• PANDUAN TEKNIS BAGI INDUSTRI DALAM PEMENUHAN PERSYARATAN ...


  •   
  • FileName: index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=10&Itemid=62 [read-online]
    • Abstract: binatang yaitu serat kapas, serat batang (rami, jute), ataupun sutera dan wool , serta ... Pemintalan. Untuk produk yang tidak mengalami. proses basah, gunakan serat alam (kapas, ...

Download the ebook

PANDUAN TEKNIS BAGI INDUSTRI
DALAM PEMENUHAN PERSYARATAN
KRITERIA EKOLABEL
TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL
Asdep Urusan Standardisasi, Teknologi dan Produksi Bersih
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)
2005
Prakata
Panduan teknis bagi industri dalam pemenuhan persyaratan sertifikasi kriteria
ekolabel tekstil dan produk tekstil (TPT) ini dimaksudkan untuk memberi arahan pada
produsen atau perwakilannya atau pemilik merek dagang TPT yang ingin disertifikasi,
dalam melakukan pemenuhan kriteria ekolabel TPT untuk mendapat sertifikat ekolabel .
Panduan teknis ini memuat petunjuk untuk pemenuhan persyaratan kriteria produk
serta petunjuk untuk pemenuhan prasyarat ekolabel. Sebagai kelengkapan dimuat pula
mengenai alur kegiatan yang diperlukan untuk mendapatkan sertifikat ekolabel TPT.
Studi penyusunan Panduan Teknis ini dilaksanakan oleh tim dari Laboratorium
Lingkungan Balai Besar Tekstil , berdasarkan perjanjian kerjasama antara BBT dan JICA,
pada bulan Februari – Maret 2005 .
Semoga Panduan Teknis ini dapat memberikan manfaat dalam pelaksanaan skema
ekolabel Indonesia khususnya bagi ekolabel TPT.
Penyusun
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
ii
Daftar isi
Halaman
Prakata ...................................................................................................... i
Daftar isi ………………………………………………………………….. ii
Daftar tabel ………………………………………………………………….. iii
1. Pendahuluan .......................................................................................... 1
1.1. Aspek lingkungan ………………………………………………….. 1
1.2. Ruang lingkup ………………………………………………………….. 1
1.3. Tujuan panduan ………………………………………………………….. 1
2. Acuan normatif ………………………………………………………….. 1
3. Pemenuhan kriteria ………………………………………………….. 2
Lingkup varian produk ………………………………………………….. 2
Prasyarat ekolabel ………………………………………………….. 2
3.2.1. Pemenuhan peraturan perundang-undangan lingkungan hidup ...………. 2
3.2.2. Sistem manajemen lingkungan (SML) ………………………………….. 4
3.2.3. Mutu produk dan system manajemen mutu (SMM) ………………….. 5
3.2.4. Kemasan produk ………………………………………………….. 6
3.2.5. Pemenuhan kriteria produk ………………………………………….. 6
4. Prosedur sertifikasi ekolabel TPT …………………………………...16
Identifikasi pemohon ………………………………………………...…16
Proses sertifikasi ………………………………………………...…16
Pengambilan contoh produk ………………………………………….. 20
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
ii
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
ii
Daftar Tabel
Halaman
Tabel 1. Persyaratan nilai ambang batas …………………………… 7
Tabel 2. Jenis logam pada zat warna …………………………………. 11
Tabel 3. Zat warna yang mengandung gugus azo …………………… 12
Tabel 4. Upaya preventif dalam proses penyempurnaan tekstil…….. 15
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
iii
1. Pendahuluan
Aspek lingkungan
Adanya resiko dampak negatif yang ditimbulkan dari kandungan bahan kimia
berbahaya yang terlepas saat tekstil dipakai, menyebabkan diberikannya pembatasan
penggunaan bahan kimia tertentu dalam proses produksi tekstil dan pembatasan
kandungannya dalam produk tekstil, yang dituangkan dalam kriteria ekolabel tekstil
dan produk tekstil (TPT). Kriteria dan persyaratan untuk skema ekolabel TPT
Indonesia ditujukan untuk memenuhi dua aspek yaitu aspek ilmiah lingkungan
serta sebagai pedorong dalam meningkatkan pasar sebagaimana yang dibutuhkan
industri . Walaupun demikian , tujuan label lingkungan adalah mendorong perbaikan
lingkungan diberbagai sektor .
Ruang lingkup
Panduan ini meliputi aspek lingkungan, ruang lingkup, acuan normatif, pemenuhan
kriteria, dan prosedur sertifikasi ekolabel.
Tujuan panduan
Panduan teknis pemenuhan persyaratan sertifikasi kriteria ekolabel tekstil dan produk
tekstil (TPT) ini dimaksudkan untuk memberi arahan pada produsen atau
perwakilannya atau pemilik merek dagang TPT yang ingin disertifikasi , dalam
melakukan pemenuhan kriteria ekolabel TPT untuk mendapat sertifikat ekolabel
2. Acuan normatif
Pedoman KAN 800 – 2004, Pedoman umum akreditasi dan sertifikasi ekolabel
Pedoman KAN 801 – 2004, Persyaratan umum lembaga sertifikasi ekolabel
Pedoman KAN 803 – 2004, Pedoman penggunaan tanda ekolabel
Pedoman KAN 812 – 2004 Kriteria ekolabel untuk katagori tekstil dan produk tekstil
3. Pemenuhan kriteria
3.1. Lingkup varian produk
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
1
Mengacu kepada Pedoman KAN 812 – 2004 „Kriteria Ekolabel untuk Kategori
Tekstil dan Produk Tekstil“ , maka Panduan Teknis Pemenuhan Persyaratan Sertifikasi
Kriteria Ekolabel Tekstil dan Produk Tekstil ini berlaku untuk lingkup varian produk
yang dikategorikan sebagai :
- pakaian, bahan pakaian dan TPT yang menempel pada kulit (close to skin), dan
- bukan pakaian (non close to skin) .
Pemohon harus yang mengajukan suatu produk TPT yang ingin mendapat sertifikat
ekolabel, tentang jenis dan spesifikasi serta kategori produk TPT yang akan
disertifikasi tersebut.
3.2. Prasyarat ekolabel
Mengacu kepada Pedoman KAN 812 – 2004, Kriteria ekolabel untuk kategori tekstil
dan produk tekstil, produsen TPT harus memenuhi prasyarat sertifikasi ekolabel
sebagai berikut:
1). Produsen berkomitmen mentaati peraturan perundangan pengelolaan lingkungan
hidup yang berlaku
2). Produsen menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan
3). Produsen memenuhi standar mutu produk (SNI atau yang setara) dan atau
produsen menerapkan Sistem Manajemen Mutu
4). Kemasan produk bersifat dapat dipakai uang (reuseable), dapat didaur ulang
(recycleable), dan atau mudah terurai secara alamiah (biodegradable).
3.2.1. Pemenuhan peraturan perundang-undangan lingkungan hidup
• Persyaratan : Produsen harus berkomitmen pada penaatan ketentuan hukum
dan peraturan pengelolaan lingkungan hidup yang berlaku
• Metoda verifikasi : Pernyataan produsen/kebijakan manajemen dan atau verifikasi
kepada instansi pemerintah yang berwenang. Dilengkapi
dengan pernyataan yang menjelaskan tidak pernah
mendapatkan sanksi administrasi dan pidana dalam bidang
lingkungan hidup selama 1 tahun terakhir (Pedoman KAN 800
- 2004)
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
2
Peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berkaitan dengan produk TPT
meliputi, tetapi tidak terbatas pada :
3.2.1.1. Peraturan tentang pengendalian pencemaran air :
1) Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2001, Tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air.
2) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51/MENLH/10/1995 tentang Baku
mutu limbah cair bagi kegiatan industri. Baku mutu limbah cair untuk industri
tekstil, Lampiran II B Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
3) Peraturan daerah (Propinsi atau Kabupaten) tentang Baku mutu limbah cair
untuk industri tekstil (bila ada).
Produsen harus melengkapi data laporan hasil uji limbah cair yang mengacu pada
peraturan yang berlaku. Laporan hasil uji diterbitkan oleh Laboratorium Uji yang
telah mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN).
3.2.1.2. Peraturan tentang pengendalian pencemaran udara :
1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999, tentang
Pengendalian pencemaran udara dan baku mutu udara ambien nasional
2) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-13/MENLH/3/1995
tentang Baku mutu emisi sumber tidak bergerak
3) Baku mutu emisi pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara,
Lampiran III B Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
4) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep-48/MENLH/11/1996 tentang
Baku mutu tingkat kebisingan.
5) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep-49/MENLH/11/1996 tentang
Baku mutu tingkat getar
6) Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep-50/MENLH/11/1996 tentang
Baku mutu tingkat kebauan
Produsen harus melengkapi data laporan hasil uji pengendalian pencemaran udara
tersebut di atas. Laporan hasil uji diterbitkan oleh Laboratorium Uji yang telah
mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN).
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
3
3.2.1.3. Peraturan tentang pengelolaan B3 dan limbah padat
1) Peraturan Pemerintah No.74 Tahun 200, tentang Pengelolaan bahan berbahaya
dan beracun.
2) Peraturan Pemerintah No.18 Tahun 1999, tentang Pengelolaan limbah bahan
berbahaya dan beracun.
3) Peraturan Pemerintah No.85 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah No.18 Tahun 1999, tentang Pengelolaan limbah bahan berbahaya
dan beracun.
4) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 68/BAPEDAL/05/1994 tentang Tata
Cara memperoleh izin penyimpanan, pengumpulan, pengoperasian alat
pengolahan, pengolahan dan penimbunan akhir limbah bahan berbahaya dan
beracun.
5) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata
cara dan persyaratan teknis penyimpanan dan pengumpulan limbah B3.
6) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 02/BAPEDAL/09/1995 tentang
Dokumen limbah B3.
7) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 03/BAPEDAL/09/1995 tentang
8) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 04/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata
Cara dan persyaratan penimbunan hasil pengolahan, persyaratan lokasi bekas
pengolahan dan lokasi bekas penimbunan limbah B3.
9) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 05/BAPEDAL/09/1995 tentang Simbol
dan label limbah B3.
10) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 255/BAPEDAL/08/1996 tentang Tata
cara dan persyaratan penyimpanan dan pengumpulan minyak pelumas bekas.
Produsen harus melengkapi data laporan hasil uji pengelolaan limbah B3 yang mengacu
pada peraturan yang berlaku. Laporan hasil uji diterbitkan oleh Laboratorium Uji yang
telah mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN).
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
4
3.2.2. Sistem manajemen lingkungan (SML)
Sistem manajemen lingkungan diperlukan dalam penerapan ekolabel untuk
menjamin bahwa produk yang disertifikasi dibuat dengan tidak memberikan dampak
negatif terhadap lingkungan. Lingkup penerapan SML harus mencakup semua
aspek lingkungan yang terkait langsung dengan proses produksi . Mengacu kepada
Pedoman KAN 812 – 2004, Kriteria ekolabel untuk kategori tekstil dan produk
tekstil“, produsen TPT harus memenuhi :
• Persyaratan: Produsen harus menerapkan sistem manajemen lingkungan yang
menjamin konsistensi pemenuhan persyaratan kriteria dan ambang
batas sertifikasi ekolabel, pengendalian dampak lingkungan serta
pemenuhan prasyarat penaatan peraturan perundang-undangan
pengelolaan lingkungan .
• Metoda verifikasi : Asesmen sistem manajemen lingkungan yang difokuskan pada
konsistensi pemenuhan kriteria ekolabel bersamaan dengan assessment
sistem mutunya.
Pemenuhan prasyarat penerapan SML :
1) Produsen yang telah menerapkan SML menurut standar manajemen lingkungan
yang berlaku dan mendapat sertifikat SML dari lembaga sertifikasi yang
diakui/diakreditasi oleh KAN, maka produsen dianggap telah memenuhi
prasyarat ini, tetapi harus diverifikasi dibagianmana pemenuhan kriteria ekolabel
tersebut dicanangkan dalam SML-nya.
2) Produsen yang belum mempunyai sertifikat SML maka sebagai bukti penerapan
SML produsen harus menyiapkan dokumen-dokumen kesesuaian untuk
pemenuhan persyaratan standar SML, yang difokuskan pada konsistensi dan
efisiensi pemenuhan kriteria ekolabel.
3.2.3. Mutu produk dan sistem manajemen mutu (SMM)
Mengacu kepada Pedoman KAN 812 – 2004, Kriteria ekolabel untuk kategori tekstil
dan produk tekstil, produsen TPT harus memenuhi :
• Persyaratan: Produk harus memenuhi standar mutu produk yang sesuai dan atau
penerapan sistem manajemen mutu.
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
5
• Metoda verifikasi : Asesmen sistem manajemen mutu dan pemenuhan mutu
produk.
Produk yang akan disertifikasi harus memenuhi standar mutu yang sesuai, bila SNI
untuk mutu produk yang bersangkutan telah ada maka produk harus memenuhi SNI
tersebut.
Pemenuhan prasyarat penerapan SMM:
1) Produsen yang produknya telah memenuhi standar mutu produk yang sesuai
dengan standar SNI dan mendapat sertifikat mutu dari Lembaga Sertifikasi
Produk (LSP) yang diakui/diakreditasi oleh KAN maka produk dinyatakan telah
memenuhi prasyarat ini.
2) Produsen yang telah menerapkan SMM menurut standar manajemen mutu yang
berlaku dan mendapat sertifikat SMM dari lembaga sertifikasi yang
diakui/diakreditasi oleh KAN, maka produsen dianggap telah memenuhi
prasyarat ini, tetapi harus diverifikasi konsistensi dari pemenuhan kriteria
ekolabel dicanangkan di dalam Sistem Manajemen Mutu nya.
3) Produsen yang belum mempunyai sertifikat SMM maka sebagai bukti penerapan
SMM produsen harus menyiapkan dokumen-dokumen kesesuaian untuk
pemenuhan persyaratan standar SMM.
3.2.4. Kemasan produk
Mengacu kepada Pedoman KAN 812 – 2004 „Kriteria Ekolabel untuk Kategori
Tekstil dan Produk Tekstil“, produsen TPT harus memenuhi aspek kemasan ramah
lingkungan sebagai berikut :
• Persyaratan : Kemasan yang bersifat reusable, dan atau recycleable, atau
biodegradable.
• Metoda verifikasi : Pernyataan dari produsen disertai dengan pernyataan pemasok
bahan kemasan mengenai jenis dan sifat bahan kemasan.
3.2.5. Pemenuhan kriteria produk
Mengacu kepada Pedoman KAN 812 – 2004 „Kriteria Ekolabel untuk Kategori
Tekstil dan Produk Tekstil“, produk TPT yang akan disertifikasi harus memenuhi
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
6
persyaratan kriteria dan nilai ambang batas dapat dilihat pada Tabel 1. Persyaratan
nilai ambang batas sebagai berikut:
Tabel 1.
Persyaratan nilai ambang batas
No Parameter Satuan Persyaratan Nilai Ambang Batas Keterangan
Pakaian dan Bahan Pakaian Bukan Pakaian
I Teknis produk
1. pH 4,5 – 7,5 4,0 - 7,5
2. Formaldehide, mg/kg Pakaian bayi 20 300 Maksimum
pada TPT dan Pakaian dan bahan pakaian 75
asesoris
(kancing)
3. Pestisida mg/kg Total 1,0 Total 1,0 Maksimum
hanya untuk dapat meliputi : dapat meliputi :
pakaian, bahan 2,3,5,6-Tetrachlorophenol 0,5 2,3,5,6-Tetrachlorophenol 0,5
pakaian dan γ BHC (Lindane) 1,0 γ BHC (Lindane) 1,0
bukan pakaian 2,4,5-Trichlorophenoxy acetic acd 0,05 2,4,5Trichlorophenoxy acetic acd 0 05
yang 2,4-Dichlorophenoxy acetic acid 0,1 2,4-Dichlorophenoxy acetic acid 0,1
mengandung Aldrin 0,2 Aldrin 0,2
serat kapas dan DDD 1,0 DDD 1,0
tidak DDE 1,0 DDE 1,0
mengalami DDT 1,0 DDT 1,0
proses basah. Dieldrin 0,2 Dieldrin 0,2
Heptachlorine 0,5 Heptachlorine 0,5
Heptachloroepoxide 0,5 Heptachloroepoxide 0,5
Methoxychlor 0,5 Methoxychlor 0,5
Toxaphene(Champechlor) 0,5 Toxaphene(Champechlor) 0,5
4. Chlorinated mg/kg PCP 0,5 PCP 0,5 Maksimum
phenols TeCP 0,5 TeCP 0,5
5. Organic tin mg/kg TBT 1,0 TBT 1,0 Maksimum
compounds DBT 1,0 DBT 1,0
6. Chlorinated mg/kg 1,0 1,0 Maksimum
benzenes dan
toluenes
7. Logam mg/kg Arsenic- As 1,0 Arsenic- As 1,0 Maksimum
terekstraksi / Cadmium- Cd 0,1 Cadmium- Cd 0,1
terlarut Chrom – Cr total 2,0 Chrom – Cr total 2,0
Chrom VI – Cr VI tidak terdeteksi Chrom VI – Cr VI tidak terdeteksi
Cobalt- Co 4,0 Cobalt- Co 4,0
Copper – Cu 50,0 Copper – Cu 50,0
Lead – Pb 1,0 Lead – Pb 1,0
Nickel – Ni 4,0 Nickel – Ni 4,0
Merkuri – Hg 0,02 Merkuri – Hg 0,02
Logan terlepas µg/cm2/ Nikel - Ni 0,05
dari asesoris minggu
(kancing ,
resleting)
8. Zat warna Tidak mengandung zat warna azo yang Tidak mengandung zat warna azo yang
pada TPT dan tereduksi menghasilkan senyawa amina tereduksi menghasilkan senyawa amina
asesoris grup MAK IIIA1 dan IIIA2 grup MAK IIIA1 dan IIIA2
(benang jahit
dan kancing)
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
7
Tabel 1. Persyaratan nilai ambang batas
(lanjutan)
No Parameter Satuan Persyaratan Nilai Ambang Batas Keterangan
Pakaian dan Bahan Pakaian Bukan Pakaian
9. Tahan luntur Minimal
warna terhadap
Pencucian Perubahan warna 3– 4 Perubahan warna 3– 4
Penodaan 3- 4 Penodaan 3- 4
Keringat Perubahan warna 3– 4 Perubahan warna 3– 4
asam dan basa Penodaan 3- 4 Penodaan 3- 4
Gosokan Perubahan warna 3– 4 Perubahan warna 3– 4
Penodaan 3- 4 Penodaan 3- 4
Sinar Nilai 4 Nilai 4
II. Proses
Produksi
1. Bleaching Tidak menggunakan senyawa klorin Tidak menggunakan senyawa klorin
2. Surfaktan Tidak menggunakan senyawa APEO Tidak menggunakan senyawa APEO
3. Printing Tidak menggunakan senyawa kerosene Tidak menggunakan senyawa kerosene
(minyak tanah) (minyak tanah)
Sumber : Pedoman KAN 812-2004 kriteria ekolabel untuk kategori tekstile dan produk
Tekstil.
3.2.5.1. Penjelasan kriteria
1) pH
Untuk memenuhi kriteria nilai pH tidaklah sulit, cukup dilakukan pencucian
dengan cermat dan bila diperlukan dapat dilanjutkan dengan netralisasi. Bila
pH kain terlalu rendah ataupun terlalu tinggi bisa menimbulkan gangguan saat
dipakai, misalnya menimbulkan rasa gatal pada kulit .
2) Formaldehida
Pada tahun 1960 an di Eropa dilaporkan adanya alergi dan penyakit yang
disebabkan oleh formaldehid pada tekstil. Hal ini telah memicu diberikannya
pembatasan kandungan formaldehid dalam TPT .
Dalam tahap pemakaian, kehadiran beberapa bahan kimia tekstil terbukti
memberi dampak negatif terhadap pemakainya (manusia) apabila bahan-bahan
tersebut terlepas (tereduksi hingga terlepas) dari bahan tekstil, diantaranya yaitu
formaldehid, zat warna azo amina yang bila tereduksi menghasilkan senyawa
yang karsinogen, kandungan logam berat, serta pestisida yang terkandung dalam
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
8
serat alam (kapas), dalam kemasan atau yang dibubuhkan saat transportasi dan
penyimpanan untuk mencegah kerusakan karena jamur dan pembusukan.
Resin yang mengandung formaldehida digunakan untuk penyempurnaan serat
selulosa (katun, rayon) , serat selulosa memerlukan penyempurnaan dengan
senyawa reaktif agar terjadi crosslink gugus selulosa. Cara ini akan
meningkatkan kestabilan serat , tahan kusut dan crease recovery. Bahan yang
digunakan untuk crosslinking selulosa adalah senyawa N-metilol yang dalam
penggunaannya akan melepas senyawa formaldehid . Isu emisi formaldehid dari
tekstil telah dipublikasi , laporan alergi dan penyakit yang serius karena
formaldehid pada tekstil pertama timbul pada tahun 1960 an , dan sebagai
dampaknya ditetapkan pembatasan formaldehid dalam tekstil, seperti yang
diberikan oleh Marks & Spencer (1970) dan Japan Law (1974) . Berdasarkan
peraturan German untuk bahan berbahaya, tekstil yang mengandung formaldehid
> 0,15 % harus diberi tanda/label . DHDHEU dimetilol dihidroksi etilena urea
merupakan resin dengan kadar formaldehid yang rendah, bila digunakan dengan
tepat maka formaldehid yang dilepas dari produk yang diproses dengan
DHDHEU akan minimal . Resin dengan kadar formaldehid rendah diantaranya
adalah BTCA-butane tetra carboxylic acid , DMeDHEU-dimetil dihidroksi
etilena urea .
Bahan pengisi (builder) digunakan pada tekstil untuk meningkatkan kelembutan
dan pegangan , meningkatkan bulk kain, dan juga lipatan atau kekakuan kain ,
seperti untuk celana pria . Bahan yang digunakan sebagai builder adalah senyawa
yang membentuk lapisan metilol , diantaranya adalah urea formaldehid
3) Pestisida
Industri tekstil mencakup industri pembuatan benang dari serat tekstil
(pemintalan), pembuatan kain (pertenunan dan perajutan), penyempurnaan dan
garmen. Serat tekstil dapat berupa serat alam yang diambil dari tumbuhan atau
binatang yaitu serat kapas, serat batang (rami, jute), ataupun sutera dan wool ,
serta dapat pula berupa serat sintetis yang dibuat dari bahan alam yaitu serat rayon
dari pulp, serat poliester, akrilat ddan nilon dari minyak bumi.
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
9
Sumber pestisida pada tekstil dapat berasal dari pestisida yang terdapat dalam
serat alam , pestisida dalam bahan kimia untuk proses tekstil misalnya pada kanji
alam, dan dari bahan kemasan serta saat pengiriman untuk mencegah tekstil dari
gangguan/kerusakan karena jamur dan pembusukan saat transportasi dan
penyimpanan .
4) Chlorinated phenols
Chlorinated phenol yang dibatasi adalah pentachloro phenol dan tetrachloro
phenol, pada tekstil dapat berasal dari pestisida yang terdapat dalam serat alam ,
pestisida dalam bahan kimia untuk proses tekstil misalnya pada kanji alam, dan
dari bahan kemasan serta saat pengiriman untuk mencegah tekstil dari
gangguan/kerusakan karena jamur dan pembusukan saat transportasi dan
penyimpanan
5) Organic tin compound
Bahan penyempurnaan yang mengandung logam diantaranya adalah zat anti
jamur dan pencegah bau yang digunakan pada kaos kaki yaitu senyawa organik
timah (organo-tin-compound) ; water repellents yaitu chrom stearic acid ;
flame retardant untuk wool yang merupakan senyawa decabromobiphenyl oxide
+ antimony oxide atau titanium chloride . Beberapa senyawa timah-organik
(TBT, DBT) juga ditemukan pada zat warna/pigmen sebagai pengotor
(impurities) .
6) Chlorinated benzene dan toluene
Carrier adalah bahan penolong yang digunakan untuk pencelupan poliester dan
campuran poliester dengan serat lain. Carrier yang berupa senyawa organik
halogen (chlorobenzene atau chlorotoluene) tidak boleh digunakan. Maka
apabila menggunakan carrier pilihlah yang bukan golongan chlorobenzene dan
chlorotoluene. Hal ini harus diverifikasi dari material safety data sheet (MSDS)
carrier yang digunakan atau dari pernyataan pemasok. Chlorinated benzene dan
toluene yang dibatasi adalah Dichlorobenzene, Trichlorobenzene,
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
10
Tetrachlorobenzene, Pentachlorobenzene, Hexachlorobenzene, Chlorotoluene,
Dichlorotoluene, Trichlorotoluene, Tetra chlorotoluen, Pentachlorotoluen
6) Logam terekstraksi / terlarut
Kandungan logam berat dalam tekstil – Sumber logam dari proses tekstil sulit
untuk diidentifikasi karena memerlukan analisis dari seluruh aspek produksi.
Kemungkinan sumber untuk logam berat ini berasal dari : serat yang digunakan,
air, zat warna, atau sebagai impurities pada bahan kimia. Kehadiran logam berat
dalam air limbah telah menjadi perhatian masyarakat diseluruh dunia. Beberapa
zat warna mengandung logam yang dikenal sebagai senyawa/logam yang bersifat
racun. Batasan untuk logam berat beracun (arsen, cadmium, timbal dan merkuri)
dalam standar Oeko-tex 100 sangat kecil. Logam terkandung dalam zat warna
karena dua penyebab. Pertama merkuri atau logam lain digunakan sebagai katalis
selama proses pembuatan zat waran dan juga dapat hadir sebagai hasil samping
(by product). Kedua, sebagian zat warna mempunyai logam didalamnya sebagai
bagian dari molekul zat warna tersebut. Sebagai contoh kandungan logam pada
zat warna dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2.
Jenis logam pada zat warna
Jenis zat warna Jenis logam yang terdapat dalam struktur zat warna
Direk Tembaga
Reaktif Tembaga dan Nikel
Bejana Tidak ada
Disperse Tidak ada
Asam Tembaga, Krom dan Kobal
Premet Tembaga, Krom dan Kobal
Mordan Chrome
Pigmen Timbal, Krom, Molibdat dan Cadmium
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
11
Sumber logam dari pencelupan tidak selalu hanya berasal dari zat warna yang
digunakan, tetapi dapat juga berasal dari proses afterkrom untuk serat wool,
kerja iring dengan tembaga untuk beberapa jenis zat warna direk,
ketidakmurnian dalam serat, garam, soda kaustik juga dari senyawa oksidator dan
reduktor. Dikromat dan permanganat sebagai oksidator, zinc sulfoxylate
formaldehidyde sebagai reduktor pada proses afterclearing atau discharge
printing dan stripping . Logam berat juga dimungkinkan terdapat dalam serat
alam seperti katun dan wool yaitu arsen (As) dari defoliant dan pestisida .
Data kandungan logam berat dalam bahan tekstil harus tercantum dalam MSDS
atau diberikan dari pemasok. Pemasok besar juga melakukan test sendiri
mengenai kandungan logam berat yang dapat terekstraksi dikaitkan dengan
metoda pencelupan yang digunakan dan juga dalam resep pencelupan.
8) Zat warna
Lebih dari 60% zat warna merupakan zat warna yang mempunyai gugus azo,
tetapi umumnya tidak melepas amina yang karsinogen dalam kondisi tereduksi.
Zat warna azo yang dilarang adalah yang melepas senyawa aril amina pada
kondisi tereduksi yaitu zat warna azo kelas MAK IIIA1 dan IIIA2 . Dalam
proses printing kemungkinan masalah yang timbul adalah alternatif yang tersedia
untuk penggantian warna kuning, orange dan coklat yang masih termasuk mahal
harganya. Zat warna yang mengandung gugus azo yang dimaksud dapat dilihat
pada table 3.
Tabel 3.
Zat warna yang mengandung gugus azo
Parameter Jenis Senyawa
- zat warna azo Jenisnya mengikuti daftar zat warna azo yang dalam keadaan tereduksi
kelas MAK mnghasilkan senyawa aril-amina yang dilarang karena karsinogen atau alergenik,
yaitu:
IIIA1 dan IIIA2 MAK III, katagori 1:
4-aminobiphenyl benzidine
4-chloro-0-toluidine
4-chloro-o-toluidine
2-naphthylamine
MAK III, katagori 2:
o-aminoazotoluene
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
12
Parameter Jenis Senyawa
2-amino-4-nitrotoluene
p-chloroaniline
2,4-diaminoanisole
4,4’-diaminobiphenylmethane
3,3’-dichlorobenzidine
3,3’-dinethoxybenzidine
3,3’-dimethylbenzidine
3,3’-dimethyl-4,4’-diaminobiphenylmethane
p-cresidine
4,4’-methylene-bis-(2-chloroaniline)
4,4’-thiodianiline
o-toluidine
2,4-toluendiamine
2,4,5-trimethylaniline
o-anisidine (2-methoxyanilin)
2,4-xylidine
Tabel 3.
Zat warna yang mengandung gugus azo
(lanjutan)
Parameter Jenis Senyawa
2,6-xylidine
4-aminoazobenzene
4-4 oxidianilin
diantaranya adalah zat warna : C.I Acid Red 26, Basic Red 9, Basic
Violet 14, Direct Black 38, Direct Blue 6, Direct Red 28, Disperse
Blue 1, Disperse Orange 11, Disperse Yellow 3 , yang karsinogen,
dan zat warna : C.I Disperse Blue, Orange, Red, Yellow , Brown
yang menyebabkan alergi.
Ditetapkan dilarang untuk digunakan karena sudah tersedia
penggantinya yang lebih ramah lingkungan
9) Tahan luntur warna
Dari kriteria produk tersebut , persyaratan ketahanan warna lebih banyak berupa
merupakan persyaratan aspek mutu bukan aspek toksikologi .
Panduan Teknis Bagi Industri Dalam Pemenuhan Persyaratan Kriteria Ekolabel
Tekstil dan Produk Tekstil
13
10) Bleaching (pengelantangan)
Pada proses pengelantangan, bahan pemutih digunakan untuk menghilangkan
kotoran yang berwarna. Hal ini dilakukan dengan bahan pemutih yang berupa
oksidator atau reduktor untuk mendapatkan tingkat/derajat putih yang lebih
tinggi. Bahan pemutih yang tidak ramah lingkungan adalah bahan pemutih yang
mengandung senyawa klorin karena akan mmemberi kontribusi terbentuknya
AOX. Komponen dasar suatu bahan pemutih yang digunakan harus dinyatakan
dalam MSDS atau ada pernyataan dari pemasoknya .
11) Surfaktan (zat aktif permukaan)
Zat aktif permukaan digunakan dalam berbagai proses tekstil yaitu dalam
lubricating, spin finishing pada serat sintetis, penganjian benang, pemasakan,
merserisasi, pengelantangan, proses penyempurnaan basah (wet finishing) dan
pencelupan, yang berfungsi sebagai zat pembasah, pengemulsi dan bahan
pencuci . Zat aktif permukaan yang banyak digunakan adalah dari jenis
nonionik dan anionik, nonionik yaitu alkohol etoksilat (AE), alkilphenol
etoksilat (APEO) atau nonil phenol etoksilat (NPE), sedangkan surfaktan
anionik adalah alkilbenzena sulfonat, alkohol etoksilat. Diantara zat aktif
permukaan tersebut, APEOs merupakan yang paling bersifat racun, karena
dekomposisi dari APEO adalah senyawa fenol yang bersifat racun terhadap
organisma air (ikan) .
Pengggunaan senyawa APEO di German telah dilarang. Informasi komponen
utama detergen untuk mengetahui adanya APEO harus dinyatakan dalam
MSDS atau ada pernyataan dari pemasoknya.
12) Printing (pencapan)
Masalah pencemaran yang terbesar dari proses pencapan tekstil adalah buangan
emulsi air-minyak yang merupakan bahan dasar pasta pencapan. Emulsi
tersebut akan menghasilkan minyak-lemak dalam air limbah dan mengakibatkan
terlepasnya uap hidrokarbon saat pemanasan dan pengeringan. Emulsi air-
minya


Use: 0.0361