• MENULIS AKADEMIK


  •   
  • FileName: INDO5.pdf [read-online]
    • Abstract: proses pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pengajaran Bahasa Indonesia di dalam ... untuk membahas penguasaan bahasa. pertama di kalangan anak-anak karena ...

Download the ebook

Menulis Akademik
MENULIS AKADEMIK | |
MODUL
| |
| |5
PENDAHULUAN
K
ami akan merasa senang apabila Anda mau belajar dengan sungguh-sungguh
perihal penulisan makalah, artikel, dan laporan penelitian. Sebenarnya, setiap
Anda menulis makalah, artikel, dan laporan penelitian sudah dapat diterka
bahwa Anda akan menuangkan gagasan dengan bahasa tulis. Dalam kaitan ini penulis
dituntut memiliki kemampuan untuk menuangkan gagasan secara berjenjang.
Hal-hal yang dipesiapkan ketika akan menulis makalah, artikel, dan laporan
penelitian yaitu perencanaan karangan. Jadi dalam modul ini Anda akan mempelajari
(1) pengertian makalah, artikel, dan laporan penelitian, (2) perencanaan makalah,
artikel, dan laporan penelitian dan (3) penyusunan makalah, artikel, dan laporan
penelitian. Masing-masing bagian tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
1) Pengertian makalah, mencakup pengertian makalah, karakteristik makalah, jenis
makalah, dan sistematika makalah.Perencanaan makalah, mencakup pemilihan
tema, pembatasan tema, penentuan tujuan, pengumpulan bahan, penyusunan
kerangka karangan, pola organisasi karangan, dan pembuatan judul.Penyusunan
makalah, mencakup penulisan draf makalah dan penyuntingan (editing) makalah.
2) Menulis Artikel, proposal penelitian, dan laporan penelitian.
Berdasarkan rincian kegiatan tersebut, dengan mempelajari modul ini, selain
Anda diharapkan dapat menulis makalah juga Anda diharapkan dapat:
1) menjelaskan pengertian makalah, karakteristik makalah, jenis makalah, dan
sistematika makalah;
2) merencanakan makalah yaitu dapat melakukan pemilihan tema, pembatasan
tema, penentuan tujuan, pengumpulan bahan, penyusunan kerangka karangan,
penentuan pola organisasi karangan, dan pembuatan judul;
3) menyusun karangan yaitu menuangkan gagasan-gagasan ke dalam draf makalah
dan menyunting makalah;
4) menyusun artikel, proposal, dan laporan penelitian.
Mudah-mudahan, uraian tersebut berguna bagi Anda dalam mempelajari modul
ini. Sehubungan dengan itu ada tiga kegiatan belajar yang Anda ikuti, yaitu (1)
penyusunan makalah. (2) penulisan artikel dan proposal serta pelaporan penelitian.
PETUNJUK BELAJAR
Untuk dapat memahami materi modul ini dengan baik serta mencapai
kompetensi yang diharapkan, gunakan strategi belajar berikut ini:
1. baca materi dengan seksama, tambahkan catatan pinggir, berupa tanda tanya,
pertanyaan, konsep lain yang relevan sesuai pemikiran yang muncul. Dalam
menjelaskan suatu konsep atau prinsip, seringkali paradigma belajar sosial akan
Bahasa Indonesia 137
Menulis Akademik
dibandingkan dengan behaviorisme. Tandailah bagian-bagian ini untuk membantu
Anda mengingat perbedaan keduanya.
2. cermati dan kerjakan tugas dalam kasus, gunakan pengalaman dan observasi
Anda terhadap kasus serupa di lingkungan Anda.
3. kerjakan tes formatif seoptimal mungkin, dan gunakan rambu-rambu jawaban
untuk membuat penilaian apakah jawaban sudah memadai.
4. buat catatan khusus hasil diskusi dalam tutorial tatap muka dan tutorial
elektronik, untuk digunakan dalam pembuatan tugas mata kuliah dan ujian akhir
mata kuliah.
Selamat belajar, semoga berhasil!
138 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
PENGERTIAN MAKALAH
D alam kegiatan ini Anda akan belajar tentang pengertian makalah. Ingat bahwa
tujuan yang akan Anda peroleh adalahmenjelaskan pengertian makalah,
karakteristik makalah, jenis makalah, dan sistematika makalah serta perencanaan
dan penyusunan makalah. Dengan kata lain, setelah Anda selesai mempelajari
kegiatan 1 ini, Anda dapat memahami seluk beluk makalah.
Silakan mulai belajar dengan menelaah uraian tentang pengertian,
karakteristik, jenis, dan sistemtika makalah dalam uraian berikut!
PENGERTIAN MAKALAH
Makalah termasuk salah satu jenis karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah
dihasilkan oleh pengarang yang bersikap ilmiah. Bersikap ilmiah berarti mandiri.
Oleh karena itu, penulis yang bersikap ilmiah menghasilkan sendiri hal-hal yang baru.
Tanpa sikap ilmiah yang cukup memadai seorang penulis tidak mungkin menghasilkan
karya tulis ilmiah. Menurut Mukayat D. Brotowijoyo (1993) ada tujuh sikap ilmiah
yang diperlukan penulis karya ilmiah, yaitu:
1) sikap ngin tahu;
2) sikap kritis;
3) sikap terbuka;
4) sikap objektif;
5) sikap rela menghargai karya orang lain;
6) sikap berani mempertahankan kebenaran; dan
7) sikap menjangkau ke depan.
Itulah sikap-sikap yang diperlukan penulis karya ilmiah. Apa itu karya ilmiah?
Karya ilmiah adalah karangan yang disusun berdasarkan sistematika keilmuan yang
menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan
benar.
Berbagai pengertian makalah dijelaskan berikut ini. Makalah adalah:
1. tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk dibacakan atau
disajikan di muka umum (seminar, diskusi, panel) dan yang sering disusun untuk
diterbitkan;
2. karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang
lingkup suatu perkuliahan. Makalah merupakan salah satu syarat untuk
menyelesaikan suatu perkuliahan;
3. kertas kerja ilmiah, tertulis, tepat, dan singkat, mengandung pemecahan masalah
satu pokok bahasan secara terpadu, plot tunggal. Pada mulanya makalah disebut
sebagai kertas kerja yang dibacakan dalam diskusi-diskusi;
Bahasa Indonesia 139
Menulis Akademik
4. karya tulis yang disajikan pada forum diskusi, seminar dalam ilmu serumpun untuk
memenuhi syarat kredit kumulatif pada pegawai edukatif yang akan mengajukan
kenaikan pangkat.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa:
1) makalah adalah karya lmiah;
2) makalah itu bisa dibacakan atau diterbitkan;
3) makalah itu dapat juga merupakan suatu tugas untuk memenuhi persyaratan
tertentu.
Bagaimanakah wujud makalah itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, tampaknya
perlu digambarkan tentang karkteristik makalah. Dengan demikian dapat dibedakan
makalah dapat dibedakan dari karya ilmiah lainnya.
KARAKTERISTIK MAKALAH
Pedoman penulisan karya ilmiah memaparkan bahwa makalah memiliki
karakteristik sebagai berikut;
a. merupakan hasil kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan suatu kegiatan
lapangan seperti penelitian, penyuluhan, dan pelatihan yang sesuai dengan
cakupan permasalahan suatu perkuliahan;
b. mendeskripsikan pemahaman penulis tentang permasalahan teoritik yang dikaji
atau kemampuan mahasiswa dalam menerapkan suatu prosedur, prinsip, atau
teori yang berhubungan dengan perkuliahan;
c. menunjukkan kemampuan penulis terhadap isi dari berbagai sumber yang
digunakan;
d. menunjukkan kemampuan penulis meramu berbagai sumber informasi dalam satu
kesatuan sintesis yang utuh.
JENIS MAKALAH
Ada 2 jenis makalah yaitu:
(1) makalah biasa (common paper)
Makalah yang dibuat mahasiswa untuk menunjukkan pemahamannya terhadap
permasalahan yang dibahas dari hasil membaca topic tertentu ( bahasa, sastra,
pendidikan, dll). Selain itu, makalah disusun secara deskriptif yang
mengemukakan berbagai pendapat baik berupa kritik atau saran mengenai aliran
atau pendapat yang dikemukakan, tetapi ia tidak perlu memihak salah satu aliran
atau pendapat orang tersebut. Dengan demikian ia tidak perlu berargumentasi
mempertahankan pendapat tersebut.
(2) makalah posisi (position paper):
Makalah disusun penulis untuk menunjukkan posisi teoritiknya dalam satu kajian
tertentu (hasil penelitian bahasa, sastra, pengajaran, ekonomi, dll.).
Biasanya isi makalah menunjukkan penguasaan pengetahuan tertentu tetapi
juga dipersyaratkan untuk menunjukkan di pihak mana ia berdiri.
Penulis makalah hendaknya membaca berbagai sumber dari berbagai aliran
tentang topik yang sedang dibahas; membuat suatu sintesis dari berbagai pendapat
yang ada, kemudian memberikan simpulan; dan memiliki kemampuan menganalisis,
membuat sintesis, serta mengevaluasi yang merupakan kemampuan mutlak.
140 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
SISTEMATIKA MAKALAH
Penulisan makalah memiliki sistematika yang berbeda-beda, tergantung pada
ketentuan lembaga atau editor yang akan menerbitkan makalah tersebut. Salah
satu sistematika makalah terdiri atas: pendahuluan, isi, dan penutup. Namun, selain
itu dapat juga ditambahkan pokok-pokok bahasan lainnya. Misalnya abstrak, ucapan
terima kasih, dan daftrar pustaka.
Dapat pula, makalah memuat judul, abstrak, pendahuluan, bahan dan
metode, hasil dan pembahasan, simpulan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka.
Secara rinci setiap butir diuraikan sebagai berikut.
Judul
Informatif, singkat, dan jelas. Di bawah judul dicantumkan nama penulis
tanpa derajat kesarjanaan dan tanpa alamat kerja. Data kesarjanaan dan alamat
kerja dicantumkan dalam catatan kaki dalam satu halaman dengan judul.
Abstrak
Abstrak memuat inti permasalahan (tema dan tujuan), cara penelitian dan
hasil. Panjang abstrak tidak lebih dari 3% dari panjang naskah.
Pendahuluan
Pada bagian ini dikemukakan persoalan yang akan dibahas latar belakang
masalah, masalah, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika uraian.
Bahan dan Metode
Bahan berisi penjelasan secukupnya tentang spesifikasinya. Metode
mengandung uraian tentang cara kerja yang mencakup jalannya penelitian, analisis
hasil, dan jika perlu menyebutkan metode statistik yang dipakai.
Hasil dan Pembahasan
Mendemonstrasikan kemampuan penulis dalam menjawab, mendiskusikan,
menyajikan, menganalisis, dan membahas masalah. Bagian isi ini boleh saja terdiri
atas lebih dari satu bagian.
Simpulan
Bagian ini merupakan simpulan dan bukan ringkasan isi. Simpulan adalah makna
yang diberikan penulis terhadap hasil diskusi/uraian yang telah dilakukannya dalam
bagian isi. Dalam mengambil kesimpulan tersebut penulis makalah tentu saja harus
kembali ke permasalahan yang diajukannya dalam bagian pendahuluan.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih ditujukan kepada perorangan atau lembaga secara singkat.
Daftar Pustaka
Daftar pustaka disusun sesuai dengan ketentuan penulisan yang sudah
dipaparkan pada modul 1.
Bahasa Indonesia 141
Menulis Akademik
Untuk lebih jelasnya silakan Anda baca dan teliti contoh makalah di bawah ini.
Pengajaran dan Pemerolehan Bahasa untuk Orang Asing:
Berbagai Masalah
Sunaryono Basuki, KS
STKIP Singaraja
1. Kata Pengantar
Terdapat dua pendekatan utama dalam pengajaran bahasa yaitu pendekatan
formalis yang bertahan cukup lama, dan pendekatan fungsionalis yang relatif baru
berkembang pada tiga dekade terakhir.
Menurut pendekatan formalis bahasa adalah bentuk dan pengajarannya
berpusat pada pengajaran bentuk-bentuk bahasa. Sementara itu, pendekatan
fungsionalis yang berakar pada bidang sosiolinguistik menekankan aspek fungsi.
Sebelum lahirnya sosiolingusitik, pandangan para ahli mengenai bahasa selalu
berpusat pada bahasa sebagai bentuk. Salah satu definisi tentang bahasa berbunyi:
“bahasa adalah simbol vokal yang bersifat arbitrer yang digunakan manusia untuk
berkomunikasi ...”. Walaupun kata “komunikasi” sudah masuk ke dalam definisi
tersebut, perhatian yang lebih serius terhadap pengajaran bahasa untuk komunikasi
belum terarah.
Pendekatan formalis menghasilkan berbagai metode. Pada awal tahun 60-an,
di Salatiga mulai digodok materi pengajaran Bahasa Inggris di SMP lengkap dengan
saran metode serta alat bantu belajarnya, mengekor pada Materi Michigan (Michigan
Materials) dan diberi label dengan ‘oral-aural approach’.
Kebesaran kaum struktural seakan menelan berbagai pandangan, namun
keberhasilannya dipertanyakan karena pengajarannya dianggap terlalu mekanistis
dan melupakan faktor komunikasi.
2. Pembelajaran dan Pemerolehan Bahasa
Mula-mula semua proses dari tidak berbahasa (baik untuk B1 maupun B2)
disebut pembelajaran bahasa (language learning). Banyak teori yang dikemukakan
tentang bagaimana seorang bayi “belajar” bahasa pertamanya. Orang asing dewasa
yang sudah(beberapa) B2, ketika hendak belajar Bahasa Indonesia akan menjalani
proses pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pengajaran Bahasa Indonesia di dalam
setting Indonesia, walaupun ketika dia sudah menguasai Bahasa Indonesia kelak,
sering juga dikatakan bahwa dia telah ‘memperoleh’ (acquire) Bahasa Indonesia.
3. Teori tentang Pembelajaran Bahasa Kedua
Stephen Krashen (1984) menyatakan bahwa teori pemerolehan bahasa kedua
adalah bagian dari linguistik teoritik karena sifatnya yang abstrak. Menurutnya, dalam
pengajaran bahasa kedua, yang praktis adalah teori pemerolehan bahasa yang baik.
(i) Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa
Istilah pemerolehan bahasa dipakai untuk membahas penguasaan bahasa
pertama di kalangan anak-anak karena proses tersebut terjadi tanpa sadar, sedangkan
pemerolehan bahasa kedua (Second Language Learning) dilaksanakan dengan sadar.
142 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
Pada anak-anak, error (kegalatan) dikoreksi oleh lingkungannya secara tidak formal,
sedangkan pada orang dewasa yang belajar B2, kegalatan diluruskan dengan cara
berlatih ulang.
(ii) Hipotesis mengenai Pemantau (Monitor)
Pembelajaran berfungsi sebagai pemantau. Pembelajaran tampil untuk
menggantikan bentuk ujaran sesudah ujaran dapat diproduksi berdasarkan sistem.
Konsep tentang Pemantau cukup rumit dan ditentang oleh Barry McLaughlin
karena gagal dalam hal ketidaktuntasan Pemantau dalam melakukan pemantauan
terhadap pemakaian B2. Penerapan Pemantau dapat menghasilkan efektifitas jika
pemakai B2 memusatkan perhatian pada bentuk yang benar.
Syarat memahami kaidah merupakan syarat paling berat sebab struktur bahasa
sangat rumit. McLaughlin menyatakan bahwa : (1) Monitor jarang dipakai di dalam
kondisi normal pemakaian dan dalam pemerolehan B2, (2) Monitor secara teoritis
merupakan konsep yang tak berguna.
(iii) Hipotesis Input (Masukan)
Si-Belajar B2 dianggap mengalami suatu perkembangan dari tahapan i
(kompetensi sekarang) menuju tahapan i + l. Untuk menuju tahapan i+l dituntut
suatu syarat bahwa Si-Belajar sudah mengerti mengenai masukan yang berisi i+l itu.
(iv) Hipotesis Filter Afektif
Bagaimana faktor-faktor afektif mempunyai kaitan dengan proses pemerolehan
bahasa. Konsep ini dikemukakan oleh Dulay dan Burt (1977).
(v) Hipotesis Analisis Kontrastif
Menurut Hipotesis ini sistem yang berbeda dapat menghasilkan masalah,
sedangkan sistem yang sama atau serupa menyediakan fasilitas atau memudahkan
Si-Belajar memperoleh B2. Namun Hipotesis ini ternyata juga dianggap kurang efektif
karena di dalam banyak kasus sistem yang berbeda justru tidak menimbulkan masalah
dan sebaliknya.
(vi) Interlanguage
Interlanguage adalah bahasa yang mengacu kepada sistem bahasa di luar sistem
B1 dan kedudukannya berada di antara B1 dan B2 (Selinker, 1972). Istilah lain adalah
approximative system dan idiosyncratic dialect. Kajian studinya menghasilkan analisis
kegalatan (error analysis) dan membedakannya dengan mistake.
(vii) Tahapan Perkembangan Bahasa-antara
Secara ringkas teori tahapan perkemba-ngan bahasa antara menurut Corder
(1973) dapat dirangkum sebagai berikut.
a. Tahapan Kegalatan Acak
Pertama Si-Belajar berkata *Mary cans dance” sebentar kemudian diganti
menjadi “Mary can dance”.
b. Tahapan kebangkitan
Pada tahapan ini Si-Belajar mulai menginternalisasi beberapa kaidah bahasa
kedua tetapi ia belum mampu membetulkan kesalahan yang dibuat penutur lain.
Bahasa Indonesia 143
Menulis Akademik
c. Tahapan Sistematik
Si-Belajar sudah mampu menggunakan B2 secara konsisten walaupun kaidah
B2 belum sepenuhnya dikuasainya.
d. Tahapan Stabilisasi
Si-Belajar relatif menguasai sistem B2 dan dapat menghasilkan bahasa tanpa
banyak kegalatan atau pada tingkat post systematic menurut Corder.
(viii)  Bahasa Pidgin
Masyarakat pengguna B2 juga sering melahirkan bahasa pidgin yaitu bahasa
campuran yang terjadi akibat penerapan dua atau tiga bahasa di dalam percakapan
sehari-hari.
4. Dua Pendekatan untuk Investigasi Pemerolehan B2
Rod Ellis dan Celia Roberts (Rod Ellis, ed., 1987) mengemukakan dua pendekatan
untuk investigasi pemerolehan B2. Pendekatan pertama mencoba mencari jawab
atas pertanyaan . Bagaimana studi mengenai pemerolehan B2 dapat menjelaskan
masalah pemerolehan kode linguistik?. 
Pendekatan kedua mencari jawab atas pertanyaan “Bagaimana konteks sosial
memberi tahu kita mengenai cara Si-Belajar mengembangkan kompetensi
komunikatif di dalam B2?”
Pada dasarnya, menurut para ahli sosiolinguistik, bahasa menyangkut pilihan.
Kita kemudian harus memahami apa yang dimaksud dengan konteks dengan
memperhatikan baik faktor linguistik maupun ekstra-linguistik yang mempengaruhi
pilihan bahasa.
Istilah konteks sering didefinisikan dengan acuan kepada situasi aktual dimana
suatu peristiwa komunikasi berlangsung. Padahal jelas tidak semua yang ada pada
situasi tersebut akan mempengaruhi pilihan bahasa, hingga bagi seorang sosiolinguis,
‘konteks’ terdiri dari aspek-aspek situasi yang mengaktifkan pilihan. Kita harus
mengenal bahwa ‘situasi aktual’ (lihat Lyons, 1977) terdiri dari baik elemen linguistik
maupun ekstralinguistik. Umumnya unsur linguistik disebut konteks linguistik dan
unsur ekstralinguistik disebut konteks situasional.
Konsep mengenai kompetensi komunikatif pertama kali diperkenalkan oleh
Hymes di pertengahan tahun 1960. Hymes tertarik pada tingkat kompetensi yang
diperlukan penutur agar mereka mendapat keanggotaan dari komunitas ujaran
tertentu. Dia meneliti mengenai faktor-faktor apa saja, terutama faktor sosio-budaya
yang diperlukan selain kompetensi gramatikal oleh penutur yang terlibat di dalam
interaksi bermakna. Hymes menunjukkan bagaimana variasi bahasa berkorelasi
dengan norma-norma sosial dan budaya dari interaksi publik tertentu, dari peristiwa
ujaran (speech event). Namun dia tidak melihat pada cara-cara spesifik dimana
interaksi terjadi.
Barulah Schegloff (1982) yang meneliti percakapan sebagai suatu ‘ongoing
accomplishment’. Ternyata percakapan menunjukkan secara sistematis diorganisir
para penutur dan organisasi ini bersifat mendasar untuk menjelaskan bagaimana
interaksi dilakukan.
Gumperz (1984) meninjau kembali pendapat mengenai kompetensi komunikatif
dan menyarankan bahwa kompetensi tersebut tidak didefinisikan dalam
144 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
hubungannya dengan aturan yang harus dipakai oleh para penutur, seperti yang
dilakukan oleh ahli sosiolinguistik yang lain. Menurut Gumperz kompetensi
komunikatif berkaitan dengan hal menciptakan kondisi yang memungkinkan
interpretasi yang dipahami bersama (shared).
Canale (1983b) di dalam perspektif pedagogis dari kompetensi komunikatif
mengakui bahwa kita tahu hanya sedikit tentang aspek-aspek yang berbeda dari
kompetensi berinteraksi. Namun, Canale dan Swain (1980) serta Canale (1983b) dalam
Ellis (ed., 1987) mengusulkan kerangka kerja bagi kompetensi komunikatif yang dapat
menolong di dalam mengkategorikan penggunaan bahasa Si-Belajar untuk tujuan-
tujuan assessment. Konteks terdiri dari apa yang diciptakan di dalam interaksi dan
apa yang dibawa ke dalamnya dengan cara presuposisi mengenai dunia, pengetahuan
interaksi dan pengetahuan mengenai kode linguistik. Pemakai bahasa perlu
mengembangkan baik pengetahuannya sendiri dan juga keterampilan untuk
melaksanakan interaksi dan mempertahankan keterlibatannya di dalam percakapan.
Ini semua dikembangkan secara interaksional.
Tidak banyak riset yang mengungkapkan bagaimana kompetensi komunikatif
secara interaksional diselesaikan, baik interaksi lisan maupun interaksi dengan teks
tertulis. Hal ini agak mengherankan sebab secara luas diakui bahwa interaksi
menyediakan kesempatan bagi kompetensi komunikatif, dan suasana kelas,
bagaimana pun formal serta jauh dari realitas interaksi sehari-hari yang terjadi di
luar kelas, yang pada dasarnya adalah lingkungan interaktif.
5. Situasi Pengajaran Bahasa
Apa pun teori mengenai bagaimana seseorang memperoleh B-2, buku-buku
metodologi pengajaran bahasa (yang dapat diasumsikan sebagai pengajaran bahasa
sebagai B2, pada dasarnya tetap memperhatikan bentuk, kemudian baru fungsi. Ini
jelas terlihat pada buku panduan mengajar bahasa yang berjudul A Practical Handbook
of Language Teaching (David Cross, 1991) yang dapat dianggap sebagai aplikasi dari
teori-teori tentang pemerolehan bahasa.
Dari realitas yang dapat diambil dari salah satu contoh buku ajar berjudul
Making Waves (Loader, dan Wilkinson, 1991) yang masing-masing jilid terdiri dari 30
unit, pada tiap unitnya disampaikan masalah dan lingkup yang dibahas, yakni :
struktur, topik, fungsi, ucapan, mendengarkan, membaca, menulis, berbicara, serta
menolong diri sendiri (self-help).
Dari contoh tersebut nampak, walaupun buku tersebut memuat materi yang
yung berupa fungsi. Nampaknya latihan-latihan yang dulunya dianggap terlalu
mekanistis, penggunaan lab bahasa yang merupakan produk aural-oral approach,
tetap dijalankan, dengan langkah perkembangan selanjutnya menuju komunikasi
yang nyata di dalam konteks. Namun, karena konteksnya adalah tetap konteks ruang
kelas, dan konteks kehidupan sehari-hari hanya ditampilkan di dalam rekaman
(kemudian juga di dalam rekaman video), maka tetap diharapkan Si-Belajar kelak
dapat terjun ke dalam konteks kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya.
6. Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Orang Asing
Teori yang sudah dikemukakan di atas tentunya dapat diterapkan dalam
pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing. Teori-teori tersebut harus dipilah-
pilah agar dapat digunakan untuk pelajaran tertentu. Di masa lalu kita mengenal
Bahasa Indonesia 145
Menulis Akademik
istilah Eclectic Method, yang sering dengan gampang diterjemahkan dengan Metode
Campuran. Kita tahu bahwa Translation Method, misalnya, dianggap tidak baik untuk
mengajarkan B2, namun untuk materi pelajaran tertentu, metode itu dianggap lebih
efektif.
Tentu saja pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing juga menghadapi
sejumlah masalah, seperti masalah perbedaan struktur bahasa dan masalah budaya.
Sebagai contoh, pertanyaan:
“Apa kabar? Anak-anak sehat semua?” tidak mengharapkan jawaban seperti,
“Oh, anak saya suka menangis dan masih ngompol. Sekarang dia sedang sakit.”
Kelebihan pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing dengan setting
belajar di Indonesia cukup banyak, terutama penyediaan konteks komunikasi sehari-
hari. Konteks ruang kelas, atau ruang kursus, dengan segera dapat dihubungkan
dengan konteks sosial.
Jika pengajaran tersebut berlangsung di Bali, maka guru harus memikirkan
untuk memperkenalkan bahasa Indonesia variasi Bali, dan bukan sekedar bahasa
Indonesia formal. Kalau tidak, Si-Belajar ketika berada di dalam masyarakat, selain
akan menghadapi kesulitan seperti yang dicontohkan di atas, juga akan bingung
dengan ungkapan khas bahasa Indonesia variasi Bali, seperti: . lagi dua hari. ,
‘kemarin lusa’, ‘dia dapat pulang’, ‘ini dapat minta’ dan sebagainya.
Namun karena Si-Belajar dapat segera terjun ke dalam konteks sosial
komunikasi di dalam bahasa Indonesia variasi Bali, maka diharapkan dia dapat segera
menyesuaikan diri dan mungkin dikoreksi oleh para penutur bahasa ini ketika mereka
melakukan komunikasi.
Teori apa pun yang dipakai, harus diingat bahwa untuk mencapai pemerolehan
bahasa tetap diperlukan berbagai latihan yang mungkin agak berbau mekanistis,
juga mempelajari tatabahasa bahasa Indonesia. 
Daftar Rujukan
Cross, David. 1991. Practical Handbook of Language Teaching. London: Villiers House.
Ellis, Rod, ed. 1987. Second Language Acquisition in Context. London: Prentice Hall
International Ltd (UK).
Huxley, Julie, et al. 1991. Making Waves. London: Penguin Group.
Soenardji, Dr. 1989. Sendi-sendi Linguistika Bagi Kepentingan Pengajaran Bahasa.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Pengem-
bangan LPTK.
Untuk memantapkan pemahaman dan kemahiran Anda tentang pengertian
makalah, kerjakanlah bahan-bahan latihan berikut!
1. Apa karya ilmiah itu?
2. Bagaimana sikap orang ilmiah itu?
3. Mengapa makalah termasuk pada salah satu karya ilmiah?
4. Apakah yang dimaksud dengan makalah? Uraikan salah satu saja!
5. Sebutkan karakteristik makalah!
146 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
6. Ada dua jenis makalah. Sebutkan dua jenis makalah itu dan beri penjelasan
masing-masing secara singkat!
7. Bagaimana sistematika makalah yang baik itu? Berikan penjelasan secara singkat!
Petunjuk Jawaban Latihan
1. Karya ilmiah adalah karangan yang disusun berdasarkan sistematika keilmuan
yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang
baik dan benar.
2. Sikap ilmiah yaitu: sikap ngin tahu, sikap kritis, sikap terbuka, sikap objektif,
sikap rela menghargai karya orang lain, sikap berani mempertahankan kebenaran,
dan sikap menjangkau ke depan.
3. Karena membuat makalah harus mengikuti sistematika dan metode keilmuan
berdasarkan fakta umum.
4. Makalah adalah tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk
dibacakan atau disajikan di muka umum (seminar, diskusi, panel) dan yang sering
disusun untuk diterbitkan.
5. Makalah menggunakan literatur dan menuntut pemahaman penulis tentang
materi yang dipilihnya, serta demonstrasi meramu materi makalah.
6. Makalah biasa dan makalah pendapat.
7. Sistematika makalah yaitu judul, abstrak, pendahuluan, metode, pembahasan,
simpulan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka.
Sebagai salah satu jenis karya ilmiah, makalah merupakan karya
tulis ilmiah mengenai suatu topic tertentu dalam ruang lingkup
pembelajaran.
Pedoman penulisan karya ilmiah memaparkan bahwa makalah memiliki
karakteristik sebagai berikut;
1) merupakan hasil kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan suatu
kegiatan lapangan seperti penelitian, penyuluhan, dan pelatihan yang
sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan;
2) mendeskripsikan pemahaman penulis tentang permasalahan teoritik yang
dikaji atau kemampuan mahasiswa dalam menerapkan suatu prosedur,
prinsip, atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan;
3) menunjukkan kemampuan penulis terhadap isi dari berbagai sumber yang
digunakan;
4) menunjukkan kemampuan penulis meramu berbagai sumber informasi
dalam satu kesatuan sintesis yang utuh.
Makalah terdiri atas judul, abstrak, pendahuluan, metode,
pembahasan, simpulan, ucapan terima kasih, dan daftar pustaka. Makalah
ada dua jenis yaitu makalah biasa dan posisi.
Bahasa Indonesia 147
Menulis Akademik
Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat!
1. Kemampuan menulis secara keilmuan dinamakan ….
A. Makalah C. Ringkasan
B. Karya ilmiah D. Laporan
2. Penyajian sebuah kertas kerja di depan hadirin adalah kegiatan …..
A. Laporan C. Ringkasan
B. Karya ilmiah D. Makalah
3. Kutipan dicantumkan penulis aslinya merupakan sikap….
A. Rela menghargai karya orang lain C. Terbuka
B. Objektif D. Berani
4. Menghindari berbuat kesalahan merupakan sikap….
A. Kritis C. Ingin tahu
B. Objektif D. Berani
5. Makalah yang ditulis hanya meramu teori saja dinamakan malakah……
A. Posisi C. Berpihak
B. Biasa D. Netral
6. Semua isi makalah disarikan dalam…..
A. Pendahuluan S. Abstrak
B. Intisari D. Simpulan
7. Makalah menyajikan pendirian penulisnya dinamakan….
A. Posisi C. Berpihak
B. Biasa D. Netral
8. Pendahuluan, isi, dan penutup terdapat pada…..
A. Sistematika C. Jenis
B. Karakteristik D. Makalah
9. Ragam bahasa yang digunakan dalam makalah yaitu…..
A. Nonbaku C. Slang
B. Baku D. Prokem
10. Hal-hal apa saja yang dikemukakan dalam makalah?
A. Teori C. Fakta
B. Masalah D. Pendapat
148 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
Cocokkan jawaban Anda dengan menggunakan kunci jawaban Tes Formatif 1
yang terdapat di bagian akhir bahan belajar mandiri ini. Hitunglah jawaban Anda
yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.
Rumus :
Jumlah jawaban Anda yang benar
Tingkat penguasaan = ______________________________ X 100 %
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :
90 % - 100% = Baik sekali
80 % - 89% = Baik
70% - 79 % = Cukup
< 70% = Kurang
Apabila tingkat penguasaan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar selanjutnya. Bagus ! Tetapi apabila nilai tingkat
penguasaan Anda masih di bawah 80 %, Anda harus mengulangi Kegiatan Belajar 1,
terutama bagian yang belum Anda kuasai.
Bahasa Indonesia 149
Menulis Akademik
MENULIS ARTIKEL
PENDAHULUAN
P ada bab ini akan melanjutkan kegiatan menulis ilmiah populer yang telah dibahas
pada bab yang lalu, yaitu menulis makalah. Sekarang Anda berlatih menulis
karangan ilmiah populer dengan jenis artikel. Tentu bagi Anda pun jenis tulisan ini
sudah tidak asing lagi. Bahkan, di antara Anda sudah ada yang menjadi penulis di
koran atau majalah.
PENGERTIAN ARTIKEL
Menulis artikel pada hakikatnya merupakan salah satu cara mengungkapkan
pendapat atau gagasan (ide) tentang sesuatu tema atau hal dalam bentuk tulisan.
Dengan kata lain menuangkan pemikiran tentang suatu masalah dalam sebuah karya
tulis. Kata “artikel” (article) sendiri difahami sebagai laporan atau karangan atau
tulisan tentang suatu masalah berikut pendapat penulisnya tentang masalah tersebut
yang dimuat dimedia massa cetak.
Secara definitif, artikel diartikan sebagai sebuah karangan faktual (nonfiksi)
tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tak tentu, untuk dimuat
disurat kabar, majalah, buletin, dan sebagainya dengan tujuan untuk menyampaikan
gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu
masalah, atau menghibur.
Artikel termasuk tulisan kategori views (pandangan), yakni tulisan yang berisi
pandangan, ide, opini, penilaian penulisnya tentang suatu masalah atau peristiwa.
Dan jika anda bertanya bagaimana teknik menulis artikel, maka hal itu sama saja
dengan -misalnya- anda bertanya tentang bagaimana teknik mengendarai sepeda.
Artinya, sejauh ini belum didapati suatu rumusan baku tentang kiat, teknik, atau
langkah-langkah praktis bagaimana agar seseorang dapat menulis artikel.
Namun demikian, pada dasarnya tahap-tahap menulis artikel yakni,
memunculkan latar belakang masalah (mengemukakan alasan mengapa tema tulisan
atau suatu masalah itu dipilih), mengidentifikasi masalah (biasanya dalam bentuk
pertanyaan), kemudian uraian atau analaisis mengenai jawaban atau masalah yang
dimunculkan. Pada bagian akhir, dikemukakan kesimpulan.
Jenis-jenis Artikel
Secara garis besarnya, jenis-jenis artikel meliputi:
1) Artikel deskriptif.
Artikel deskiptif (to describe = menggambarkan) adalah tulisan yang isinya
menjelaskan (menguraikan) secara detail ataupun garis besar tentang suatu masalah,
150 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
sehingga pembaca mengetahui secara utuh suatu masalah yang dikemukakan.
2) Artikel eksplanatif.
Artikel eksplanatif (to explain = menerangkan, menjelaskan) isinya
menerangkan sejelas-jelasnya tentang suatu masalah, sehingga si pembaca memahami
betul masalah yang dikemukakan.
3) Artikel prediktif
Artikel prediktif (to predict = meramalkan) berisi prediksi atau ramalan atau
dugaan apa kemungkinan pada masa datang, berkaitan dengan masalah yang
dikemukakan.
4) Artikel preskriptif.
Artikel preskriptif (to prescribe = menentukan, menuntun) isinya mengandung
ajakan, imbauan, atau “perintah” terhadap pembaca agar melakukan sesuatu. Kata-
kata “harus”, “seharusnya”, “hendaknya”, seyogianya”, dan semacamnya
mendominasi tulisan jenis ini.
Secara sederhana dapat disimpulkan, artikel eksplanatif menjawab pertanyaan
“apa”. Artikel eksplanatif menjawab pertanyaan “kenapa”. Artikel prediktif
menjawab pertanyaan “apa yang bakal terjadi”, dan artikel preskriptif menjawab
pertanyaan “apa yang harus dilakukan”. Umumnya, keempat jenis artikel tersebut
bisa dikenali melalui judulnya. Contoh:
1. “Strategi Pembangunan Masyarakat Madani” (deskriptif).
2. “Mengapa Terjadi Kerusuhan?” (eksplanatif).
3. “Tantangan Bangsa Indonesia Pada Abad 21” (prediktif).
4. “Mewaspadai AIDS: Hindari Seks Bebas” (preskriptif).
Pada praktiknya, dimedia massa cetak kita sering sulit menemukan atau
membedakan mana artikel yang murni deskriptif atau prediktif, misalnya. Pada
umumnya, tulisan yang bertebaran di media massa cetak merupakan jenis artikel
atau tulisan “gabungan” dari jenis-jenis diatas.
Selain itu, di media massa ada juga jenis tulisan yang mirip artikel, yakni
kolom. Kolom adalah karangan atau tulisan pendek, yang berisi pendapat subjektif
penulisnya tentang suatu masalah. Penulisnya disebut kolomnis (columnist). Dalam
kamus bahasa, kolomnis diartikan sebagai seorang penulis yang menyumbangkan
karangan (artikel) pada suatu media massa secara tetap.
Kolom atau tulisan opini ini, kata Slamet Soeseno (1997:103), isinya hanya
pendapat. Penulisnya dituntut agar yang dikemukakannya itu benar-benar
pendapatnya saja. Berbeda dengan tulisan artikel yang berisi pendapat namun
disertai tuturan data, fakta, berita, atau argumentasi berdasarkan teori keilmuan
yang mendukung pendapatnya tentang suatu masalah. Jadi, satu-satunya pendukung
pendapat kolomnis hanya argumentasi berdasarkan penalaran, pemikiran kritis,
menurut pendapat subjektifnya.
Tulisan kolom tidak mempunyai struktur tertentu, misalnya ada bagian
pendahuluan atau lead, isi atau tubuh tulisan, dan penutup. Ia langsung berisi tubuh
tulisan, yakni berupa pengungkapan pokok bahasan dan pendapat penulisnya tentang
masalah tersebut. Judulnya pun biasanya singkat saja. Bahkan, dapat hanya satu
kata saja. Contoh :
Bahasa Indonesia 151
Menulis Akademik
Calon Presiden
Pemilu sudah dilaksanakan lebih dari tujuh bulan. Tapi kita baru rebut
memperbincangkan siapa yang pantas jadi presiden dan wakil presiden.
Dalam pemilu, seolah-olah rakyat membeli kucing dalam karung. Setelah
rakyat memberikan suara, elite politik bertikai tentang kucing apa yang
mereka berikan kepada rakyat…
Seharusnya, jauh sebelum pemilu, dalam konvensi, partai-partai
menentukan calon mereka…(selengkapnya lihat Ummat, No. 28 Thn III, 26
Januari 1998).
Tulisan diatas adalah kolom M. Dawam Rahardjo dalam rubrik “Perspektif”. Ia
pun menggunakan judul singkat saja, “Calon Presiden”. Karena (waktu itu sedang
aktual, judul itupun langsung dapat ditangkap sebagai masalah yang akan dibahas
oleh penulisnya. Dalam kolom itu, Dawam menuturkan opininya (kritik) tentang
pencalonan presiden dan wakilnya, juga mengemukakan visi pribadinya tentang
orang yang bagaimana yang layak menjadi presiden dan wakil presiden.
MODAL DASAR
Rajin membaca adalah kunci sukses seorang penulis. Dengan membaca, ia
tidak saja memiliki banyak pengetahuan dan referensi tentang berbagai masalah,
tapi juga dapat mempelajari bagaimana orang lain mengemukakan pandangannya
lewat bahasa tulisan (artikel) di media massa. Jika dalam kewartaan ada nasihat
“anda tidak dapat menjadi seorang wartawan kecuali bila anda mengetahui
bagaimana seorang wartawan menulis berita”, maka untuk dunia kepenulisan dapat
dikatakan demikian: “anda tidak dapat menjadi seorang penulis kecuali bila anda
mengetahui bagaimana seorang penulis membuat tulisan”.
Dengan demikian, seorang calon penulis hendaklah rajin membaca serta
mencermati, bukan saja tentang apa yang dibicarakan/ditulis yakni isi tulisan, tetapi
juga tentang bagaimana si penulis mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan.
Disini calon penulis mempelajari cara menulis dan gaya serta kerangka (frame) tulisan
orang lain.
Selain rajin membaca, hal-hal berikut merupakan modal dasar yang mutlak
dimiliki seseorang untuk dapat menulis artikel atau menjadi penulis.
KEMAUAN (WILLINGNESS TO WRITE)
Kemauan merupakan modal utama bagi seseorang untuk menggerakkan dirinya
mencapai sesuatu . Bahkan bukan sekadar kemauan, melainkan harus berupa ambisi.
“Yang pertama anda harus punya ambisi”, kata Markus G. Subiyakto (1996:1). “Kalau
anda hanya punya rasa ingin, tetapi tidak ada ambisi, ya biasanya hanya melihat
tulisan iptek orang lain”, tegasnya.
Kemauan atau ambisi untuk dapat menulis akan menimbulkan semangat,
keuletan, dan mendorong seseorang melakukan apa saja yang memungkinkannya
mencapai kemampuan menulis, misalnya mengikuti pelatihan jurnalistik, membaca
buku-buku petunjuk menulis, dan sebagainya. Disini berlaku pepatah, “Dimana ada
kemauan disana ada jalan”. Jangankan penulis pemula, penulis “senior” pun jika
tidak ada kemauan, tidak akan membuat tulisan/artikel.
152 Bahasa Indonesia
Menulis Akademik
MOTIVASI MENULIS (MOTIVATION TO WRITE)
Motivasi erat kaitannya dengan kemauan. Bahkan, motivasi inilah yang dapat
memunculkan kemauan untuk (dapat) menulis. Karena, motivasi adalah niat.
Muncu


Use: 0.0426