• FAKTOR KREATIVITAS DALAM KEMAMPUAN MEMBACA DAN MENULIS SISWA ...


  •   
  • FileName: Faktor-Kreativtas-dalam-Kemampuan-Membaca-dan-Menulis-Siswa-Sekolah.pdf [read-online]
    • Abstract: Marzano et.al. ( 1993) mengemukakan 3 aspek pokok yang perlu diperhatikan. dalam pendidikan berpikir terpadu, yaitu: aspek kurikulum, aspek strategi. belajar-mengajar, dan aspek asesmen. ... dengan mendasarkan diri pada teori-teori yang relevan, hasil penelitian terda ...

Download the ebook

FAKTOR KREATIVITAS DALAM
KEMAMPUAN MEMBACA DAN MENULIS
SISWA SEKOLAH DASAR
Ahmad Rofiuddin
Abstract: The goals of this research are to describe the roles of creativity
and gender in the reading and writing ability of the fifth-grade elementary-
school students. This research uses an expost facto design. The research
subject are 110 students, 66 boys and 44 girls. The instruments used are
creativity test, reading test, writing test, and questionnaire. The data analy-
sis is conducted using Anova. The results of this research show that the
levels of students' creativity, reading proficiency, and writing proficiency
are relatively high; creativity has effects on students' ability in reading and
writing; but gender has effects only on students' writing proficiency.
Key words: creativity, critical thinking, creative thinking, reading, writ-
ing.
Pendidikan berpikir di tingkat pendidikan dasar diserahkan sepenuhnya
kepada matapelajaran-matapelajaran yang ada, tanpa ada koordinasi yang je-
las. Permasalahan muncul adalah belum tertangani secara sistematis pelak-
sanaan pendidikan berpikir di sekolah dasar. Sebagai akibatnya, kemam-puan
berpikir anak-anak di sekolah dasar masih rendah. Keluhan tentang rendahnya
kemampuan berpikir yang dimiliki oleh lulusan pendidikan dasar
Ahmad Rofi'uddin adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri
Malang. Artikel ditulis berdasarkan hasil penelitian mandiri yang berjudul Faktor Kreativitas
dalam Kemampuan Membaca dan Menulis Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar Islam Sabilillah,
tahun 2003.
172
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 173
sudah banyak dilontarkan. Karena dasar-dasar berpikir tersebut tidak dikuasai
dengan baik, dampaknya dirasakan sampai pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi.
Berpikir merupakan aktivitas mental dalam mengolah input dan
pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh makna, menyusun alasan,
menyampaikan pikiran/ide, mengambil keputusan, atau memecahkan persoal-
an. Berpikir dipandang sebagai aktivitas mental yang sangat kompleks yang
melibatkan beberapa operasi mental yang bersifat multilevel, simultan, dan
seringkali tumpang tindih. Ada berbagai jenis berpikir, di antaranya adalah
berpikir kritis dan kreatif (Beyer, 1993).
Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang difokuskan pada
apakah sesuatu dapat dipercaya atau tidak. Kemahiran yang dikaitkan dengan
berpikir kritis diturunkan dari kemahiran dasar-dasar berpikir yang terdiri atas
dua komponen pokok, yaitu afektif dan kognitif. Komponen afektif terdiri
atasmemperhatikan kejelasan, memperhatikan alasan, memperbaiki kesa-
lahan, dapat dipercaya, memanfaatkan situasi, berupaya tetap relevan,
berpegang pada originalitias, memperhitungkan alternatif, terbuka, memadu-
kan bukti dan rasio, cermat, sistematis, sensitif, dan menggunakan hasil
pemikiran. Komponen kognitif terdiri atas pemfokusan pertanyaan, mengana-
lisis argumen, menggunakan pertanyaan yang jelas dan menantang, menilai
kridibilitas sumber, mengamati dan menilai hasil pengamatan, menarik
deduksi dan menilainya, menarik induksi dan menilainya, membuat penilaian
dan menilainya, membuat definisi istilah dan menilainya, mengidentifikasi
asumsi, menentukan tindakan, berinteraksi dengan yang lain: mereaksi kesa-
lahan, strategi logis, strategi retoris, dan mengambil posisi tertentu (Collin,
dkk, 1992).
Kemampuan berpikir kritis-kreatif pada prinsipnya dapat dikembangkan
dan dipercepat penguasaannya melalui pendidikan berpikir model terpadu
(khususnya dengan terpadu dengan mata pelajaran baca-tulis-hitung).
Marzano et.al. (1993) mengemukakan 3 aspek pokok yang perlu diperhatikan
dalam pendidikan berpikir terpadu, yaitu: aspek kurikulum, aspek strategi
belajar-mengajar, dan aspek asesmen. Materi kurikulum harus mencakup
topik-topik yang terdapat dalam berbagai mata pelajaran, dapat mengem-
bangkan kemandirian dan rasa tanggung jawab, dapat menguasai berbagai
teknik berpikir, serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.
Strategi belajar-mengajar difokuskan pada pengolahan informasi, pengkon-
174 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
septualisasian, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan pengeva-
luasian informasi secara kritis dan kreatif. Model pengajaran dilakukan dalam
3 tahap: tahap kognitif, tahap asosiatif, dan tahap otonomis. Asesmen
difokuskan aspek proses dan produk berpikir.
Sampai saat ini pendidikan berpikir di tingkat pendidikan dasar belum
ditangani dengan baik. Pengajaran bahasa Indonesia yang diharapkan menjadi
salah satu tumpuan pengembangan kemampuan berpikir siswa belum dapat
menjawab tuntutan tersebut. Hasil penelitian Rofi'uddin (1998) yang
melibatkan 964 siswa kelas 5 SDN di pulau Jawa menunjukkan bahwa
pengajaran bahasa Indonesia di SDN se Jawa didominasi oleh kegiatan yang
bersifat verbalistik dan mekanis. Pemilihan materi dan strategi pembelajaran
belum diarahkan pada upaya peningkatan kemampuan intelektual siswa
(khususnya berpikir kritis-kreatif), sehingga kemampuan siswa dalam berpikir
kritis-kreatif juga masih rendah. Skor rerata kemampuan berpikir kreativitas
48,162, skor rerata kemampuan membaca siswa adalah = 33,039, dan skor
rerata kemampuan menulis adalah 32,064. Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat penguasaan berpikir, kemampuan membaca, dan kemampuan siswa
kelas 5 SDN di pulau Jawa masih jauh dari yang diharapkan.
Untuk menjawab berbagai keluhan masyarakat tentang rendahnya
kualitas pendidikan, saat ini banyak dikembangkan sekolah-sekolah unggulan.
Tumbuh dan berkembangnya sekolah unggulan mendapat tanggapan yang
beragam dari berbagai kalangan, ada yang pro dan ada yang kontra.
Dikembangkannya sekolah unggulan dimaksudkan untuk memberikan
alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh layanan pendidikan yang lebih
baik dan sekaligus dapat dijadikan proyek percontohan pengembangan
pendidikan dasar.
Sekolah Dasar Islam Sabilillah Malang merupakan salah satu sekolah
unggulan yang berada di kota Malang yang menerapkan sistem full day
school. SD Islam Sabilillah Malang dikembangkan berlandaskan tiga pilar
utama, yakni keislaman, kecendekiaan, dan kebangsaan. Pilar keislaman
dimaksudkan agar siswa memiliki pemahaman yang luas dan benar tentang
ajaran Islam, memiliki keyakinan yang benar dan mantap terhadap ajaran
Islam, dan memiliki motivasi yang tinggi dalam mengamalkan ajaran Islam.
Pilar kecendikiaan dimaksudkan agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang
cerdas, kritis, dan kreatif. Kecerdasan yang dimaksud mencakup kecerdasan
intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Pilar kebangsaan
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 175
dimaksudkan agar siswa memiliki pemahaman yang luas dan benar tentang
falsafah dan budaya bangsa, memiliki keyakinan yang benar dan mantap
terhadap falsafah dan budaya bangsa, dan memiliki motivasi yang tinggi
dalam mengamalkan dan mengembangkan falsafah dan budaya bangsa.
Sebagai sekolah unggulan, sudah selayaknya jika siswa yang belajar di
SD Islam Sabilillah Malang memiliki keunggulan-keunggulan tertentu
dibandingkan dengan SD pada umumnya, misalnya keunggulan dalam hal
kreativitas serta kemahiran membaca dan menulis. Berdasarkan pemikiran di
atas, maka dipandang perlu dikaji tentang peran kreativitas dan gender dalam
kemampuan membaca dan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang.
Secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perian tentang: (1)
tingkat kreativitas, tingkat kemampuan membaca, dan tingkat kemampuan
menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang; (2) ada-tidaknya
perbedaan antara tingkat kreativitas siswa laki-laki dan perempuan; (3) ada-
tidaknya perbedaan antara tingkat kemampuan membaca siswa kreatif dan
kurang kreatif; (4) ada-tidaknya perbedaan antara tingkat kemampuan menulis
siswa kreatif dan kurang kreatif; (5) ada-tidaknya perbedaan antara tingkat
kemampuan membaca siswa laki-laki dan perempuan; (6) ada-tidaknya
perbedaan antara tingkat kemampuan menulis siswa laki-laki dan perempuan;
tentang ada-tidaknya pengaruh interaksi tingkat kreativitas dan gender
terhadap kemampuan membaca; dan (8) ada-tidaknya pengaruh interaksi
tingkat kreativitas dan gender terhadap kemampuan menulis.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan expost facto. Dipilihnya ran-
cangan expost facto dalam penelitian didasarkan pada pertimbangan berikut.
Pertama, tujuan penelitian ini adalah memperoleh perian tentang pengaruh
faktor jenis kelamin dan faktor kemampuan berpikir kreatif terhadap faktor
kemampuan membaca dan kemampuan menulis siswa kelas lima SD Islam
Sabilillah Malang. Dengan kata lain, penelitian ini mengkaji hubungan
antarvariabel yang bersifat kausal, yakni variabel jenis kelamin dan variabel
kemampuan berpikir kreatif sebagai variabel bebas dan variabel kemampuan
membaca serta variabel kemampuan menulis sebagai variabel terikat. Kedua,
dalam penelitian ini tidak dilakukan manipulasi atau pemberian perlakuan
sehubungan dengan variabel bebas, sebab semua variabel sebenarnya sudah
176 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
dan sedang terjadi secara alamiah (Ary, dkk.1984).
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang
beserta guru bahasa Indonesia yang mengajar di sekolah tersebut. Dipilihnya
SD Islam Sabilillah sebagai subjek penelitian didasarkan pada pertimbangan
berikut. Pertama, SD Islam Sabilillah Malang menjadikan pengembangan
kemampuan berpikir siswa sebagai salah satu misinya. Keseluruhan misinya
adalah pengembangan kepribadian siswa secara multidimensional yang men-
cakup aspek keislaman, aspek kecendikiaan (termasuk berpikir dan berba-
hasa), dan aspek kebangsaan. Kedua, masyarakat Malang mengiden-tifikasi
SD Islam Sabilillah Malang sebagai sekolah unggulan yang berada di kota
Malang. Sebagai sekolah unggulan tentunya, masyarakat berharap agar SD
Islam Sabilillah Malang dapat merealisasikan visi dan misinya.
Secara keseluruhan, subjek penelitian ini adalah sebagai berikut. Kelas 5
SD Islam Sabilillah Malang terdiri atas 3 kelas, yakni kelas 5A terdiri atas 23
siswa laki-laki dan 12 perempuan, kelas 5B terdiri atas 20 siswa laki-laki dan
17 perempuan, dan 5C terdiri atas 23 siswa laki-laki dan 15 perempuan.
Dengan demikian jumlah total siswa yang menjadi subjek penelitian adalah
110 siswa dengan rincian 66 siswa laki-laki dan 44 siswa perempuan. Selain
itu, semua guru yang berlatar belakang Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia
yang berjumlah 10 orang guru juga dijadikan subjek penelitian. Dari subjek
guru diharapkan dapat diperoleh data penunjang tentang pelaksanaan
pendidikan kreativitas dan pembelajaran bahasa Indonesia di SD Islam
Sabilillah Malang.
Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel kreativitas dan gender
(sebagai variabel bebas) serta variabel kemampuan membaca dan variabel
kemampuan menulis (sebagai variabel terikat). Variabel kreativitas terdiri atas
subvariabel: kognitif (kelancaran penggunaan kata, kelancaran mengekspre-
sikan perasaan, kelancaran mengemukakan gagasan, fleksibilitas dan
orisinalitas berpikir, dan kemampuan mengelaborasi); dan afektif (terbuka
terhadap hal baru, fleksibel dalam berpikir, bebas dalam berekspresi, meng-
hargai fantasi, berminat terhadap hal kreatif, percaya diri, dan bebas dalam
menilai). Kemampuan membaca terdiri atas subvariabel: keterampilan
memfokuskan, keterampilan mengingat, keterampilan mengorganisasi, kete-
rampilan menganalisis, keterampilan menggeneralisasikan, keterampilan
mengintegrasi, dan keterampilan mengevaluasi. Variabel menulis terdiri atas
subvariabel: pengembangan gagasan, pengorganisasian karangan, penggunaan
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 177
kalimat, penggunaan kosa kata, penggunaan ejaan dan tanda baca.
Sesuai dengan variabel penelitian, data penelitian ini adalah jenis ke-
lamin, skor kemampuan berpikir kreatif, skor kemampuan membaca, dan skor
kemampuan menulis. Instrumen yang digunakan berupa (1) tes kreativitas (tes
kemampuan berpikir kreatif dan skala sikap kreatif), (2) tes kemampuan
membaca, (3) tes kemampuan menulis, (4) angket untuk guru (dimanfaatkan
untuk menjaring data penunjang pelaksanaan pembelajaran membaca, menu-
lis, dan berpikir kreatif). Tes berpikir kreatif terdiri atas: tes permulaan kata,
tes menyusun kata, membentuk kalimat tiga kata, sifat-sifat yang sama, peng-
gunaan luar biasa, dan apa akibatnya. Tes sikap kreatif terdiri ats 30 butir tes
benar-salah. Tes kemampuan membaca terdiri atas 40 butir tes jawaban
pendek dengan memanfaatkan 8 kutipan pendek. Setiap kutipan diikuti den-
gan 5 butir tes jawaban pendek. Tes kemampuan menulis terdiri atas tes men-
garang bebas yang diikuti dengan panduan penyekoran. Angket terdiri atas 23
butir soal soal dengan empat alternatif jawaban dan 2 butir tes esei.
Kegiatan analisis data dilakukan melalui dua langkah, yaitu, pengelolaan
data dan analisis statistik serta penafsiran hasil penelitian. Pengelolaan data
berisi kegiatan pengecekan identitas responden/sampel, pengelompokan lem-
bar jawaban, penyekoran atau pengkodean, memasukkan skor atau kode ke
dalam lembar-lembar analisis. Kegiatan analisis statistik dilakukan dengan
menggunakan langkah: (1) mengecek kembali rumusan masalah, tujuan, dan
hipotesis penelitian; (2) menentukan jenis statistik yang digunakan, yakni
Anova;(3) menguji tingkat homoginitas skor; (4) mengubah rumusan hipote-
sis kerja menjadi hipotesis nol; (5) menerapkan anova yang dilakukan dengan
menggunakan program SPSS versi 11; (6) menyajikan hasil analisis data
dalam bentuk visual (tabel dan grafik) dan dalam bentuk verbal, serta diikuti
dengan penafsiran hasil analisis data. Penafsiran hasil analisis dilaku-kan
dengan mendasarkan diri pada teori-teori yang relevan, hasil penelitian terda-
hulu, dan wawasan peneliti.
HASIL PENELITIAN
Berikut secara berturut-turut disajikan hasil analisis data tentang (a)
tingkat kreativitas, kemampuan membaca, dan kemampuan menulis siswa
kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang; (b) perbedaan tingkat kreativitas siswa
laki-laki dan perempuan; (c) perbedaan tingkat kemampuan membaca siswa
178 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
yang kreatif dan yang kurang kreatif; (d) perbedaan tingkat kemampuan
menulis siswa yang kreatif dan yang kurang kreatif; (e) perbedaan tingkat
kemampuan membaca siswa laki-laki dan perempuan; (f) perbedaan tingkat
kemampuan menulis siswa laki-laki dan siswa perempuan; (g) pengaruh
interaksi antara faktor kreativitas dan gender terhadap kemampuan membaca;
dan (h) pengaruh interaksi faktor kreativitas dan gender terhadap kemampuan
menulis.
Tingkat Kreativitas, Kemampuan Membaca, dan Kemampuan Menulis
Dari 110 subjek penelitian diperoleh informasi tingkat kreativitas, ting-
kat kemampuan membaca, dan tingkat kemampuan menulis yang secara garis
besar tertuang dalam tabel berikut.
Tabel 1. Rangkuman Hasil Analisis Data Tingkat Kreativitas, Kemampuan
Membaca, dan Kemampuan Menulis
SKOR (N = 116)
VARIABEL LAKI-LAKI PEREMPUAN GABUNGAN
Min. Maks Rerata Min. Maks Rerata Min. Maks Rerata
BERPIKIR KREATIF 24 70 48.89 29 69 51.39 24 70 49.89
Word-fluency 3 10 7.64 5 10 8.36 3 10 7.93
Expr. Fluency 0 10 7.33 0 10 7.98 0 10 7.59
Ideational fluency 3 10 7.88 3 10 7.61 3 10 7.77
Fleksib. & Orisinil 4 20 12.59 1 20 12.50 1 20 12.55
Elaborasi 1 20 13.45 7 20 14.93 1 20 14.05
SIKAP KREATIF 11 22 15.42 11 19 15.14 11 22 15.31
Terbuka 0 4 2.95 0 4 2.98 0 4 2.96
Fleksibel 0 3 1.86 1 3 1.98 0 3 1.91
Bebas berekspresi 1 4 2.42 0 5 2.55 0 5 2.47
Berfantasi 1 4 2.99 0 4 2.09 0 4 2.21
Minat berkreasi 0 4 2.26 0 4 2.09 0 4 2.19
Percaya diri 0 3 1.15 0 3 1.25 0 3 1.19
Bebas menilai 0 5 2.48 0 5 2.20 0 5 2.37
KREATIVITAS 40 86 64.32 47 87 66.52 40 87 65.2
MEMBACA 25 94 62.52 33 86 65.05 25 94 63.53
Memfokuskan 3 8 6.82 2 8 6.68 2 8 6.76
Encode & Recall 0 4 1.88 0 4 2.14 0 4 1.98
Mengorganisasi 0 14 6.86 1 14 7.80 0 14 7.24
Menganalisis 5 17 11.20 5 18 11.77 5 18 11.43
Menggeneralisasi 2 17 11.62 3 18 12.34 2 18 11.91
Mengintegrasi 0 10 6.70 0 10 6.36 0 10 6.56
Mengevaluasi 0 8 4.80 2 8 4.86 0 8 4.83
MENULIS 41 92 69.24 56 96 75.75 41 96 71.85
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 179
Pengembangan 13 30 20.80 15 30 23.07 13 30 21.71
Organisasi 8 20 14.89 12 20 16.02 8 20 15.35
Kalimat 13 28 20.77 15 29 22.39 13 29 21.42
Diksi 2 9 6.17 5 9 7.16 2 9 6.56
EYD 4 9 6.61 5 10 7.11 4 10 6.81
Tingkat Kreativitas
Kreativitas terdiri atas dua komponen utama, yakni berpikir kreatif dan
sikap kreatif. Kreativitas diberi bobot 70 dan sikap kreatif diberi bobot 30.
Tingkat kreativitas siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang adalah skor ter-
endah = 40, skor tertinggi = 87, dan skor rerata = 65.2. Adapun tingkat ke-
mampuan berpikir kreatif siswa adalah skor terrendah = 24, skor tertinggi =
70, dan skor rerata = 49.89. Sedangkan sikap kreatif siswa adalah skor teren-
dah = 11, skor tertinggi = 22, dan skor rerata = 15.31.
Tingkat Kemampuan Membaca
Kemampuan membaca berisi 7 komponen, yaitu (1) keterampilan mem-
fokuskan (penentuan problem dan tujuan), (2) keterampilan mengingat (en-
coding dan recalling), (3) keterampilan mengorganisasi (pembandingan,
pengklasifian, penyusunan, dan perepresentasian), (4) keterampilan mengan-
alisis (pengidentifikasian atribut dan komponen, pengidentifikasian hubungan
dan pola, pengidentifikasian pokok pikiran, dan pengidentifikasian kesa-
lahan), (5) keterampilan menggeneralisasikan (penginferensian, peramalan,
dan pengelaborasian), (6) keterampilan mengintegrasi (perangkuman dan
penataan kembali), dan (7) keterampilan mengevaluasi (penetapan kriteria dan
pemverifikasian). Tingkat kemampuan membaca siswa adalah skor terendah
= 25, skor tertinggi = 94, dan skor rerata = 63.53. Dari ketujuh aspek ke-
mampuan membaca yang tampak paling dominan adalah kemampuan menga-
nalisis dan kemampuan mengintegrasi (skor rerata = 18) dan yang paling ren-
dah adalah kemampuan encode dan recall (skor rerata = 4).
Kemampuan Menulis
Kemampuan tingkat menulis mencakup lima aspek, yakni pengembang-
an topik, organisasi topik, penggunaan kalimat, penggunaan diksi, dan
penggunaan ejaan. Skor terendah kemampuan menulis adalah 41, skor
180 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
tertinggi kemampuan menulis adalah 96, dan skor rerata kemampuan menulis
adalah 71,85. Aspek pengembangan gagasan menempati urutan pertama dari
penguasaan menulis, yakni skor maksimal 30 sedangkan rerata skor 21,71,
sehingga tingkat penguasaannya adalah 72,4%.
Tingkat kemampuan menulis berkorelasi secara signifikan dengan ke-
mampuan membaca. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan: N = 110, rerata
kemampuan menulis = 71,85, standar deviasi = 11,36; rerata kemampuan
membaca = 65,35, standar deviasi = 13,29; nilai korelasi Pearson = 0,247,
tingkat signifikansi = 0,009. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa ke-
mampuan menulis berkorelasi secara signifikan dengan kemampuan mem-
baca. Ini berarti bahwa semakin tinggi kemampuan anak dalam menulis, se-
makin tinggi pula kemampuannya dalam membaca.
Perbedaan Tingkat Kreativitas Siswa Laki-laki dan Perempuan
Rerata skor kreativitas siswa laki-laki adalah 64,32, siswa perempuan
adalah 66,52, dan skor rerata total adalah 65,20. Rerata skor berpikir kreatif
siswa laki-laki adalah 48,89, siswa perempuan adalah 51,39, dan rerata total
adalah 49,89. Rerata skor sikap kreatif siswa laki-laki adalah 15,42, siswa
perempuan adalah 15,14, dan rerata total adalah 15,31.
Hasil uji statistik menunjukkan:(1) perbedaan kreativitas siswa laki-laki
dan perempuan: F = 1,258 dengan tingkat signifikansi 0,265 (lebih besar dari
0,05); (2) perbedaan berpikir kreatif siswa laki-laki dan perempuan: F = 1,652
dengan tingkat signifikansi 0,021 (lebih besar dari 0,05); (3) perbedaan sikap
kreatif siswa laki-laki dan perempuan: F = 0,432 dengan tingkat signifikansi
0,513 (lebih besar dari 0,05). Berdasarkan hasil uji statistik tersebut, maka hi-
potesis nol pertama yang berbunyi tidak ada perbedaan yang signifikan antara
tingkat kreativitas siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang yang laki-laki
dan yang perempuan dinyatakan diterima. Dengan diterimanya hipotesis nol
berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kreativitas siswa
laki-laki dan perempuan, meskipun siswa perempuan memiliki rata-rata krea-
tivitas lebih tinggi dibandingkan dengan siswa laki-laki, yakni 66,52 B 64,42
= 1,80 point.
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 181
Perbedaan Tingkat Kemampuan Membaca Siswa Kreatif dan Kurang Kreatif
Jumlah siswa yang tergolong kreatif sebanyak 56 siswa dan yang kurang
kreatif sebanyak 54 siswa. Skor rerata kemampuan membaca siswa kreatif
adalah 67,98, skor rerata kemampuan membaca siswa kurang kreatif adalah
58,91, sedangkan skor rerata total adalah 63,53. Skor minimal siswa kreatif =
25 dan skor maksimal = 94; skor minimal siswa kurang kreatif = 25 dan skor
maksimal = 86; skor minimal total = 25 dan skor maksimal = 94. Dengan
demikian dapat dinyatakan bahwa siswa kreatif memiliki rata-rata skor ke-
mampuan membaca lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor kemam-
puan membaca siswa kurang kreatif.
Hasil uji statistik menunjukkan nilai F = 14,393 dengan tingkat signifi-
kansi 0,000 (lebih kecil dari 0,05). Berdasarkan hasil uji statistik tersebut,
maka hipotesis nol kedua yang berbunyi tidak ada perbedaan yang signifikan
antara tingkat kemampuan membaca siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Ma-
lang yang kreatif dan yang kurang kreatif dinyatakan ditolak. Dengan dito-
laknya hipotesis nol ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara
kemampuan membaca siswa kreatif dan kemampuan membaca siswa kurang
kreatif. Kemampuan membaca siswa kreatif lebih tinggi dibandingkan dengan
kemampuan membaca siswa kurang kreatif.
Perbedaan Tingkat Kemampuan Menulis Siswa Kreatif dan Siswa Kurang
Kreatif
Siswa yang tergolong kreatif sebanyak 56 siswa dan yang kurang kreatif
sebanyak 54 siswa. Skor rerata kemampuan menulis siswa kreatif adalah
73,18, skor rerata kemampuan menulis siswa kurang kreatif adalah 70,46; se-
dangkan skor rerata total adalah 71,85. Skor minimal siswa kreatif = 41 dan
skor maksimal = 96; skor minimal siswa kurang kreatif = 45 dan skor maksi-
mal = 93; skor minimal total = 41 dan skor maksimal = 96. Dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa siswa kreatif memiliki rata-rata skor kemampuan
menulis lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor kemampuan menulis
siswa kurang kreatif.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa: nilai F = 11,579 dengan tingkat
signifikansi 0,012 (lebih kecil dari 0,05). Berdasarkan hasil uji statistik
tersebut maka hipotesis nol ketiga yang berbunyi tidak ada perbedaan yang
signifikan antara tingkat kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam
182 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
Sabilillah Malang yang kreatif dan yang kurang kreatif dinyatakan ditolak.
Dengan ditolaknya hipotesis nol ketiga ini berarti bahwa ada perbedaan yang
signifikan antara tingkat kemampuan menulis siswa kreatif dan siswa kurang
kreatif. Kemampuan menulis siswa perempuan lebih tinggi dibandingkan
dengan kemampuan menulis siswa laki-laki.
Perbedaan Tingkat Kemampuan Membaca Siswa Laki-laki dan Perempuan
Jumlah siswa laki-laki sebanyak 66 siswa dan siswa perempuan seban-
yak 44 siswa. Skor rerata kemampuan membaca siswa laki-laki adalah 62,52,
skor rerata kemampuan membaca siswa perempuan adalah 65,05; sedangkan
skor rerata total adalah 63,53. Skor minimal siswa laki-laki = 25 dan skor
maksimal = 94; skor minimal siswa perempuan = 33 dan skor maksimal = 86;
skor minimal total = 25 dan skor maksimal = 94. Dengan demikian dapat din-
yatakan bahwa siswa perempuan memiliki rata-rata skor kemampuan mem-
baca lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor kemampuan membaca
siswa laki-laki.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai F = 0,957 dengan tingkat
signifikansi 0,330 (lebih besar dari 0,05). Berdasarkan hasil uji statistik terse-
but maka hipotesis nol keempat yang berbunyi tidak ada perbedaan yang dig-
nifikan antara tingkat kemampuan membaca siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah
Malang yang laki-laki dan yang perempuan dinyatakan diterima. Dengan
diterimanya hipotesis nol ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifi-
kan antara tingkat kemampuan menulis siswa laki-laki dan siswa perempuan.
Meskipun skor kemampuan menulis siswa perempuan lebih tinggi dibanding-
kan dengan rerata skor siswa laki-laki, tetapi secara statistik perbedaan terse-
but tidak signifikan.
Perbedaan Tingkat Kemampuan Menulis Siswa Laki-laki dan Perempuan
Jumlah siswa laki-laki sebanyak 66 siswa dan perempuan sebanyak 44
siswa. Skor rerata kemampuan menulis siswa laki-laki adalah 69,24, skor
rerata kemampuan menulis siswa perempuan adalah 75,75; sedangkan skor
rerata total adalah 71,85. Skor minimal siswa laki-laki = 41 dan skor
maksimal = 92; skor minimal siswa perempuan = 56 dan skor maksimal = 96;
skor minimal total = 41 dan skor maksimal = 96. Dengan demikian dapat
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 183
dinyatakan bahwa skor rata-rata siswa perempuan dalam menulis lebih tinggi
dibandingkan dengan rata-rata skor kemampuan menulis siswa laki-laki.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai F = 9,325 dengan tingkat
signifikansi 0,003 (lebih besar dari 0,05). Berdasarkan hasil uji statistik terse-
but maka hipotesis nol kelima yang berbunyi tidak ada perbedaan yang signi-
fikan antara tingkat kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah
Malang yang laki-laki dan yang perempuan dinyatakan ditolak. Dengan dito-
laknya hipotesis nol ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara
tingkat kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang yang
laki-laki dan yang perempuan. Kemampuan menulis siswa perempuan lebih
tinggi dibandingkan dengan kemampuan menulis siswa laki-laki.
Pengaruh Interaksi Kreativitas dan Gender terhadap Kemampuan Membaca
Hasil analisis data menunjukkan bahwa (1) harga F model = 940,920,
nilai signifikansi = 0,000 (lebih kecil dari 0,05), (2) harga F gender = 0,451,
nilai signifikansi = 0,503 (lebih besar dari 0,05), (3) harga F kreatif =
143,409, nilai signifikansi = 0,000 (lebih kecil dari 0,05). Hasil uji beda
menunjukkan bahwa nilai T untuk gender = 0,672, untuk kreativitas = 0,000;
signifikasi untuk gender = 0,503 (lebih besar dari 0,05), untuk kreativitas =
0,000 (lebih kecil dari 0,05).
Berdasarkan hasil uji beda tersebut maka hipotesis nol keenam berbunyi
tidak ada pengaruh yang signifikan interaksi tingkat kreativitas dan gender
terhadap kemampuan membaca siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang
dinyatakan diterima. Dengan diterimanya hipotesis nol ini berarti bahwa tidak
ada pengaruh yang signifikan interaksi tingkat kreativitas dan gender terhadap
kemampuan membaca siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang. Meskipun
secara terpisah faktor kreatif berpengaruh terhadap kemampuan membaca,
tetapi secara bersama-sama pengaruh faktor kreatif dan faktor gender tidak
berpengaruh terhadap kemampuan membaca.
Pengaruh Interaksi Tingkat Kreativitas dan Gender terhadap Kemampuan
Menulis
Hasil analisis data menunjukkan bahwa (1) harga F model = 1.582,340,
nilai signifikansi = 0,000 (lebih kecil dari 0,05); (2) harga F gender = 8,657,
nilai signifikansi = 0,004 (lebih kecil dari 0,05); (3) harga F kreatif = 170,509,
184 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
nilai signifikansi = 0,000 (lebih kecil dari 0,05) Hasil uji beda menunjukkan
bahwa nilai T untuk gender = 0,004, untuk kreativitas = 0,000; signifikasi
untuk gender = 0,004 (lebih kecil dari 0,05), untuk kreativitas = 0,000 (lebih
kecil dari 0,05).
Berdasarkan hasil uji beda tersebut maka hipotesis nol ketujuh yang ber-
bunyi tidak ada pengaruh interaksi yang signifikan tingkat kreativitas dan
gender terhadap kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Ma-
lang dinyatakan ditolak. Dengan ditolaknya hipotesis nol ini berarti bahwa
ada pengaruh interaksi yang signifikan tingkat kreativitas dan gender terhadap
kemampuan menulis. Faktor kreativitas dan faktor gender secara bersama-
sama berpengaruh terhadap kemampuan menulis.
PEMBAHASAN
Berikut secara berturut-turut dipaparkan pembahasan hasil penelitian
tentang (1) tingkat kreativitas, tingkat kemampuan membaca, dan tingkat ke-
mampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang; (2) faktor krea-
tivitas dan gender dalam kemampuan membaca, dan (3) faktor kreativitas dan
gender dalam kemampuan menulis.
Tingkat Kreativitas, Kemampuan Membaca, dan Kemampuan Menulis
Secara garis besar, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kreativitas
terdiri atas dua komponen utama, yakni berpikir kreatif dan sikap kreatif.
Kreativitas diberi bobot 70 dan sikap kreatif diberi bobot 30. Tingkat
kreativitas siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang adalah skor terendah =
40, skor tertinggi = 87, dan skor rerata = 65.2. Tingkat kemampuan membaca
siswa adalah skor terendah = 25, skor tertinggi = 94, dan skor rerata = 63.53.
Dari ketujuh aspek kemampuan membaca yang tampak paling dominan
adalah kemampuan menganalisis dan kemampuan mengintegrasi (skor rerata
= 18) dan yang paling rendah adalah kemampuan encode dan recall (skor
rerata = 4). Skor terendah kemampuan menulis adalah 41, skor tertinggi
kemampuan menulis adalah 96, dan skor rerata kemampuan menulis adalah
71,85. Aspek pengembangan gagasan menempati urutan pertama dari
penguasaan menulis, yakni skor maksimal 30 sedangkan rerata skor 21,71,
sehingga tingkat penguasaannya adalah 72,4%. Tingkat kemampuan menulis
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 185
berkorelasi secara signifikan dengan kemampuan membaca. Hasil uji korelasi
Pearson menunjukkan: N = 110, rerata kemampuan menulis = 71,85, standard
deviasi = 11,36; rerata kemampuan membaca = 65,35, standar deviasi =
13,29; nilai korelasi Pearson = 0,247, tingkat signifikansi = 0,009.
Dilihat dari tuntutan kurikulum, tingkat kreativitas siswa kelas 5 SD Is-
lam Sabilillah tergolong baik. Tetapi jika dibandingkan dengan tingkat krea-
tivitas siswa kelas 5 SDN pada umumnya, tingkat kreativitas, kemam-puan
membaca, dan kemampuan menulis siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah ter-
golong tinggi. Hasil penelitian Rofi'uddin (1998) yang dilakukan dengan
menggunakan instrumen yang relatif sama dengan melibatkan 964 siswa kelas
5 SDN di pulau Jawa menunjukkan hasil sebagai berikut. Tingkat kreativitas:
bahwa skor terendah = 31, skor tertinggi 74, dan skor rerata = 48,162. Tingkat
kemampuan membaca siswa kelas 5 SDN adalah skor terendah = 21, skor
tertinggi = 66 dan skor rerata = 33,039. Tingkat kemampuan menulis siswa
kelas 5 SDN adalah skor terendah = 20, skor tertinggi = 68, dan skor rerata =
32,064. Perbandingan antara hasil penelitian Rofi'uddin (1998) dengan peneli-
tian ini akan tampak sebagai berikut.
Tabel 2. Perbandingan Tingkat Kreativitas, Membaca, dan Menulis
Tingkat Kreativitas, Membaca, dan Menulis Siswa Kelas 5
Aspek SD Islam Sabilillah SDN
Min. Max Rerata Min. Max Rerata
Kreativitas 40 87 65,200 31 74 48,162
Kemampuan Membaca 25 94 63,530 21 66 33,039
Kemampuan Menulis 41 96 71,850 20 68 32,064
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa SD Islam Sabilillah Malang telah
berhasil mencapai salah satu misi utamanya, yakni mengantarkan siswanya
menjadi manusia kreatif serta mahir membaca dan menulis.
Keberhasilan ini ditunjang oleh beberapa faktor. Faktor yang dimaksud,
di antaranya, adalah sebagai berikut. Dari angket yang diisi oleh guru
diperoleh informasi bahwa kegiatan guru di kelas mirip dengan peran seorang
manajer dan mediator, yakni berupaya mengonseptualisasikan materi yang
dipelajari siswa, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan yang me-
nyenangkan, mengantisipasi problem dan pemecahannya, memantau kegiatan
186 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
belajar-mengajar, mengubah strategi jika tujuan tidak tercapai. Kegiatan
tersebut sejalan dengan upaya untuk menumbuhkembangkan kreativitas anak
(periksa Beyer, 1991; Marzano, dkk, 1993). Selain itu, apa yang dikemukakan
Semiawan (1987) tentang perlunya pengembangan iklim yang kondusif dalam
pembelajaran juga dilakukan oleh guru. Iklim yang kondusif yang dimaksud
meliputi: bersikap terbuka, memberikan kesempatan untuk mengembangkan
gagasan, suasana saling menghargai dan saling menerima, mendorong
berpikir divergen, keamanan dan kenyamanan berpikir eksploratif, dan meli-
batkan siswa dalam pengambilan keputusan.
Keberhasilan pembelajaran membaca di SD Islam Sabilillah Malang ti-
dak dapat dilepaskan dari pemahaman para guru terhadap konsep membaca
dan strategi pembelajarannya. Dari hasil angket diperoleh informasi bahwa
guru memahami kegiatan membaca sebagai suatu kegiatan yang kompleks
yang di dalamnya melibatkan aspek: sensori, perseptual, urutan, asosiasi,
eksperiensial, belajar, berpikir, dan aspek afektif. Pemahaman terhadap kon-
sep membaca tersebut selanjutnya dijadikan dasar pengembangan kegiatan
pembelajaran membaca, seperti menciptakan lingkungan yang menyenang-
kan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk merespon isi bacaan, mem-
berikan bimbingan dalam memahami bacaan, dan memberikan kesempatan
untuk mendiskusikan hasil membaca. Menurut Burns, dkk. (1996) dan
Goodman (1988) kegiatan-kegiatan tersebut sangat kondusif bagi pengem-
bangan kemampuan membaca.
Keberhasilan pembelajaran menulis di SD Islam Sabilillah Malang
antara lain disebabkan oleh faktor berikut. Dalam pembelajaran menulis guru
senantiasa berpegang prinsip menulis merupakan suatu proses lebih mene-
kankan bagaimana aktivitas penulis dalam mengkonstruksi sebuah teks. Se-
bagaimana dikemukakan Herber, dkk. (1994) dan Temple, dkk. (1988) yang
mengemukakan bahwa kegiatan menulis dan pembelajaran menulis terdiri
atas: kegiatan pramenulis (prewriting), penyusunan buram (drafting), revisi
(revising), pengeditan (editing), dan publikasi (publishing). Kelima aktivitas
ini tidak bersifat linier dan bukan langkah yang terpisah-pisah. Seperti halnya
dalam membaca, menulis melibatkan interaksi dan terjadi secara simultan.
Kelima kegiatan tersebut dilakukan dalam pembelajaran menulis untuk
mengkonstruksi sebuah teks.
Berkorelasinya kemampuan membaca dan menulis siswa kelas 5 SD
Islam Sabilllah Malang dapat dijelaskan sebagai berikut. Kurikulum 1994
Rofi'uddin, Faktor Kreatifitas dalam Kemampuan Membaca 187
menyarankan penggunaan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran
bahasa Indonesia, baik di tingkat sekolah dasar maupun di tingkat sekolah
menengah. Konsekwensi penggunaan pendekatan komunikatif dalam
pembelajaran bahasa Indonesia adalah pembelajaran kemampuan berbahasa
(menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dilakukan secara terpadu
dengan menggunakan tema tertentu sebagai alat pengikatnya (Pappas, dkk.,
1990). Sebagai contoh, sewaktu sewaktu guru mengajarkan kemampuan
membaca, guru seharusnya melibatkan kemampuan menulis. Untuk menun-
jukkan hasil kegiatan membaca, guru seringkali meminta siswanya untuk
menuliskan berbagai hal terkait dengan teks yang dibacanya. Oleh sebab itu
perkembangan kemampuan siswa dalam membaca sudah seharusnya diikuti
dengan kemampuan menulis.
Dari segi teoritik, berkorelasinya kemampuan membaca dan menulis da-
pat dijelaskan sebagai berikut. Kemampuan membaca dan menulis merupakan
bagian dari kemampuan berkomunikasi. Kemampuan berkomuni-kasi meru-
pakan performasi dari kompetensi komunikasi. Dengan demikian kemampuan
membaca dan menulis dilandasi oleh kompetensi yang sama, yakni kompe-
tensi komunikatif. Bachman (1990) mengemukakan adanya lima kompetensi
komunikasi, yaitu kompetensi kebahasaan, kompetensi strategi, mekanisme
psikofisik, struktur pengetahuan dan konteks. Keterpaduan aspek-aspek ini
diperlukan untuk membentuk kompetensi kebahasaan dan bersama-sama den-
gan struktur pengetahuan diolah untuk menghasilkan ujaran/tulisan yang se-
suai dengan konteks. Kompetensi strategi dalam hal ini adalah kemampuan
mental untuk mengimplementasikan kompetensi bahasa dan struktur pengeta-
huan tentang dunia dalam konteks penggunaan bahasa. Konteks penggunaan
bahasa dapat mencakup konteks linguistik, konteks epistemis (pengetahuan
yang dimiliki partisipan), konteks sosial (hubungan penulis dan pembaca).
Faktor Kreativitas dan Gender dalam Kemampuan Membaca
Hasil uji statistik menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, hipote-
sis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan yang signifikan antara tingkat krea-
tivitas siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Malang yang laki-laki dan yang per-
empuan dinyatakan diterima. Dengan diterimanya hipotesis nol berarti tidak
ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kreativitas siswa laki-laki dan
perempuan, meskipun siswa perempuan memiliki rata-rata kreativitas lebih
188 BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 2, Agustus 2003
tinggi dibandingkan dengan siswa laki-laki, yakni 66,52 B 64,42 = 1,80 point.
Kedua, hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan yang dignifikan
antara tingkat kemampuan membaca siswa kelas 5 SD Islam Sabilillah Ma-
lang yang laki-laki dan yang perempuan dinyatakan diterima. Dengan diteri-
manya hipotesis nol ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan
antara tingkat kemampuan menulis siswa laki-laki dan siswa perempuan.
Meskipun skor kemampuan membaca siswa perempuan lebih tinggi diband-
ingkan dengan rerata skor siswa laki-laki, tetapi secara statistik perbedaan
tersebut tidak signifikan.
Hasil penelitian ini se


Use: 0.0133