• 25 BAB II LANDASAN TEORI A. Metode Pembelajaran Berbasis ...


  •   
  • FileName: hubptain-gdl-ellyikasus-7509-3-babii.pdf [read-online]
    • Abstract: Pembelajaran berbasis proyek (PBL) merupakan metode belajar yang ... Moeslichatoen dalam bukunya \"metode pengajaran di taman kanak- kanak\" mengatakan bahwa ...

Download the ebook

25
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
1. Pengertian
Pembelajaran berbasis proyek (PBL) merupakan metode belajar yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam pengumpulan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam
beraktivitas secara nyata. PBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan
komplek yang diperlukan pelajaran dalam melakukan investigasi dan
memahaminya berikut pengertian PBL menurut beberapa ahli. 1
a. Thomas Mergendoller dan Michaelson mengatakan PBL adalah metode
pengajaran sistematik yang mengikutsertakan pelajaran ke dalam
pembelajaran pengetahuan dan keahlian yang kompleks, pertanyaan
autentik dan perancangan produk dan tugas.
b. Baron B. mengatakan PBL adalah pendekatan cara pembelajaran secara
konstruktif untuk pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis
riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata relevan
bagi kehidupannya.
1
Purnawan “project based learning”, http://yudipurnawan.wordpress.com/category/project-based
learning/diakses 13 Mei 2008
25
26
c. Blumenfeld menjelaskan bahwa PBL adalah pendekatan komprehensif
untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar pelajaran melakukan
riset terhadap permasalahan nyata.
d. Boud dan Felleti mengemukakan PBL adalah cara yang konstruktif dalam
pembelajaran menggunakan permasalahan sebagai stimulus dan berfokus
aktivitas pelajar.
Moeslichatoen dalam bukunya “metode pengajaran di taman kanak-
kanak” mengatakan bahwa model pembelajaran berdasarkan proyek (PBL)
adalah suatu metode pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar
dengan menghadapkan anak dengan persoalan sehari- hari yang harus
dipecahkan secara berkelompok. Menurut hasil penelitian terdapat hubungan
yang erat antara proses memperoleh pengalaman yang sebenarnya dengan
pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan bagi anak harus diintegrasikan
dengan lingkungan kehidupan anak yang banyak menghadapkan anak dengan
pengalaman langsung. 2
Pembelajaran Berbasiskan Proyek berasal dari gagasan John Dewey
tentang konsep “Learning by Doing” yakni proses perolehan hasil belajar
dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya,
terutama penguasaan anak tentang bagaimana melakukan sesuatu pekerjaan
yang terdiri atas serangkaian tingkah laku untuk mencapai suatu tujuan.
2
Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak -Kanak, (Jakarta: Rineka Cipta: 2004), hal. 137
27
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek didukung teori belajar
konstruktivisme yang menyatakan bahwa struktur dasar suatu kegiatan terdiri
atas tujuan yang ingin dicapai sebagai subyek yang berada di dalam konteks
suatu masyarakat di mana pekerjaan itu dilakukan dengan perantaraan alat-
alat, peraturan kerja, pembagian tugas dalam penerapan di kelas bertumpu
pada kegiatan aktif dalam bentuk melakukan suatu (doing) daripada kegiatan
pasif “menerima” transfer pengetahuan dari pengajar. Filosofi belajar
konstruktivisme menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal,
tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan
baru lewat fakta- fakta atau proposisi yang mereka alami dalam
kehidupannya. 3
Menurut Murphy konstruktivisme adalah teori belajar yang mendapat
dukungan luas yang berstandar pada ide bahwa siswa membangun
pengetahuan sendiri di dalam konteks pengetahuan sendiri.
Mulyasa dalam bukunya Kurikulum Berbasis Kompetensi menyatakan
pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan pembelajaran yang
berdasarkan bahwa dengan merefleksikan pengalaman-pengalaman kita, kita
akan dapat membangun pemahaman terhadap dunia yang di mana kita hidup
didalamnya. 4
3
Masnur Muslich, Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bina Aksara, ), hal. 41
4
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, ), hal. 237
28
Pendekatan ini selaras dengan konsep KBK, kehadiran KBK juga
dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara
mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual,
yaitu pembelajaran yang didukung situasi dalam kehidupan nyata.
Pengetahuan bukan seperangkat fakta-fakta atau konsep maupun kaidah
yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruk (membangun)
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dan
pembelajaran berbasis proyek dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan
penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa mengkonstruk
pengetahuan dan keterampilan secara personal.
Jadi pembelajaran berbasis proyek (PBL) merupakan metode
pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam
mengumpulkan, mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan
pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Kemudian masalah tersebut
dipecahkan secara berkelompok. Dan dalam pembelajaran ini siswa mampu
menemukan sendiri penyelesaian dari produk/tugas yang diberikan.
Dalam perspektif agama Islam belajar adalah kewajiban bagi setiap
Muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan, sehingga derajat
kehidupannya meningkat. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-
Mujadalah ayat 11 sebagai berikut:
tûïÏ%©!$# $pkš‰r'¯»tƒ
öNä3s9 Ÿ@ŠÏ% #sŒÎ) (#þqãZtB#uä
29
ħÎ=»yfyJø9$# †Îû (#qßs¡¡xÿs?
ª!$# Ëx|¡øÿtƒ (#qßs|¡øù$$sù
Ÿ@ŠÏ% #sŒÎ)ur ( öNä3s9
(#râ“à±S$$sù (#râ“à±S$#
tûïÏ%©!$# ª!$# Æìsùö•tƒ
tûïÏ%©!$#ur öNä3ZÏB (#qãZtB#uä
zOù=Ïèø9$# (#qè?ré&
$yJÎ/ ª!$#ur 4 ;M»y_u‘yŠ
ÇÊÊÈ ×Ž•Î7yz tbqè=yJ÷ès?
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah
(yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud
hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat
jahat), Maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. dan
bertakwalah kepada Allah, dan Hanya kepada Allah sajalah
orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.
Selain itu juga firman Allah dalam surat Al-Isro’ ayat 36 menyatakan :
¾ÏmÎ/ y7s9 }§øŠs9 $tB ß#ø)s? Ÿwur
yìôJ¡¡9$# ¨bÎ) 4 íOù=Ïæ
yŠ#xsàÿø9$#ur uŽ|Çt7ø9$#ur
çm÷Ytã tb%x. y7Í´¯»s9'ré& ‘@ä.
ÇÌÏÈ Zwqä«ó¡tB
Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
2. Ciri Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
Tidak semua kegiatan belajar aktif dan melibatkan proyek dapat disebut
pembelajaran berbasis proyek. Berangkat dari pertanyaan “apa yang dimiliki
proyek agar dapat digolongkan sebagai pembelajaran berbasis proyek” dan
keunikan pembelajaran berbasis proyek yang ditemukan dari sejumlah
literatur dan hasil penelitian, Thomas menetapkan lima kriteria apakah suatu
30
pembelajaran berproyek termasuk sebagai pembelajaran berbasis proyek, lima
kriteria itu antara lain:
a. Keterpusatan (centrality)
Proyek dalam pembelajaran berbasis proyek adalah pusat atau inti
kurikulum, bukan pelengkap kurikulum, di dalam pembelajaran proyek
adalah strategi pembelajaran, pelajaran mengalami dan belajar konsep-
konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek.
b. Berfokus pada pertanyaan atau masalah
Proyek dalam PBL adalah berfokus pada pertanyaan atau masalah,
yang mendorong pelajar menjalani (dengan kerja keras) konsep-konsep
dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin.
c. Investigasi konstruktif atau desain
Proyek melibatkan pelajaran dalam investigasi konstruktif,
investigasi mungkin berupa proses desain, pengambilan keputusan,
penemuan masalah, pemecahan masalah, deskoveri, atau proses
pembangunan model, akan tetapi aktivitas inti dari proyek ini harus
meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan.
d. Bersifat otonomi pembelajaran
Dalam PBL lebih mengutamakan otonomi, pilihan, waktu kerja dan
tanggung jawab pelajaran terhadap proyek, proyek adalah realistik,
karakteristik proyek memberikan keontentikan pada pelajar.
e. Bersifat realisme
31
Pembelajaran berbasis proyek melibatkan tantangan- kehidupan
nyata, berfokus pada pertanyaan atau masalah autentik (bukan simulatif)
dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang
sesungguhnya.
3. Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek terutama dikembangkan untuk membantu
siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan memecahkan
masalah dalam penugasan (proyek) belajar peranan orang dewasa melalui
pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi
pembelajar yang otonom dan mandiri. Uraian rincian terhadap ketiga tujuan
ini diuraikan sebagai berikut:5
a. Metode proyek merupakan salah satu cara yang ditempuh guru untuk
memberikan pengalaman belajar agar anak didik memperoleh
keterampilan dalam memecahkan persoalan sehari- hari lebih baik.
b. Melalui pembelajaran berbasis proyek diharapkan siswa mendapat
kesempatan untuk menggunakan kemampuan, keterampilan dan minta
serta kebutuhannya terpadu dengan kemampuan, dan minat serta
kebutuhan siswa lain dalam mencapai tujuan kelompok.
c. Pembelajaran berbasis proyek diharapkan dapat memberi pengalaman
belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan penalaran, karena
proyek merupakan salah satu bentuk pemecahan masalah.
5
Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak -Kanak , hal. 143
32
d. Metode proyek bertujuan mengembangkan kemampuan mengadakan
hubungan siswa dengan siswa lain dalam kelompok, yang dapat
menimbulkan kecenderungan berpikir, merasakan dan bertindak lebih
kepada tujuan kelompok dari pada diri sendiri.
e. Metode proyek memberi peluang kepada tiap anak untuk berperan serta
dalam pemecahan masalah yang dihadapi dengan memilih bagian
pekerjaan kelompok sesuai dengan kemampuan, keterampilan, kebutuhan,
dan minat masing- masing.
Dari beberapa tujuan pembelajaran berbasis proyek di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek diharapkan dapat
membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan
memecahkan masalah dalam penugasan melalui pelibatan mereka dalam
pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi pembelajaran yang otonom dan
mandiri.
4. Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelanjaan berbasis proyek (PBL) berdasarkan pada psikologi
kognitif. Fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang
dilakukan siswa (perilaku mereka) melainkan pada yang apa mereka pikirkan
(kognitif mereka) melainkan pada yang apa mereka pikirkan (kognitif mereka)
pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada PBL guru berperan sebagai
pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berpikir dan
menyelesaikan proyek/tugas yang sudah diberikan guru.
33
Pembelajaran berbasis proyek (PBL) dilandaskan oleh beberapa ahli,
yaitu:
a. John Dewey dan kelas demokratis
Metode proyek berasal dari gagasan John Dewey tentang konsep
“Learning by Doing” yakni proses perolehan hasil belajar dengan
mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama
proses penguasaan anak tentang bagaimana melakukan sesuatu tujuan.
Pada penelitian John Dewey menggambarkan suatu pandangan tentang
pendidikan di mana sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang
lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan
masalah kehidupan nyata.
Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek
atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki
masalah- masalah intelektual dan sosial. Dewey dan Kill Patrick
mengemukakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya lebih memiliki
manfaat daripada dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil
untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan pilihan mereka sendiri. 6
b. Pieget , Vygotsky dan konstruktivisme
Jean Piaget dan Lev Vygotsky adalah tokoh dalam pengembangan konsep
konstruktivisme. Dan pada konsep inilah dasar pijak pembelajaran
berbasis proyek diletakkan. Piaget mengemukakan bahwa siswa dalam
6
Ibrahim dkk., Pembelajaran Kooperatif, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2000), hal. 06
34
segala usia secara aktif terlibat dalam perolehan informasi dan
membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis tetapi
secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi
pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi
pengetahuan awal mereka.
Vygotsky, seperti halnya Piaget percaya bahwa perkembangan intelektual
terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan
menantang. Dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah
yang dimunculkan oleh pengalaman tersebut. Dalam upaya mendapatkan
pemahaman, individu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan
awal yang telah dimilikinya dan membangun pengertian baru. Namun
berbeda denga n Piaget tentang perkembangan intelektual setiap individu
yang tanpa memandang latar konteks sosial. Vygotsky percaya bahwa
interaksi sosial dengan orang lain memacu terbentuknya ide baru dan
memperkaya perkembangan intelektual siswa.
Pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dengan guru dan teman
sejawat. Melalui tantangan dan bantuan dari guru dan teman sejawat yang
lebih mampu, siswa bergerak ke arah di mana pembelajaran baru terjadi
pembelajaran konstruktivis yang menekankan kebutuhan siswa untuk
menyelidiki lingkungannya dan membangun secara pribadi pengetahuan
bermakna merupakan dasar ilmiah untuk pembelajaran berbasis proyek
(PBL).
35
c. Jorome Bruner dan pembelajaran penemuan
Jorome Bruner dan koleganya mengemukakan teori pendukung
penting yang kemudian dikenal sebagai pembelajaran penemuan.
Pembelajaran penemuan adalah suatu pembelajaran yang menekankan
pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu
disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajarannya
terjadi melalui penemuan pribadi. Menurut Bruner bahwa menemukan
sesuatu oleh murid memakan waktu yang lebih banyak, apa yang dapat
diajarkan dalam waktu 30 menit, mungkin memerlukan 4 – 5 jam, yakni
merumuskan masalah, merencanakan cara memecahkannya, melakukan
percobaan, membuat kesalahan, berpikir untuk mengatasinya, dan
akhirnya menemukan penyelesaiannya tak ternilai harganya bagi cara
belajar selanjutnya atas kemampuan sendiri. 7
Ketika pembelajaran penemuan diterapkan dalam sains dan ilmu-
ilmu sosial, pembelajaran ini menekankan penalaran induktif dan proses-
proses inquiri yang merupakan ciri metode ilmiah. Richard Suchman
dalam buku “pembelajaran kooperatif” mengembangkan suatu pendekatan
yang disebut latihan inquiri. Ketika menggunakan pendekatan ini guru
7
Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 2006),
hal. 23
36
menyajikan situasi teka-teki atau kejadian-kejadian yang tak terduga yang
dimaksudkan untuk memancing rasa ingin tahu dan memotivasi
penyelidikan.
Pembelajaran berbasis proyek juga bergantung pada konsep lain dari
Bruner yaitu Scaffolding. Scaffolding merupakan proses di mana seorang
siswa dibantu untuk menuntaskan suatu masalah tertentu melampaui
tingkat pengetahuannya oleh seorang guru atau orang lain yang memiliki
kemampuan lebih. Sehingga peran dialog sosial dalam pembelajaran juga
sangat penting. 8
Pada dasarnya semua tokoh berpendapat hampir sama mengenai
teori pembelajaran berbasis proyek yaitu fokus pengajaran tidak begitu
banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa (perilaku mereka)
melainkan pada yang apa mereka pikirkan (kognitif mereka) pada saat
mereka melakukan kegiatan itu. Sedangkan guru berperan sebagai
pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berpikir dan
memecahkan masalah sendiri dalam menyelesaikan tugas yang diberikan
guru. John Dewey dan Kill Patrick mengungkapkan bahwa pembelajaran
di sekolah seharusnya lebih memiliki manfaat dari pada dilakukan oleh
siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang
menarik. Pieget dan Vygotsky lebih menekankan bahwa perkembangan
8
Nur M. Ibrahim, Muslimin. Pengajaran Berdasarkan Masalah, (Surabaya: Unipress, 2000), hal. 15-
23
37
intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru
dan menantang, sehingga individu dapat mengaitkan pengetahuan baru
dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Sedangkan Jorome
Bruner lebih menekankan pada pentingnya membantu siswa memahami
struktur atau ide kunci suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat
dalam proses pembelajarannya terjadi melalui penemuan pribadi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis
proyek dapat melatih siswa untuk berpikir kritis yakni membuat keputusan
rasional tentang apa yang diperbuat atau apa yang diyakini, sehingga
siswa dapat membedakan fakta-fakta yang dapat diverifikasikan (diuji
kebenarannya) dan yang tidak dapat diverifikasikan serta menentukan
kredibilitasnya dalam memecahkan masalah.
Pembelajaran berbasis proyek berusaha membantu siswa sehingga
menjadi pelajar yang mandiri dan otonom dengan bimbingan guru ajang
dapat mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan,
menyelesaikan masalah nyata oleh mereka sendiri. Siswa juga belajar
untuk menyelesaikan tugas secara mandiri dalam hidupnya kelak.
5. Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL)
Berdasarkan kegiatan belajar mengajar dalam pendekatan pembelajaran
berbasis proyek (PBL) terbagi menjadi beberapa tahapan yang didiskripsikan
menjadi enam tahapan sebagai berikut:
38
a. Persiapan
Pengajar merancang desain atau membuat kerangka proyek yang
bermanfaat dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pelajar
dalam mengembangkan pemikiran terhadap proyek tersebut sesuai dengan
kerangka yang ada, dan menyediakan sumber yang dapat membantu
pengerjaannya. Hal ini akan mendukung keberhasilan pelajar dalam
menyelesaikan suatu proyek dan cukup membantu dalam menjawab
pertanyaan, beraktivitas dan berkarya. Kerangka menjadi sesuatu yang
penting untuk dibaca dan digunakan oleh pelajaran. Oleh karenanya,
pengajar harus melakukan peranannya dengan baik dalam menganalisa dan
mengintegrasikan kurikulum, mengumpulkan pertanyaan, mencari sumber
yang dapat membantu pelajar dalam menyelesaikan proyek dan
menyimpan semua dokumen yang ada.
b. Penugasan/menentukan topik
Sesuai dengan tugas proyek yang diberikan oleh pengajar maupun
pilihan sendiri, pelajar akan memperoleh dan membaca kerangka proyek,
lalu berupaya mencari sumber yang dapat membantu dengan berdasar pada
referensi yang berisi materi relevan. Pelajar dengan cepat langsung
mendapatkan materi yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan
proyek. Lalu pelajaran berpikir dengan kemampuannya berdasar pada
39
pengalaman yang dimiliki, membuat pemetaan topik dan mengembangkan
gagasan dalam menentukan sub topik suatu proyek.
c. Merencanakan kegiatan
Pelajaran bekerja dalam proyek individu, kelompok dalam satu kelas atau
antar kelas. Pelajar menentukan kegiatan dan langkah yang akan diambil
sesuai dengan sub topiknya, merencanakan waktu pengerjaan dari semua
sub topik dan menyimpang menjadi satu file. Jika bekerja dalam
kelompok, tiap anggota harus mengikuti aturan dan memiliki rasa
tanggung jawab. Sedangkan pengajar berkewajiban menyampaikan dari
sisi dari rencana proyeknya kepada orang tua, sehingga orang tua dapat
ikut serta membantu dan mendukung anaknya dalam menyelesaikan
proyek.
d. Investigasi dan penyajian
Investigasi di sini termasuk kegiatan : menanyakan pada ahlinya (orang
yang betul-betul memahami tentang materi yang ditugaskan), memeriksa
file, dan saling tukar pengalaman dan pengetahuan serta melakukan surve.
Dalam perkembangannya kadang berisi observasi dan eksperimen, diskusi
dapat dilakukan di kelas, lalu penyajian hasil dapat berupa gambar, tulisan,
diagram, pemetaan dan lain- lain.
e. Finishing
Pelajar membuat laporan, prestasi, gambar dan lain- lain. Sebagai hasil
kegiatannya, lalu pengajar dan pelajar membuat catatan terhadap proyek
40
untuk pengembangan selanjutnya. Peserta menerima feed back atas apa
yang dibuatnya dari kelompok teman dan pengajar. Feed back disajikan
untuk memungkinkan setiap individu secara langsung berkomentar dan
memberikan kontribusi, dan agar dilihat dan bermanfaat bagi orang lain.
f. Monitoring/evaluasi
Pengajar menilai semua proses pengerjaan proyek yang dilakukan oleh
tiap pelajaran berdasar pada partisipasi dan produktivitasnya dalam
pengerjaan proyek.
Contoh metode pembelajaran berbasis proyek;
Contoh metode pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran
ilmu pengetahuan sosia l.
Mata pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
Satuan pendidikan : SD (Sekolah Dasar)
Kelas/Semester : VI (Genap)
Kompetisi Dasar :
Menganalisis bentu- perilaku yang muncul sebagai dampak globalisasi
(konsumerisme, gaya hidup).
Indikator :
1. Mengidentifikasi bukti-bukti globalisasi di lingkungan masyarakat
(misalnya dalam hal periklanan, pariwisata, migrasi, telekomunikasi)
41
2. membuat daftar perubahan perilaku masyarakat setempat sebagai
dampak globalisasi (misal : dalam hal makanan, perilaku, gaya hidup,
pakaia n, nilai- nilai, komunikasi, perjalanan dan tradisi)
3. Membandingkan pandangan orang tua dan anak mengenai perubahan-
perubahan yang terjadi akibat pengaruh globalisasi.
Contoh metode pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam :
Mata pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Satuan pendidikan : SMA (Sekolah Menengah Atas)
Kelas/Semester : XI /Genap
Kompetisi dasar :
Siswa dapat memahami ketentuan hukum tata cara pengurusan jenazah
dan mampu memperagakan tata cara pengurusan kenazah.
Indikator pembelajaran :
1. Menjelaskan tata cara pengurusan jenazah
2. Menjelaskan maksud dan tujuan memandikan jenazah serta
memberikan contoh cara memandikan jenazah
3. menjelaskan maksud dan tujuan mengkafani jenazah serta memberikan
contoh mengkafani jenazah
4. Menyebutkan do'a-do'a serta memberikan contoh mensholatkan
jenazah
5. Mengidentifikasikan masalah- masalah autentik
42
6. Mengidentifikasikan pemecahan masalah- masalah autentik
6. Peranan Pengajar dalam PBL
Selama berlangsungnya proses pembelajaran berbasiskan proyek pelajar
akan mendapat bimbingan dari narasumber atau fasilitator, secara rinci peran
fasilitator adalah sebagai berikut:
a. Mengajar kelompok dan menciptakan suasana yang nyaman.
b. Memastikan bahwa sebelum mulai setiap kelompok telah memiliki seorang
anggota yang bertugas membaca materi, sementara teman-temannya
mendengarkan, dan seorang anggota yang bertugas mencatat informasi
yang penting sepanjang jalannya diskusi.
c. Memberikan materi atau informasi pada saat yang tepat, sesuai dengan
perkembangan kelompok.
d. Memastikan bahwa setiap sesi diskusi kelompok diakhiri dengan self-
evaluation
e. Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tuan.
f. Memonitor jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagai
masalah yang muncul dalam proses belajar, serta mengajar agar proses
belajar terus berlangsung, agar tidak ada tahapan dalam proses belajar yang
dilewati atau diabaikan dan agar tiap tahapan dilakukan dalam urutan yang
tepat.
43
g. Menjaga motivasi pelajar dengan mempertahankan unsur tantangan dalam
penyelesaian tugas dan juga mempertahankan untuk mendorong pelajaran
keluar dari kesulitannya.
h. Membimbing proses belajar pelajar dengan mengajukan pertanyaan yang
tepat pada saat yang tepat, yang lebih mendalam tentang berbagai konsep,
ide, penjelasan, sudut pandang dan lain- lain.
i. Mengevaluasi kegiatan belajar pelajar, termasuk partisipasinya dalam
proses kelompok, pengajar perlu memastikan bahwa setiap pelajar terlibat
dalam proses kelompok dan berbagai pemikiran dan pandangan.
j. Mengevaluasi penerapan PBL yang telah dilakukan.
7. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran berbasis proyek (PBL)
a. Kelebihan pembelajaran berbasis proyek
1) PBL menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara
kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dengan dunia nyata.
2) PBL mendorong para peserta didik untuk memecahkan permasalahan
secara kompleks
3) PBL dapat meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar,
mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting,
dan mereka perlu untuk dihargai.
4) PBL memerlukan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan peserta
didik untuk menggunakan informasi dengan beberapa disiplin ilmu
yang dimiliki.
44
5) PBL melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi
dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian
diimplementasikan dengan dunia nyata.
6) PBL mengadakan kerjasama/kolaborasi antara peserta didik-peserta
didik yang lain, peserta didik dengan instruktur, untuk memperluas
komunitas, sehingga terjadi saling memberi dan menerima.
7) Fun, membuat suasana kelas menyenangkan, sehingga peserta didik
maupun instruktur menikmatinya.
b. Adapun kelemahan dari pembelajaran berbasiskan proyek ini antara lain:
1) Kebanyakan permasalahan “dunia nyata” yang tidak terpisahkan
dengan masalah kedisiplinan, untuk itu disarankan mengajarkan dengan
cara melatih dan memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi
masalah.
2) Memerlukan banyak waktu yang harus diselesaikan untuk
menyelesaikan masalah.
3) Membutuhkan biaya yang cukup banyak
4) Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di
mana instruktur memegang peran utama di kelas.
5) Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek di
atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi
peserta didik dalam menghadapi masalah, membatasi waktu peserta didik
45
dalam menyelesaikan proyek, meminimalis dan menyediakan peralatan
yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar, memilih lokasi
penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak
waktu dan biaya mencip takan suasana pembelajaran yang menyenangkan
sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses
pembelajaran.
8. Perbedaan pembelajaran berbasiskan proyek (PBL) dengan lingkungan
kelas tradisional
Project Based Learning Lingkungan Kelas Tradisional
(Pembelajaran Berbasis Proyek)
Kurikulum : Kurikulum
- Jangka panjang, interdisciplinary, - Mengacu pola kurikulum yang baku
pelajaran sebagai pusat perhatian - Cakupan materi yang lebar
dalam menyimak isu dunia nyata yang - Menghafal materi tanpa berpikir fakta
menarik perhatian pelajaran.
- Adanya investigasi dan rises yang
mendalam
- Memahami proses, mendorong
kema mpuan berpikir kritis dan
menghasilkan penemuan
Kelas Kelas
- Pelajar duduk secara fleksibel, santai - Pengajaran dilakukan dengan
dan berkolaborasi di dalam tim penempatan pelajar pada tempat duduk
- Petunjuk pembelajar an fleksibel, yang rapi dan kaku dalam for mat baris
banyak perbedaan tingkat dan topik dan kolom
yang dipelajari oleh tiap pelajar - Berupaya merangkul semua orang
46
- Mendorong pelajar bekerja dalam tim bersama-sama, belajar di langkah dan
yang heterogen untuk mencapai target bobot yang sama
- Berusaha secara individu untuk
mencapai target
Pengajar Pengajar :
- Pengajar sebagai fasilitator dan - Pengajar sebagai pemberi
menyediakan sumber daya ceramah/narasumber dan tenaga ahli
Pelajar Pelajar :
- Bertanggung jawab atas diri sendiri, - Bergantung kepada pe ngajar dalam
menggambarkan tugasnya sendiri dan menyelesaikan instruksi
bekerja sebagai anggota suatu tim
untuk waktu tertentu dengan suatu
target.
- Pengajar berfungsi sebagai pemandu
Teknologi Teknologi:
- Menggunakan alat yang terintegrasi - Memberikan reward bagi yang
dalam semua aspek kelas, seperti menyelesaikan tugas dan sebaliknya
dalam pemecahan masalah, memberikan hukuman bagi yang tidak
komunikasi, meneliti hasil, dan menguasai konsep
mengumpulkan informasi. Di dalam
kelas PBL gaya kelas tidak lagi diatur
oleh pelaja ran yang kaku, tetapi
dikuasai oleh pelajaran yang saling
berhubungan dan membantu para
pelajar mengembangkan
keterampilannya sesuai tujuan
pembelajaran, kemudian mengijinkan
pelajaran menggunakan keterampilan
47
itu untuk memecahkan masalah PBL
dapat terinte grasi ke dalam kelas dari
semua pokok pembelajaran
B. Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam
a. Kualitas pembelajaran
“Kualitas” adalah tingkat baik buruknya suatu (kadar), derajat atau
taraf kepandaian, kecakapan dan segalanya (mutu). 9 Adapun pembelajaran
adalah proses interaksi perubahan ke arah yang lebih baik. 10
Menurut pendapat Oemar Hamalik pembelajaran adalah suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material,
fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling memengaruhi mencapai
tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari
siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material
meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio
dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruang kelas,
perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur meliputi jadwal dan
metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya. 11
9
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Edisi 3, hal. 603
10
Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, hal. 62
11
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bina Aksara, 1995), hal. 57
48
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan Pasal 19 menyebutkan “proses pembelajaran pada
satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi, prakarsa, kreativitas, 12 dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta
psikologi peserta didik.
b. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah merupakan usaha bimbingan dan
asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan
dapat memahami apa yang terkandung di dalam Islam secara keseluruhan,
menghayati makna, maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat
mengamalkannya serta menjadikan ajaran agama Islam yang dianutnya itu
sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan
dunia akherat. 13
Zakia Darodjat memaknai pengertian Pendidikan Agama Islam
sebagai berikut:
1) Pendidikan Agama Islam ialah usaha berupa bimbingan terhadap anak
didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan
12
Peraturan Pemerintah, "Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005", http://www.geogle.peraturan
pemerintah.com, diakses 1 Agustus 2008
13
Achmad Tutsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Hukum Islam, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2000), hal. 32
49
mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai
pandangan hidup (way of life)
2) Pendidikan Agama Islam ialah pendidikan yang dilaksanakan berdasar
agama Islam.
3) Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-
ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan asuhan terhadap anak
didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah
diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam
itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan
kesejahteraan hidup di dunia maupun di akherat kelak. 14
4) Prof. Dr. Athiyah Al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar pokok
pendidikan Islam” menegaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah
mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah
(keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi,
mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya
ikhlas dan jujur. 15 Sebagaimana telah diilustrasikan dalam Al-Qur'an
Surat Luqman ayat 17 sebagai berikut:
ÉOÏ%r& ¢Óo_ç6»tƒ
ö•ãBù&ur no4qn=¢Á9$#
tm÷R$#ur Å$rã•÷èyJø9$$Î/
÷ŽÉ9ô¹$#ur Ì•s3ZßJø9$# Ç`tã
¨bÎ) ( y7t/$|¹r& !$tB 4’n?tã
14
Zakia Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 2006), hal. 86
15
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1995), hal. 155
50
ÇP÷“tã ô`ÏB y7Ï9ºsŒ
ÇÊÐÈ Í‘qãBW{$#
Artinya: Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa
yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman
: 17). 16
Dengan demikian yang dimaksud dengan kualitas Pendidikan Agama
Islam adalah tingkat baik buruknya suatu upaya belaj


Use: 0.0464