadu yang diusulkan dalam MK-PKT ini adalah kerjasama antara
produsen besar-menengah pakaian jadi, yang bergerak sebagai eksportir dengan kelompok kecil
dan industri rumah tangga pakaian jadi, yang selanjutnya disebut usaha konveksi. Perusahaan
besar-menengah akan membantu usaha konveksi memperoleh pembiayaan (untuk MK-PKT dalam
bentuk KKPA) untuk mengembangkan usahanya. Kelompok usaha konveksi yang bermitra dengan
usaha besar-menengah akan memakai pembiayaan yang diberikan untuk membeli sarana dan
prasarana produksi modern yang cocok untuk menghasilkan pakaian jadi kualitas konveksi peserta
PKT akan mampu memproduksi pakaian jadi kualitas ekspor dengan nilai tambah lebih tinggi
dibandingkan dengan pasar dalam negeri. Perusahaan besar menengah dapat memperluas
kapasitasnya sebagai eksportir melalui kerjasama dengan satu atau lebih kelompok usaha konveksi.
Untuk mempermudah segala kegiatan kerjasama antar kelompok usaha konveksi peserta
PKT dengan perusahaan besar menengah (UB/UM), sebaiknya lokasi kelompok usaha konveksi
peserta PKT berada dalam satu sentra atau satu tempat berdekatan dengan perusahaan besar.
Pengembangan sentra konveksi bertujuan untuk memperkuat kemampuan masing-masing peserta
PKT memproduksi pakaian jadi kualitas ekspor. Inti dari proyek kemitraan terpadu konveksi pakaian
jadi adalah untuk mengembangkan usaha kecil dan industri rumah tangga tradisional menjadi
usaha kecil modern melalui kerjasama dengan UB/UM yang mengekspor pakaian jadi.
1.3. Penjelasan tentang Model Kelayakan Proyek Kemitraan Terpadu (MK-PKT)
Pemberdayaan usaha kecil melalui kemitraan usaha berlandaskan pada Pancasila, Undang-
Undang Dasar 1945, Undang-Undang No.25 tahun 1992 tentang Pra koperasioan dan Undang-
Undang No. 44 tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Disamping undang-undang tersebut program
kemitraan usaha antara usaha besar/menengah dengan usaha kecil diselenggarakan berdasarkan
Peraturan Menteri Teknis serta Bank Indonesia sesuai dengan Program Kemitraan Terpadu.
Model PKT yang disusun oleh Bank Indonesia, memberikan petunjuk kepada perbankan
untuk melaksanakan penilaian atas model proyek kemitraan terpadu yang membutuhkan
pembiayaan investasi maupun pembiayaan modal kerja, khususnya pembiayaan usaha kecil (atau
dikenal dengan istilah KUK) yang dibiayai dengan dana bank sendiri maupun dengan dana
3
Pendahuluan
likuiditas Bank Indonesia, misalnya KKPA dan atau dengan dana dari lembaga keuangan dari luar
negeri, yang disebut two-step-loan.
Model PKT merupakan upaya memacu dan membangkitkan minat bank untuk
mengembangkan hubungan dengan para pengusaha pakaian jadi kecil anggota-anggota koperasi
primer (kopinkra) yang bermitra dengan usaha garmen skala menengah/besar yang bergerak
sebagai produsen maupun eksportir garmen. Bank dapat membiayai proyek kemitraan terpadu
tersebut dengan KKPA dengan jumlah yang dibutuhkan masing-masing proyek kemitraan terpadu
industri garmen kecil.
Para perusahaan garmen peserta PKT adalah perusahaan industri garmen kecil dan industri
rumah tangga yang dapat memperluas usahanya di salah satu sentra industri garmen. Model usaha
yang diuraikan untuk dikembangkan dalam model PKT ini adalah perluasan dari usaha yang ada
dengan tujuan menciptakan usaha mandiri yang menghasilkan produk garmen kualitas ekspor.
Para peserta PKT, akan memenuhi kewajibannya sesuai dengan Nota Kesepakatan antara
kedua pihak bermitra. Para perusahaan kecil industri pakaian jadi akan berusaha untuk memenuhi
sasaran produksi sesuai dengan bimbingan teknis dari staf ahli di perusahaan besar.
1.4. Masalah yang Dihadapi oleh Industri TPT
Industri TPT menghadapi berbagai keterbatasan dan hambatan yang masih harus di atasi.
Kendala dan keterbatasan internal adalah:
a. Mutu produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia umumnya belum bisa menembus pasar bebas
yang konsumennya berselera tinggi seperti Jepang. Kenyataan ini juga mengakibatkan harga
per unit produk masih relatif rendah.
b. Industri TPT masih tergantung pada komponen impor, terutama untuk memproduksi produk
kualitas ekspor.
c. Industri pakaian jadi di Indonesia masih berperan sebagai ”tukang jahit” bagi para pialang TPT
internasional, karena desain, pemilihan warna, potongan masih didikte oleh pialang luar negeri.
d. Perusahaan TPT kecil di Indonesia belum berperan dalam industri TPT yang masih sangat
tergantung pada ”konglomerat” yang menguasai sebagian besar dari pasar ekspor maupun
segmen pasar menengah ke atas dalam negeri.
e. Pengaturan tata niaga, terutama pembagian kuota dinilai para produsen barang TPT masih jauh
dari ”beres”
4 USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
Sedangkan hambatan ekternal, berupa sikap proteksionis beberapa negara maju yang
membatasi ekspor produk tekstil dan pakaian jadi dari negara-negara berkembang melalui
penetapan kuota dan bea masuk. Pengaturan kuota dilakukan negara tersebut melalui Multi Fiber
Agreement (MFA) dan World Trade Organization (WTO). Pada masa depan sistem kuota sedikit-
sedikit akan diabaikan sesuai dengan ketentuan WTO. Meskipun demikian, Indonesia harus mampu
menciptakan pasar baru untuk TPT di negara non-kuota, supaya pertumbuhan industri TPT
Indonesia dapat ditingkatkan.
1.5. Tujuan
Model PKT atau pola pemberian pinjaman dimaksudkan untuk memberikan petunjuk
kepada pihak-pihak yang berkepentingan terutama kepada bank pemberi pembiayaan yang akan
menyalurkan pembiayaan kepada usaha kecil. Dengan adanya lending model ini diharapkan akses
usaha kecil untuk mendapatkan pembiayaan perbankan akan lebih besar dan pengembangan
usahanya akan dapat dilakukan sejalan dengan potensial demand.
Model PKT ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi perbankan syariah/lembaga
keuangan syariah yang berminat terhadap pola pembiayaan model Proyek Kemitraan Terpadu /PKT.
5
Pendahuluan
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
6 USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
BAB II
PROYEK KEMITRAAN TERPADU
2.1. Organisasi
Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) merupakan strategi kerjasama kemitraan dalam bidang
usaha industri pakaian jadi yang melibatkan empat pihak yaitu:
a. Anggota Koperasi Pengusaha Konveksi Pakaian Jadi
b. Koperasi Primer
c. Perusahaan Menengah atau Besar Eksportir sebagai Mitra Usaha
d. Bank Pemberi Kredit
Masing – masing pihak memiliki peranan sesuai bidang usahanya. Hubungan antar anggota
koperasi pengusaha konveksi pakaian jadi dengan perusahaan Mitra Usaha merupakan hubungan
kemitraan Inti-Plasma. Perusahaan Mitra Usaha menyediakan desain dan bahan baku serta
pengendalian mutu (quality control). Sedangkan pengusaha konveksi menyediakan jasa
pemotongan dan penjahitan. Kemitraan ini dilakukan dengan maksud untuk menciptakan
keuntungan semua pihak melalui produksi pakaian jadi dengan kualitas ekspor yang mempunyai
nilai tambah lebih besar daripada produk yang dibuat oleh usaha kecil dan industri rumah tangga
yang berjalan sendiri.
1. Anggota Koperasi Konveksi
Dengan pola kemitraan ini pengusaha konveksi mendapat jaminan pekerjaan jasa pemotongan
dan penjahitan kontinyu dan pasti dari mitra usaha, tanpa harus mengeluarkan modal kerja.
Disamping itu pengusaha konveksi memperoleh bantuan jaminan kredit dan Mitra Usaha dalam
hal mengajukan permohonan kredit kepada bank.
2. Koperasi Primer
Dalam kemitraan ini koperasi sebagai badan hukum mengupayakan pemanfaatan pembiayaan
bank bagi pengembangan usaha anggotanya. Selanjutnya koperasi bersama mitra usaha
membantu bank dalam administrasi realisasi dan pengembalian pembiayaan. Dari kegiatan ini
koperasi akan mendapatkan sejumlah imbalan sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Perusahaan Mitra Usaha
Kerjasama kemitraan memberikan manfaat antara lain:
7
Proyek Kemitraan Terpadu
a. Perusahaan dapat lebih berkonsentrasi pada pengembangan perdagangan saja.
b. Perusahaan dapat mengurangi investasi alat produksi
c. Perusahaan dapat mengurangi dampat negatif masalah tenaga kerja di bidang produksi
4. Bank
Berdasarkan evaluasi kelayakan proyek dengan pola kemitraan antara pengusaha konveksi
dengan mitra usaha, bank dapat menyalurkan skim pembiayaan dengan aman. Dalam model
kemitraan ini skim pembiayaan yang digunakan adalah skim pembiayaan Koperasi Primer
kepada Anggotanya (KKPA).
2.2. Pola Kerjasama
Kemitraan antara pengusaha konveksi dengan perusahaan Mitra Usaha dilaksanakan
dengan pola kemitraan pengusaha konveksi mengadakan perjanjian kerjasama dengan perusahaan
mitra usaha diketahui oleh koperasi. Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
Koperasi
Primer
Pengusaha Perusahaan
Konveksi Mitra Usaha
Gambar 2.1. Skema Pola Kerjasama
2.3. Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu
Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini :
Pembayaran Angsuran
BANK
AVALIST Aspek Kelayakan
Usaha
INTI
Perusahaan KOPERASI
Mitra Usaha Nota
Kesepakatan PRIMER
Pendapatan bersih Anggota Koperasi
Pasokan bahan baku, pembinaan teknis
PENGUSAHA
Pemasaran Hasil KONVEKSI
Keterangan:
Gambar 2.2. Mekanisme Proyek Kemitraan Tepadu
8 USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
a. Kerjasama kemitraan antara Perusahaan Mitra Usaha dengan pengusaha konveksi anggota
koperasi diwujudkan dalam bentuk Nota Kesepakatan.
b. Kebutuhan dana dalam kemitraan tersebut diajukan oleh koperasi kepada bank pelaksana
dengan jaminan bahan baku, jaminan pasar dan jaminan tambahan (avalist) dari Perusahaan
Mitra Usaha
c. Mekanisme pengembalian pembiayaan dikelola oleh koperasi dan Perusahaan Mitra Usaha
dengan cara memotong langsung dari pendapatan pengusaha konveksi yang selanjutnya
disetorkan kepada bank pelaksana oleh Mitra Usaha.
d. Koperasi bekerjasama dengan perusahaan mitra usaha membantu bank dalam pelaksanaan
administrasi kredit.
9
Proyek Kemitraan Terpadu
HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
10 USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI
BAB III
ASPEK PEMASARAN
3.1. Peluang Pasar
Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) termasuk pakaian jadi, disebut industri TPT,
menghasilkan produk yang merupakan komoditi adalah ekspor Indonesia sejak beberapa tahun
yang lalu. Dalam tahun 1993 nilai ekspor telah mencapai 5.791 miliar dolar lebih dan meningkat
terus sehingga pada tahun 1998 mencapai sekitar 8 miliar dolar.
Amerika Serikat adalah importir produk TPT dari Indonesia terbesar dengan sekitar 33%
dan total nilai ekspor TPT selama periode 1992 s.d. 1998. Negara Uni Eropa adalah importir kedua,
kalau dihitung dari total nilai ekspor TPT. Sekitar 29% dari total ekspor produk tekstil dan pakaian
jadi dibeli oleh negara Uni Eropa, terutama oleh Inggris, Jerman, Itali, Perancis dan Belanda.
Jepang adalah importir ketiga dengan impor sebesar 8% dari total nilai ekspor TPT Indonesia. Sisa
ekspor produk TPT (30%) dikirim ke banyak negara antara lain Singapura, Saudi Arabia, Hongkong,
Australia.
Bahan baku yang dipakai oleh industri TPT terdiri dari chemical fiber misalnya poliester dan
rayon dan man made fibers, yaitu kapas wol dan sutra. Pola pemakaian chemical fiber di Indonesia
agak berbeda dengan rata-rata negara produsen TPT lain. Produksi TPT di luar negeri rata-rata
menggunakan bahan baku dengan pola 47% kapas, 47% poliester, dan 6% rayon. Di Indonesia
penggunaan bahan baku 37% kapas, 51% poliester dan 12% rayon. Indonesia adalah produsen
poliester besar, sebagian hasil produksi poliester diekspor, sesudah kebutuhan industri TPT dalam
negeri terpenuhi. Sedangkan kebutuhan kapas dan rayon harus diimpor dan Indonesia adalah
negara importir kapas yang paling besar di dunia.
Nilai impor bahan baku dan barang jadi tekstil dan garmen pada periode 1993 s.d. 1997
adalah dalam tahun 1993 sebesar 1,916 miliar dolar lebih, dan dalam tahun 1997 mencapai 2,165
miliar dolar lebih. Produk pakaian jadi impor kena bea masuk (BM) rata-rata 25%. Tarif BM akan
dikurangi menjadi rata-rata 15% pada tahun 1999.
Jadi, bila dibandingkan dengan nilai impor maka ekspor Tekstil dan Produk Tekstil masih
terdapat surplus sebesar masing-masing dalam tahun 1993 adalah 4,055 miliar dolar lebih dan
dalam tahun 1997 sebesar 5,843 miliar dolar lebih. Diagram berikut menunjukkan perkembangan
ekspor impor TPT dari tahun 1993 sampai dengan tahun 1997.
11
Aspek Pemasaran
Nilai Ekspor & Impor Tekstil dan Produk Tekstil
(US Dolar)
10000
8000
6000
Ekspor
4000 Impor
2000
0
1993 1994 1995 1996 1997 1998*
Catatan: Data s.d. Mei 1998
3.2. Pasokan Permintaan kepada Negara Kuota
Salah satu sistem pemasaran dalam komoditi Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), diantaranya
produk pakaian jadi adalah menggunakan kuota yaitu penetapan jumlah produk yang harus
dipenuhi oleh pemegang produsen kepada pembeli. Sehingga dalam hal komoditi pakaian jadi ini,
pasarnya bersifat captive market yaitu pasar yang sudah pasti pembelinya asalkan kualifikasi produk
telah dipenuhi.
Negara di Eropa Barat, Amerika Serikat dan Kanada memberikan kuota ba


Use: 0.0287